Rowena Scarlett adalah manusia setengah vampir, tetapi sama sekali tidak menyadari jati dirinya. Tante dan om, satu-satunya keluarga yang ia miliki, justru menganggap Rowena mengalami gangguan mental. Anggapan itu berujung pada keputusan untuk menitipkannya di rumah sakit jiwa.
Rowena didiagnosis mengidap gangguan delusi akibat obsesinya terhadap darah. Kondisi tersebut bahkan membuatnya hampir melakukan percobaan pembunuhan demi memuaskan rasa penasarannya. Padahal, dorongan itu merupakan insting yang wajar bagi seseorang yang memiliki darah vampir.
Nahas, di tempat itu Rowena bertemu Darcel, dokter terapis barunya yang ternyata seorang vampir psikopat. Ketika Rowena terjebak dalam genggamannya, ia dijadikan kambing hitam atas pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan oleh Darcel.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 26
Rowena terkejut.
Wanita kantin bernama Jenny menatapnya dengan ekspresi aneh, lalu meninggalkan gelas itu dan terhuyung mundur ke sudut entah di mana di belakang sana.
“Ih,” gumam Rowena sambil menatap milkshake merah muda itu. Ia menggeleng. “Vampir?”
Agnes tampak semakin dongkol. Bibirnya tertarik menjadi garis tipis.
“Minum,” katanya singkat sambil mengangguk ke arah gelas. “Habiskan. Setelah itu aku antar kamu ke dokter.”
Rowena memang ingin bertemu dokter. Katanya, dokter akan menjelaskan alasan ia berada di tempat ini. Mungkin ia juga bisa sekalian melaporkan Agnes. Jika tusukan kecil di dadanya tidak meninggalkan memar, mungkin ia bisa menusuk dirinya sendiri di tempat yang sama, lebih keras, lalu menuduh Agnes bertanggung jawab. Sekadar untuk kepuasan.
Ia mengangkat gelas itu dan menatap isinya dengan ragu. Ia tidak tahu terbuat dari apa cairan itu. Teksturnya kental dan menggumpal. Dan warnanya bukan merah. Agnes jelas menyebutnya milkshake merah.
Namun ini merah muda.
Rowena langsung tersedak. Agnes mengembuskan napas panjang. Dengan ragu, Rowena mendekatkan bibir gelas ke mulutnya. Bau cairan itu lebih dulu menyeruak.
Hanya satu kata yang bisa menggambarkannya, busuk.
Agnes hanya menonton tanpa ekspresi, lalu memberi isyarat agar Rowena segera meminumnya. Rowena menarik gelas itu menjauh. Agnes mendesah kesal.
“Isinya apa, sih? Perutku sensitif,” kata Rowena sambil menepuk perutnya yang terasa mual. “Terus, kayaknya ibu kantin tadi meludah di sini. Dan pasti ada rambutnya.”
Ia meletakkan gelas itu di meja dan mendorongnya perlahan menjauh.
“Oke,” kata Agnes dingin. “Kalau begitu jangan diminum. Aku antar kamu kembali ke kamar dan aku kunci sampai besok.”
“Berengsek,” keluh Rowena.
Ia langsung menyambar gelas itu dan dengan tergesa menuangkan cairan menjijikkan tersebut ke mulutnya.
Astaga.
Rasanya mengerikan.
“ANJING!” teriak Rowena sambil menyemburkan cairan merah kental itu ke seragam Agnes.
Mata Agnes langsung membelalak kaget.
Pasien-pasien lain di bangsal mulai tertawa dan bersorak, seperti sedang menonton hiburan gratis.
Rowena menatap gelas itu, yang masih setengah penuh, lalu menggeleng lemah.
“Aku enggak bisa,” rintihnya.
Agnes tampak sangat marah. Otot di bawah matanya berkedut karena seragamnya terciprat minuman itu.
Rowena memaksa dirinya menelan lagi, berharap itu cukup untuk meredakan amarah Agnes. Ia tidak ingin perawat menyebalkan itu benar-benar membencinya dan merusak hidupnya selama berada di sini. Ia hanya ingin bertemu dokter dan tahu kapan ia bisa kembali menjalani hidup normal.
Tekstur minuman itu kental dan tidak rata. Ia merapatkan bibir dan menengadah, berusaha memaksa cairan itu turun dan bertahan di tenggorokan. Namun cairan itu malah menyembur keluar lewat hidungnya dan lagi-lagi mengenai seragam Agnes.
Rowena membanting gelas ke meja, tetapi gelas itu tergelincir dan isinya tumpah ke mana-mana, kembali mengenai seragam Agnes.
“Enggak,” rintih Rowena dengan wajah putus asa.
Sudah pasti ia masuk daftar hitam Agnes. Perawat itu mungkin akan mendatanginya tiap malam dengan palu dan tombak, sambil menyuruhnya tersenyum dan mengucapkan terima kasih.
“Ke kamar! Sekarang!” teriak Agnes.
Rowena merasa ingin meledak. Pilihannya tidak adil.
Minum racun itu atau dikurung di kamar.
Tempat macam apa ini?
“Nah, Agnes,” sebuah suara laki-laki menyela.
Mata Rowena dan Agnes sama-sama melebar. Kepala mereka menoleh bersamaan ke arah pendatang baru.
Pria bertopeng Venom itu berdiri di sana.
Bagus sekali. Bajingan paling menyeramkan di tempat ini. Mungkin dia akan menawarkan diri memotong Rowena menjadi potongan kecil dan mencampurkannya ke milkshake.
Sikap Agnes berubah total, meski ia berusaha terlihat biasa saja. Jelas sekali, bahkan Agnes takut pada pria itu.
“Kembali ke tempat dudukmu,” kata Agnes, tanpa berani menatapnya.
Rowena mengangkat alis, penasaran, lalu memilih tidak peduli. Ia juga tidak berniat menatap pria itu. Ia tidak ingin menarik perhatian seseorang yang mengenakan kulit ular di wajahnya.
Ia menoleh ke arah lain, mencoba menebak apa yang sedang dilakukan Jenny. Mungkin sedang mencari cara mengubah paku berkarat menjadi makanan.
“Dengar ya, biasanya aku enggak suka pamer kejantanan,” kata pria bertopeng itu.
Kepala Rowena langsung tersentak ke belakang.
Alih-alih menatap topeng Venom itu, pandangannya justru meluncur ke arah selangkangannya, berusaha membedakan mana lipatan kain dan mana bekas tubuhnya.
“Tapi hari ini aku pengin. Dia jelas berusaha melakukan yang kamu minta, dan ini hari pertamanya. Sudah, cukup.”
Agnes tampak jijik dan terganggu. Pria bertopeng itu berdiri dengan tangan bertumpu di depan pinggangnya, kepala sedikit miring, menatap Agnes.
Rowena sempat memperhatikannya. Pria itu mengenakan jins hitam ketat, hoodie, dan sepatu bot punk setinggi lutut penuh gesper, kancing, dan tali.
Sarung tangan kulit dan topengnya serasi, hitam pekat.
Ia jauh lebih tinggi dari Rowena. Jins itu membungkus paha dan bokongnya dengan jelas, menunjukkan tubuh berotot.
Gila.
“Oke,” katanya sambil menggigit bibir. “Ikut aku, Rowena. Kita urus semua dokumen kamu,” gumamnya sebelum berbalik dan pergi.
Alis Rowena terangkat.
Pria bertopeng itu menoleh lagi ke arahnya. Rowena menelan gugup. Ia tidak ingin pria itu tahu betapa kehadirannya membuat jantungnya berdebar.
“Eh, iya. Oke,” katanya kepada Agnes.
Pria bertopeng itu hanya berdiri di sana. Rowena terdiam sejenak.
“Rowena!”
“Iya, iya,” sahutnya cepat sambil mengejar Agnes.
“Dia enggak suka bunuh orang, kan?” tanya Rowena.
Agnes mendengus, lalu tersenyum tulus, seolah menganggapnya lucu.
“Aku malah senang kamu berhasil menarik perhatian Torvald,” katanya sambil berusaha mengelap sisa milkshake dari pipinya. “Kamu bisa mati dalam seminggu.”
Mati.
Ia ingin Rowena mati.
Untung saja urusan tadi sudah selesai.
“Bagus kalau begitu,” gumam Rowena. “Dasar jalang.”
“Wow. Aku enggak sabar melihat kamu dikuliti hidup-hidup.”
Mungkin minggu depan Torvald akan mengenakan kulit Rowena, dan Agnes hanya akan tersenyum puas melihat koleksi topengnya bertambah satu.
Rowena tidak ingin ancaman itu terus menghantui pikirannya. Ia harus secepat mungkin menjadi tidak menarik bagi orang seperti Torvald.
Dan ia juga perlu mencari teman.