NovelToon NovelToon
Sisi Gelap Timbangan (The Scale & The Shadow)

Sisi Gelap Timbangan (The Scale & The Shadow)

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Sistem
Popularitas:343
Nilai: 5
Nama Author: yrp putri

Seorang Hakim Ketua yang menjunjung tinggi keadilan harus memilih antara hukum, ayahnya, dan cinta kelamnya pada seorang buronan nomor satu yang pernah menghancurkan masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yrp putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Runtuhnya Neraka dan Terbitnya Matahari

Ruangan yang tadinya dipenuhi keheningan mencekam itu seketika berubah menjadi medan perang berdarah.

Rentetan tembakan memekakkan telinga meletus dari segala arah. Arjuna tidak menunggu para pembunuh bayaran itu menyempurnakan bidikan mereka. Dengan kecepatan dan insting membunuh yang membuat nama Baskara ditakuti di seluruh Eropa, Arjuna menembakkan kedua pistol *Glock* miliknya secara bersamaan. Tiga tentara bayaran Bratva di barisan depan langsung tumbang dengan lubang di kepala mereka.

"Masuk ke lorong perapian, Aluna! Sekarang!" raung Arjuna, mendorong tubuh istrinya ke arah batu bata perapian yang telah ia modifikasi, sementara ia sendiri melompat ke balik pilar pualam tebal untuk menghindari terjangan peluru senapan mesin.

Aluna merunduk, merayap di atas lantai marmer yang kini dipenuhi serpihan kaca dan batu. Telinganya berdenging hebat, namun insting bertahannya sebagai putri seorang intelijen mengambil alih kepanikan. Di tengah desingan peluru, mata Aluna menangkap sebuah benda hitam berbentuk kotak yang lampunya berkedip hijau di tengah ruangan—*signal jammer* milik Katya yang mematikan sinyal detonator Arjuna.

Di seberang ruangan, Katya membuang senapan serbunya yang kehabisan peluru. Bidadari kematian itu mencabut sebilah pisau taktis *karambit* dari paha kanannya, lalu menerjang ke arah Arjuna dengan kecepatan iblis.

"Kau terlalu sibuk melindunginya, Baskara!" tawa Katya melengking saat bilah pisaunya nyaris menyayat leher Arjuna. "Cinta membuatmu lemah!"

Arjuna menangkis serangan itu dengan lengan bawahnya, membiarkan pisau Katya menorehkan luka sayat yang cukup dalam di jasnya hingga menembus kulit. Namun, sang monster bawah tanah tidak meringis. Ia mencengkeram pergelangan tangan Katya, memelintirnya dengan brutal, dan mendaratkan hantaman lutut ke perut wanita pembunuh itu.

"Cinta tidak membuatku lemah," geram Arjuna, suaranya sedingin dasar lautan. "Cinta memberiku alasan untuk memastikan kau tidak keluar dari ruangan ini dalam keadaan hidup."

Pertarungan jarak dekat mereka berlangsung dengan sangat ganas. Katya nyaris sama kuatnya, namun Arjuna bertarung dengan satu tujuan mutlak: nyawa istrinya.

Sementara Arjuna menahan Katya dan sisa tentara Bratva yang mencoba mendekat, Aluna membuat keputusannya. Mengabaikan instruksi suaminya untuk bersembunyi, Aluna meraih sebuah senapan serbu laras pendek yang tergeletak dari tangan salah satu pembunuh yang tewas. Sang Hakim Ketua yang biasanya hanya memegang palu kayu, kini mengokang senjata api sungguhan dengan tangan gemetar namun penuh tekad.

Aluna tidak membidik para tentara itu. Ia membidik kotak hitam yang berkedip di lantai.

**DOR! DOR! DOR!**

Tiga peluru menghantam *signal jammer* itu hingga hancur berkeping-keping. Lampu hijau yang berkedip itu seketika mati.

Arjuna, yang baru saja membanting Katya ke lantai pualam dengan keras, mendengar suara tembakan itu. Ia menoleh dan melihat Aluna menatapnya sambil mengangguk tegas. Sinyal telah kembali.

Katya yang terbatuk darah berusaha bangkit, matanya membelalak menyadari apa yang baru saja terjadi. "Jangan—!"

Arjuna merogoh detonator di sakunya dan menekan tombol itu. Kali ini, sebuah bunyi *BEEP* panjang bergema, menandakan hitung mundur lima detik sebelum seluruh muatan peledak C4 di bawah kastel ini meledak.

Tanpa membuang waktu satu milidetik pun, Arjuna melesat ke arah perapian. Ia menyambar pinggang Aluna, mendorong dinding bata rahasia yang langsung berputar, dan membawa mereka berdua terjun ke dalam seluncuran lorong evakuasi yang gelap gulita.

Tepat saat dinding batu itu menutup kembali, dunia di atas mereka kiamat.

Ledakan dahsyat merobek *château* kuno itu dari dalam ke luar. Api neraka menyembur ke udara, menghancurkan pilar-pilar batu, menelan Katya, pasukan Bratva, dan seluruh jejak kerajaan operasi Baskara di Eropa. Pegunungan Alpen malam itu menjadi saksi bisu runtuhnya sang legenda bawah tanah.

Sang Raja Mafia di Jakarta hanya akan menerima kabar bahwa putra mahkotanya dan menantunya telah tewas bersama para pembunuh musuh. Identitas Baskara, Arkanza, dan Aluna telah resmi terkubur di bawah reruntuhan es dan abu.

**Dua Tahun Kemudian**

Sinar matahari musim semi bersinar terang, memantulkan kilau keemasan di atas permukaan air Danau Wakatipu, Selandia Baru. Angin sejuk berembus membawa aroma pinus dan rerumputan basah.

Di halaman sebuah rumah kayu berdesain modern yang asri, Aluna berdiri mengenakan gaun musim panas berwarna kuning cerah. Toga kebesaran hakimnya telah lama mati, digantikan oleh celemek berkebun. Ia tidak lagi harus terbangun dengan keringat dingin. Wajahnya berseri, memancarkan kedamaian absolut saat ia menyiram deretan pot bunga *lavender* di teras rumahnya.

Dari arah pintu belakang, seorang pria jangkung dengan kaus putih polos dan celana jins melangkah mendekat. Kulitnya kini lebih kecokelatan, dan senyum konyol yang dulu selalu membuat Aluna berdebar saat SMA kini kembali menghiasi wajahnya secara permanen. Tidak ada lagi senjata di balik kemejanya. Tidak ada lagi darah di tangannya.

Arjuna memeluk Aluna dari belakang, menumpukan dagunya di bahu sang istri sambil mendaratkan kecupan panjang di lehernya.

"Pai apelnya sudah matang, Nyonya Wiraya," bisik Arjuna, menggunakan nama keluarga aslinya yang kini sah dan bersih dari radar mana pun. "Mau makan di dalam, atau piknik di tepi danau?"

"Di tepi danau saja," jawab Aluna ceria, mematikan selang airnya dan memutar tubuh untuk mengalungkan lengannya di leher sang suami. "Udara hari ini terlalu bagus untuk dilewatkan."

Di belahan bumi yang lain, di sebuah rumah sederhana di pinggiran Jakarta, Inspektur Arya Larasati duduk di beranda sambil menyesap kopi paginya. Pria paruh baya itu telah resmi pensiun dengan gelar kehormatan tertinggi. Buku hitam yang dikirimkan Aluna berhasil meruntuhkan seluruh jaringan sindikat Baskara hingga ke akar-akarnya, dan Sang Raja Mafia kini mendekam di penjara dengan keamanan maksimum tanpa bisa melihat matahari.

Publik mengenang Hakim Aluna sebagai martir keadilan heroik yang mengorbankan nyawanya dalam insiden ledakan di Pegunungan Alpen demi mendapatkan bukti-bukti tersebut.

Namun, Inspektur Arya tahu kebenaran yang sesungguhnya.

Sang perwira tua itu membuka laci mejanya, mengambil setumpuk kartu pos yang selalu datang setiap enam bulan sekali tanpa nama pengirim. Kartu pos terbaru baru saja tiba pagi ini. Tidak ada tulisan apa pun di baliknya. Hanya ada foto pemandangan sebuah danau biru yang jernih, dengan stempel kecil bergambar bunga *lavender* di sudut kanan bawah.

Inspektur Arya mengusap stempel bunga itu dengan ibu jarinya, senyum hangat dan penuh kelegaan terukir di wajah keriputnya. Ia tidak akan pernah mencari mereka. Ia membiarkan dunia mengira putrinya telah tiada, karena ia tahu, di suatu tempat di belahan bumi yang jauh, putri tunggalnya akhirnya hidup bahagia dan aman di bawah perlindungan pria yang tepat.

Kembali ke tepian Danau Wakatipu.

Arjuna mengangkat tubuh Aluna dengan mudah, menggendong istrinya ala *bridal style* menuju padang rumput di tepi air yang berkilauan. Tawa lepas Aluna menggema di udara terbuka, renyah dan tanpa beban, mengusir semua mimpi buruk dari masa lalu mereka.

Tidak ada lagi bayang-bayang. Tidak ada lagi monster. Tidak ada lagi kebohongan.

Di ujung dunia ini, Sang "Palu Es" telah benar-benar mencair. Ia menemukan keadilannya sendiri, hidup bahagia selamanya di dalam pelukan hangat satu-satunya pria yang pernah menghancurkan, sekaligus menyempurnakan, seluruh hidupnya.

1
Teduh Kata
semangat!
yrputri: terimakasih
total 1 replies
Teduh Kata
Hai kak, aku sudah bom like karya kamu, dan mari salin follow yah dan jangan luoa like karya aku juga. mari saling dukung💪
yrputri: hai kak, terimakasih sudah bom... sudah saya like sudah saya like balik juga ya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!