Seorang ojol yang masih muda. mengidamkan hidup di tahun 90an karena cerita kakeknya. siapa sangka keinginannya itu malah membuatnya terjebak dalam lintasan waktu.
Warning: cerita ini alur sangat lambat. dan buat yang punya masalah psikotis lebih baik tak baca cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Pagi itu, tak seorang pun datang terlambat. Bahkan para teknisi yang biasanya santai sudah berkumpul sebelum matahari tinggi.
Di depan dinding beton, berbagai peralatan telah disiapkan: bor beton, pemindai, kamera, hingga lampu sorot berkekuatan tinggi.
Profesor Surya menatap semua orang dengan raut serius. "Hari ini, apa pun yang kita lakukan harus terekam."
Semua orang mengangguk setuju.
"Mulai."
Bor beton mulai meraung keras.
Brrrrrrrr...
Lapisan plester dinding perlahan mengikis, menerbangkan debu tebal yang memenuhi ruangan. Zain bergerak cepat membantu menyedot debu dengan vacuum industri agar pandangan mereka tetap jelas.
Sekitar dua puluh menit kemudian, mata bor mengenai sesuatu yang keras.
"Besi!" seru salah satu teknisi.
Profesor segera memberi isyarat. "Hentikan pengeboran. Itu bukan besi tulangan."
Setelah debu dibersihkan secara perlahan, di balik lapisan semen itu terlihat sebuah pintu baja bercat abu-abu. Namun, catnya sengaja ditutup kembali dengan semen—seolah seseorang benar-benar ingin menghilangkan keberadaan pintu tersebut selamanya.
Di bagian tengah pintu, terdapat sebuah pelat logam kecil. Ardi menyapunya dengan kain, hingga tulisan yang mulai berkarat itu akhirnya bisa terbaca:
RUANG KRONOS B
"Ruang B?" gumam Zain heran.
Profesor mengernyitkan dahi. "Aneh..."
"Kenapa, Prof?"
"Setahuku, Proyek Kronos hanya punya Ruang A."
"Lalu Ruang B ini apa?"
Profesor menggeleng pelan. "Aku tidak ingat."
Jawaban itu justru membuat suasana terasa kian mencekam.
Gagang pintu baja itu masih utuh. Profesor mencoba memutarnya, tetapi tidak bergerak sedikit pun karena masih terkunci. Uniknya, tidak ada gembok yang terpasang di sana.
Ardi memeriksa bagian penguncinya lebih dekat. "Kuncinya elektronik."
"Masih bisa dinyalakan?" tanya Zain.
"Tidak mungkin, ini sudah hampir tiga puluh tahun."
Profesor mengangguk setuju. "Berarti kita buka secara manual."
Setelah beberapa menit mengutak-atik mekanisme penguncinya, kait baja itu berhasil dilepas. Semua orang mundur beberapa langkah mengambil jarak.
Profesor menarik napas panjang. "Nyalakan lampu sorot. Mulai merekam."
Kamera mulai menyala. Profesor menggenggam gagang pintu, lalu menariknya perlahan.
Kreeeeek...
Suara gesekan logam tua bergema keras. Pintu terbuka beberapa sentimeter, mengembuskan udara dingin dari dalam. Bukan dingin pendingin ruangan, melainkan dingin lembap khas tempat yang terisolasi sangat lama.
Begitu pintu terbuka penuh, semua orang tertegun.
Di baliknya terbentang sebuah lorong sempit sepanjang belasan meter. Lampu-lampu di langit-langit sudah lama mati, tetapi struktur lorongnya masih utuh. Dindingnya dipenuhi jalinan kabel tua dan lantainya tertutup lapisan debu tebal.
Namun, ada hal aneh pada debu tersebut. Lapisannya nyaris tidak berbekas, seolah memang tak ada satu orang pun yang melintas sejak pintu itu disegel.
Zain mengarahkan sorot senternya ke lantai. "Prof... lihat ini."
Profesor mendekat dan ikut meneliti area yang ditunjuk. Di atas debu tebal itu, terdapat satu garis panjang yang membujur. Itu bukan jejak kaki ataupun bekas roda, melainkan seretan sesuatu yang pernah ditarik keluar dari dalam sana. Garis itu berhenti tepat di ambang pintu, lalu menghilang.
"Berarti..." gumam Ardi pelan, "...pernah ada sesuatu di dalam sana."
Profesor mengangguk setuju. "Dan seseorang membawanya keluar sebelum lorong ini disegel rapat."
Mereka bertiga melangkah perlahan menyusuri lorong. Setiap pijakan menimbulkan bunyi halus di atas debu.
Kres... Kres...
Di ujung lorong, tampak sebuah pintu lain yang jauh lebih tebal. Di bagian atasnya terpasang papan nama yang catnya nyaris pudar sepenuhnya. Profesor mengangkat senternya lebih tinggi hingga tulisan itu bisa terbaca:
RUANG OBSERVASI TEMPORAL
Zain menelan ludah, lalu menoleh ke arah Profesor. "Prof... sepertinya jawaban yang kita cari ada di balik pintu ini."
Profesor tidak langsung menjawab. Tatapannya justru tertambat pada sebuah benda kecil yang tergeletak di lantai, tepat di depan pintu tersebut. Ia membungkuk dan mengambilnya perlahan.
Benda itu adalah sebuah gantungan kunci berbentuk roket dengan cat biru yang sudah memudar.
Seketika tubuh Zain membeku.
"Itu..."
Profesor menoleh padanya. "Kamu kenal benda ini?"
Zain mengangguk pelan, menggenggam gantungan kunci itu dengan jemari yang gemetar. "...Itu milik saya. Tapi... saya ingat terakhir kali memegangnya saat masih kecil."
Zain menatap gantungan kunci itu dalam-dalam. Jarinya perlahan mengusap cat biru yang mulai mengelupas.
Di bagian belakang benda itu, masih terlihat jelas goresan kecil berbentuk huruf Z—coretan tidak rapi khas tangan seorang anak kecil.
"Ini memang milik saya..." ucap Zain lirih, suaranya terdengar bergetar. "Kakek yang membelikannya dulu di pasar malam."
Profesor dan Ardi saling berpandangan. Jika pengakuan Zain benar, berarti gantungan kunci ini telah tergeletak di lorong ini selama hampir tiga puluh tahun.
"Kalau benda ini ada di sini," ujar Ardi pelan, "berarti Zain memang pernah masuk ke lorong ini."
Profesor mengangguk pelan. "Atau... pernah dibawa masuk."
Kalimat singkat itu seketika membuat bulu kuduk Zain meremang. Pikirannya masih sama sekali tidak mengingat apa pun, namun setiap jengkal langkah di lorong terasa kian akrab—seolah tubuhnya mengenali tempat ini, meski ingatannya telah terhapus.
Mereka bertiga melanjutkan langkah hingga tiba di depan pintu baja yang jauh lebih besar. Di sampingnya terpasang sebuah panel akses tua dengan layar yang sudah pecah dan tombol-tombol berkarat.
"Mustahil ini masih berfungsi," gumam Ardi.
Profesor mencoba menekan beberapa tombol, namun tak ada respons sama sekali. "Manual lagi," putusnya.
Mereka mulai membongkar pelindung panel tersebut. Di baliknya, terlihat pintalan rangkaian kabel yang sebagian besar sudah lapuk. Namun, ada satu kabel berwarna merah yang tampak mencolok karena kondisinya sangat berbeda.
Ardi mengernyitkan dahi. "Ini aneh, Prof."
"Kenapa?"
"Kabel merah ini... usianya tidak mungkin tiga puluh tahun."
Profesor langsung mendekat untuk menelitinya. "Kamu yakin?"
Ardi mengangguk mantap. "Sangat yakin. Bahan isolasinya sudah menggunakan jenis modern."
Ruangan itu mendadak diselimuti keheningan yang menekan.
"Itu artinya..." kata Zain pelan, "...pernah ada orang lain yang masuk ke sini?"
Profesor tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap kabel merah itu dengan pandangan dalam. Jika memang ada yang mengganti kabel tersebut, berarti lorong ini tidak pernah benar-benar terlupakan. Seseorang telah datang ke sini... jauh setelah pintu ini disegel.
Setelah hampir satu jam mengutak-atik mekanisme pintu, kait penguncinya akhirnya berhasil dilepas. Profesor menatap Zain dan Ardi secara bergantian.
"Siap?"
Tak ada suara yang menjawab, namun mereka berdua mengangguk mantap.
Perlahan, pintu baja berat itu didorong.
Grrrrkk...
Suara gesekan logam tua bergema panjang, diiringi rontokan debu dari langit-langit. Begitu celahnya terbuka cukup lebar, mereka segera mengarahkan sorot senter ke dalam.
Ruangan di balik pintu itu jauh lebih luas dari perkiraan mereka. Tepat di tengahnya, berdiri sebuah alat raksasa berbentuk cincin logam dengan diameter sekitar tiga meter. Kabel-kabel tebal menjulur dari dasarnya ke lantai, beberapa di antaranya tampak putus dimakan usia. Di sekeliling cincin tersebut, berderet puluhan monitor tabung tua yang sudah mati.
Zain memandangi alat raksasa itu tanpa berkedip. "Ini..."
Profesor mengembuskan napas panjang. "Prototipe pertama."
"Mesin waktu?"
Profesor menggeleng. "Belum. Ini bukan mesin waktu."
"Lalu apa?"
Profesor melangkah mendekati cincin logam tersebut, lalu mengusap permukaannya yang tertutup debu tebal. "Dulu... kami menyebutnya Gerbang Resonansi. Fungsinya bukan untuk mengirim seseorang ke masa lalu, melainkan... mencari jalan menuju ke sana."
Kalimat Profesor masih menggantung di udara. Namun, sebelum ada yang sempat bertanya lebih lanjut, gelang sensor di pergelangan tangan Zain tiba-tiba berbunyi nyaring.
BIP! BIP! BIP!
Bersamaan dengan bunyi peringatan itu, sebuah lampu kecil di sisi cincin logam—yang seharusnya sudah mati total selama puluhan tahun—perlahan menyala merah. Warnanya kemudian berkedip dan berubah menjadi hijau terang.
Seolah-olah... mesin tua itu baru saja menyambut kembali pemiliknya yang telah lama pulang.