Setelah menghadiri pesta pertunangan Rias Gremory sahabat kecilnya yang berakhir digagalkan oleh Sekiryuutei:Issei Hyoudou. Sona sitri di dorong oleh kakaknya Serafall untuk mencari keluarga baru demi menambah kekuatan tempur garis depan.
Menanggapi itu Sona mengamininya, lalu saat kembali ke dunia manusia. Dia menyaksikan seorang pemuda dengan sacred gear [Imperial Tiger Mantle] bertarung dengan malaikat jatuh tingkat tinggi.
Remaja itu mati terbunuh dan Sona membalas kematiannya dengan membunuh malaikat jatuh itu. Lalu mereinkarnasikan remaja itu yang ternyata masih murid akademi Kuoh sekelas dengan Issei sang sekiryuutei.
Inilah kisah Yudi sang Pawn Sitri yang bersumpah untuk selalu menjaga janjinya demi melindungi rekan-rekannya dari berbagai masalah.
Update rutin, kalau mendesak mungkin 1 chapter [Harap Maklum] Janga ragu Subscribe guys, kalau bisa pencet tombol likenya ya👍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyudi0596, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30
Kalimat terakhir Sona menghasilkan reaksi instan. Rahang Yudi sedikit terbuka. Matanya melebar sesaat sebelum ia menyandarkan tubuhnya dengan kasar ke sandaran kursi. Hembusan napas keras keluar dari hidungnya.
"Wah," ucap Yudi dengan nada panjang, gelengan kepala pelan mengikuti ritme bicaranya. "Ternyata Issei itu seorang iblis juga, ya. Benar-benar tidak disangka orang seperti dia memiliki Longinus."
Yudi tiba-tiba menyipitkan matanya, alisnya berkerut dalam, otot di sudut bibirnya berkedut menahan rasa jengkel. "Tapi sikapnya tetap saja menyebalkan pagi ini!" gerutunya pelan. Rasa kagum bahwa temannya memiliki kekuatan dewa tertutup sepenuhnya oleh kekesalan mengingat tingkah laku Issei yang sama sekali tidak menunjukkan respek atau martabat sebagai sesama makhluk supranatural.
Sona mengangguk singkat, membenarkan gerutuan pionnya. "Benar. Hyoudou-san saat ini berada di bawah naungan keluarga Gremory."
"Oh, ternyata Rias Gremory, toh," gumam Yudi. Jari telunjuk kanannya mengetuk-ngetuk pelan bibir bawahnya. Matanya bergerak ke sudut atas ruangan, memproses informasi tersebut dengan cepat. Sebuah deduksi logis terbentuk di kepalanya dalam hitungan detik. Garis keturunan Maou Leviathan, lalu keluarga Gremory yang memiliki kekuasaan tinggi di wilayah ini. Jika Sona adalah adik Serafall...
Postur Yudi tiba-tiba tegak kembali. Tangannya menunjuk ke udara, menatap Sona dengan mata berbinar. "Oi, Kaichou! Jangan-jangan—"
"Hah..." Sona menghembuskan napas panjang dan berat. Ia mengangkat sebelah tangannya, telapak tangannya menghadap Yudi dengan gestur menyuruh berhenti. Matanya menyipit dengan ekspresi lelah.
"Iya, benar," potong Sona cepat, nadanya datar tanpa emosi. "Rias Gremory adalah adik kandung dari Maou Lucifer saat ini, Sirzechs Lucifer, yang terlahir sebagai Sirzechs Gremory."
Sona menurunkan tangannya, menatap tajam pionnya yang mulutnya masih setengah terbuka. "Kau mau apa? Menanyakan apakah aku bisa meminta agar kakaknya menemuimu dan bercerita panjang lebar tentang perjalanan sejarah dalam menaklukkan faksi Maou lama?"
Tebakan jitu Sona menghantam niat kecil Yudi. Pemuda itu membeku sesaat, sebelum akhirnya senyum cengengesan lebar merekah di wajahnya. Ia menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Uwah, kau beneran tidak menahan diri, ya. kemampuannya membaca orang," Yudi merespon santai, tawanya mengiringi nada bicaranya. "Tapi yah... memang itu sih niatku. Siapa tahu bisa mendengar kisah heroik secara langsung. Entah kapan-kapan deh, shishi."
Yudi mengibaskan tangannya, mengusir topik tentang Sirzechs, lalu kembali memasang wajah serius. Sorot matanya menajam, meminta kelanjutan kuliah malam itu. "Kalau begitu, bagaimana dengan Sacred Gear keenam dari susunan belasan Longinus itu?"
Sona menyesuaikan letak kacamatanya kembali. Ia kembali berjalan perlahan ke meja kerjanya. "Selanjutnya yang keenam ada Divine Dividing. Mirip dengan konsep sebelumnya, di dalam artefak ini bernaung seekor naga surgawi bernama Albion. Jika Ddraig melipatgandakan kekuatan pengguna, maka Sacred Gear ini memiliki otoritas pembagian kekuatan. Dia akan membagi dua kekuatan apa pun, baik magis maupun fisik, yang masuk ke dalam jangkauan otoritasnya, lalu menyerap setengahnya untuk pengguna."
Divine Dividing
Suara langkah Sona terhenti. Ia meletakkan ujung jarinya di atas dokumen di mejanya. "Ketujuh, Regulus Nemea. Kau pasti tahu tentang mitologi Heracles. Benar, roh hewan yang bernaung di dalam Sacred Gear ini adalah wujud Singa Nemea, yang merupakan keturunan kedua dari tiga belas ekor Regulus Nemea asli. Kekuatannya adalah memberikan perlindungan absolut kepada penggunanya dan melipatgandakan kekuatan serangan fisik hingga batas maksimal. Kedelapan ada Canis Lykaon. Jika sebelumnya adalah entitas singa, kali ini adalah seekor anjing hitam raksasa. Bukan sembarang anjing, dalam legenda dikatakan kalau roh anjing itu adalah raja dari Arcadia, leluhur bangsa manusia serigala, Lycaon. Artefak ini memiliki kemampuan untuk menghasilkan bilah-bilah mematikan dari bagian tubuh penggunanya dan memberikan kemampuan menyerang maupun berpindah melalui medium bayangan."
Sona mengambil napas sejenak, matanya menatap Yudi untuk memastikan pemuda itu masih mengikuti deretan nama dan legenda kuno tersebut. "Kesembilan, Sephiroth Graal."
"Oh, Last Supper, ya?" sela Yudi seketika. Kepalanya mengangguk tegas saat mendengar nama tersebut.
Sona memberikan anggukan kecil sebagai bentuk apresiasi atas pengetahuan Yudi. "Benar sekali. Itu adalah cawan suci yang digunakan dalam Perjamuan Terakhir Kristus, dan juga dikenal sebagai cawan dalam legenda Arthurian. Kemampuannya mampu membuat penggunanya terhubung dengan konsep jiwa-jiwa yang sudah meninggal, dan juga memiliki otoritas mutlak untuk menyembuhkan luka fatal pada ras manapun. Kesepuluh adalah Incinerate Anthem, bermanifestasi dari salib suci tempat di mana Kristus disalibkan. Kemampuannya adalah menghasilkan dan memanipulasi api suci berwarna ungu yang mampu membakar eksistensi iblis hingga tak bersisa."
Sona merapikan tumpukan kertas di mejanya dengan gerakan mekanis tanpa melihat, sepenuhnya mengandalkan ingatan ototnya sementara ia terus berbicara. "Bersama dengan Cawan Suci dan True Longinus, mereka disebut sebagai Holy Relic terkuat. Meskipun ada beberapa relik lain seperti Holy Robe, Holy Nails, dan Holy Crown, serta tambahan Holy Spirit. Jika dikumpulkan, mereka akan membentuk satu kelompok kekuatan sendiri secara utuh di luar sistem Longinus biasa, yang disebut The Greatest Seven Relic of God in Bible. Atau ada literatur yang menyebutnya The Weapons of Pantokrator in Bible. Mungkin ada beberapa julukan lain tergantung interpretasi manuskrip kuno."
Di seberang meja, gerakan Yudi mulai berubah. Tangan kanannya dengan cepat merogoh saku celana seragamnya. Sebuah buku catatan kecil berwarna hitam lusuh dan sebuah pena ditarik keluar. Bunyi 'klik' dari pena yang ditekan memecah suara Sona sejenak. Yudi menundukkan kepalanya, tangannya mulai bergerak dengan kecepatan luar biasa mencoretkan tinta di atas kertas. Suara gesekan ujung pena yang tajam memenuhi udara.
Sona melihat hal itu, namun ia tidak berhenti. Ia melanjutkan penjelasannya ke nomor sebelas. "Selanjutnya yang kesebelas, Absolute Demise yang aku singgung sebelumnya. Sacred Gear ini mampu memanipulasi elemen es pada tingkat absolut. Ia dikenal juga sebagai entitas Ice Princess karena memiliki otoritas penguasa mutlak atas suhu minus. Tapi sayangnya..." Sebuah nada kebanggaan kecil, yang sangat tipis dan nyaris tak kentara, menyelinap ke dalam suara Sona. "...Nee-chan-ku bisa mengimbangi kekuatan absolut tersebut."
Sona menatap lurus ke arah Yudi yang masih menunduk mencatat secara brutal. "Kedua belas adalah Innovate Clear. Dikatakan dalam sejarah kalau artefak ini adalah versi penyempurnaan dari gabungan kekuatan Annihilation Maker dan Dimension Lost. Kenapa? Karena Sacred Gear ini mampu menciptakan sebuah alam semesta buatan yang utuh, lengkap dengan sistem ekologi dan kehidupan makhluk di dalamnya. Tapi hukum keseimbangannya menyatakan satu kelemahan: makhluk yang tercipta di dunia Innovate Clear hanya mampu hidup di dalam batasan dunia itu saja. Mereka akan musnah jika dibawa keluar ke dunia realita kita."
Langkah Sona terhenti. Ia meletakkan kedua tangannya bersilang di depan perutnya. "Dan yang terakhir, yang ketiga belas, adalah Telos Karma. Untuk menjelaskan kemampuannya... sifatnya mungkin seperti dirimu."
Gerakan tangan Yudi terhenti di tengah coretan. Ujung penanya tertahan di atas kertas, meninggalkan titik tinta hitam kecil. Ia mengangkat kepalanya lambat-lambat. Dahinya berkerut dalam membentuk lipatan kebingungan.
"Eh? Diriku? Apa maksudmu, Sona?" tanya Yudi, suaranya dipenuhi keheranan yang jujur.
Sona menggelengkan kepalanya pelan, tidak mempedulikan Yudi yang tiba-tiba memanggil nama depannya tanpa embel-embel kehormatan. "Ah, bukan apa-apa. Otoritas Telos Karma adalah memanipulasi probabilitas. Ia mampu mengubah sebuah kemungkinan atau takdir yang sudah diprediksi secara matematis menjadi tidak terjadi. Singkatnya, dia bisa memutarbalikkan realita hukum sebab-akibat. Sebagai contoh: seharusnya sebuah tombak mengenai tepat di jantungmu karena tidak ada ruang untuk menghindar, tapi dengan campur tangan Sacred Gear ini, serangan itu bisa bergeser ke tempat lain atau probabilitasnya dirusak hingga tidak kena sama sekali. Semua itu sangat bergantung pada seberapa ahli dan sinting pemikiran pengguna dalam memanfaatkan artefaknya."
Ruangan kembali dikuasai keheningan setelah kuliah panjang tersebut usai. Hanya suara goresan pena yang kini berpacu dengan cepat di atas kertas yang terdengar dominan. Yudi tidak mendongak, matanya sepenuhnya terfokus pada barisan tulisan tangannya sendiri yang terlihat berantakan akibat kecepatan menulisnya.
Mata Sona melirik tajam, mencoba mengintip apa yang dilakukan pemuda itu. Pada awalnya ia mengira rentetan penjelasan mengenai alat-alat pembunuh Dewa dan anomali probabilitas ini akan membuat otak pionnya berasap atau setidaknya tertidur karena kebosanan kognitif.
Namun yang ia dapatkan sangat jauh dari ekspektasi. Sudut bibir Yudi justru terangkat ke atas, membentuk senyuman asimetris yang penuh dengan rasa lapar akan tantangan. Tangan pemuda itu dengan brutal menuliskan semua nama-nama item dewa yang baru saja disebutkan, beserta deskripsi kemampuannya masing-masing.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Sona, nada suaranya memancarkan rasa penasaran yang tidak bisa ia tutupi.
Yudi tidak menghentikan goresan penanya. "Tentu saja," jawabnya dengan santai, mengayunkan penanya membentuk garis bawah tebal pada kata True Longinus. "Aku menulis semua hal tentang data spesifikasi Sacred Gear tipe Longinus ini agar aku tidak lupa di kemudian hari."
Yudi menutup buku catatannya dengan suara 'pak' yang nyaring. Ia menyelipkan buku dan penanya kembali ke dalam saku, lalu menatap Sona dengan senyuman percaya diri yang begitu menjengkelkan sekaligus mengagumkan.
"Setidaknya," Yudi menyandarkan punggungnya kembali ke kursi, melipat kedua tangannya di belakang kepala. "Aku harus mengingat setiap detail kekuatan absolut mereka agar aku bisa memikirkan teknik dan cara licik bagaimana mengalahkan mereka suatu saat nanti."
Sona terdiam membeku. Tangannya yang bersilang di depan perut perlahan terurai dan turun terkulai di sisi tubuhnya. Sebuah hembusan napas yang sangat panjang dan sarat akan kelelahan mental meluncur dari celah bibirnya. Jari telunjuk dan ibu jari kirinya bergerak naik, memijat pelan pangkal hidungnya di balik kacamata. Mata ungunya menatap lurus ke arah remaja laki-laki di hadapannya yang tengah duduk dengan postur santai tanpa beban.
Tingkah laku pemuda itu... perubahan emosionalnya yang bisa terjadi dalam sekejap mata, bagaimana ia dengan begitu mudah memutarbalikkan atmosfer ruangan yang kaku menjadi hangat, lalu dari hangat kembali menjadi dingin dan kalkulatif.
Tidak ada satu pun tindakan pemuda ini yang bisa diprediksi melalui logika normal. Benar-benar wujud nyata dari anomali probabilitas berjalan. Sona menyandarkan pinggulnya ke meja, membiarkan kelelahan meruntuhkan sedikit postur tegaknya.
Rasanya, yang kelelahan dan kehabisan napas di dalam ruangan ini bukanlah pion yang baru saja dicekoki informasi setingkat dewa, melainkan dirinya sendiri yang harus menghadapi berbagai respon anomali dari bawahannya itu.
Absolute Demise
Sepiroth Grail
Innovate Clear
Telos Karma
Incirenate Anthem
Regulus Nemea
Canis Lycaon
All Picture Source: Pinterest
Sorry Jika Sebagian Sacred Gearnya di desain dengan Circle Magic karena memang aku belum nemu di official LN Highschool DxD.