novel dengan universe berbeda dari novel
"hazel lyra raven", dimana pharma dan Lyra bisa bersama tanpa ada ledakan
Dokter Lyra (27), spesialis anak, dipindahtugaskan ke Rumah Sakit Delphi di London. Di sana, ia harus berhadapan dengan Pharma Andrien, kepala rumah sakit sekaligus spesialis saraf yang dijuluki "Ice King" karena sifatnya yang sangat cuek, dingin, dan perfeksionis di depan staf medis.
Namun, segalanya berubah saat mereka sedang berduaan. Di balik pintu tertutup, Pharma berubah drastis menjadi sosok yang sangat clingy dan manja hanya kepada Lyra. Kini, Lyra harus berjuang menjaga profesionalitas di rumah sakit sambil menghadapi tingkah "muka dua" atasannya yang tidak bisa jauh darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26
Pernyataan itu seolah menjadi rahasia kelam di balik dinding apartemen mewah mereka. Di rumah sakit, Pharma mungkin terlihat seperti pahlawan dengan tangan yang bisa menyelamatkan nyawa, tapi di rumah, "tangan tuhan" itu bisa berubah menjadi sesuatu yang sangat menakutkan bagi Lyra.
Ketidakpedulian Pharma bukan hanya soal diam atau cuek, tapi juga tentang ledakan emosi yang kasar.
Malam itu, sebelum Pharma berangkat menemui Veronica, suasana di apartemen mendadak mencekam. Lyra yang sedang menutup kopernya tidak sengaja menjatuhkan salah satu kotak perhiasan pemberian ibunya hingga pecah. Suara denting kaca yang pecah itu seolah memicu sesuatu di dalam diri Pharma yang sedang stres karena tekanan pekerjaan.
Pharma berbalik dengan cepat, langkah kakinya terdengar berat di atas lantai kayu. "Bisa tidak sehari saja kamu tidak membuat kekacauan?!" bentak Pharma, suaranya menggelegar memenuhi ruangan.
"Aku nggak sengaja, Pharma. Ini cuma kotak..."
"Diam!" Pharma mencengkeram lengan Lyra dengan sangat kuat cengkeraman yang jauh dari kata lembut, meninggalkan bekas kemerahan di kulit putih istrinya. Matanya berkilat penuh amarah yang tidak terkendali. "Kamu itu cuma asisten di sini! Kamu harusnya bersyukur saya bawa kamu ke London! Jangan sampai kecerobohanmu ini merusak konsentrasi saya untuk acara besok!"
Lyra meringis kesakitan, mencoba melepaskan tangannya. "Sakit, Pharma... lepasin!"
Pharma menghentakkan tangan Lyra dengan kasar hingga Lyra terhuyung ke arah sofa. Bukannya meminta maaf, Pharma malah merapikan jasnya dengan wajah dingin seolah tidak terjadi apa-apa. "Jangan memancing emosi saya lagi. Siapkan dirimu untuk besok, dan ingat, jangan buat malu saya di depan Veronica."
Setelah pintu apartemen tertutup dengan dentuman keras, Lyra jatuh terduduk di lantai. Ia memegangi lengannya yang berdenyut sakit. Ini bukan pertama kalinya. Pharma sering kali menggunakan kata-kata kasar, bentakan, bahkan kontak fisik yang menyakitkan jika keinginannya tidak dituruti atau jika egonya terusik.
Luka yang Tersembunyi
Keesokan paginya di Delphi, Lyra memakai jas dokter lengan panjang untuk menutupi bekas memar di lengannya. Ia berjalan dengan kepala menunduk, berusaha menghindari kontak mata dengan siapa pun, terutama Pharma.
Namun, ia justru berpapasan dengan Leon di dekat ruang sterilisasi. Leon yang sudah sangat mengenal gerak-gerik Lyra langsung menyadari ada yang salah.
"Lyra? Kenapa jalanmu pincang sedikit? Dan kenapa pakai jas setebal itu di musim panas?" tanya Leon curiga.
"Nggak apa-apa, Leon. Cuma kurang tidur," jawab Lyra pendek, mencoba melewatinya.
Tapi Leon menahan pundaknya. "Lyra, lihat aku."
Saat Lyra mendongak, Leon melihat sudut mata Lyra yang sedikit sembab. Leon menarik sedikit lengan jas Lyra dan matanya membelalak melihat bekas cengkeraman jari yang membiru di sana.
"Dia melakukan ini lagi?" bisik Leon dengan nada suara yang penuh amarah. "Pharma keterlaluan. Dia pikir dia siapa bisa memperlakukanmu seperti ini?!"
"Jangan, Leon... tolong jangan bilang siapa-siapa. Aku... aku bakal balik ke Indonesia sebentar lagi. Aku cuma mau bertahan sampai acara istana selesai," pinta Lyra dengan suara gemetar.
Di kejauhan, terlihat Pharma sedang tertawa bersama Veronica, tampak sangat berwibawa dan penuh pesona, seolah pria yang baru saja menyakiti istrinya semalam adalah orang yang berbeda.Meskipun hatinya hancur dan tubuhnya memar, Lyra selalu punya satu tempat pelarian di mana ia bisa melupakan sosok Pharma yang kasar: Bangsal Pediatrik (Anak). Bagi Lyra, menangani pasien anak-anak adalah satu-satunya alasan dia masih bisa tersenyum di rumah sakit yang dingin itu.
Pagi itu, sebelum persiapan gala dinner dimulai, Lyra menghabiskan waktunya di bangsal anak. Ia sedang berlutut di lantai, membantu seorang bocah laki-laki berusia lima tahun bernama Toby yang sedang berjuang melawan penyakit jantung bawaan.
"Nah, Toby... kalau kamu minum obat ini, nanti di dalam dada kamu bakal ada pahlawan super yang jagain jantung kamu," ucap Lyra lembut sambil memasangkan plester bergambar kartun di tangan kecil Toby.
Toby tertawa kecil. "Dokter Lyra juga pahlawan ya? Tapi kok mata pahlawannya bengkak? Dokter habis berantem sama penjahat?"
Lyra tersentak. Ia segera membetulkan letak kacamatanya, mencoba menyembunyikan sisa tangis semalam. "Enggak kok, Dokter cuma kurang tidur karena belajar biar bisa sembuhin Toby."
Pharma yang Tak Peduli
Di sudut pintu bangsal, Pharma berdiri bersama Veronica. Mereka sedang melakukan visit rutin. Pharma melihat Lyra yang sedang tertawa bersama anak-anak, tapi alih-alih merasa tersentuh, Pharma justru merasa terganggu. Baginya, Lyra terlalu membuang-buang waktu untuk hal-hal emosional seperti itu.
"Dokter Lyra," panggil Pharma, suaranya yang berat memecah keceriaan di ruangan itu.
Anak-anak di sana mendadak diam. Aura Pharma yang intimidatif selalu berhasil membuat suasana jadi kaku. Lyra berdiri, merapikan jas panjangnya agar memar di lengannya tidak terlihat.
"Ya, Sir?"
"Waktu kamu habis di sini. Kamu punya laporan bedah yang harus diselesaikan sebelum kita berangkat ke istana. Berhenti bermain-main dan kembalilah ke mode profesional," ucap Pharma tanpa perasaan.
"Tapi Sir, Toby baru saja "
"Saya tidak peduli soal Toby atau plester kartun itu," potong Pharma kasar di depan dokter-dokter lain dan Veronica. "Tugasmu adalah asisten bedah, bukan pengasuh anak. Segera ke ruangan saya."
Veronica yang berdiri di samping Pharma hanya tersenyum simpul, menikmati cara Pharma menekan Lyra. "Ayo Pharma, jangan terlalu keras. Mungkin dia memang lebih cocok di sini daripada di ruang operasi yang rumit," sindir Veronica sambil mengelus lengan Pharma.
Pharma tidak membela Lyra. Ia justru berbalik pergi bersama Veronica, meninggalkan Lyra yang kini dipandangi dengan tatapan kasihan oleh para perawat.
Bisikan Raydil
Raydil, si dokter magang yang juga ada di sana, mendekati Lyra setelah Pharma pergi. "Dokter Lyra... Anda oke? Dokter Pharma sepertinya sedang dalam mood yang sangat buruk hari ini."
Lyra menghela napas panjang, mengusap kepala Toby pelan sebelum berdiri tegak. "Nggak apa-apa, Ray. Dia memang selalu begitu."
"Tapi itu tadi kasar sekali, Dok. Di depan pasien anak-anak lagi," gumam Raydil kesal. "Kalau saya jadi Dokter, saya sudah lempar stetoskop ke mukanya."
Lyra hanya tersenyum pahit. Raydil tidak tahu bahwa yang diterima Lyra di balik pintu apartemen jauh lebih kasar daripada sekadar kata-kata.
"Sudahlah, Ray. Fokus saja sama Toby. Aku harus pergi sebelum 'Raja Delphi' itu marah lagi," ucap Lyra.
Saat berjalan menuju ruangan Pharma, Lyra memantapkan hatinya. Setiap bentakan Pharma, setiap cengkeraman kasar di lengannya, dan setiap kali Pharma lebih memilih membela Veronica, itu semua adalah langkah kaki yang membawa Lyra semakin dekat menuju pintu keberangkatan di bandara.Setelah melewati hari yang melelahkan di bangsal pediatrik dan tekanan dari Pharma, Lyra memutuskan untuk tidak langsung pulang ke apartemen yang terasa seperti penjara itu. Ia memilih menepi di sebuah kafe kecil yang letaknya agak jauh dari Delphi, tempat di mana tidak ada satu pun dokter yang akan mengenalinya.
Lyra duduk sendirian di meja pojok, dekat jendela yang mulai berembun karena udara London yang dingin. Di depannya hanya ada secangkir cokelat panas yang uapnya perlahan menghilang. Ia sengaja melepas jas dokternya, menyisakan sweter lengan panjang yang menyembunyikan memar di lengannya.
Ia menatap jalanan yang mulai gelap, pikirannya terbang jauh ke Indonesia.
"Kenapa aku masih di sini?" bisiknya pada diri sendiri.
Tangannya gemetar saat menyentuh cangkir. Ingatannya kembali ke beberapa jam lalu, saat Pharma membentaknya di depan anak-anak. Rasa sakit di hatinya ternyata jauh lebih perih daripada cengkeraman tangan Pharma semalam. Ia merasa kehilangan sosok pria yang dulu sangat lembut dan memujanya saat mereka masih di Jakarta.
Pharma yang sekarang adalah orang asing. Orang asing yang haus akan pengakuan dan rela mengorbankan perasaan istrinya demi terlihat hebat di mata Veronica dan dunia.
Lyra merogoh tasnya, mengeluarkan ponsel. Ia membuka aplikasi pemesanan tiket pesawat. Jarinya ragu sejenak di atas layar yang menampilkan rute London (LHR) - Jakarta (CGK).
"Hanya tinggal menekan satu tombol, dan semuanya selesai," gumamnya getir.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari Pharma.
Pharma: Kamu di mana? Jangan berani-berani menghilang. Jam 7 malam mobil jemputan datang. Pakai gaun yang sudah saya siapkan di tempat tidur. Jangan membuat saya malu di depan tamu kerajaan.
Lyra menatap pesan itu dengan tatapan kosong. Tidak ada pertanyaan "Kamu sudah makan?" atau "Maaf soal tadi." Hanya instruksi, ancaman, dan ego.
Lyra meletakkan ponselnya dengan posisi layar menghadap ke bawah. Ia menarik napas panjang, mencoba menahan air mata yang hampir jatuh. Di kafe yang sepi itu, hanya ditemani suara denting sendok dan musik jazz pelan, Lyra memantapkan sebuah keputusan.
Ia akan datang ke acara kerajaan itu. Bukan sebagai asisten yang patuh, dan bukan sebagai istri yang tertindas. Ia akan datang untuk memberikan "hadiah perpisahan" yang tidak akan pernah dilupakan oleh Pharma Andriend.