NovelToon NovelToon
Supir Ketos Nona Manja

Supir Ketos Nona Manja

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Anak Genius / Action
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

Kenalkan, namaku Arkan Jaya. Aku bekerja sebagai supir di salah satu rumah orang kaya yang ada di daerahku.

Kebetulan, putri dari orang kaya tempat saya bekerja adalah orang yang sering saya hukum di sekolah dulu karena suka membuat onar.

Awalnya aku ragu untuk bekerja di rumah anak ini. Namun, karena aku terlahir miskin, mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus menerimanya.

Orang tuanya bernama Pak Frans Sanjaya dan Bu Sofia.
Pria itu adalah Pak Frans Sanjaya. Di sampingnya, pintu mobil lain terbuka dan muncul sosok wanita anggun yang tak lain adalah Bu Sofia, ibunya. Hari itu adalah kali pertama aku melihat langsung kedua orang tua Clara secara jarak dekat. Aku yang saat itu hanya seorang Ketua OSIS dari keluarga biasa, tentu tidak pernah membayangkan bahwa bertahun-tahun kemudian, Pak Frans Sanjaya dan Bu Sofia-lah yang akan membayar gajiku sebagai supir pribadi putri manja mereka ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Penghormatan Terakhir dan Janji Masa Depan

Mobil sedan hitam yang dikemudikan oleh Egi perlahan memutar memasuki pelataran luas kediaman megah keluarga Sanjaya. Begitu turun dari mobil, suasana duka yang mendalam begitu terasa menyelimuti rumah besar tersebut. Bendera kain kuning tampak terpasang di dekat pintu gerbang utama.

Di teras depan, aku kembali bertemu dengan Clara, Ibu Sofia, Pak Frans, serta Tante Fania. Mereka semua tampak sudah rapi mengenakan pakaian serba hitam, bersiap untuk berangkat melayat ke rumah duka almarhum Pak Jhon.

Aku menarik napas lega di dalam hati, bersyukur karena kemeja lengan panjang yang kupakai dari rumah tadi juga berwarna hitam pekat, sehingga penampilanku tidak terlihat mencolok atau salah kostum di antara rombongan keluarga besar ini.

Clara yang berdiri di samping ibunya sempat menatapku sejenak saat aku melangkah mendekat. Raut wajah gadis itu tampak begitu sembab dan lesu, memancarkan kesedihan yang amat mendalam atas kepergian pengawal pribadinya yang sudah setia menjaganya sejak kecil.

Pak Frans Sanjaya yang melihat kedatanganku langsung melangkah maju menyambutku. Nada bicaranya terdengar begitu hangat dan halus, persis seperti seorang ayah yang sedang bertanya kepada anak kandungnya sendiri.

"Nak Arkan, kamu sudah datang rupanya..." sapa Pak Frans dengan senyuman tipis yang sarat akan kehangatan.

"Bagaimana dengan ujian kelulusan kamu?

Lancar semuanya?"

Aku menundukkan kepala sedikit dengan penuh rasa hormat, membalas pertanyaan beliau dengan penuh percaya diri dan sedikit menyelipkan rasa bangga.

"Iya, Pak Frans. Puji syukur ujiannya berjalan sangat aman dan lancar, Pak. Hasil nilai ujian saya bagus semua," jawabku cepat, sedikit pamer atas pencapaian akademisku yang memuaskan.

Pak Frans terkekeh renyah, menepuk bahuku pelan dengan bangga. "Baguslah kalau begitu, Nak Arkan. Bapak sudah duga kamu pasti bisa melewatinya dengan sangat baik. Lalu... bagaimana dengan rencana kedepannya? Kamu ada rencana mau langsung melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi, atau bagaimana?"

Aku menarik napas pelan, menatap lurus mata Pak Frans dengan jujur tanpa ada yang ditutup-tutupi.

"Tidak, Pak Frans... Saya tidak langsung lanjut kuliah reguler," jawabku tegas namun tetap sopan. "Rencananya saya mau langsung mencoba mencari pekerjaan saja pak. Tapi nanti, kalau saya sudah punya sedikit rezeki dan tabungan yang cukup, saya berniat mencoba kuliah di Universitas Terbuka saja, Pak."

Pak Frans mangut-mangut penuh pemahaman, pandangan matanya memancarkan rasa kagum atas kemandirian dan jalan pikiran yang dewasa dari pemuda di hadapannya ini.

"Oh... begitu ya rencana kamu," tutur Pak Frans lembut.

"Kebetulan sekali, Nak Arkan... Saya ada tawaran pekerjaan nanti buat kamu. Dan pekerjaan ini... rasanya hanya kamu satu-satunya orang yang bisa saya percaya sepenuhnya untuk menjalankannya. Nanti, setelah kita pulang melayat dari rumah duka almarhum Pak Jhon, baru kita lanjutkan pembahasan detailnya ya."

Jantungku berdesir kencang. Prediksi Egi benar-benar tepat sasaran! bisik batin utamaku.

Pak Frans lalu menoleh ke arah rombongan keluarga. "Sekarang, ayo kita semua berangkat ke rumah duka terlebih dahulu."

Kami pun bergerak menuju rombongan mobil. Aku, Egi, Tante Fania, dan Clara berada di dalam satu mobil sedan yang sama. Egi duduk di kursi kemudi, sementara aku duduk di kursi penumpang depan. Di barisan belakang, Tante Fania duduk berdampingan dengan Clara yang terus menunduk menatap jemari tangannya.

Sepanjang perjalanan menuju rumah duka almarhum Pak Jhon, suasana di dalam kabin mobil terasa sangat sunyi dan hening. Tidak ada perbincangan atau gurauan yang terjalin.

Suasana duka kehilangan sosok Pak Jhon benar-benar menyita perhatian dan perasaan setiap orang di dalam kendaraan tersebut.

Beberapa puluh menit kemudian, mobil kami tiba di kawasan pemukiman tempat tinggal almarhum Pak Jhon. Karangan bunga duka cita dari berbagai pihak sudah berjejer rapi di sepanjang lorong menuju rumah duka.

Kedatangan rombongan keluarga besar Frans Sanjaya langsung disambut dengan penuh rasa hormat dan haru oleh keluarga besar almarhum Pak Jhon. Sanak saudara dan kerabat yang berkumpul memberikan jalan saat Pak Frans, Ibu Sofia, Tante Fania, Clara, Egi, dan aku melangkah masuk mendekati peti jenazah.

Di sinilah aku bisa menyaksikan secara langsung betapa luar biasa baik, dermawan, dan bijaksananya sosok Pak Frans Sanjaya sebagai seorang pimpinan besar. Beliau tidak hanya datang membawa belasungkawa formalitas semata. Pak Frans merangkul istri almarhum Pak Jhon yang sedang menangis haru, lalu menyampaikan keputusan besar di hadapan seluruh keluarga yang hadir.

Seluruh biaya prosesi pemakaman almarhum Pak Jhon dari awal hingga akhir sepenuhnya ditanggung secara pribadi oleh keluarga Sanjaya. Tidak berhenti sampai di situ, Pak Frans juga menegaskan bahwa dua orang anak almarhum Pak Jhon—Andi dan Anisa—yang saat ini masih duduk di bangku SMA, seluruh biaya pendidikannya akan ditanggung penuh oleh perusahaan Sanjaya Group sampai mereka berdua menyelesaikan jenjang pendidikan tinggi.

"Pak Jhon sudah melayani dan menjaga keluarga kami dengan segenap jiwa dan raganya selama bertahun-tahun. Sudah menjadi kewajiban saya untuk memastikan masa depan anak-anak almarhum terjamin dengan baik," tutur Pak Frans dengan nada suara yang begitu tenang namun penuh ketegasan.

Mendengar keputusan teramat mulia itu, keluarga almarhum Pak Jhon tak henti-hentinya meneteskan air mata haru dan mengutarakan rasa terima kasih yang mendalam.

Aku yang berdiri bersedekap di sudut ruangan memperhatikan seluruh momen tersebut hanya bisa terpana. Sebuah perasaan kagum mendalam merayapi dadaku.

Pantas saja perusahaan dan bisnis milik Pak Sanjaya ini bisa terus berjaya, sukses besar, dan diberkahi sampai sekarang, gumamku penuh rasa hormat di dalam hati. Pimpinannya memiliki kerendahan hati dan kepedulian yang luar biasa besar terhadap orang-orang yang bekerja padanya.

1
Alissia
hai thor🤭🤭🤭🤭
Markario Putra: malas nih,kok cerita aku nggak ada yang mau baca sih
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!