Tiga siswa SMA biasa tidak pernah membayangkan hidup mereka akan berubah hanya karena sebuah buku fiksi misterius di perpustakaan sekolah.
Buku itu terbang ke atas air dan membentuk sebuah portal bercahaya tiba-tiba muncul dan menyeret mereka ke masa lalu, tepatnya ke sebuah dinasti Jepang kuno yang sedang berada di ambang kehancuran.
Negeri itu tidak hanya diguncang oleh perebutan kekuasaan di istana, tetapi juga diteror oleh Makhluk Kutukan, entitas mengerikan yang lahir dari kebencian, dendam, dan ambisi manusia. Kehadiran mereka membuat rakyat hidup dalam ketakutan, sementara para bangsawan sibuk saling menjatuhkan demi takhta.
Namun semakin dalam mereka terlibat, semakin mereka menyadari bahwa musuh terbesar bukanlah para monster yang berkeliaran di luar tembok istana, melainkan kegelapan yang bersemayam di hati manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kyc_ibell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13
Gadis itu meletakkan nampan kayu di atas meja sederhana. Uap hangat mengepul dari cangkir-cangkir teh yang baru saja diseduh. Dengan sedikit menundukkan kepala, dia menyuguhkannya kepada para tamu.
"Maaf, kami hanya punya ini untuk menjamu kalian," ucapnya dengan nada penuh sungkan.
Master Seijun menerima cangkir itu sambil tersenyum ramah.
"Terima kasih banyak. Kau tidak perlu merasa sungkan."
Gadis itu tersenyum kecil mendengar jawabannya.
Haru yang sejak tadi memperhatikannya akhirnya menanyakan sesuatu. Dia menatap wajah gadis itu sejenak sebelum bertanya,
"Maaf, bukankah kau gadis penari yang tampil di alun-alun tadi?"
Mata gadis itu sedikit membesar karena terkejut, lalu dia mengangguk pelan.
"Iya, benar. Jadi kau melihat pementasanku tadi?"
"Tentu saja. Tarianmu sangat indah," jawab Haru jujur.
Pipi gadis itu sedikit memerah mendengar pujian tersebut.
"Terima kasih."
Suasana menjadi lebih santai setelah itu. Haru pun kembali membuka percakapan.
"Kalau boleh tahu, siapa namamu?"
Gadis itu tersenyum lembut sebelum menjawab,
"Namaku Kazura."
Setelah memperkenalkan dirinya, Kazura mendengarkan satu per satu nama para tamunya. Haru, Master Seijun, dan Fumiro memperkenalkan diri dengan sopan.
Untuk sesaat, suasana hangat memenuhi rumah sederhana itu. Meski baru saja bertemu, percakapan ringan yang mereka lakukan perlahan menghapus kecanggungan di antara mereka.
Dari luar rumah, terdengar suara seseorang memanggil nama Kazura.
"Kazura!"
Kazura segera menoleh dan pergi keluar. Di depan pagar, dia melihat neneknya baru saja pulang dari pasar dengan keranjang anyaman di tangannya.
Kazura menghampiri wanita tua itu. Setelah memastikan tidak ada orang lain yang mendengar, dia berbisik pelan,
"Mereka datang."
Neneknya seketika terdiam. Dia hanya mengangguk pelan dan pasrah seolah sudah memahami siapa yang dimaksud. Tak lama kemudian, nenek itu masuk ke dalam rumah.
"Permisi," ucapnya sopan.
Para pemburu segera berdiri untuk menyambutnya. Master Seijun lalu menjelaskan maksud kedatangan mereka serta beberapa pertanyaan yang ingin diajukan terkait penemuan jasad beberapa waktu lalu.
Nenek itu mendengarkan dengan tenang sebelum mulai memberikan kesaksiannya.
"Saat itu aku sedang mencari kayu bakar di hutan. Dari kejauhan, aku melihat sesuatu yang menyerupai orang terbaring di tanah."
Wanita tua itu menarik napas sejenak, mengingat kembali kejadian tersebut.
"Aku memperhatikannya cukup lama karena merasa curiga. Orang itu sama sekali tidak bergerak. Karena penasaran, aku memberanikan diri mendekat."
Ekspresinya sedikit menegang.
"Namun setelah kulihat dengan jelas, ternyata itu adalah jasad seorang pria. Aku sangat ketakutan. Setelah itu aku langsung berlari kembali ke desa dan meminta bantuan warga."
Para pemburu mendengarkan dengan saksama.
Haru kemudian bertanya.
"Apa Nenek melihat atau mendengar sesuatu yang aneh saat itu? mungkin suara, jejak, atau seseorang yang mencurigakan?"
Nenek itu menggeleng pelan.
"Tidak ada. Aku hanya melihat jasad pria itu. Selain itu, tidak ada hal lain yang kulihat."
Ruangan menjadi hening selama beberapa saat. Kazura yang sedari tadi mendengarkan dengan wajah cemas akhirnya angkat bicara.
"Apakah rumor yang beredar itu benar? bahwa semua ini adalah ulah Makhluk Kutukan?"
Fumiro menatapnya sebelum menjawab dengan nada serius.
"Dari bukti-bukti yang kami temukan selama investigasi, kemungkinan besar memang begitu. Semua petunjuk mengarah pada Makhluk Kutukan."
Mendengar jawaban itu, wajah Kazura dan neneknya langsung ketakutan. Kecemasan terlihat jelas di mata keduanya.
Melihat reaksi mereka, Master Seijun berbicara dengan suara menenangkan.
"Saat ini para pemburu sedang berusaha melacak dan memburu makhluk tersebut. Karena itu, untuk sementara waktu kami menyarankan agar Nenek tidak pergi mencari kayu bakar ke hutan."
Dia menatap mereka dengan serius.
"Setidaknya sampai keadaan kembali aman."
Nenek dan Kazura saling berpandangan sebelum mengangguk.
"Kami mengerti."
Setelah memperoleh kesaksian yang diperlukan, para pemburu merasa tidak ada lagi pertanyaan yang perlu diajukan.
Master Seijun berdiri lalu membungkukkan badan dengan hormat.
"Terima kasih atas waktu dan informasi yang telah diberikan."
"Kami justru yang berterima kasih karena kalian telah berusaha melindungi daerah ini," balas nenek Kazura.
Setelah berpamitan, rombongan pemburu meninggalkan rumah sederhana itu.
Langkah mereka kemudian mengarah ke kediaman Kepala Daerah Nagamari. Mereka berniat mengonfirmasi beberapa informasi yang telah diperoleh selama penyelidikan.
Tak lama kemudian, mereka tiba di kediaman Kepala Daerah Nagamari. Para penjaga segera mempersilakan mereka masuk, dan mereka pun disambut hangat oleh sang kepala daerah yang telah menunggu di ruang tamu utama.
"Selamat datang, para Tuan Pemburu. Suatu kehormatan menerima kedatangan kalian di sini," ucap Kepala Daerah Nagamari sambil membungkukkan badan.
Master Seijun membalas sapaan itu dengan anggukan sopan sebelum langsung menyampaikan maksud kedatangan mereka.
"Kami adalah para pemburu dari istana. Kami datang untuk mengonfirmasi laporan mengenai kemunculan Makhluk Kutukan di wilayah ini."
Wajah Kepala Daerah Nagamari seketika berubah muram.
"Benar Tuan. Kejadian ini telah menggemparkan seluruh desa. Saat ini kami terus mengimbau warga agar mengurangi aktivitas di sekitar hutan demi keselamatan mereka."
Master Seijun mengangguk pelan.
"Setelah melakukan penyelidikan, kami dapat memastikan bahwa pelaku di balik kasus ini memang Makhluk Kutukan."
Ruangan mendadak terasa lebih berat.
"Dari hasil olah tempat kejadian perkara kami melihat tanda-tanda yang menunjukkan bahwa energi kehidupannya telah diserap. Ciri-ciri tersebut sangat sesuai dengan pola serangan Makhluk Kutukan."
Kepala Daerah Nagamari mengepalkan tangannya. Raut kecemasan tampak jelas di wajahnya.
"Kalau begitu.. warga benar-benar berada dalam bahaya."
Nada suaranya terdengar berat.
"Kami sangat khawatir akan muncul korban berikutnya."
"Kekhawatiran itu dapat dimengerti. Karena itu, kami akan segera melakukan perburuan terhadap makhluk tersebut. Selama proses itu berlangsung, kami meminta kerja sama dari pihak desa." jawab Master Seijun.
Dia menatap Kepala Daerah dengan serius.
"Tolong pastikan para warga menjauhi area hutan untuk sementara waktu. Semakin sedikit orang yang berada di sana, semakin kecil kemungkinan terjadinya korban baru."
"Baik, Tuan. Saya akan segera mengumumkannya kepada seluruh masyarakat."
Setelah pembahasan utama selesai, Haru akhirnya mengangkat tangannya.
"Maaf, Master. Apa kita tidak perlu memberi tahu Ryujin dan Yua mengenai kasus ini?"
Master Seijun terdiam sejenak sebelum menjawab.
"Tentu saja kita akan memberi tahu mereka."
"Aku juga akan mengirimkan laporan resmi kepada Kaisar. Kasus ini sudah cukup serius untuk menarik perhatian istana."
Fumiro mengangguk setuju.
"Jika Makhluk Kutukan itu lebih kuat dari yang kita perkirakan, kita mungkin membutuhkan bantuan tambahan."
"Benar. Untuk saat ini, prioritas kita adalah melacak keberadaan makhluk itu dan memastikan tidak ada korban lain sebelum bala bantuan tiba." jawab Master Seijun.
Suasana ruangan kembali hening. Semua orang memahami bahwa mereka sedang menghadapi ancaman yang tidak bisa dianggap remeh. Di luar kediaman, angin sore berembus pelan, seakan membawa pertanda bahwa perburuan yang sesungguhnya akan segera dimulai.
---
Seseorang menyerahkan sepucuk surat kepada Kaisar. Dengan wajah tenang, Kaisar membuka segelnya lalu mulai membaca isi surat tersebut.
Namun, beberapa detik kemudian, ekspresinya berubah drastis. Urat di pelipisnya menegang, sementara tatapannya dipenuhi amarah.
Isi surat itu bukanlah laporan ataupun permohonan, melainkan ancaman terang-terangan yang menuntut Kaisar untuk turun dari takhta. Jika tuntutan itu diabaikan, maka akan ada banyak nyawa berharga akan menjadi korban.
Suasana ruang singgasana mendadak menjadi sunyi mencekam.
Kraak!
Kaisar meremas surat itu hingga kusut di tangannya.
"Siapa yang berani-beraninya mengirim surat seperti ini kepadaku?!" bentaknya dengan suara menggelegar.
Para menteri dan pengawal yang berada di ruangan itu langsung menundukkan kepala. Tak seorang pun berani menjawab.
Kaisar bangkit dari singgasananya dengan wajah murka.
"Cari pengirim surat ini! aku tidak peduli bagaimana caranya. Periksa setiap penjaga gerbang, setiap kurir, dan setiap orang yang memasuki ibu kota hari ini!"
"Baik, Yang Mulia!" jawab para pengawal serempak.
"Dan dengarkan baik-baik! Siapa pun yang berada di balik ancaman ini, tangkap dia hidup-hidup dan seret ke hadapanku. Dia akan menyesali hari saat tangannya menulis surat ini." lanjut Kaisar dengan nada dingin yang jauh lebih menakutkan daripada amarahnya sebelumnya.
Perintah itu segera menyebar ke seluruh penjuru istana. Para pemburu, pengawal kerajaan, dan pasukan intelijen mulai bergerak mencari jejak pengirim surat misterius tersebut.
Namun, tanpa mereka sadari, sosok yang mengirim surat ancaman itu sedang mengamatinya dari kejauhan.
Di balik bayang-bayang malam, sebuah senyum tipis muncul di wajahnya.
"Mulailah bergerak, Kaisar. Ini baru permulaan." gumamnya pelan.
---
Masyarakat desa mulai berjaga-jaga, baik siang maupun malam. Tidak ada seorang pun yang berani lengah setelah berbagai kejadian mengerikan yang menimpa desa mereka.
Di salah satu sudut desa, sekelompok remaja sedang berkumpul dan berbincang-bincang. Tiba-tiba, seorang anak laki-laki kecil berlari menghampiri mereka.
"Aku melihatnya!" serunya dengan napas terengah-engah.
"Apa yang kau lihat?" ucap salah satu dari mereka.
"Makhluk Kutukan itu benar-benar ada! sekarang dia berada di balik hutan!" jawab kembali anak kecil itu.
Para remaja langsung saling berpandangan. Rasa takut yang mereka rasakan perlahan berubah menjadi rasa penasaran.
"Benarkah?" tanya salah seorang dari mereka.
Anak itu mengangguk berkali-kali.
"Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri!"
Beberapa remaja mulai tertarik untuk pergi melihatnya. Namun, salah satu dari mereka segera memperingatkan.
"Jangan bodoh. Para pemburu saja belum mengnangkapnya. Mendekatinya sama saja mencari mati."
Meski begitu, rasa penasaran mereka sudah terlanjur memuncak.
Tanpa disadari siapa pun, anak laki-laki yang memberi kabar itu tiba-tiba menghilang begitu saja dari tempatnya berdiri.
Di tengah perdebatan, dua remaja bernama Chisen dan Kenji mulai saling beradu pendapat.
Dengan kesal, Chisen berkata,
"Kau ini keras kepala sekali. Kalau memang ingin tahu, kenapa tidak sekalian jadi pemburu saja?"
Kenji tertawa mengejek.
"Katakan saja kalau kau takut, hahaha!"
Wajah Chisen langsung memerah karena emosi.
"Siapa yang takut? mungkin kau sendiri!"
Mendengar itu, Kenji merasa kesal lalu melangkah maju.
"Kalau begitu aku menantangmu! nanti malam kita pergi ke hutan mencari makhluk itu. Siapa yang berhasil membunuhnya, dia yang menang!"
Suasana langsung hening.
Teman-teman mereka terkejut mendengar tantangan tersebut.
"Kalian berdua sudah gila?" seru salah seorang remaja.
"Itu Makhluk Kutukan! bukan hewan buruan biasa!"
Namun, Chisen dan Kenji sudah terlalu terbawa emosi. Harga diri mereka terlalu tinggi untuk mundur.
"Baik. Aku terima tantanganmu," jawab Chisen tanpa ragu.
Mendengar itu, teman-teman mereka hanya bisa menghela napas putus asa.
Salah satu dari mereka berkata,
"Kalau kalian tetap bersikeras, kami tidak bisa menghentikan kalian. Tapi ingat, jika terjadi sesuatu nanti, kami tidak akan mampu menolong kalian."
Chisen dan Kenji hanya mendengus pelan.
Tak lama kemudian, kelompok remaja itu pun bubar. Mereka kembali ke rumah masing-masing sambil memikirkan rencana yang akan dilakukan malam nanti.
Tak seorang pun menyadari bahwa dari balik mereka, sepasang mata sedang mengawasi mereka dalam diam. Senyum tipis perlahan muncul di wajah sosok misterius itu, seolah menantikan sesuatu yang menarik akan segera terjadi.
Sambil menunggu malam tiba, Chisen mondar-mandir di dalam rumahnya dengan gelisah. Berulang kali dia membuka lemari dan peti-peti tua, mencari sebuah jimat peninggalan kakeknya yang konon mampu melindungi pemiliknya dari bahaya.
Setelah beberapa saat mencari, akhirnya dia menemukan jimat itu tersimpan di dalam sebuah kotak kayu yang sudah usang.
Chisen menggenggam jimat tersebut erat-erat. Di dalam hatinya, dia sebenarnya dipenuhi kegelisahan.
"Bagaimana ini.. para pemburu yang terlatih saja belum berhasil menangkap Makhluk Kutukan itu. Apalagi aku.."
Dia menelan ludah.
"Tapi kalau aku membatalkan tantangan ini, Kenji pasti akan menganggapku pengecut. Tidak, aku tidak boleh mundur."
Meski berusaha terlihat berani, tangannya masih sedikit gemetar saat memasukkan jimat itu ke dalam sakunya.
Sementara itu, di rumah yang berbeda, Kenji tampak jauh lebih percaya diri.
Dia sedang membongkar gudang milik keluarganya hingga akhirnya menemukan sebuah katana yang tersimpan rapi di dalam sarungnya.
"Itu dia."
Kenji mengangkat katana ayahnya lalu mencabutnya perlahan.
Shiiing..
Cahaya bilah pedang memantulkan sinar matahari yang masuk melalui jendela. Senyuman lebar muncul di wajahnya.
"Untungnya Ayah pernah mengajariku dasar-dasar bela diri."
Dia mengayunkan katana itu beberapa kali ke udara dengan penuh percaya diri.
"Hahaha! Pasti sekarang Chisen sedang ketakutan di rumahnya."
Dalam benaknya, dia sudah membayangkan dirinya kembali ke desa sebagai pahlawan yang berhasil mengalahkan Makhluk Kutukan.
Namun, berbeda dengan yang dia bayangkan. Di sudut gudang yang gelap, seekor gagak hitam sedang bertengger diam memperhatikannya.
Mata merah gagak itu menatap Kenji tanpa berkedip sedikit pun.
Sesaat kemudian, burung itu mengepakkan sayapnya dan terbang menuju arah hutan, seolah hendak menyampaikan sesuatu kepada seseorang yang menunggu di sana.
Master Seijun segera menulis sepucuk surat setelah mendengar perkembangan terbaru mengenai Makhluk Kutukan. Dengan ekspresi serius, dia menuangkan seluruh informasi penting ke dalam surat tersebut.
Setelah selesai, dia menggulung surat itu dan menyegelnya.
"Fumiro," panggilnya.
"Ya, Master?"
"Bawalah surat ini ke istana dan serahkan langsung kepada Kaisar. Sekalian, sampaikan kepada Ryujin dan Yua agar segera datang ke Desa Nagamari."
Fumiro menerima surat itu dengan hormat.
"Baik, Master. Saya akan berangkat sekarang juga."
Saat Fumiro hendak pergi, Haru menghampirinya.
"Kau tidak apa-apa pergi sendirian?" tanyanya dengan nada khawatir.
Fumiro tersenyum tipis.
"Tenang saja, kawan. Aku akan baik-baik saja."
"Baiklah kalau begitu. Berhati-hatilah di perjalanan."
Fumiro mengangguk lalu segera berangkat menuju ibu kota.
---
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, Fumiro akhirnya tiba di istana. Dia langsung menyerahkan surat itu kepada Kaisar sebelum mencari Ryujin dan Yua untuk menyampaikan pesan dari Master Seijun.
Kaisar memandangi surat yang baru diterimanya.
Beberapa hari terakhir, berbagai surat misterius dan laporan buruk terus berdatangan. Karena itu, dia sempat ragu untuk membukanya.
Namun, begitu melihat cap dan nama pengirimnya, ekspresinya berubah.
Seijun.
Tanpa menunda lagi, Kaisar segera membuka surat tersebut. Matanya bergerak cepat membaca setiap baris yang tertulis.
Isi surat itu menjelaskan keberadaan Makhluk Kutukan yang kini berada di Desa Nagamari. Master Seijun juga meminta bantuan tambahan dari para pemburu serta pasukan kerajaan untuk menangani ancaman tersebut sebelum semakin banyak korban berjatuhan.
Setelah selesai membaca, Kaisar langsung berdiri dari singgasananya.
"Panggil para komandan!"
Para pengawal segera bergerak.
"Kerahkan pasukan ke Desa Nagamari. Kita tidak bisa membiarkan Makhluk Kutukan itu berkeliaran lebih lama lagi."
"Siap, Yang Mulia!"
Perintah Kaisar segera dilaksanakan. Pasukan kerajaan mulai bersiap untuk berangkat, sementara Ryujin dan Yua yang telah menerima pesan dari Fumiro segera mempersiapkan diri.
Tak lama kemudian, Ryujin, Yua, Fumiro, serta sejumlah pasukan kerajaan berangkat menuju Desa Nagamari.
Mereka belum mengetahui bahaya apa yang menanti di sana. Namun satu hal yang pasti, pertempuran melawan Makhluk Kutukan semakin dekat.
Malam pun tiba.
Di rumah Chisen, aroma makanan hangat memenuhi ruangan. Ibunya sibuk menata hidangan di meja makan dengan senyum lembut di wajahnya.
"Ibu sudah membuat makanan kesukaanmu," ucapnya.
"Makanlah yang banyak, ya, Nak."
Chisen memandangi hidangan itu sejenak sebelum tersenyum.
"Terima kasih, Bu. Aku menyayangimu."
Ibunya tersenyum hangat mendengar ucapan itu. Namun di balik senyum Chisen, hatinya dipenuhi kegelisahan.
Dia tidak ingin meninggalkan ibunya sendirian malam ini. Terlebih lagi, ancaman Makhluk Kutukan masih menghantui desa mereka. Berkali-kali dia ingin mengatakan yang sebenarnya, tetapi keberaniannya selalu menghilang sebelum kata-kata itu keluar.
Akhirnya, dia memilih berbohong.
"Bu, setelah makan nanti aku mau ke rumah Kenji sebentar. Ada barang yang harus kuambil."
Ibunya langsung menghentikan aktivitasnya.
"Kenapa tidak besok saja? sekarang sudah malam. Bagaimana kalau Makhluk Kutukan itu muncul?"
Chisen menundukkan kepala sejenak.
"Tak akan lama, Bu. Aku hanya sebentar saja."
Lalu dia menatap ibunya dan berkata dengan nada memohon.
"Aku janji akan kembali."
Mata ibunya dipenuhi keraguan. Namun pada akhirnya dia menghela napas panjang.
"Baiklah kalau begitu. Tapi jangan lama-lama. Habiskan makananmu dulu."
Wajah Chisen kembali tersenyum.
"Baik, Bu. Terima kasih."
Mereka pun makan malam bersama.
Entah mengapa, malam itu Chisen memperhatikan ibunya lebih lama dari biasanya. Seolah-olah dia ingin mengingat setiap senyum dan setiap perkataannya.
Setelah selesai makan, dia lalu berdiri di depan pintu rumah.
"Hati-hati di jalan, Nak. Setelah selesai cepat pulang ya."
Chisen menoleh dan tersenyum.
"Iya, Bu."
Namun sesaat sebelum pergi, dia sempat memandang ibunya sekali lagi.
"Semoga aku bisa pulang dengan selamat.."
gumamnya dalam hati.
Tak lama kemudian, dia berjalan meninggalkan rumah menuju pinggir desa.
---
Di tempat lain, Kenji sudah menunggu sambil membawa katana milik ayahnya yang terselip di pinggang. Angin malam berembus pelan di antara pepohonan.
Tak lama kemudian, Chisen tiba.
Mereka bertemu di batas antara deretan rumah warga dan hutan gelap yang membentang di hadapan mereka. Untuk beberapa saat, tidak ada satu pun yang berbicara.
Keduanya hanya saling menatap tajam. Di belakang mereka terdapat cahaya lampu rumah yang hangat dan menenangkan. Sementara di depan mereka hanyalah kegelapan hutan yang sunyi dan menakutkan.
Satu langkah lagi, dan mereka akan meninggalkan rasa aman desa untuk memasuki wilayah Makhluk Kutukan.
Dengan sombong, Kenji menyilangkan tangan di depan dada.
"Kukira kau akan melarikan diri, hahaha. Mau datang dengan tangan kosong? apa kau memang datang untuk menyerahkan diri?"
Chisen mendengus kesal.
"Kita lihat saja siapa yang bertahan."
Tanpa berkata apa-apa lagi, mereka berdua memasuki hutan yang gelap. Beberapa saat kemudian, Kenji tertawa sambil melihat ke sekeliling.
"Mana Makhluk Kutukan itu? tidak ada apa-apa di sini."
Lalu dia berteriak sekeras mungkin.
"Heii, Makhluk Kutukan! tunjukkan dirimu! Chisen sedang mencarimu!"
Wajah Chisen langsung memerah karena marah.
"Apa-apaan kau?! mengapa menyebut namaku?!"
Kenji tertawa semakin keras.
"Hahaha! baru begini saja sudah takut."
Namun tawanya perlahan menghilang.
AUMMM!!!
Suara auman harimau yang sangat keras mengguncang seluruh hutan. Keduanya langsung terdiam. Jantung mereka berdegup kencang.
Chisen berusaha menenangkan dirinya.
"Itu.. itu hanya binatang biasa. Bukan Makhluk Kutukan."
Meski berkata demikian, suaranya terdengar tidak meyakinkan. Mereka kembali melangkah. Tiba-tiba angin dingin berembus kencang di antara pepohonan.
Wuuussshhh...
Lalu terdengar suara cakaran dari atas.
Kraakk...
Kraakk...
Seolah ada sesuatu yang bergerak cepat dari satu pohon ke pohon