Nyai Seruni, seorang dukun yang menghabiskan masa mudanya menghancurkan kebahagiaan orang lain lewat racun petunduk karena rasa iri, kini terjebak dalam tubuh yang membusuk namun menolak mati. Di ambang sakaratul maut yang abadi, ia harus menyeret tubuhnya yang lumpuh untuk bersujud di kaki para korbannya—orang-orang yang hidupnya ia curi—hanya demi satu hal : izin untuk meninggal dunia.
Assalamualaikum semua, aku datang dengan tulisanku.
Bantu ramaikan dengan Like, komentar dan bagikan jika suka.
Insya Allah besok pagi jika banyak peminat, 😉
Mohon maaf jika ada kesamaan nama dan tempat, 🙏
#cerbung
#cerpen
#ceritahoror
#hobimenulis
Cerita Hantu
Cerita Misteri , Mitos , Sejarah Di Dunia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: Surat Bersegel Perak dan Kabar dari Pesisir
Satu bulan telah berlalu sejak kehancuran Candi Tua Ranubaya di Hutan Bambu Hitam. Suasana di Pegunungan Tengger berubah menjadi jauh lebih tenteram, seolah bumi perbukitan itu sendiri menghembuskan napas lega setelah terbebas dari cengkeraman sekte-sekte ilmu hitam. Nyai Ratih, yang telah membulatkan tekad untuk bertaubat sepenuhnya dari masa lalu yang kelam, memilih tinggal di sebuah pondok kayu sederhana di lereng utara. Di sana, ia mendedikasikan sisa hidupnya meracik jamu pemulihan tenaga bagi para petani, bekerja sama dengan Sari yang rutin mengirimkan bahan-bahan herbal alami.
Setiap pagi, teras rumah panggung Sari tidak pernah sepi dari warga yang hendak berobat atau sekadar berkonsultasi mengenai tanaman obat. Dapur soto buatan Sari kembali mengepulkan aroma gurih rempah murni yang selalu memikat siapa saja yang melintas di jalan desa. Sementara itu, di hilir desa, bunyi dentang besi Marno terdengar ritmis dan bersemangat, menandakan pesanan bajak sawah, cangkul, dan alat ukir kayu dari desa-desa tetangga terus mengalir tanpa henti.
Namun di suatu siang yang hangat, ketika Sari sedang menjemur irisan akar kemuning di halaman, derap langkah kaki kuda berzirah perak memecah ketenangan Karang Tumpuk.
Sesosok prajurit bertubuh tegap mengendarai kuda putih dengan pelana biru berkilat berhenti tepat di depan pagar rumah panggung Sari. Prajurit itu mengenakan pakaian kebesaran Kedatuan Pantai Selatan, lengkap dengan lambang naga perak terukir di pelindung dadanya.
"Pangapunten, apakah ini rumah Nyi Sari keturunan Seruni dan Ki Pande Marno?" tanya utusan tersebut seraya membungkuk hormat dari atas kudanya.
Marno yang mendengar suara asing itu segera keluar dari tempat pembakarannya di samping rumah. Ia mengusap keringat di lehernya dengan kain sarung tua, matanya tetap waspada memandangi sang prajurit. Si Mbah melompat lincah ke atas pagar bambu, memperhatikan prajurit pesisir itu dengan rasa ingin tahu yang besar.
"Benar, aku Sari dan ini Kang Marno," jawab Sari ramah seraya menyapu sisa-sisa akar herbal dari tangannya. "Ada kabar apa dari Kedatuan Pantai Selatan?"
Prajurit itu melompat turun dari kudanya, merogoh tabung bambu keemasan yang terikat di pinggangnya, lalu mengeluarkan selembar gulungan kain sutra putih yang disegel oleh lilin perak berstempelkan gambar **Naga Laut**.
"Hamba dikirim langsung oleh Pangeran Arya Braja untuk menyampaikan amanat penting ini," ucap prajurit itu seraya menyerahkan gulungan kain dengan kedua tangannya. "Pangeran mengundang kalian berdua untuk datang ke **Pelabuhan Bandan** minggu depan."
Sari menerima gulungan surat tersebut, memecahkan segel peraknya yang dingin, lalu membacanya bersama Marno yang sudah berdiri di sampingnya. Dalam surat itu, Pangeran Arya Braja menuliskan bahwa Kunci Pusaka Ranubaya yang dibawanya dulu telah berhasil dilarutkan dalam kawah air laut abadi di dasar tebing pesisir. Namun, Pangeran Arya Braja menemukan serangkaian ukiran kuno di dalam peti pusaka tua yang menyebutkan keberadaan **Tiga Kuali Emas Sepuh**—sebuah sarana pengobatan legendaris yang ditinggalkan oleh leluhur penempa Tengger di pesisir selatan puluhan tahun lalu.
"Pangeran meminta kita menyaksikan penyerahan Tiga Kuali Emas Sepuh itu untuk balai pengobatan perbukitan," bisik Sari dengan mata berbinar.
Marno mengelus dagunya yang ditumbuhi brewok tipis. "Pesisir selatan... Perjalanan ke Pelabuhan Bandan membutuhkan waktu dua hari menembus perbukitan selatan dan Hutan Bakau Hitam."
Utusan pesisir itu tersenyum tenang. "Pangeran telah menyiapkan pengawalan terbaik dan jalur aman untuk perjalanan kalian. Beliau berharap kedatangan kalian sebagai kehormatan besar bagi Kedatuan."
Sari menatap Marno, lalu menoleh pada *Kitab Usada Tengger* yang tergeletak terbuka di atas meja teras. "Kang Marno, ini adalah kesempatan untuk menyempurnakan isi kitab pengobatan ini. Leluhur penempa besi dan peracik obat dulu selalu bekerja sama. Jika Kuali Emas Sepuh itu memang ada, warga perbukitan bisa memiliki tempat merebus ramuan obat skala besar tanpa takut terkontaminasi bahan-bahan berbahaya."
Marno mengangguk mantap, menyunggingkan senyum tipis di bibirnya. "Kalau begitu, siapkan perbekalanmu, Sari. Besok pagi kita berangkat ke Pelabuhan Bandan!"