NovelToon NovelToon
Satu Rasa Yang Tak Pergi

Satu Rasa Yang Tak Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Anak Yatim Piatu
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ms.Una

Seri ke-satu

Clara Ayudita tak pernah menyangka bahwa perpisahan tiba-tiba akan menjadi awal dari kehilangan terbesar dalam hidupnya. Noel Baskara laki-laki yang selama ini menjadi rumah, sandaran, dan tempat segala rencana masa depan bermuara tiba-tiba menghilang tanpa penjelasan.

Satu pesan singkat dan senyum palsu di hari perpisahan menjadi kenangan terakhir yang ia punya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ms.Una, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lima mangkok soto

“Mau makan di mana nih?” tanya Rio yang mengemudi tanpa tujuan, mobilnya melaju pelan menyusuri jalan malam.

“Di restoran yang biasanya aja,” sahut Adit santai sambil fokus pada game di ponselnya.

“Bosen ah di situ,” protes Zita.

“Lu mau makan di mana, Clar?” tanya Wulan.

Clara menoleh. Ia berpikir sejenak. Kalau ia menjawab terserah, mereka pasti akan kembali ke restoran mahal dan berakhir ditraktir. Ia tak ingin itu malam ini.

“Mau ke warung soto langganan aku?” tanya Clara ragu.

“Boleh tuh, Clar. Tapi enak kan?” ucap Wulan.

“Enak dong kalau di lidahku. Tapi nggak tahu kalau di kalian,” sahut Clara jujur.

“Gue sih terserah,” ucap Rio singkat, diikuti anggukan Zita.

“Gue juga ngikut aja,” timpal Adit.

“Oke, kita langsung ke sana. Gue udah laper banget ini,” ujar Wulan.

Clara menyebutkan alamatnya, dan Rio langsung memutar balik arah.

Sesampainya di tempat itu, Rio, Zita, dan Adit langsung terdiam. Sebuah warung soto sederhana di pinggir jalan, beratapkan seng, dengan papan nama yang sudah pudar dimakan waktu.

“Serius kita makan di sini?” tanya Zita, menoleh pada Clara.

Clara mengangguk kikuk. “Mau cari tempat lain aja?” tanyanya, memahami keterkejutan mereka.

“Udah lah, jangan lihat tempatnya. Yang penting kan rasanya,” ucap Wulan. “Jangan jadi anak kaya manja deh kalian,” lanjutnya bercanda.

“Tapi, Lan…” ucapan Zita terpotong oleh bunyi perutnya sendiri.

“Cacing lu lagi goyang di perut, Zit,” sahut Wulan disertai tawa.

Clara ikut tersenyum mendengar candaan itu. Mereka semua turun dari mobil dan mengikuti langkah Clara masuk ke warung soto tersebut. Di dalam, tampak meja dan kursi kayu sederhana. Kipas angin tua berputar lambat di dinding. Kalender dengan foto pemandangan tergantung miring. Lantai keramik putihnya sudah menguning karena usia. Zita, Rio, dan Adit menelan ludah pelan.

“Malam, Pak Kumis,” sapa Clara pada pemilik warung yang sedang membungkus pesanan pelanggan.

Pak Kumis menoleh dan tersenyum lebar saat melihat Clara. Ia mengenalnya sebagai pelanggan setia, biasanya datang bersama Thalia.

“Malam, Neng Clara. Sudah lama nggak ke sini,” ucapnya ramah setelah menyelesaikan pesanan.

Clara tersenyum. “Pak, saya pesan lima porsi, makan di sini.”

“Siap, Neng,” jawab Pak Kumis, lalu celingukan ke belakang Clara. “Tumben Neng Thalia nggak ikut?”

“Thalia lagi pulang kampung, Pak,” jawab Clara seadanya.

Pak Kumis mengangguk dan mulai menyiapkan soto pesanan mereka.

“Ayo kita duduk,” ajak Clara.

Mereka mengambil tempat. Aroma kuah soto yang gurih mulai menyeruak dari panci besar didalam gerobak, bercampur dengan wangi bawang goreng dan daun seledri.

“Aromanya enak banget,” ucap Wulan yang duduk di samping Clara. Sementara Adit, Zita, dan Rio duduk di seberang mereka, masih menatap sekitar dengan canggung.

Clara mengangguk. “Enak banget, Lan. Dan harganya murah. Cocok kan buat mahasiswa mendang mending.”

“Iya. Eh, lu pada kenapa? Diam-diam aja dari tadi,” ujar Wulan melihat tiga orang di hadapannya yang masih terpaku.

Belum sempat mereka menjawab, Pak Kumis datang membawa nampan berisi lima mangkuk soto panas. Uapnya mengepul, kuah beningnya berkilau diterpa lampu kuning redup.

“Silakan, Neng, Mas,” ucap Pak Kumis sambil membagikan mangkuk satu per satu.

Rio menatap mangkuk di depannya beberapa detik, lalu mengambil sendok. Zita ragu sejenak, lalu ikut mencicipi. Adit menyendok lebih dulu, seolah ingin membuktikan dirinya paling berani.

Beberapa detik hening, lalu Wulan bersuara

“Nah gimana?”

Adit mengangkat alis. “Enak juga…”

Zita mengangguk pelan, “Iya… kuahnya gurih banget.”

Rio akhirnya tersenyum kecil.

“Gue kira bakal aneh. Ternyata… ya sama aja. Cuma beda tempat.”

“Padahal gue udah sering ngajak makan pinggir jalan begini, kalian selalu nolak,” protes Wulan sambil meniup kuah sotonya.

“Maaf ya, Lan. Nggak lagi-lagi deh. Ternyata makanan pinggir jalan nggak kalah enak,” ucap Zita sambil cengengesan. Sementara itu Rio dan Adit sudah sibuk makan tanpa peduli sekitar, sendok mereka tak berhenti bergerak.

Clara terkekeh melihat tingkah tiga orang kaya yang baru pertama kali benar-benar menikmati kesederhanaan.

“Kalau mau nambah bilang ya,” ucap Clara santai.

Mereka mengangguk kompak. Wulan dan Clara ikut makan dalam diam, menikmati kuah hangat yang terasa menenangkan setelah seharian beraktivitas.

“Clara… gue mau nambah,” ucap Rio malu-malu.

“Gue juga,” sambung Adit cepat.

“Pak, nambah dua porsi ya!” teriak Clara ke arah depan.

“Kasih tahu, yang satu bawang gorengnya agak banyakan,” pinta Rio.

“Yang satu bawang gorengnya agak banyakan ya, Pak!” ulang Clara sambil tersenyum.

"Siap" sahut pak Kumis

“Lu nggak nambah, Zit?” tanya Wulan.

“Enggak, Lan. Porsinya banyak banget. Gue kekenyangan,” jawab Zita sambil memegang perutnya.

Tak lama kemudian pesanan tambahan datang. Rio dan Adit kembali makan dengan lahap, seolah belum sempat makan sejak pagi.

Lima belas menit berlalu.

“Kenyang banget gue. Berasa makan porsi kuli,” ucap Adit sambil menyandarkan punggungnya ke kursi kayu.

“Tadi aja ogah-ogahan, makannya malah paling banyak,” canda Wulan.

Zita dan Clara terkekeh geli. Rio dan Adit tak bisa membalas, terlalu sibuk menahan kenyang.

“Aku langganan di sini bertahun-tahun, nggak pernah bosen sama rasanya,” ucap Clara pelan.

“Kamu tahu dari mana tempat ini, Clar?” tanya Zita penasaran.

Clara menatap Zita, senyumnya lembut. “Dulu ayahku sering ngajak aku ke sini kalau aku lagi nggak nafsu makan.”

“Ayahmu kayaknya orangnya seru ya, Clar,” ucap Zita polos.

“Zit…” tegur Wulan pelan.

“Nggak apa-apa, Lan. Ayahku sudah meninggal.” ucap Clara tetap tersenyum. Tak ada kesedihan yang nampak jelas, hanya ketenangan yang dalam.

Zita menutup mulutnya kaget. “Maaf ya, Clar. Aku nggak tahu.”

Suasana mendadak berubah hening. Bahkan Rio dan Adit yang tadi bercanda ikut menegakkan punggung.

“gak apa-apa, aku sudah ikhlas sama takdir,” lanjut Clara lembut.

“Terus sekarang lo tinggal berdua sama ibu lo?” tanya Adit hati-hati.

Clara menggeleng. “Ibuku juga meninggal. Mereka kecelakaan tunggal di tol Jakarta waktu aku masih SMP.”

Keheningan itu lebih dalam dari sebelumnya. Mereka baru menyadari, gadis yang terlihat selalu tenang… telah melewati kehilangan sebesar itu.

“Lo pasti kuat banget, karena bisa bertahan sejauh ini,” ucap Wulan menepuk pelan punggung clara.

Clara hanya tersenyum sebagai jawaban. Senyum yang tidak lagi rapuh.

Beberapa menit kemudian mereka menghabiskan minuman dan bangkit dari kursi.

“Berapa, Pak?” tanya Clara sambil hendak mengambil dompetnya.

“Gue aja, Clar,” ucap Rio cepat.

“Rio, kita duluan ke mobil ya,” ucap Wulan sambil menggandeng tangan Clara dan di ikuti oleh zita serta adit.

“Totalnya seratus empat puluh lima ribu,” ucap Pak Kumis.

“Hah? Kita berlima loh, Pak. Tadi nambah dua porsi. Coba dihitung lagi, Pak,” ujar Rio tak percaya.

“Iya, sudah saya hitung semua, Mas. Seratus empat puluh lima ribu,” jawab Pak Kumis sabar.

Rio mengeluarkan dua lembar uang merah dan menyerahkannya.

“Kembaliannya buat Bapak. Makasih ya, Pak. Makanannya enak,” ucap Rio sambil berjalan ke arah mobil.

“Alhamdulillah… makasih ya, Mas!” teriak Pak Kumis bahagia.

Rio masuk ke mobil dan mulai menyalakan mesin.

“Aku turun di halte depan aja,” ucap Clara.

“Kenapa? Kita bisa anterin sampai rumah,” ujar Rio.

“Nanti kalian pulang terlalu malam,” jawab Clara. Bukan karena ia tak mau, tapi ia merasa tak enak. Seharian ini ia sudah ditraktir dua kali.

“Nggak papa. Ini juga sudah terlalu larut buat lo, Clar,” sahut Wulan.

Clara baru hendak membalas, tapi Wulan sudah lebih dulu memerintah rio.

“Terus aja, Yo. Kalau Clara nggak mau kasih alamatnya, kita ajak keliling kota aja sampai pagi."

Candaan itu disambut tawa yang lain. Clara terdiam sejenak, lalu tersenyum.

Ia menatap keluar jendela mobil, lampu-lampu kota berkelip di kejauhan.

Ibu… Ayah… Terimakasih sudah mengirimkan orang-orang baik untuk clara.

1
falea sezi
bkin Clara g menye Thor bikin dia move on dan bahagiain diri sendiri jual. rmh tinggal. tempat lain biar bebas dr. keluarga toxic
falea sezi
lupain Noel. Clara laki. yg bisanya manut bapak nya itu g bs mandiri
falea sezi
move on Clara qm. berhak bahagia dengan nathan lupain. masa. lalu
falea sezi
pasti Noel cwok lemah plin plan g cocok ma Clara moga aja nathan bisa bkin Clara. move on lahh males liat Clara gini kesannya kayak menye menye
Una.: tenang ya kak clara orang yang kuat, terimakasih sudah baca 🤗
total 1 replies
falea sezi
move on Clara siapa tau Noel mu ngilang karena di jodohkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!