NovelToon NovelToon
Obsession Sang Mafia

Obsession Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Kriminal dan Bidadari / CEO / Cintapertama
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Queen__halu

Alana terpaksa harus menikah dengan Axel Luciano, seorang CEO yang begitu terobsesi padanya. Ancaman Axel berhasil membuat Alana terjebak dalam dilema, sehingga ia terpaksa harus menerima pernikahan tersebut demi menyelamatkan nyawa orangtuanya.

Axel bukan hanya kejam di mata Alana, melainkan seorang psikopat yang siap melepaskan peluru kepada siapa saja yang berani melawannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen__halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Villa

Akhirnya mereka sampai di sebuah villa mewah milik Luciano.

Gerbang besi tinggi terbuka perlahan setelah para penjaga mengenali mobil itu. Lampu taman menyala hangat, menerangi halaman luas dengan pepohonan rindang dan air mancur kecil di tengahnya. Villa itu berdiri megah, sunyi, seolah terpisah dari dunia luar.

Luciano memarkirkan mobilnya tepat di depan pintu utama. Ia turun lebih dulu, lalu membuka pintu di sisi Alana. Tangannya terulur, menuntun Alana keluar dari mobil dan membawanya masuk ke dalam villa.

Langkah Alana terasa berat. Bukan karena lelah, melainkan karena perasaan yang bercampur aduk—takut, ragu, namun juga penasaran.

"Ini Villa milikku, juga sudah menjadi milikmu. Kita akan habiskan waktu di Villa ini untuk beberapa hari. Hanya ada kau dan aku, Alana."

Luciano mengucapkannya dengan nada tenang, seolah itu adalah keputusan paling masuk akal di dunia. Alana menoleh, menatap sekeliling. Interior villa itu luas dan elegan—langit-langit tinggi, dinding kaca besar menghadap taman belakang, dan aroma kayu serta bunga segar memenuhi udara.

"Bagaimana dengan pekerjaanmu?" tanya Alana, masih mencoba mencari celah logika di balik keputusan mendadak ini.

Luciano melepaskan jasnya, menyampirkannya di sofa, lalu menatap Alana kembali.

"Akan ada Altair yang mengurusnya."

Alana terdiam. Nama itu membuatnya sadar bahwa semua sudah dipersiapkan. Villa ini bukan sekadar tempat pelarian sesaat—Luciano benar-benar berniat mengurung dunia mereka hanya berdua.

“Aku tidak ingin kau merasa terkurung,” lanjut Luciano, seolah membaca isi kepala Alana. “Di sini kau bebas berjalan ke mana pun. Taman, kolam renang, balkon. Tidak ada penjaga yang mengikutimu ke mana-mana.”

Ia melangkah lebih dekat, menjaga jarak yang cukup aman.

“Aku hanya ingin kita punya ruang. Jauh dari orang lain. Jauh dari kebisingan. Jauh dari kesalahpahaman.”

Alana menghela napas panjang. Ia melangkah menuju jendela besar dan menatap hamparan taman yang luas. Tempat ini indah—terlalu indah untuk disebut penjara. Namun ia tahu, keindahan pun bisa menjadi sangkar jika niat di baliknya salah.

“Aku akan tinggal,” ucap Alana akhirnya, masih membelakangi Luciano. “Tapi bukan karena aku dipaksa.”

Luciano mengangguk pelan.

“Aku tahu,” jawabnya singkat. “Dan aku tidak akan menyentuhmu, tidak akan menuntut apa pun… kecuali kejujuran.”

Alana berbalik menatapnya. Untuk pertama kalinya sejak mobil itu berhenti, ia melihat keraguan di mata Luciano. Bukan posesif. Bukan kemarahan. Melainkan ketakutan yang selama ini ia sembunyikan di balik kontrol.

“Mari kita mulai dari situ,” kata Alana pelan.

Luciano tersenyum samar.

Di villa yang sunyi itu, mereka akhirnya sepakat pada satu hal, bukan tentang siapa yang memiliki siapa, melainkan apakah mereka bisa belajar saling percaya, tanpa rasa takut.

Luciano baru saja menutup pintu villa ketika keheningan jatuh begitu saja di antara mereka. Ruangan luas itu terasa semakin sempit karena keberadaan satu sama lain. Alana berdiri mematung, jemarinya saling mencengkeram, napasnya tak sepenuhnya stabil.

Luciano menoleh. Tatapannya tajam, posesif, namun kali ini terselip sesuatu yang lain, kewaspadaan.

“Kenapa diam?” tanyanya rendah.

Alana mengangkat wajah. Matanya masih menyimpan sisa ketakutan, tapi juga tekad yang tak bisa ia pahami sendiri. Ia melangkah mendekat, satu langkah lalu satu lagi, hingga jarak mereka nyaris tak ada.

Tanpa kata, Alana berdiri berjinjit dan menautkan bibirnya ke bibir Luciano.

Ciuman itu singkat, ragu, seolah Alana sendiri terkejut dengan keberaniannya. Namun sebelum ia sempat mundur, Luciano sudah bereaksi. Tangannya langsung melingkar di pinggang Alana, menahannya, seakan takut ia akan menghilang.

Luciano membalas ciuman itu dengan penuh penerimaan. Tidak terburu-buru, tapi dalam. Bibirnya bergerak seirama, menyambut setiap getaran ragu yang Alana berikan, mengubahnya menjadi sesuatu yang lebih pasti.

Saat mereka berpisah, dahi Luciano menempel di dahi Alana. Napas mereka bercampur.

“Kau tahu apa yang kau lakukan?” bisiknya, suara Luciano berat namun terdengar puas.

Alana menutup mata sejenak, lalu membukanya kembali.

“Aku hanya ingin kamu berhenti marah.”

Luciano tersenyum tipis, senyum yang berbahaya, tapi kali ini hangat. Tangannya naik, menyentuh pipi Alana dengan ibu jari yang lembut, kontras dengan sikap posesifnya selama ini.

“Kalau begitu,” katanya pelan, “kau baru saja memilih cara yang paling ampuh.”

Dan untuk sesaat, amarah Luciano benar-benar mereda—tergantikan oleh perasaan memiliki yang semakin dalam.

***

Altair baru saja menutup map rapat di hadapannya ketika satu per satu peserta rapat meninggalkan ruangan. Suasana yang semula formal perlahan berubah sunyi. Namun, Lorenzo tidak beranjak sedikit pun dari kursinya. Ia tetap duduk, menatap Altair lurus, seolah ingin memastikan lawan bicaranya tidak menghindar.

Altair menyadari itu. Ia mengangkat pandangannya, bertemu dengan sorot mata Lorenzo yang tenang, tapi penuh tekanan.

“Aku mau kau benar-benar menjauh dari Ciara,” ucap Lorenzo akhirnya. Nada suaranya datar, tanpa amarah, namun tegas.

Altair menghela napas pendek. “Aku sudah melakukannya, Tuan. Tapi malam itu, aku tidak tahu jika Ciara menyusup ke dalam mobilku.”

Lorenzo menyandarkan punggungnya ke kursi, kedua tangannya terlipat di dada. “Ciara masih terlalu muda. Dia masih sangat labil dengan perasaannya. Aku hanya ingin kau bersikap tegas padanya,” katanya lagi, menekan tanpa harus meninggikan suara.

Altair mengepalkan jari-jarinya di atas meja. “Aku sudah melakukannya,” jawabnya pelan namun mantap. “Meskipun itu jelas menyakiti diriku sendiri.” Ia memejamkan mata sesaat, menahan gejolak yang tak sempat ia uraikan dengan kata-kata.

Lorenzo menatapnya lebih lama, lalu melontarkan satu kalimat yang membuat udara di ruangan itu seolah membeku.

“Kau tidak ingin disebut sebagai pedofil, bukan?”

Altair tersentak. Matanya langsung terbuka, menatap Lorenzo dengan keterkejutan yang sulit disembunyikan.

“Aku bukan pedofil,” tegasnya, suaranya rendah namun bergetar oleh emosi yang tertahan. “Aku hanya pria yang mencintai putrimu dengan tulus, dengan caraku sendiri.”

Tanpa menunggu balasan, Altair berdiri. Ia meraih jasnya, lalu melangkah pergi meninggalkan ruang rapat itu. Langkahnya cepat, rahangnya mengeras, menahan amarah dan perasaan bersalah yang bercampur jadi satu.

Sementara itu, Lorenzo tetap duduk di tempatnya. Tatapannya kosong menatap pintu yang baru saja tertutup. Ia menghela napas panjang, menyadari bahwa apa yang ia lakukan mungkin melukai banyak pihak, namun sebagai ayah, ia merasa tidak punya pilihan lain.

Di luar ruangan, Altair berhenti sejenak di lorong yang sepi. Ia menunduk, mengusap wajahnya kasar. Nama Ciara kembali terlintas di benaknya, membawa rasa rindu sekaligus ketakutan.

Ia tahu satu hal dengan pasti, menjauh bukan berarti berhenti peduli. Namun kali ini, jarak adalah satu-satunya cara agar semuanya tidak semakin hancur.

“Sepertinya aku harus mengikuti kata-kata Luciano. Aku harus berjuang sendiri dengan perasaanku. Tua bangka Lorenzo itu harus tahu, kekuatan cinta akan mengalahkan usia.”

Altair mengusap kasar wajahnya, mencoba menenangkan napas yang terasa berat di dadanya. Setelah itu, ia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan ponsel. Jarinya sempat ragu di layar, sebelum akhirnya menekan satu nama yang sejak tadi berputar di kepalanya.

Ciara.

Panggilan itu berdering beberapa kali sebelum akhirnya tersambung.

“Ciara, kita harus bertemu. Nanti aku akan kirimkan lokasi,” ucap Altair singkat, suaranya rendah namun terdengar serius.

Di seberang sana, Ciara terdiam sejenak. Altair bisa membayangkan wajah gadis itu, bingung, terkejut, sekaligus berharap.

“Sekarang?” tanya Ciara pelan.

“Iya. Sekarang,” jawab Altair tanpa ragu.

Setelah panggilan terputus, Altair langsung mengirimkan titik lokasi. Ia menyimpan kembali ponselnya, lalu melangkah menuju lift. Tatapannya kosong, pikirannya dipenuhi satu tekad yang sama sekali tak bisa ia tarik kembali.

Ia tahu, keputusan ini akan menimbulkan badai baru. Namun untuk pertama kalinya, Altair memilih berhenti mundur.

Sementara itu, di tempat lain, Ciara menatap layar ponselnya yang masih menyala. Jantungnya berdegup kencang saat melihat lokasi yang dikirim Altair. Tangannya sedikit gemetar saat ia meraih jaket.

***

^^^Jangan lupa tinggalkan jejak kalian geesss, biar jadi booster tambahan untuk author ❤️❤️^^^

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!