Chloe Weiss, pewaris tunggal di keluarga Weiss tapi nasibnya tidak seindah yang dibayangkan, Chloe dengan kondisinya yang sehat harus menelan pil pahit, saat ibu kandungnya meninggal dunia.
Ayah dan ibu tirinya bersekongkol memasukkannya ke rumah sakit jiwa, dan menguasai seluruh harta kekayaan yang di tinggalkan oleh ibunya.
Tapi setelah lima tahun kemudian, Chloe kembali dengan jiwa yang berbeda untuk merenggut apa yang menjadi miliknya.
Bukan hanya itu saja, Chloe juga mengambil calon suami saudara tirinya, dan apa yang di lakukannya itu membuat Ayah dan ibu tirinya sangat murka.?
Siapakah sosok jiwa yang berada di tubuh Chloe Weiss, gadis yang di kenal sangat lamah dan bodoh?
Apakah jiwa yang berada di tubuh Chloe Weiss itu juga mempunyai dendam dengan seseorang di kehidupan sebelumnya sehingga Alam dan semesta memberikannya kehidupan kedua.?
Yang penasaran, ikuti terus ceritanya sampai akhir 🤗🤗🥰.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kasmawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lukisan
Happy Reading 👇
---
"Jangan mendekat.... jangan mendekat.... Hiks... Hiks... jangan menyakitiku... Hiks... Hiks... Hiks..."
Seorang wanita dengan pakaian rumah sakit jiwa meringkuk di sudut tembok. Tubuhnya gemetar ketakutan. Di tangannya tergenggam sebuah kuas lukis, dengan cat berwarna merah yang menetes ke lantai.
"Tenanglah, Nona... aku tidak akan menyakitimu. Aku hanya ingin memberikan sedikit vitamin untukmu," ucap salah satu dokter pria dengan senyum tipis. Di tangannya ada sebuah jarum suntik berisi cairan berwarna perak.
Dan cairan itu... hampir setiap hari disuntikkan ke tubuh gadis yang ada di hadapannya.
Gadis itu tak lain adalah Chloe. Ia menggeleng cepat.
"Tidak... Aku tidak mau... Itu bukan vitamin. Itu racun... Hiks... hiks... hiks..."
Dokter itu tersenyum. Lalu ia memberi kode lewat tatapan mata kepada rekannya yang berdiri di sampingnya.
Rekannya mengangguk, lalu melangkah mendekati Chloe yang meringkuk di sudut ruangan. Rambut panjangnya berantakan. Wajahnya tirus. Matanya merah karena terlalu banyak menangis.
"Jangan mendekat... hiks... hiks... Aku tidak gila... Jangan meracuniku dengan obat itu. Aku normal... Hiks... Hiks..."
Chloe berusaha menghindar, tapi tenaganya tak sebanding dengan pria berseragam dokter itu.
Dengan cepat, pria itu memborgol kedua tangannya.
"Hiks... Hiks... jangan lakukan itu padaku..." mohon Chloe, berharap kedua dokter itu akan melepaskannya.
Padahal ia tidak gila.
Obat yang setiap hari disuntikkan dokter itu ke tubuhnyalah yang membuatnya terlihat seperti orang gila. Efeknya bertahan selama dua belas jam.
Saat kedua tangannya sudah terborgol, Chloe tak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia hanya bisa menangis dan pasrah.
Dokter yang memegang jarum suntik berisi cairan perak itu mendekat. Chloe menggeleng, air mata terus mengalir membasahi pipi tirusnya.
"Jangan... kumohon jangan lakukan ini... Hiks... Hiks..."
Itu kalimat yang sama yang selalu ia ucapkan setiap kali dokter suruhan ibu tirinya menyuntikkan cairan aneh itu ke tubuhnya.
Dokter itu seperti biasa. Ia berjongkok di samping Chloe. Tanpa berkata apa-apa, ia menusukkan jarum suntik itu ke lengan Chloe dengan kasar.
"AAAARRRGG... Sakit!"
Chloe menjerit sambil memejamkan mata.
Setelah seluruh cairan masuk, dokter itu tersenyum sambil mencabut jarumnya.
"Buka borgolnya. Biarkan dia mengamuk di dalam ruangan ini sampai efek obatnya hilang," perintahnya.
"Baik," jawab rekannya sambil membuka borgol di tangan Chloe.
Chloe bersandar di tembok yang dingin. Napasnya naik turun. Air matanya tak henti mengalir di pipi tirusnya.
"Ibu... Chloe rindu... Jemput Chloe, Bu... Chloe sudah lelah dengan semuanya," gumamnya pelan.
Kedua dokter itu segera keluar dan mengunci pintu rapat-rapat. Meninggalkan Chloe yang napasnya tersengal dan keringat dingin membasahi pelipisnya.
"Ibu... aku menyerah... Aku tidak kuat lagi," gumam Chloe. Setelah itu, kesadarannya hilang.
Ruangan dengan pencahayaan remang itu menjadi sunyi. Hanya terdengar suara nyamuk yang berdengung di sekitar tubuh gadis rapuh itu.
Chloe membuka matanya. Tapi kali ini tatapannya berbeda.
Matanya memerah seperti mata monster. Urat-urat di tangannya menonjol, menjalar seperti akar pohon.
"AAAARRRGGGG..."
Ia berteriak. Efek obat yang disuntikkan ke tubuhnya mulai bekerja.
Kuas lukis di tangannya patah menjadi dua. Krek.
Chloe perlahan berdiri. Tatapannya menyapu seluruh ruangan kosong itu.
Di tengah ruangan ada sebuah lukisan pemandangan yang indah. Karya yang ia buat satu jam yang lalu.
"AAAARRRGG..."
Ia kembali berteriak. Seperti binatang terluka yang terjebak di dalam kandangnya sendiri.
Cat merah di paletnya tumpah ke lantai, menggenang mirip darah.
Chloe menatap lukisan itu. Langit biru. Sungai jernih. Dan sebuah rumah kecil di tepi sawah.
Lukisan yang ia buat dengan tangannya sendiri satu jam lalu. Dengan sisa harapan terakhirnya pada sosok wanita yang sudah lima tahun ia rindukan. Wanita yang telah pergi dan tak akan pernah kembali lagi.
"Ibu..." gumamnya pelan, hampir tak terdengar.
Walaupun berada dalam pengaruh obat, Chloe tak akan pernah melupakan nama itu.
"Bohong..." desisnya. Suaranya serak, tapi jelas. "Semua ini bohong."
Dengan satu hentakan, ia menyambar kanvas itu.
Sreett!
Kuas yang patah ia goreskan ke tengah lukisan. Langit birunya tercakar. Sungai jernihnya berlumur cat hitam.
Anehnya, setiap goresan yang ia buat, urat-urat yang menonjol di tangannya justru perlahan menghilang.
Tapi rasa sakitnya tidak. Rasa panas itu menjalar. Seolah ada sesuatu yang ditarik keluar dari dadanya, lalu dipaksa masuk ke ujung jarinya.
Lampu ruangan berkedip. Poster di dinding terlepas dan jatuh.
Dari luar pintu terdengar langkah tergesa-gesa.
"Buka! Buka ruangannya!" teriak seorang dokter perempuan kepada dua suster di belakangnya.
"Jangan, Dok. Dokter Gio akan marah kalau ada yang berani buka ruangan ini tanpa izin," tegur salah satu suster sambil menggeleng.
"Tapi pasien di dalam sepertinya butuh pertolongan. Sebagai dokter, aku tidak bisa diam saja," jawab dokter itu dengan nada peduli.
"Aku tahu apa yang dokter pikirkan. Tapi menolong pasien di dalam sama saja membahayakan nyawa dokter sendiri," ujar suster yang lain.
"Benar, Dok. Lebih baik kita pergi dari sini sebelum Dokter Gio melihat kita," ajak suster satunya sambil menarik tangan dokter perempuan itu menjauh dari pintu.
"Tapi..."
"Ayo, Dok..."
Dengan berat hati, dokter itu akhirnya pergi. Sesekali ia menoleh ke arah ruangan Chloe dengan rasa bersalah.
Di dalam, Chloe menoleh ke arah pintu. Matanya yang merah tidak berkedip. Ia mengangkat tangan. Kuas patah di genggamannya bergetar.
Dan di atas kanvas yang rusak itu, muncul goresan baru. Bukan ia yang menggambar. Tangannya bergerak sendiri.
Garis demi garis membentuk sosok. Rambut panjang. Gaun putih. Wajah yang setiap malam ia panggil untuk menjemputnya.
"Ibu..." bisik Chloe. Air mata darah menetes dari sudut matanya.
Rasa sakit dan panas di tubuhnya mulai menghilang. Urat-urat di tangannya tak terlihat lagi.
Tubuhnya terasa lemah. Ia perlahan jatuh ke lantai yang dingin, dengan senyum tipis di sudut bibirnya.
"Ibu... akhirnya kau datang menjemputku," gumamnya. Lalu matanya tertutup. Napasnya berhenti.
Tubuh yang tadinya panas itu kini dingin. Terbaring di lantai, tak berdaya... dan tak bernyawa.
Tapi setelah dua jam kemudian, tubuh yang tak berdaya dan tak bernyawa itu kembali membuka matanya dengan perlahan.
Tangannya terangkat, memegangi kepalanya yang berdenyut sakit.
"Ssstt... Aku di mana?" gumamnya dengan suara serak.
Dengan susah payah ia menopang tubuhnya, lalu duduk di atas lantai dingin itu. Seluruh ruangan gelap dan remang.
Dadanya terasa kosong. Tidak ada rasa sakit. Tidak ada rasa panas yang tadi membakar urat-uratnya.
Yang ada hanya rasa bingung dan perih, "Ini tempat apa?" gumamnya lagi sambil menatap keseluruhan ruangan itu dengan wajah bingung.
Lalu tatapannya jatuh ke kanvas di depannya. Lukisan itu sudah berubah total. Langit biru, sungai jernih, dan rumah kecil sudah hilang. Yang ada sekarang hanya sosok wanita bergaun putih dengan rambut panjang tergerai.
Chloe mengerutkan keningnya, bingung. "Ini lukisan siapa?" gumamnya lagi.
Tiba-tiba, mata wanita yang ada di lukisan itu terbuka. Menatap lurus ke arah Chloe.
Deg!
---
Hallo guyss bertemu lagi dengan Author dengan cerita yang baru 🤗🤗 maaf ya beberapa hari ini Author menghilang, Karana Author sedang menyusun ide untuk membuat novel baru.
Jangan lupa dukungannya supaya Author semangat up nya sampai novel itu tamat. 🤗🥰🙏.
dan skraang queen ad ddsnaa ,, d tubuh Chloe weiss
baru berkarya lgiii ,,
tenang aq gx kmn2 tetap mantengin NT buat nunggu kelanjutan cerita kk ,,
🤭🤭🤭🫣🫣🫣😂😂😂😂😂
tp apa gx kaget tuh nanti pa mertua dr Zurich dtg ke geneva ,,🤔🤔🤔🤔😂😂😂
sebagai penebus dy dlu menyakiti queen daisy tanpa sadar ,,
menguasai harta yg bukan hak ny ,,
membuang pewaris ,, tp tenang karma mereka sdang otw menghampiri 😏😏😏😏😏
dtggu kelanjutan ny yx kak
semakiiiiin memanaaas ,,