"Bayu Prasetyo kehilangan segalanya dalam satu hari.
Dipecat dari kantor karena posisinya diberikan kepada anak bos. Diputus pertunangan karena ""belum mapan."" Dan keris pusaka titipan sahabatnya tertipu terjual Rp 2 juta — padahal nilainya miliaran.
Di titik terendah hidupnya, Bayu Prasetyo menerima Mata Dewa dari kakek misterius — mata yang menembus batu, membaca nilai, dan membongkar kepalsuan. Dari judi batu ke meja lelang, dari pemuda miskin Pacitan ke puncak daftar orang terkaya — sampai ia menatap musuh terakhirnya: sindikat pemalsu pusaka yang dilindungi nama paling dihormati di Indonesia."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Bab 023: Pulang Kampung saat Lebaran
Bayu pulang ke Tegalombo dengan Avanza sewaan.
Hendra sempat protes ketika melihat mobil itu di depan ruko.
"Yu, setelah Martapura, minimal Fortuner lah. Biar kampung tahu kamu bukan pulang dari fotokopi."
"Justru karena kampung harus melihatku pulang sebagai anak. Aku tidak mau berjalan keliling seperti barang pameran."
Bagasi Avanza itu penuh oleh oleh-oleh: sarung, mukena, kue kering, kopi, minyak goreng, dan beberapa mainan untuk anak-anak tetangga. Sinta ikut dari kampus dengan dua tas buku. Sepanjang jalan menuju Pacitan, ia mengantuk, bangun, lalu bertanya hal yang sama.
"Mas yakin Bapak nggak marah?"
"Bapak jarang marah."
"Justru itu. Kalau diam, lebih serem."
Mereka tiba menjelang sore Lebaran. Halaman rumah kecil itu sudah dipenuhi sandal. Sri Wahyuni keluar dari dapur dengan tangan masih basah, lalu berhenti ketika melihat Bayu.
"Le."
Satu kata itu lebih berat daripada semua angka di rekening.
Bayu menunduk, mencium tangan ibunya, lalu tangan Suradi. Ayahnya hanya menepuk bahunya.
"Makan dulu."
Setelah itu mereka melakukan sungkeman di ruang tengah. Bayu berlutut di depan orang tuanya, meminta maaf atas salah kata, jarang pulang, dan semua kabar yang sampai lebih dulu daripada dirinya. Sri Wahyuni mengusap rambutnya seperti ia masih anak sekolah. Suradi meletakkan telapak tangan di kepala Bayu, singkat saja.
"Sing ati-ati, Le," katanya. Hati-hati, Nak.
Tidak ada pidato panjang. Di rumah itu, kasih sayang sering datang sebagai perintah makan, doa pendek, dan tangan tua yang tidak mau terlihat gemetar.
Rumah itu tidak berubah banyak. Dindingnya masih menyimpan foto Bayu dan Sinta berseragam sekolah. Meja kayu lama penuh opor, sambal goreng ati, ketupat, dan teh panas. Setelah sungkeman, obrolan keluarga mulai mengalir.
Awalnya hangat.
Lalu seorang paman jauh membuka kalimat dengan senyum yang terlalu ringan.
"Bayu sekarang terkenal ya. Katanya dari batu bisa jadi miliaran. Kerja apa sebenarnya di kota? Jangan-jangan itu main untung-untungan batu. Halal apa tidak?"
Ruangan langsung menipis.
Sri Wahyuni menunduk ke piring. Sinta hampir menjawab, tetapi Bayu menyentuh pergelangan tangannya.
Ia mengambil map dari tas.
"Saya berdagang batu permata dan barang seni lewat CV Prasetyo. Ini akta notaris, NIB yang sedang diproses, NPWP, kuitansi transaksi, bukti transfer bank, dan catatan pajak sementara."
Paman itu terdiam karena tidak menyangka meja Lebaran akan berubah menjadi meja dokumen.
Bayu melanjutkan dengan suara tetap halus.
"Saya tidak menjual tebakan kosong. Saya menilai struktur, kualitas, asal barang, risiko potong, dan pasar. Ada untung, ada rugi, ada pajak. Kalau ada yang menyebutnya main-main, saya paham. Tapi saya tidak memberi makan keluarga dari uang yang tidak bisa dijelaskan."
Suradi menatap dokumen itu tanpa menyentuhnya.
Seorang sepupu berbisik, "Wah, lengkap sekali."
Sinta akhirnya tersenyum. "Kakakku sekarang punya Budi. Semua dosa keuangan dicegat sebelum masuk rumah."
Sri Wahyuni mencubit lengan Sinta pelan. "Ngomong kok sembarangan."
Tawa kecil pecah, membuat udara kembali bernapas.
Paman jauh itu masih mencoba tersenyum, tetapi matanya sudah turun ke map. Beberapa sepupu yang tadi menunggu bahan gosip justru mulai bertanya tentang pajak, izin usaha, dan mengapa batu harus dipotong oleh tukang tertentu. Bayu menjawab seperlunya. Ia tidak membuka jumlah kekayaan. Nasihat Hartono masih hangat di kepalanya.
Jangan membawa seluruh kekayaanmu ke meja makan.
Yang ia bawa cukup: bukti bahwa orang tuanya tidak perlu menunduk.
Namun ujian belum selesai.
Menjelang magrib, Pak Bejo datang dengan batik baru dan senyum lama. Ia dulu memberi pinjaman Rp8 juta kepada Suradi saat Sinta masuk kuliah, lalu menagih dengan kata-kata yang membuat keluarga Prasetyo memilih diam bertahun-tahun.
"Saya dengar Bayu sudah berhasil," katanya di teras. "Alhamdulillah. Sekalian mungkin bisa menyelesaikan urusan kecil dengan bapaknya."
Ia mengeluarkan catatan lusuh.
"Utang lama. Dengan bunga dan denda, sekarang Rp25 juta. Saya sudah sangat sabar."
Beberapa tetangga berhenti di pagar. Lebaran punya cara sendiri untuk membuat kabar menyebar.
Suradi hendak bicara, tetapi Bayu lebih dulu mengambil catatan itu.
"Pokoknya Rp8 juta?"
"Dulu iya. Tapi ada bunga."
"Bunga per bulan berapa?"
Pak Bejo mengangkat bahu. "Kesepakatan orang kampung. Tidak usah pakai hitung-hitungan kota."
"Justru harus dihitung supaya tidak zalim." Bayu membuka kalkulator di ponsel. "Kalau Bapak mau, saya bayar pokok dan bunga wajar hari ini. Rp10 juta. Transfer sekarang, dengan kuitansi pelunasan. Kalau Bapak tetap meminta Rp25 juta tanpa dasar tertulis yang sah, besok saya ajak Pak Lurah, saksi, dan kuasa hukum untuk memeriksa perjanjiannya."
Wajah Pak Bejo memerah.
"Kamu mengancam orang tua?"
"Tidak. Saya menawarkan dua jalan yang sama-sama terang."
Tetangga di pagar mulai bergumam. Ada yang pernah meminjam uang kepada Pak Bejo. Ada yang pernah melihat motor ditarik karena denda yang tidak selesai-selesai.
Suradi akhirnya berkata pelan, "Bejo, cukup. Kita selesaikan baik-baik."
Kalimat ayahnya tidak keras, tetapi membuat Pak Bejo kehilangan panggung. Ia mengambil Rp10 juta lewat transfer, menandatangani kuitansi pelunasan, lalu pergi dengan senyum yang tertinggal setengah.
Hendra, yang sejak tadi berdiri di dekat motor tetangga, berbisik kepada Sinta, "Ini namanya satu potong hukum, langsung kelihatan isi orang."
Sinta menahan tawa sampai matanya berair.
Seorang tetangga tua mendekati Suradi setelah Pak Bejo pergi.
"Pak Guru, anakmu sekarang pinter ngomong hukum."
Suradi hanya menjawab, "Dia cuma menghitung yang seharusnya dihitung dari dulu."
Bayu mendengar itu dari teras. Ia tahu ayahnya tidak suka pamer, tetapi kalimat pendek itu sudah seperti tepuk tangan.
Malam itu, setelah tamu pulang, Sri Wahyuni duduk di dapur. Ia memegang piring terlalu lama.
"Le, ibu tidak butuh uangmu banyak-banyak," katanya. "Ibu cuma butuh kamu pulang."
Bayu duduk di lantai dekat pintu dapur, seperti saat kecil.
"Aku pulang, Bu."
"Jangan tunggu kaya sekali baru pulang."
Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada hinaan paman mana pun.
Bayu menggenggam tangan ibunya. Telapak itu kasar oleh dapur, sawah kecil, dan tahun-tahun menunggu kabar.
Larut malam, Suradi mengajak Bayu duduk di beranda. Suara jangkrik memenuhi sawah gelap. Ayahnya tidak membuka dokumen. Tidak bertanya angka. Tidak bertanya mobil.
Hanya satu kalimat.
"Duitmu halal, Le?"
Bayu menatap ayahnya.
"Halal, Pak. Setiap rupiah bisa saya jelaskan."
Suradi mengangguk. Lama.
"Kalau begitu, jangan hanya jadi kaya. Jadilah berguna."
Setelah ayahnya masuk, Bayu berdiri di halaman. Di ujung desa, jalan tanah menuju pasar kecil masih berlubang. Kalau hujan, jalan itu berubah menjadi lumpur dan membuat anak-anak sekolah mengangkat sepatu.
Bayu membuka aplikasi catatan di ponsel.
Ia menulis tiga baris.
Angin malam membawa bau tanah basah.
Jalan.
Sekolah.
Batu Pacitan harus ikut bersinar.