Setelah partai persilatan aliran hitam terkuat Gapura Iblis runtuh, duniapun berubah menjadi lebih tenang dan damai. hampir tidak ada lagi perselisihan besar yang terjadi di antara kaum pendekar. semuanya sama berharap agar suasana tentram juga saling menghargai itu dapat terus bertahan selamanya.
Namun tidak ada yang abadi di dunia ini. karena tanpa mereka sadari, suatu kekuatan jahat yang terlupakan sedang bangkit dan mengancam dari balik kegelapan.
Keadaan menjadi semakin tidak terkendali saat terdengar kabar tentang kemunculan kembali dua senjata pusaka yang telah ratusan tahun lenyap dari rimba persilatan.
(Cerita ini ada sedikit keterkaitan dengan novel Pendekar Tanpa Kawan, 13 Pembunuh dan novel Kisah- Kisah Dunia Persilatan).
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Watu Kala.
Sementara itu ditempat lainnya, Ki Tapak Kala dan Ki Tapak Watu yang secara mendadak terkena serangan jurus pedang Restu Seta alias 'Pendekar Jubah Putih' sama meraung gusar. meskipun luka mereka tidak sampai mengancam nyawa mereka berdua namun tetap saja sangat mengganggu pergerakan tubuh.
Dalam hati mereka sama mengumpat dan bergidik ngeri karena nyaris saja terbunuh oleh serangan pedang lelaki bernama Restu Seta itu. bahkan tenaga kesaktian dari jurus pedangnya terasa mengacaukan aliran darah ditubuh kedua orang kepala begal rampok itu. padahal lukanya sendiri tidak terlalu parah.
Disaat mereka bersiap menerima serangan susulan sekaligus balas menggempur lawan, justru pedang perak tipis dan lentur ditangan Restu Seta secara aneh dapat berganti arah. kini Nyi Nilam Sarti kembali menjadi sasaran. pedang menikam lurus bagai sambaran kilat sehingga menciptakan selarik cahaya tajam yang menyilaukan mata.
Tetapi ditengah jalan jalur pedang itu malah terpecah menjadi tujuh sinar keperakan yang mengincar tujuh bagian tubuh lawan. suara ledakan beruntun turut mengiringi serangan pedang ini. ''Aah,, jurus pedang 'Tujuh Kilat Buana.!'' seru Nyi Nilam Sarti terperanjat saat mengenali nama jurus pedang yang sedang dilancarkan Restu Seta.
Sebagai bekas pasangan suami- istri dimasa lalu, tentunya Nyi Nil Sarti tahu betul kekuatan jurus pedang itu. baru sinar pedangnya saja yang menyambar tiba, tujuh bagian tubuhnya terasa seperti ditikam dan tersayat mulai dari pangkal leher, dada, lengan tangan kiri- kanan, tengah perut juga sepasang paha kakinya.
Jubah merahnya yang tipis robek- robek dan mulai dibasahi darah. namun demikian wanita cantik tapi cabul ini tidak menjadi panik. dia sadar tidak sempat lagi menghindar. karena itu tubuhnya malah berkelebat maju ke depan menghadang jurus pedang lawan. sepasang pedang merahnya yang pendek dan sedikit melengkung bergerak membacok bersilangan seolah mengunting. dua larikan cahaya merah berselimut bara api panas melabrak ganas.
Inilah jurus 'Pedang Kembar Gunting Geni' yang jadi andalan perempuan itu. jangankan tubuh manusia, bahkan konon batangan besi sekalipun juga dapat terbabat putus. awalnya saat masih hidup bersama Restu Seta, jurus pedang ini belum sempurna dikuasai. tetapi semenjak bergabung dengan gerombolan begal rampok 'Watu Kala' dan kerap sekali berhubungan dengan kedua pimpinannya, Nyi Nilam Sarti mampu menguasai jurus itu.
Dalam hatinya Restu Seta merasa terkejut. sebab pastinya dia juga sadar kehebatan jurus pedang kembar dari mantan istrinya ini apalagi kedua senjata yang dimilikinya adalah tempaan dari guru si wanita cabul itu. meski belum terjadi bentrokan langsung, pakaian jubah putihnya sudah ada beberapa bagian yang koyak terbakar oleh sambaran hawa pedangnya. biarpun kulit tubuhnya juga ikut melepuh namun lelaki ini tidak sudi terlihat lemah.
''Mampuslah kau perempuan cabul keparat.!'' bentak Pendekar Jubah Putih penuh dendam. ''Huhm., kaulah yang bakalan menjadi mayat terpotong- potong, dasar lelaki bangsat.!'' umpat Nyi Nilam Sarti balik menghardik. tidak dapat dihindarkan lagi, dua jurus sakti saling beradu hingga tercipta puluhan bunga api.
'Whuuuttt., wheeett., shaaatt., shaaatt.!'
'Traaaang., traaaang., claaaang., plaaang.!'
''Aaaakh.! le., lelaki bedebah., aak., aku belum kalah.!'' teriak Nyi Nilam Sarti bengis. ''Uuagh., kal., kalau begitu marilah kita tentukan siapa dii., diantara kau dan aku yang layak bertahan hidup.!'' sumbar Restu Seta. jika didengarkan dari suara mereka, sangat mungkin kedua orang itu sama mengalami luka cukup parah.
Di dalam suasana malam yang gelap begitu rupa, pertarungan antara kedua orang bekas pasangan suami- istri ini berlangsung sangat cepat. hanya sekejap saja telah lebih dari dua puluhan jurus terlewati. yang terlihat dimata hanyalah dua kelebatan bayangan merah dan putih saling libas. berulang kali terdengar suara keras dentingan senjata yang dibarengi pijaran api.
''Apakah kita harus terus berdiam diri saja ataukah turut membantu Nyi Nilam Sarti.?'' tanya Ki Tapak Watu pada rekannya sembari memegangi lehernya yang tersayat pedang. walaupun punya sifat berangasan gampang tersulut amarah tetapi setelah mengalami sendiri kehebatan ilmu pedang lawannya, dia mesti berpikir ulang untuk balas melabrak.
''Kalau didengar dari percakapan mereka tadi, kedua orang ini dulunya adalah pasangan suami- istri. lantas mereka terpisah karena Nyi Nilam Sarti nekad mempelajari suatu ilmu kesaktian yang dianggap terlarang. sudah jelas keduanya memendam dendam kesumat utamanya si lelaki bernama Restu Seta itu..''
''Biarpun luka dalam kita tidak begitu parah namun kurasa bukan waktu yang tepat untuk turun tangan langsung. kita amati saja sambil memulihkan diri. jika ada kesempatan kita dapat langsung bergerak membunuh dalam sekali hantam..'' putus Ki Tapak Kala. berbeda dengan kawannya, orang yang kedua telapak tangannya berwarna kehitaman itu memiliki kecerdikan dan perhitungan yang lebih baik.
Bersamaan dengan itu mendadak saja dari tengah kancah pertarungan terdengar jeritan tertahan yang disusul terpentalnya dua sosok tubuh. terlihat baik Nyi Nilam Sarti maupun Restu Seta si Pendekar Jubah Putih sama tergeletak diatas tanah basah berumput. sepertinya mereka telah terluka dalam dan luar yang lumayan berat.
Melihat wanita yang menjadi kekasih gelap sekaligus pemuas nafsu mereka dibuat tidak berdaya, tanpa sadar Ki Tapak Watu serta Ki Tapak Kala meraung marah. mereka melihat sekarang ini adalah suatu kesempatan untuk membunuh Restu Seta. setelah saling lirik keduanya berkelebat sambil lontarkan ilmu pukulan sakti untuk dapat menghabisi lawan dalam sekali serangan.
''Haa., ha., sekarang terimalah kematianmu.!'' ancam Ki Tapak Kala tertawa bengis. dengan kedua telapak tangannya yang mengepulkan asap tipis kehitaman dia mengincar bagian dada lawan. sedangkan Ki Tapak Watu lebih beringas lagi. lehernya yang tersayat pedang hingga nyaris saja tertebas putus membuat amarahnya berlipat meluap.
Apalagi dibandingkan rekannya, orang gemuk kekar itu lebih tergila- gila dan bernafsu pada Nyi Nilam Sarti. melihat pasangan wanitanya terluka semakin membuat dirinya dendam. dengan telapak tangannya yang sekeras batu karang dia berniat membuat pecah kepala si Pendekar Jubah Putih dalam sekali pukulan.
Restu Seta yang mencoba bangkit bukannya tidak menyadari ancaman maut dari kedua lawannya. tapi jangankan untuk melawan bahkan sekedar berdiri saja dia kesulitan sebab luka yang dia derita akibat bentrokan jurus pedang dan kesaktian dengan Nyi Nilam Sarti. terpaksa dia cuma bisa secepatnya bergulingan sejauh mungkin sambil babatkan pedangnya.
Kedua ilmu pukulan sakti yang terlewat hanya beberapa jangkauan tangan saja darinya telah membuat sebuah lubang besar dan dalam diatas tanah. meskipun demikian hempasan angin aji kesaktian ini tetap menyapu raganya hingga sekujur tubuhnya terasa remuk dan pedangnyapun terlepas dari genggaman tangan. orang ini hanya bisa terkapar tanpa sanggup lagi menghindari serangan kedua lawannya yang kembali datang.
''Huhm., modar kowe.!'' dengus Ki Tapak Watu dipenuhi kegusaran karena gagal membunuh sasarannya dalam sekali hantam. bersama rekannya dia kembali melabrak. sekarang ini mereka berdua sangat yakin lawan tidak akan dapat lagi lolos dari kematian. ''Jahanam., kalian berdualah yang akan pergi ke neraka.!''
Hanya itu saja suara yang sempat mereka dengar. karena tanpa menolehkan kepalanya, kedua begal rampok itu sudah merasakan adanya segulung angin pukulan berhawa panas dan sekeras dinding karang datang melabrak dari belakang tubuhnya. sehingga terpaksa mereka harus selamatkan diri lebih dulu jika tidak ingin mati.
........
Silahkan menuliskan komentar Anda.🙏😊 👍👌☝⭐🌹☕👆👏💪🤝🤲🤭. Maaf lambat update, saat ini authornya sedang kurang sehat. Terima kasih.