Dewi seorang istri yang di tinggal merantau suaminya Abi ke Kalimantan dan harus tinggal di kampung merawat mertua dengan uang kiriman seadanya dari sang suami, Dewi pun harus bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidup dengan sang mertua.
Hingga suatu ketika Dewi mendapati sebuah rahasia besar dari teman Abi, ternyata Abi diam-diam menikah lagi, hati Dewi hancur dan dia pun nekat ke Kalimantan untuk memastikan sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bundae safiq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dapat uang sedih pun hilang
"Mas Abi, kamu kenapa kok mukamu kusut begitu, apa masih enggak enak badan?" tanya Wulan yang baru saja pulang kerja dan mendapati Abi masih terlihat lesu.
"Sayang..ada yang mau aku tanyakan sama kamu" ucap Abi memberanikan diri.
''Ada apa mas, mau tanya apa?'' tanya Wulan balik sembari duduk di atas ranjang.
''Emmm... apakah beberapa hari yang lalu kamu menerima panggilan telepon di hp aku?'' tanya Abi sembari menatap kedua mata Wulan berharap Wulan akan jujur padanya.
''Eeemmm sepertinya kemarin siang kalau enggak salah ada yang telepon ke Hp kamu dan aku yang menerimanya, dia ngoceh-ngoceh di hp kamu dan aku balas saja, aku marahin dia, ku maki-maki biar kapok!'' jawab Wulan tanpa rasa bersalah sama sekali. Abi pun melongo dan dia merasa bersalah.
''Ternyata memang Bu Kokom tidak berbohong, dia memang menghubungiku tapi Wulan yang menjawabnya'' gumam Abi lirih, dia sangat menyesal karena melewatkan waktu terakhir ibunya.
''Ada apa memangnya mas, apa kamu mengenal orang itu?'' tanya Wulan penasaran.
''Dia bilang apa sama kamu?'' tanya Abi lagi.
''Apa lagi kalau enggak minta uang, biasa kalau penipuan seperti itu mengaku-ngaku saudara dari kampung bilang ada keluarga yang sakit dan minta kiriman uang cih.... memangnya aku goblok apa!'' jawab Wulan yang terlihat geram.
''Yaaannnggg, dia bukan nipu dia itu orang yang merawat ibuku,'' sahut Abi memberitahu.
''Hah...a...apa?!" Wulan pun melongo, dia seketika merasa enggak enak hati saat mengingat makian yang pernah dia lontarkan saat menjawab panggilan telepon di Hp Abi waktu itu.
''Wulan...hari ini ibuku meninggal dunia, ibuku sudah pergi...dan saat kamu menerima telepon waktu itu dia mau ngasih tau kalau ibuku sakit dan kritis, dia berharap aku bisa mendengar suara ibu untuk yang terakhir kalinya, kamu tahu nggak!'' ucap Abi yang meluapkan emosinya.
''Ya mana aku tahu kalau dia enggak bohong, lagian kamu enggak kasih nama itu kontak di hp kamu aku pikir itu nomor asing yang mau nipu!'' bantah Wulan yang enggak mau di salahin.
''Kamu bisa enggak menghargai keluargaku sedikit saja, aku sudah lama tidak pulang ke Jawa, sekarang bahkan ibuku meninggal pun aku tak bisa apa-apa, aku memang anak yang durhaka, Ibuuuuuuuuuuuuuu, maafin Abi buuuuu...haaaaaaaaaa aaaaaaa aaaaaaa maafin Abiiiiii!!! Abi menangis memukul-mukul dadanya penuh sesal, Abi merasa hancur dan kehilangan juga merasa bersalah.
''Mas...kok kamu begitu, emang kapan aku enggak menghargai ibu kamu, bukanya selama ini kamu juga sudah kirim uang buat ibu kamu, aku juga enggak pernah ngelarang kan, kok kamu tega bilang begitu sama aku, kamu Jahat!!!'' Wulan langsung keluar kamar dengan penuh emosi sembari membanting pintu dengan kasar.
Braaaaaakkkk!!!
Abi pun langsung terdiam dan memandang pintu kamar yang sudah tertutup rapat. dia pun tersenyum kecut dan mengusap kasar rambutnya.
''Dasar wanita egois, kamu bukanya cari cara buat menghibur aku atau nenangin aku ini malah kamu ngambek dan nyalahin aku'' ucap Abi yang sangat kecewa dengan sikap Wulan barusan.
Wulan turun ke lantai bawah dengan wajah cemberut dan juga mata yang berkaca-kaca, kebetulan di sana ada pak Safrudin yang sedang duduk di sofa ruang tamu.
''Paaaaa!'' Wulang langsung berlari dan memeluk sang papa.
''Aiyaaahhhh kenapa lagi kamu ini hemmmm, datang-datang langsung ngambek begitu, ada apa, siapa yang nyakitin kamu?'' tanya pak Safrudin pelan dan sabar.
''Pa, mas Abi jahat, dia marahin aku gara-gara aku jawab panggilan telepon di Hp nya'' adu Wulan pada sang papa.
''Memangnya siapa yang menelepon Abi?'' tanya Pak Safrudin penasaran.
''Jadi waktu itu ada panggilan telepon masuk dari nomor tak di kenal, aku kira itu penipuan soalnya dia ngaku-ngaku keluarganya mas Abi dan bilang ibunya sedang sakit dan pastinya kan dia ujung-ujungnya mau minta uang kalau sudah ngabarin kayak gitu, ya udah aku maki-maki saja sekalian!'' jelas Wulan pada sang papa.
''Lalu apa yang membuat Abi marah sama kamu?'' tanya pak Safrudin lagi.
''Ternyata ibunya mas Abi meninggal dan telepon waktu itu memang benar-benar dari keluarganya, Pa aku kan enggak sengaja, mas Abi enggak seharusnya marah sama aku kan!'' ucap Wulan meminta pembelaan dari sang papa
''Astagah Wulan, seharusnya kamu bilang sama Abi kalau ada yang menelepon dia, jadi iseng atau enggak pasti Abi akan ngecek dan bisa mastiin, dengan begitu Abi tak akan sampai tidak tahu kalau ibunya sedang sakit'' ucap pak Safrudin menasihati.
''Aku enggak ke pikiran sampai sana Pa, lagian selama ini mas Abi juga sudah kirim uang buat ibunya tiap bulan, masak satu orang saja satu juta enggak cukup kan dia sudah tua dan juga hidup dikampung, aku sudah berbaik hati loh pa'' protes Wulan.
''Iya-iya Papa tahu, ya sudah enggak usah kamu pikir in, lagian yang mati tak akan hidup kembali, kamu tanya sama Abi gih apa dia mau pulang ke Jawa atau tidak!'' ucap pak Safrudin yang tidak tega menyalahkan Wulan atas tindakannya yang ceroboh itu.
''Apa...pulang ke jawa, enggak boleh, ngapain mas Abi pulang ke Jawa, ibunya sudah meninggal dan enggak ada keluarga di sana, mas Abi itu anak tunggal, pulang juga mau ngapain buang -buang duit saja!'' bantah Wulan yang keberatan kalau Abi pulang ke Jawa.
Pak Safrudin hanya bisa geleng kepala melihat sikap putrinya yang terlalu posesif sama Abi.
''Ya sudah kalau begitu kamu harus bisa menghibur Abi supaya tidak sedih lagi dan dia tak akan kepikiran buat pulang ke Jawa'' pak Safrudin memberikan saran.
Wulan pun mengangguk patuh, kemudian Wulan kembali ke kamar, di sana Abi masih terbaring di atas ranjang dengan posisi miring dan membelakangi Wulan.
''Mas....'' panggil Wulan namun Abi tak menjawab.
''Maaaasss ...ngomong dong jangan diem aja!'' ucap Wulan sembari menggoyang-goyangkan tubuh Abi.
''Apa sih!'' ucap Abi sembari menyingkirkan tangan Wulan dari atas tubuhnya.
''Aku minta maaf mas, aku tau aku salah enggak kasih tahu kamu soal panggilan telepon itu, lagian kamu juga sih enggak kasih nama pada kontak itu ya mana aku tau kalau panggilan itu bukan penipuan, terus uang yang buat ibu kamu aku rasa itu sudah cukup kalau cuma buat makan satu orang sebulan di kampung, atau jangan-jangan uang itu enggak sampai ke ibu kamu!'' ucap Wulan asal, namun Abi pun langsung terdiam dan baru kepikiran soal itu.
''Astagah aku hampir saja lupa, Wulan kan tak tahu kalau uang itu juga buat Dewi, ini bukan salah Wulan, ini salahku yang sudah menyembunyikan semuanya dari Wulan'' ucap Abi dalam hati, kemudian dia pun berbalik dan menghadap ke arah Wulan.
''Maaf aku tak seharusnya nyalahin kamu, aku hanya lagi sedih saja karena ibu sudah ninggalin aku dan aku tak bisa menemani dia saat-saat terakhirnya'' ucap Abi yang tak lagi marah sama Wulan, Kemudian Abi pun bangkit dan langsung memeluk Wulan.
''Ma kamu enggak akan pulang ke Jawa kan?'' tanya Wulan pelan.
''Enggak kok, nanti aku kirim uang buat tetangga di kampung buat ngurusin selamatan dan doa buat ibu ya yang, tolong kamu transfer uangnya ke rekeningku, aku enggak akan repot-repot pulang, biar uang buat tiket di kirim buat biaya selamatan ibu saja'' ucap Abi berharap Wulan mengerti dengan idenya barusan.
''Oke-oke nanti aku kirim lima juta ke rekening kamu mas, segitu sudah cukup kan?'' tanya Wulan yang berfikir lebih baik kasih uang dari pada Abi pulang ke Jawa.
Abi pun tersenyum, dalam hati dia merasa beruntung karena uang dari Wulan itu akan masuk rekeningnya dan tak akan di berikan pada Bu Kokom karena dia sudah mengirimkan uang sebesar tiga juta pada Bu Kokom.
''Baiklah kalau gitu jangan marah lagi, ayok makan aku sudah sangat lapar sekali!'' ucap Wulan dengan perasaan lega.
''Baiklah, aku juga belum makan sedari siang tadi, aku juga sudah lapar'' jawab Abi yang sudah tak sedih lagi.
Dasar matre, setelah dapat uang sedih pun hilang, Abi tak lagi merasa bersedih karena kematian ibunya.
cinta boleh wi gobloogg jangan