NovelToon NovelToon
Cinta Tak Butuh Tes IQ

Cinta Tak Butuh Tes IQ

Status: tamat
Genre:Teen School/College / Persahabatan / Romantis / Murid Genius / Cintapertama / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:59
Nilai: 5
Nama Author: Rita Sri Rosita

Aira Wibisono, Baru Kehilangan Seluruh Keluarganya, Kisah tragisnya di mulai saat Kakaknya Arya meninggal karena kecelakaan, Ayahnya sangat terpukul dengan kepergian Arya, Arya merupaka ke banggan keluarga, Arya baik, pintar, dan tampan, Arya kuliah di FK UGM Orang tua Aira menaruh harapan yang besar kepada Arya, Cinta mereka sangat besar kepada Arya, Semenjak kepergian Arya Ayahnya Aira jadi sakit sakitan dan tak lama Ayah Aira meniggal, Setelah itu Ibu Aira mulai defresi dan meninggal satu tahun kemudian. Akhirnya Aira memutuskan tinggal di rumah Tante Mala sahabat ibunya, Tante Mala mempunyai anak Laki-laki bernama Damar, dia populer di sekolah, pintar, tampan mirip dengan kakaknya Aira di sana lah kisah Aira di mulai...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gang Sepit Di Dekat Gedung Les Musik

Gang itu sempit.

Dindingnya dipenuhi coretan cat, aroma asap rokok tipis menggantung di udara. Sore baru turun, matahari menyisakan cahaya jingga yang malas.

Anne melangkah cepat, dengan tas biola di punggungnya.

Begitu sampai di ujung gang Anne berhenti beberapa detik.

Sekelompok cowok duduk melingkar di atas motor dan trotoar sempit, jaket hitam, tawa keras, Asap rokok.

Sampah pikir Anne.

Tatapan mereka tertuju padanya, “Eh, bidadari nyasar,” salah satu cowok bersiul.

Anne mendelik tajam, “Norak.” kata Anne ketus.

Bonnie berdiri di antara mereka, tangannya masuk saku jaket, wajahnya santai seperti biasa.

“Tenang,” katanya ke temannya, “kita nggak gangguin cewek.”

Anne menoleh tajam ke arah Bonnie, “Kamu lagi.”

Bonnie menyeringai, “Dunia kecil, ya?”

Anne menatap sekeliling gang, “Ini tempat yang cocok buat kamu.”

Salah satu teman Bonnie tertawa, “Mulutnya tajam juga.”

Bonnie mengangkat tangan, menghentikan temannya yang hendak melabrak Anne “Gue urus.”

Bonnie mempercepat langkahnya mendekat ke arah Anne.

“Kenapa tuan Putri ? Gang itu nggak sesuai standar?”

Anne memeluk tasnya erat, “Aku cuma lewat. Dan jelas… itu bukan lingkungan manusia beradab.”

Bonnie mengangguk pelan, “Iya. Gue tau”

Anne terkejut sesaat, “Kamu setuju?”

“Setuju kalau dari sudut pandang, orang yang hidup di sangkar emas,” lanjut Bonnie datar.

“Dan dunia luar itu nggak ramah jadi hati-hati kalau ngomong."

Anne mendongak, “Apa maksudmu?”

Bonnie menatapnya lurus. “Kamu lihat kami sebagai sampah. gue lihat lo sebagai anak gadis yang nggak tau apa-apa”

Anne tertawa sinis, “Aku nggak perlu banyak tau untuk melihat sesuatu itu kotor,” Bonnie mendekat setengah langkah.

“Dan gue banyak kenal sama tipe cewek angkuh kaya lo,”

Suasana mendadak hening.

Anne mengepalkan tangan, “Kamu bangga hidup kayak gini?”

Bonnie menoleh sebentar ke sekeliling, “lo bangga di nilai sempurna?"

Bonnie kembali menatap Anne, “Setidaknya gue Bebas.”

“Saran aja buat lo,” kata Bonnie sebelum dia berlalu.

“Kalau lewat di depan orang-orang kaya gue… jangan memandang setajam itu.”

Anne berhenti sejenak, “Kenapa?”

“Karena Dunia luar tuh kejam.”

Anne melangkah pergi tanpa menoleh.

Bonnie menatap punggungnya sampai menghilang di tikungan.

Bonnie kembali pada teman-temannya, salah satu temannya menepuk bahu Bonnie.

“Lo kenal dia?”

Bonnie menghembuskan napas.

“Ya, biasa cewek populer di sekolah,"

***Kebetulan Tak Terduga***

Lampu gedung les musik sudah dimatikan Anne berdiri sendirian di trotoar. Tas biola di punggung, ponsel di tangan.

Layar ponselnya menyala pesan dari sopir.

Pak Sopir:

Maaf Non, macet parah, Ada kecelakaan.

Anne menelan ludah,Anne melirik kanan kiri Jalan mulai sepi.

Toko-toko menutup rolling door, udara malam terasa berbeda lebih dingin, lebih asing.

“Tenang,” gumamnya pada diri sendiri, “Sebentar lagi juga datang.”

Langkah kaki seseorang membuatnya refleks menegang.

Namun tanpa Anne sadari sebuah motor melintas pelan, lalu berbalik arah.

Anne memeluk tasnya lebih erat.

Detik berikutnya...

BREET!

Tarikan keras.

“HEY—!”

Tas Anne terseret. Motor melaju kencang. Anne terdorong ke depan, hampir jatuh.

“TOOOOLONG!” suaranya pecah.

Di ujung gang, Bonnie masih ada di situ.

Bonnie sedang menyandarkan motor, helm di tangan.

Matanya langsung menyipit.

“Bangsat.”

Bonnie meloncat ke motornya, gas diputar.

“PEGANG!” teriak Bonnie sambil memberikan helm kepada temannya yang kebetulan masih di situ tapi Bonnie sudah melesat duluan.

Kejar-kejaran terjadi cepat.

Motor jambret berbelok kasar. Bonnie mengejar tanpa ragu.

Bonnie berhasil mengejar, Motor itu berhenti mendadak.

Dua orang turun.

“Apaan lo, anjing?” salah satu dari mereka membentak.

Bonnie turun dari motor.

“Gue minta tasnya,”

“Lo sendirian.”

Bonnie mengangkat bahu.

“Lo nggak tau siapa gue?" Bonnie menantang maju "Gue Bonnie,"

Duel berlangsung singkat tapi brutal, pukulan, dorongan,satu orang jatuh, Yang lain terpental.

Bonnie merebut tas Anne dari jok motor.

“Cabut,” katanya datar, mereka kabur tanpa banyak bicara.

Bonnie menghela napas, lalu kembali ke tempat Anne berdiri.

Anne masih gemetar, Bonnie menyerahkan tas itu.

“Lengkap.”

Anne menatap tasnya, lalu menatap Bonnie.

Matanya berkaca-kaca tapi gengsi masih berdiri kokoh.

“Terima kasih,” katanya pelan.

Bonnie mengangguk, “Sopir lo?" Kata Bonnie terhenti, “Belum datang" Bonnie melirik jam, “Udah malam.”

Bonnie melirik motornya. “Gue anter.”

Anne reflek mundur setengah langkah. “Tidak perlu.”

Bonnie menatapnya, “Pilihan lo cuma dua nunggu di sini… atau selamat.”

Anne terdiam, Anne mengerutkan keningnya, lalu mengangguk kecil, “Iya.”

Bonnie memberikan helm “Pegangan,” katanya singkat.

Anne naik dengan kaku, menjaga jarak sejauh mungkin.

Motor melaju hening.

“Lo nggak perlu takut,” kata Bonnie akhirnya, “Gue bukan mereka.”

“Aku tau,” jawab Anne cepat,“Tapi itu tidak berarti aku percaya.”

Bonnie terkekeh, “Ok,”

Motor itu berhenti di depan rumah Anne, Anne turun cepat.

Dia melepas helm, mengembalikannya, “Terima kasih...”

Bonnie mengangguk, “Hati-hati lain kali.”

Anne ragu sejenak, lalu berkata, “Dan… maaf. Soal kata-kataku sebelumnya.”

Bonnie menatapnya lama, “Disimpen aja. Dunia bakal ngajarin lo sendiri.”

Anne masuk ke rumah, Bonnie menatap pintu itu beberapa detik, lalu berbalik.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!