Bagi Adrian, Dira hanyalah seorang gadis jalanan yang pernah ia selamatkan. Namun bagi Dira, Adrian adalah alasan ia bertahan hidup, bangkit dari kemiskinan, dan mengubah takdirnya.
Malam itu, ia bertekad mengubah dirinya bukan sebagai gadis jalanan lagi, melainkan wanita yang siap melakukan apa saja demi memiliki pria yang telah menguasai hatinya.
"Sekecil apapun kesempatan itu, akan ku manfaatkan sebaik mungkin!" (Dira)
#CintaRomantis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30
Perempuan itu menoleh. Begitu melihat Adrian, matanya langsung membesar. "Mas Adrian?"
"Kamu juga belanja?" tanya Adrian.
Dira mengangguk sambil mengangkat keranjang belanjanya. "Iya. Apartemenku kosong. Kalau tidak belanja, nanti aku makan mi instan terus."
Adrian tertawa kecil. "Pengusaha besar ternyata masih makan mi instan."
Dira ikut tertawa. "Sesekali. Kalau lagi sibuk, mi instan itu penyelamat."
Adrian melirik isi keranjang belanja Dira. Isinya jauh dari kesan mewah. Sayuran. Telur.bBuah. Susu. Roti gandum. Dan beberapa bungkus kopi. "Kukira isi keranjangmu cokelat impor semua."
Dira tersenyum geli. "Kalau setiap hari beli makanan mahal, nanti laporan keuanganku dimarahi tim finance."
Adrian terkekeh. "Kamu memang unik."
"Kenapa?"
"Pengusaha lain sibuk menunjukkan kemewahan. Kamu malah sibuk membandingkan harga kopi."
Dira mengangkat kedua bahunya. "Aku pernah hidup di masa ketika membeli sebungkus mi saja harus berpikir berkali-kali. Kebiasaan itu belum hilang." Kalimat itu keluar begitu saja. Sesaat kemudian Dira baru sadar ia hampir membuka sedikit tentang masa lalunya.
Untungnya Adrian hanya mengangguk pelan. "Bagus. Itu yang membuatmu tetap membumi." Keheningan singkat tercipta. Adrian mengambil sebungkus kopi yang tadi diperhatikan Dira. "Yang ini enak?"
Dira mengangguk mantap. "Enak. Kalau diminum malam sambil kerja, aromanya juga menenangkan."
Adrian memasukkan kopi itu ke keranjangnya. "Kalau begitu aku percaya rekomendasimu."
Dira tersenyum. "Kalau tidak enak, nanti boleh protes."
"Baik." Adrian tersenyum balik. Sudah lama rasanya ia tidak berbicara seringan ini dengan seseorang. Tidak ada pembahasan tender. Tidak ada laporan keuangan. Tidak ada persoalan keluarga. Hanya dua orang yang tanpa sengaja bertemu di lorong supermarket dan mengobrol tentang kopi, mi instan, dan kebiasaan sederhana. Anehnya, justru percakapan sederhana itulah yang membuat hati Adrian terasa sedikit lebih ringan dibanding beberapa hari terakhir.
Usai berbelanja, Adrian mengangkat kantong belanjaannya sambil tersenyum. "Masih ada waktu?"
Dira menoleh. "Kenapa?"
"Kopi lagi?"
Dira tertawa pelan. "Mas Adrian sepertinya mulai kecanduan kopi."
"Atau mungkin..." Adrian tersenyum tipis. "...aku mulai kecanduan teman minum kopinya."
Kalimat itu membuat Dira terdiam sesaat. Pipinya memanas.
Untung Adrian segera tertawa kecil, membuat suasana kembali santai. "Sudah, ayo."
Tak jauh dari supermarket terdapat sebuah kafe dengan konsep terbuka. Mereka memilih duduk di teras yang menghadap taman. Angin sore bertiup sejuk..Setelah pesanan datang, Adrian memutar pelan sendok di dalam cangkirnya. "Oh ya."
"Hm?"
"Apa benar kamu menjadi donatur di yayasan keluarga kami?"
Dira berhenti mengangkat cangkir. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. "Kenapa tiba-tiba bertanya begitu?"
"Mayang sempat menyinggungnya." Adrian menatap Dira dengan rasa penasaran. "Katanya kamu sering membantu yayasan."
Dira mengangguk kecil. "Ya... sesekali. Tapi sebenarnya orang-orang yayasan yang membantu aku. Termasuk usaha pertamaku, skincare. Itu dibantu banyak oleh mereka."
Adrian tersenyum. "Kalau begitu....Perkiraanku mungkin benar."
Dira mengernyit. "Perkiraan apa?"
"Aku merasa kita pernah bertemu sebelum menjadi rekan bisnis. Kalau kamu sering ke yayasan sebagai relawan... Mungkin kita pernah berpapasan di sana." Adrian diam sejenak. "Jujur Dur, aku penasaran. Beberapa tahun lalu, berarti sebelum aku ke Amerikan, harusnya aku bisa mengingat relawan yang pernah bekerja sama sebab kala itu aku masih rutin mengunjungi yayasan. Ya beberapa kali dalam sebulan, lah."
"Aku nggak terlalu penting untuk diingat, mas. Lagipula yang ku lakukan bukan hal besar. Malah aku yang dibantu yayasan." Dira berusaha mengelak.
"Enggaklah, bagiku, anak muda yang punya jiwa sosial itu hebat. Ia punya nilai plus. Tidak semua orang bisa saling peduli dengan sesama. Apalagi dengan orang yang dibawahnya."
Dira tersenyum tipis. Senyum yang menyimpan begitu banyak rahasia. "Bagaimana kalau...aku tidak sehebat yang Mas bayangkan?"
Adrian mengernyit. "Maksudmu?"
"Bagaimana kalau aku bukan relawan yang luar biasa? Bagaimana kalau sebenarnya aku hanya orang biasa? Bahkan untuk masuk kategori biasa juga ... Ahhh entahlah."
Adrian menggeleng pelan. "Dira." Nada suaranya terdengar begitu yakin. "Aku mengenalmu. Memang belum terlalu lama. Tapi cukup untuk tahu seperti apa dirimu." Ia meletakkan cangkir kopinya. "Lihat saja bagaimana kamu membangun perusahaan. Bagaimana kamu memperlakukan karyawan. Bagaimana kamu berbicara tentang bisnis. Dan sekarang... kamu bahkan menyisihkan hartamu untuk membantu yayasan." Adrian tersenyum hangat. "Orang seperti itu tidak mungkin biasa."
Dira hanya terdiam.nDadanya terasa sesak. Ia ingin mengatakan yang sebenarnya. Bahwa dulu ia bukan relawan. Bahwa ia pernah menjadi anak yang tinggal di yayasan itu. Bahwa Adrian sendirilah yang membawanya ke sana. Namun ia hanya mampu tersenyum.
Adrian melanjutkan, "Aku yakin...keluargamu berhasil mendidikmu menjadi perempuan yang hebat."
Kalimat itu menghantam hati Dira. Seketika bayangan masa kecilnya muncul. Seorang ayah yang menjual anaknya demi uang minuman keras. Seorang ibu yang meninggal dalam keputusasaan. Lalu Bu Emi, Bu Monik, dan orang-orang yayasan yang mengajarinya kembali percaya pada hidup.
Dira menundukkan wajah agar Adrian tidak melihat matanya yang mulai berkaca-kaca. Dengan suara yang nyaris berbisik, ia menjawab, "Mungkin...bukan keluarga yang membentukku. Mungkin....orang-orang baik yang kutemui di perjalanan hiduplah yang membuatku menjadi seperti sekarang."
Adrian memandang Dira beberapa saat. Entah mengapa, jawaban itu terasa jauh lebih dalam daripada yang ia duga. Ia tidak bertanya lebih lanjut. Namun untuk pertama kalinya, Adrian merasa bahwa di balik senyum tenang Dira, tersimpan kisah panjang yang belum pernah diceritakan kepada siapa pun.
"Aku tetap bangga padamu!" tiba-tiba Adrian bicara dengan suara pelan.
Matahari sore mulai condong ke barat. Cangkir-cangkir kopi di atas meja telah kosong sejak beberapa menit yang lalu, tetapi Adrian dan Dira masih mengobrol ringan tentang banyak hal. Mulai dari buku bisnis favorit, tempat liburan yang ingin dikunjungi, hingga makanan sederhana yang justru sering mereka rindukan di tengah kesibukan. Tanpa terasa, waktu berlalu begitu cepat.
Dira melirik jam tangan. "Wah... Aku harus kembali ke kantor."
Adrian ikut melihat jamnya. "Benar juga. Aku juga masih harus menyelesaikan beberapa dokumen."
Mereka berdiri hampir bersamaan. Adrian mengambil kantong belanjaannya. Begitu pula Dira. Keduanya berjalan keluar dari kafe menuju area parkir. Sesampainya di persimpangan jalan menuju parkir, langkah mereka berhenti. Mobil mereka berada di arah yang berlawanan.
Sejenak, tidak ada yang berbicara. Adrian tersenyum lebih dulu. "Terima kasih."
Dira tampak heran. "Untuk apa?"
"Sudah mau menemaniku minum kopi. Entah kenapa setiap selesai berbicara denganmu, pikiranku selalu terasa lebih ringan."
Jantung Dira kembali berdebar. Ia berusaha menyembunyikannya di balik senyum kecil. "Aku juga senang bisa mengobrol dengan Mas Adrian."
Adrian mengangguk pelan. Lalu, setelah terdiam beberapa detik, ia berkata dengan nada tulus, "Semoga kita bisa bertemu lagi."
Dira menatapnya.
"Aku masih ingin mendengar banyak cerita tentangmu."