Rowena Scarlett adalah manusia setengah vampir, tetapi sama sekali tidak menyadari jati dirinya. Tante dan om, satu-satunya keluarga yang ia miliki, justru menganggap Rowena mengalami gangguan mental. Anggapan itu berujung pada keputusan untuk menitipkannya di rumah sakit jiwa.
Rowena didiagnosis mengidap gangguan delusi akibat obsesinya terhadap darah. Kondisi tersebut bahkan membuatnya hampir melakukan percobaan pembunuhan demi memuaskan rasa penasarannya. Padahal, dorongan itu merupakan insting yang wajar bagi seseorang yang memiliki darah vampir.
Nahas, di tempat itu Rowena bertemu Darcel, dokter terapis barunya yang ternyata seorang vampir psikopat. Ketika Rowena terjebak dalam genggamannya, ia dijadikan kambing hitam atas pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan oleh Darcel.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Obat Penenang
Baik dia maupun Angel tampak enggak pakai riasan, yang sebenarnya enggak membuatku heran. Tempat ini jelas enggak menginspirasi buat dandan. Tapi entah kenapa, justru di sini aku merasa senang, jadi aku tetap pakai makeup.
Fenella masih pakai sepatu bot ujung baja dan jins ketat dengan atasan longgar. Angel tampak seperti sudah lama enggak keramas dan pakai kaus Little Mermaid lagi. Yang ini ada gambar wajah Ursula dengan tulisan “Jangan percaya jalang mana pun” di depannya.
“Agnes bilang hal yang sama persis. Aku bakal mati,” kataku, agak curiga.
“Yups,” seru Angel sambil nyengir ke aku.
Aku tarik napas panjang dan mencoba menghabiskan milkshake merah itu. Rasanya parah banget dan aku enggak sanggup. Kalau aku memaksa, aku akan muntah, terus malah makin laper dan makin dehidrasi. Jadi aku dorong gelasnya ke tengah meja dan mendesah.
"Kenapa sih semua orang yakin kalau dia bakal bunuh aku??” tanyaku, berusaha menutupi rasa gugup saat menunggu jawaban.
Angel dan Fenella cuma angkat bahu. Sama sekali enggak membuatku tenang.
“Torvald itu beracun,” kata Angel sambil menatap rambutku. Aku tahu dia ingin membelainya lagi.
“Bukannya kita semua juga gitu?” jawabku. Angel cekikikan.
“Enggak, ini benaran beracun,” katanya.
Aku pun meringis.
Suara roda troli obat mengalihkan perhatianku. Perawat muda pirang itu kasih secangkir ke Fenella, dan Fenella langsung menenggak isinya tanpa berpikir dua kali.
“Nih, Angel,” kata si perawat sambil senyum ke temanku yang rambutnya ungu, pipinya sedikit merona, lalu menyodorkan gelas ke dia.
“Thanks,” kata Angel.
Lalu giliran aku.
Mereka kasih pil ke aku dan menyodorkan cangkir. Perawat Lussy berdiri di depanku, dan seketika aku merasa kayak rusa kena sorot lampu mobil.
“Lussy,” kata Angel, “Telan aja.”
“Aku, eh .…” aku mulai, lalu berhenti. Aku enggak mau minum obat lagi. “Bisa aku bertemu dokterku dulu sebelum minum ini?” tanyaku, berusaha tetap sopan. aku senyum ke dia, tapi senyumnya langsung hilang.
Tiba-tiba Perawat Agnes sudah ada di situ. Dia menunduk, mengambil cangkirku dari Lussy, lalu menyodorkannya ke dada aku.
“Minum. Sekarang,” katanya dengan nada agresif dan nyeleneh.
Perintahnya kasar dan jahat, dan itu bikin amarahku langsung naik. Aku benci diperintah, apalagi sama orang yang aku kenal, dan jujur saja, aku benar-benar enggak suka dia.
Aku ambil cangkir itu dan melihat isinya. Pil yang sama kayak kemarin ada di situ, plus dua pil baru. Satu merah darah, warnanya mirip rambutku. Satunya hitam dengan kilau hijau.
Angel mengintip ke dalam cangkirku dan langsung nahan napas, kaget sama apa pun yang dia lihat. Aku tatap dia, tapi dia buru-buru menoleh.
“Kamu bilang kemarin aku bisa ketemu dokter,” geramku sambil menatap Agnes tajam. Lussy tampak gelisah, akhirnya dia dorong trolinya ke meja sebelah dan meninggalkan Agnes buat menghadapiku.
Agnes menatapku dengan tinjunya menempel di pinggul.
“Kamu yang milih tidur,” katanya, menyalahkanku, padahal dia tahu banget aku kecapekan gara-gara semua yang aku alami dan gara-gara obat-obatan yang dia paksa masukkan ke tenggorokanku.
Amarahku mendidih, tapi aku memaksa diri buat tetap tenang.
“Aku mau ketemu dokter sekarang,” kataku pelan, mengepal cangkir itu sampai kusut.
Fenella dan Angel bukan satu-satunya yang memperhatikan. Di tempat kayak begini, drama itu jadi hiburan. Hampir semua kepala menoleh ke arah kami sambil sarapan.
“Nanti,” kata Agnes sambil mulai jalan pergi.
Aku hampir meledak saat itu juga. Aku loncat ke depan dan berdiri tepat di hadapannya.
“Sekarang,” geramku. Dia langsung kaget, urat di lehernya sampai tampak berdenyut kencang.
Aku bahkan kayak bisa mencium bau takut yang keluar dari pori-porinya. Agnes juga mengeluarkan aroma manis, kayak kue vanila dan aku mendekati wajahku ke lehernya buat mengendus. Gusiku gatal.
Aku mau menjauh dari dia, tapi sebelum sempat memutuskan apa pun, beberapa tangan menarik lenganku dengan kasar.
Aku pun jatuh ke belakang, pantatku menghantam lantai gara-gara tarikan itu. Rasa sakit menusuk dari tulang ekor dan langsung membuatku naik darah.
“Berengseeek!” geramku sambil berdiri lagi. Si pria botak penuh bekas luka itu berdiri di depanku dengan muka datar.
Agnes?
Dia sekarang sudah marah banget.
“Jangan pernah dekat- dekat aku lagi,” katanya sinis, tangannya gemetar.
Dia tampak normal-normal saja tapi juga jelas ketakutan. Orang normal akan merasa bersalah. Tapi aku?
Aku malah tersenyum melihat dia gemeteran.
“Jangan khawatir, perawat,” balasku.
“Ayo, kalau gitu. Kita ketemu doktermu.” Agnes melangkah ke koridor seberang kamar. Aku mau mengikutinya, tapi ada tangan lain yang tiba-tiba menahanku.
“Jangan ... itu ide buruk,” kata Fenella.