Aruna selalu memilih duduk di barisan paling belakang.
Di sana, dia merasa aman, terlindung dari keramaian, dari tatapan, dari hal-hal yang membuat dadanya sesak.
Hujan adalah teman terbaiknya, satu-satunya suara yang mengerti diamnya.
Sampai suatu pagi, di tengah gerimis dan jendela berkabut, Bu Maita menyebut dua nama yang tak pernah Aruna bayangkan akan berdampingan.
“Aruna Pratama dan Dhira Aksana.”
Dhira, cowok yang selalu jadi pusat perhatian, yang langkahnya tenang tapi meninggalkan riak kecil di mana pun dia lewat.
Sejak saat itu, barisan belakang bukan lagi tempat untuk bersembunyi.
Perlahan, tanpa sadar, Aruna mulai membuka ruang yang sudah lama dia kunci rapat-rapat.
Di antara rintik hujan, catatan pelajaran, dan detik-detik canggung yang tak terduga, Aruna belajar bahwa beberapa pertemuan datang seperti gerimis.
pelan, jujur, dan sulit dilupakan.
Karena kadang, seseorang masuk ke dalan hidupmu setenang hujan, tanpa suara, tapi kamu ingat selalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
I. Nama yang Dicoret
Pagi itu, Aruna datang ke sekolah lebih pagi dari biasanya. Ia hampir nggak tidur semalam, hingga matanya terlihat bengkak, dan kepalanya sedikit pusing. Tapi ia harus datang.
Karena hari ini, adalah pengumuman finalis lomba karya tulis tingkat provinsi. Lomba yang Aruna sudah persiapkan dari tiga bulan yang lalu.
Lomba yang menjadi satu-satunya harapan Aruna, satu-satunya hal yang membuat ia merasa masih berharga.
Aruna jalan ke mading sekolah, papan pengumuman besar di depan ruang guru. Tempat biasanya nama-nama finalis dipajang.
Beberapa anak sudah mengerumuninya. Mereka mengobrol dan ada yang senang karena namanya masuk, dan ada yang kecewa.
Aruna berjalan pelan mendekati mading tersebut, jantungnya berdebar kencang.
Kumohon namaku masuk.
Aruna mencolek satu cewek yang lagi baca pengumuman, "Permisi apa aku boleh lihat?"
Cewek itu melirik Aruna sekilas, dengan tatapan nggak enak lalu terus minggir.
Aruna melangkah maju, ia melihat kertas putih yang ditempel di mading.
**DAFTAR FINALIS LOMBA KARYA TULIS TINGKAT PROVINSI**
**SMA NEGERI 3 KOTA JAKARTA**
Matanya langsung mencari namanya, dari atas sampai ke bawah.
*Aruna Pratama mana.*
Nama itu nggak ada, ia terus turun kebawah dengan teliti, tapi nama itu tetap nggak ada.
Deg.
Jantungnya berhenti sedetik.
*Nggak mungkin, aku sudah menulis dengan sepenuh hati.*
Matanya terus melihat sesuatu, dan di bagian bawah kertas ada tulisan tambahan dengan tinta merah.
**PESERTA YANG DIDISKUALIFIKASI:**
**1. Aruna Pratama (XI IPA 1) Dicabut atas keputusan sekolah**
Aruna nggak bisa napas, tangannya terasa gemetar, bahkan kakinya begitu lemas.
*Dicabut atas keputusan sekolah.*
*Kenapa?*
*Kenapa aku didiskualifikasi?*
"Run," suara Kayla dari belakang.
Aruna menoleh, melihat sahabatnya yang juga keliatan shock dan sedih.
"Kay, kenapa aku didiskualifikasi?" suara Aruna terdengar gemetar.
Kayla memeluk Aruna. "Gue nggak tau, Run. Gue juga baru tahu."
Aruna langsung ke ruang guru, napasnya ngos-ngosan, dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Bu Maita guru pembimbing lomba lagi duduk di mejanya, dan melihat Aruna datang. wajahnya canggung.
"Bu, Bu Maita." panggil Aruna, suaranya nyaris putus.
Bu Maita berdiri, "Aruna, kamu."
"Kenapa nama aku didiskualifikasi, Bu?" tanya Aruna, air matanya mulai jatuh. "Aku sudah menulis karyanya. Aku sudah selesai dan aku sudah siap."
Bu Maita menghela napas panjang, matanya nggak berani melihat Aruna langsung.
"Aruna, maaf ya. Ada keputusan dari pihak sekolah. Mereka merasa, kondisi kamu saat ini kurang kondusif untuk mewakili sekolah."
Deg.
Aruna menatap Bu Maita dengan tatapan yang nggak percaya.
"Kondisi apa, Bu?" suaranya bergetar. "Aku baik-baik saja dan aku sudah siap. Aku…"
"Aruna," Bu Maita memotong lembut. "Kamu tau kan ada isu tentang kamu akhir-akhir ini. Foto dan rumor itu."
Aruna menggeleng keras. "Tapi itu nggak benar, Bu! Itu kakak kandung aku! Aku nggak bohong."
"Ibu percaya kamu, Run," kata Bu Maita cepat. "Ibu percaya itu kakak kamu. Tapi pihak sekolah, mereka khawatir ini akan mempengaruhi citra sekolah kalau kamu jadi wakil."
Aruna nggak bisa ngomong lagi, dadanya sesak banget.
"Maaf, Run. Ini keputusan final. Ibu sudah mencoba bicara sama kepala sekolah tapi mereka nggak mau mendengarkan."
Bu Maita mengeluarkan selembar kertas dari laci mejanya. Kertas pengumuman resmi. Aruna mengambil kertas itu dengan tangan gemetar. Dan melihat namanya yang dicoret dengan spidol merah tebal.
**~Aruna Pratama~**
Coretan itu kayak coretan di jiwanya, seolah-olah dia bukan hanya dicoret dari lomba. Tapi dicoret dari eksistensi, dan di coret dari dunia.
"Bu, ini satu-satunya kesempatan aku," bisik Aruna, suaranya nyaris nggak kedengeran. Air matanya jatuh ke kertas itu membuat tinta merah itu blur.
"Ini satu-satunya hal yang membuat aku masih berharga."
Bu Maita menatap Aruna dengan mata yang berkaca-kaca. "Maafkan ibu, Run. Ibu nggak bisa berbuat apa-apa."
Aruna menggeleng pelan, lalu berbalik dan berjalan keluar dari ruang guru.
Sepanjang hari itu, Aruna kayak zombie. Ia duduk di kelas tapi nggak denger apa yang guru jelasin. Makan siang, tapi nggak ngerasa rasa makanannya.
Kayla mengajak ngobrol tapi Aruna cuma menjawab dengan anggukan atau hanya gelengan kepala, pikirannya begitu kosong.
*Aku udah nggak punya tempat lagi.*
*Bahkan di sekolah, aku cuma nama yang harus dicoret.*
*Aku bukan siapa-siapa.*
Saat pulang sekolah, Arya menjemput Aruna di depan gerbang seperti biasa. Begitu melihat adiknya, Arya langsung tau ada yang salah.
Wajah Aruna begitu pucat, bahkan langkahnya terlihat goyah.
"Run, kamu kenapa?" tanya Arya khawatir, dan langsung mendekat.
Aruna menggeleng pelan. "Nggak apa-apa, Kak."
"Jangan bohong. Kakak liat dari wajah kamu. Ada apa?"
Aruna diam, ia nggak sanggup untuk bicara.
Kalau Aruna bicara, ia pasti bakal nangis lagi. Dan Aruna sudah capek dari tadi harus menangis.
"Run, please. Cerita sama kakak," suara Arya lembut namun terlihat khawatir.
Tapi Aruna cuma menggeleng lagi, dan langsung masuk mobil Arya dengan langkah berat.
Saat sampai di rumah, Aruna langsung masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu.
Aruna merebahkan tubuhnya di atas kasur, melihat langit-langit yang putih, dan polos.
Aruna mengambil jurnalnya. Jurnal cokelat yang sudah penuh dengan coretan, penuh dengan curahan hati.
Aruna membuka halaman kosong terakhir, pulpen di tangan yang gemetar, lalu ia mulai menulis.
Tapi tulisannya nggak rapi kayak biasa, tulisannya terlihat berantakan. Seperti ditulis dengan orang yang sudah nggak kuat lagi.
...——…★…——...
...Aku sudah tidak punya tempat lagi....
...Bahkan di sekolah, aku hanya menjadi nama yang harus dicoret....
...Aku bukan siapa-siapa, Aku tidak ada....
...Semua orang membenci aku. Semua orang percaya bahwa aku jahat....
...Bahkan orang yang aku cintai, dia ragu sama aku. Kayla berantem karena aku, dan Elang patah hati karena aku....
...Dhira, dia kecewa sama aku. Semua orang yang deket sama aku, jadi kena masalah....
...Aku jadi beban semua orang, dan aku selalu jadi masalah bagi mereka. Mungkin memang lebih baik kalau aku menghilang....
...Mungkin dunia akan lebih baik tanpa aku, dan semua orang akan lebih bahagia kalau aku nggak ada di dunia ini....
...——…★…——...
Aruna berhenti menulis, pulpennya jatuh dari tangan. Ia menutup jurnalnya pelan, dan menaruhnya di samping bantal.
Aruna menangis dalam diam, cuma air mata yang jatuh membasahi bantal. Tapi nggak ada yang peduli, karena nggak ada yang tau dan melihatnya. Karena saat ini. Aruna memang sendirian, di kamar yang gelap.
Dengan pikiran yang berbahaya, pikiran bahwa ia nggak pantas untuk tetap hidup.
... ——…★…——...
...Cobaan terberat bukanlah saat kamu kehilangan sesuatu yang kamu cintai. Tapi cobaan terberat adalah, saat kamu kehilangan dirimu sendiri di tengah semua yang terjadi padamu....
...——…★Mentari Senja★…——...
So, be happy on your days 🤝😇