Zizi menjalani pernikahan tanpa cinta. Suaminya mengabaikan, keluarganya menghina, dan rumah yang seharusnya melindungi justru menjadi tempat paling sunyi.
Ketika kesabarannya habis, Zizi memilih pergi dan mematikan rasa.
Dengan identitas baru dan bantuan seorang teman lama, Zizi kembali sebagai perempuan yang tak tersentuh.
Ia mendekati mantan suaminya—bukan untuk balas rindu, melainkan untuk membalas luka. Kepercayaan dibangun, ambisi dipancing, lalu dihancurkan perlahan.
Saat penyesalan datang dan kebenaran terungkap, semuanya sudah terlambat.
Karena mencintainya baru sekarang
adalah kesalahan yang tak bisa ditebus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Istri yang Tak Pernah Dipilih
Zizi selalu tahu, sejak hari pertama menikah dan menginjakkan kaki di rumah ini, bahwa ia tidak sedang pulang.
Ia hanya berpindah tempat untuk merasa asing.
Pagi itu, rumah keluarga Arman terbangun dalam keteraturan yang dingin. Jam dinding berdetak pelan, terlalu jelas di telinga Zizi. Aroma kopi hitam menyebar dari ruang makan—pahit, tajam, seperti sisa rasa yang selalu tertinggal di lidahnya setiap pagi.
Zizi berdiri di dekat dapur, menata piring dengan gerakan terukur. Ia belajar bergerak tanpa suara. Di rumah ini, suara adalah kesalahan. Terlalu keras berarti tidak sopan, terlalu pelan dianggap lamban.
Gaun rumah warna krem membalut tubuhnya. Warna aman. Tidak mencolok. Tidak mengundang komentar.
Rambut gadis yang lahir 27 tahun lalu itu diikat rapi—bukan karena ingin terlihat cantik, tapi karena Anggun pernah berkata, “Istri itu harus pantas dilihat.”
“Zizi.” Suara itu datang dari sofa. Nada malas, tapi penuh keyakinan bahwa ia akan dipatuhi. “Ambilin aku susu cokelat. Yang dingin.” Anggi. Lima belas tahun. Adik Arman. Duduk berselonjor dengan ponsel di tangan, bahkan tidak menoleh.
“Iya, Anggi,” jawab Zizi pelan.
Pelan, karena ia tahu—suara yang terlalu tegas akan dianggap kurang ajar. Suara yang terlalu lembut dianggap bodoh. Ia memilih di antaranya. Selalu.
Baru dua langkah menuju kulkas, suara lain menyambar.
“Sudah jam segini baru turun?”
Zizi berhenti. Dadanya menegang refleks. Ia menoleh ke arah ruang makan.
Anggun duduk tegak di kursinya. Punggung lurus. Tatapan tajam. Tatapan yang tidak pernah melihat Zizi sebagai manusia, hanya sebagai posisi: menantu.
“Maaf, Bu,” kata Zizi cepat. “Saya tadi—”
“Alasan.” Satu kata. Dinginnya membuat Zizi langsung menunduk.
“Sebagai menantu, kamu seharusnya tahu diri. Jam segini itu bukan jam santai.” imbuh wanita yang lahir 57 tahun lalu.
Zizi mengangguk. Ia tidak tahu diri seperti apa yang dimaksud Anggun. Ia hanya tahu, apa pun yang ia lakukan, selalu kurang.
Dari sofa, Anggi terkekeh kecil. “Iya, Mbak. Masa disuruh dikit aja ribet.”
Zizi tidak menjawab. Di rumah ini, bahkan anak bungsu pun boleh merendahkannya.
Dan yang lain akan diam. Seperti Arman. Suaminya duduk di ujung meja. Jas kerjanya rapi. Jam mahal melingkar di pergelangan tangan. Wajahnya bersih, tenang, seolah pagi ini tidak sedang menghancurkan seseorang secara perlahan.
Zizi meliriknya sekilas. Hanya sekilas. Ia tidak berharap dibela—harapan semacam itu sudah lama ia kubur. Tapi diam Arman tetap terasa seperti tamparan yang pelan dan berulang.
“Ibu tidak pernah mengajarkan putraku memilih istri yang tidak becus mengurus rumah,” lanjut Anggun dengan ketus.
Kata istri terdengar aneh di telinga Zizi. Seperti bukan tentang dirinya. Tangannya gemetar halus saat menuang susu cokelat ke gelas. Ia menambahkan es batu. Satu. Dua. Tiga. Berusaha tepat.
Ia meletakkan gelas di depan Anggi.
“Kurang dingin,” komentar gadis berambut coklat itu tanpa mengangkat wajah. “Tambah es lagi.”
Zizi menelan napasnya sendiri. Ia mengambil gelas itu kembali.
Tidak apa-apa, katanya dalam hati. Ini cuma susu. Tapi nyatanya, bukan soal susu. Ini soal harga diri yang diperas sedikit demi sedikit sampai nyaris tak terasa lagi sakitnya.
“Aku berangkat,” kata Arman akhirnya.
Zizi menoleh. Ia berharap—entah kenapa—akan ada sesuatu. Tatapan. Ucapan. Apa saja. Tidak ada.
Arman mengambil tasnya, melangkah melewati Zizi tanpa menyentuh, tanpa menoleh. Pintu tertutup dengan bunyi pelan. Terlalu pelan untuk disebut marah. Terlalu dingin untuk disebut biasa.
Sunyi mengalir kembali.
Anggi berdiri sambil membawa gelasnya. “Mbak, nanti kamarku diberesin ya. Spreinya ganti. Aku nggak suka bau sabun murahan.” Langkahnya ringan saat menaiki tangga. Seolah ia baru memberi perintah pada asisten rumah tangga.
Anggun menyusul berdiri. “Perempuan seperti kamu seharusnya bersyukur masih dipertahankan di rumah ini. Jangan bermimpi terlalu tinggi.”
Zizi mengangguk. Lagi. “Iya, Bu.” Kata-kata itu keluar otomatis. Bahkan ia sendiri tidak merasakan maknanya lagi.
Saat Anggun pergi, Zizi berdiri sendiri di ruang makan yang terlalu besar. Ia menatap pantulan dirinya di kaca lemari.
Wajahnya tampak tenang. Terlalu tenang. Seolah semua ini tidak melukainya.
Tapi di balik ketenangan itu, ada sesuatu yang mulai mati. Bukan cinta—itu sudah lama. Yang mati adalah harapan. Kalau aku terus begini, pikirnya,
apa aku masih ada?
Tidak ada air mata. Zizi sudah kehabisan itu sejak beberapa bulan lalu. Ia hanya membereskan meja, mencuci piring, lalu duduk di kursi dekat jendela. Ia ingat belum menyapu dan mengepel, sesaat ingin meluruskan punggung dulu.
Cahaya pagi menyusup masuk. Hangat. Kontras dengan dadanya yang dingin.
Untuk pertama kalinya, sebuah pikiran muncul—jernih, tenang, menakutkan: Kalau rumah ini bukan tempatku… Maka aku harus menemukan jalan keluar.
Dan tanpa disadari siapa pun di rumah itu, pagi ini bukan sekadar pagi yang menyakitkan.
Ini adalah hari ketika Zizi mulai berhenti bertahan.
Zizi menatap pantulan dirinya di kaca jendela. Wajah yang sama. Nama yang sama. Tapi ada sesuatu di matanya yang berubah—bukan marah, bukan sedih.
Kosong.
Ia akhirnya mengerti.
Di rumah ini, cinta tidak pernah cukup. Kesabaran hanya membuatnya semakin kecil. Dan diam tidak menyelamatkan siapa pun.
Zizi menarik napas pelan. Untuk pertama kalinya, ia tidak berdoa agar dimengerti. Ia tidak berharap Arman berubah. Ia tidak menunggu Anggun menyesal.
Ia memilih jalan lain.
Suatu hari nanti, pikirnya tenang, kau akan memanggil namaku dengan suara gemetar.
Bukan karena cinta. Tapi karena kau kehilangan segalanya.
Bukan hari ini. Bukan besok.
Dendam yang tergesa adalah milik orang lemah.
Dan Zizi tidak akan lemah lagi.
Ia tersenyum tipis—senyum yang bahkan ia sendiri belum kenali.
Karena mulai hari itu, ia tidak lagi bertanya bagaimana caranya bertahan. Ia mulai menghitung bagaimana caranya membalas tanpa satu pun darah, tanpa satu pun teriakan, hingga saat mereka sadar: mencintainya adalah kesalahan yang datang terlalu terlambat.
.
Sementara itu, di tempat lain.
Kantor Arman berada di lantai dua puluh satu, dengan dinding kaca menghadap jalan utama kota. Di sana, hidup terasa bergerak cepat, rapi, dan penuh kendali—berbeda dengan rumah yang baginya hanya tempat singgah.
Arman melonggarkan dasinya begitu memasuki ruang kerja. Napasnya terasa lebih lega.
“Pagi,” sapa seseorang dari meja seberang. Susan berdiri sambil membawa tablet. Rambutnya tergerai rapi, blazer abu-abu membingkai tubuhnya dengan pas. Senyumnya ringan, profesional—tidak menuntut apa pun.
“Pagi,” jawab Arman. Nada suaranya hangat. Alami.
“Meeting dengan klien jam sepuluh dimajukan,” kata Susan. “Semua berkas sudah aku siapkan.”
Arman mengangguk puas. “Kamu memang selalu bisa diandalkan.”
Susan tersenyum. “Kebiasaan.”
Mereka berjalan berdampingan menuju ruang rapat. Obrolan mengalir tentang target, proyek baru, rencana ekspansi. Tidak ada suara meninggi. Tidak ada tatapan merendahkan. Arman merasa dihargai—didengar.
“Kamu kelihatan selalu tenang,” kata Susan sambil berhenti di depan ruangannya. “Seperti nggak punya masalah.”
Arman tertawa kecil. “Masalah itu cuma gangguan. Kalau dibawa pulang, malah bikin lelah.”
Ia tidak menyebut rumah. Tidak menyebut Zizi. Baginya, kehidupan yang nyata ada di sini—di antara orang-orang yang mengaguminya. Sementara yang lain hanyalah latar belakang yang seharusnya berjalan sendiri tanpa perlu ia urusi.
Dan tanpa ia sadari, kenyamanan itulah yang perlahan membutakannya.