NovelToon NovelToon
Gravitasi Terbalik

Gravitasi Terbalik

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:68
Nilai: 5
Nama Author: Aarav Rafandra01

Saat si badboy jatuh cinta pada kebaikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aarav Rafandra01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kontras yang menyakitkan

Faisal memandang jauh ke depan, ke arah lampu lampu kota di kejauhan. Di matanya, cahaya itu tampak kabur. Pikirannya tidak benar benar disana. Ia teringat, beberapa bulan yang lalu, digerbang sekolah, ia berjanji pada dirinya sendiri saat melihat Aruna bahwa ia akan selalu menjadi pelindungnya. Kenangan itu seperti hantu yang tiba tiba duduk diantara dirinya dengan Devina.

" Kak, " panggilnya lembut, namun ada ketegasan di dalamnya. " kamu tau kenapa aku suka senja? Karena senja itu jelas, kak. dia ngasih tau kita kapan terang akan berakhir, tanpa ada yang ditutup tutupi."

Devina menoleh ke arah Faisal, " tapi kakak.... Kamu kaya kabut, kak. Ada disini, disamping aku. Tapi aku gabisa tau apa yang sebenernya kakak rasain. Kakak ngerti kan maksud aku? Kakak pasti ngerasain apa yang aku rasain sekarang?! "

Faisal menunduk, mencabut sehelai rambut yang menempel di bajunya. " Na, aku juga tau apa yang aku rasain ke kamu, aku sadar, Na. Aku cuma takut. "

" Takut apa? "

" Takut kalo aku melangkah lebih jauh, aku justru bakal nyakitin kamu, " jawab Faisal jujur, suaranya parau. " Barusan, waktu aku mau bilang sesuatu ke kamu. Bayangan Aruna tiba tiba muncul. Senyumnya, dan semua janji janji aku ke dia dulu, semua nya mendadak narik aku buat balik ke masa lalu yang aku pikir udah selesai, "

Devina terdiam. Ia memandang langit yang kini sudah gelap total.

" Jadi sekarang disini, yang kamu liat masih Aruna? Bukan aku, kak? "

Pertanyaan itu menghantam Faisal tepat di ulu hati. Ia ingin berbohong, ingin mengatakan bahwa Devina satu satunya. Namun, nuraninya menolak.

" Aku pengen liat kamu secara utuh, Na. Pengen banget. Tapi di hati aku masih ada sisa sisa luka yang belum sembuh, aku gamau kamu cuma jadi obat sementara buat luka itu. "

Devina berdiri, membersihkan debu yang menempel di celananya. Ia menatap Faisal,

" Makasih udah jujur, kak. setidaknya aku tau, aku ga lagi bersaing sama diri aku sendiri. Tapi sama kenangan yang belum bener bener kamu rela in."

Devina mulai berjalan menuruni bukit, meninggalkan Faisal sendirian. Dibawah langit yang hanya memperlihatkan satu dua bintang, Faisal menyadari bahwa kejujuran memang membebaskan, namun terkadang ia juga meninggalkan rasa sepi yang jauh lebih dingin dari angin malam.

Keputusan Faisal sudah bulat. Ia tidak bisa terus hidup dalam bayang bayang yang ia ciptakan sendiri. Untuk memberikan ruang bagi Devina atau siapapun di masa depannya, ia harus benar benar menutup buku lamanya.

Dua hari kemudian, Faisal mengirimkan pesan singkat ke Aruna. Sebuah pesan yang telah ia ketik dan hapus berkali kali.

" Bisa ketemu sebentar diperpustakaan? Ada yang mau aku omongin. "

Perpustakaan sore itu cukup ramai oleh siswa siswi yang beranjak pulang atau sekedar nongkrong. Namun, Faisal memilih bangku paling ujung dekat pohon beringin besar yang teduh. Tak lama kemudian, sosok yang sangat familiar itu muncul. Aruna berjalan santai ke arahnya, masih dengan senyuman yang dulu pernah jadi dunianya.

" Ada apa, Sal. Tumben ngajakin ketemu. " Tanya Aruna ringan, seolah perpisahan menyakitkan beberapa bulan lalu tidak pernah meninggalkan bekas luka baginya.

Faisal menatap Aruna. Anehnya, rasa sesak yang biasanya muncul kini berganti menjadi rasa hampa yang tenang. Ia menyadari sesuatu, Aruna sudah melangkah jauh, sementara hanya dia yang memilih untuk tinggal di tempat yang sama.

" Na, aku cuma mau bilang...... Terima kasih, " ucap Faisal pelan.

Aruna mengernyitkan dahi.

" terima kasih buat apa? "

" untuk bahagia yang pernah kamu kasih ke aku, dan untuk keputusan kamu buat mengakhiri semuanya. " Faisal menarik nafas panjang. " selama beberapa Minggu ini, aku marah. Aku ngerasa ga adil. Aku bahkan bawa bawa bayangan kamu waktu aku mencoba Deket sama orang lain, dan itu salah. "

Aruna terdiam, raut wajahnya berubah menjadi lebih serius. Ia mendengarkan tanpa memotong.

" Aku ketemu seseorang, Na. Kamu juga tau orangnya siapa, Devina. Dia baik, Na. Tapi aku hampir ngerusak segalanya karena aku masih nyimpen kamu dipikiran aku. Sore ini aku ketemu sama kamu bukan buat balik, tapi buat bener bener pamit. "

Aruna tertegun. Dunia di sekitarnya seolah berhenti berputar. Aruna ingin berteriak, ' jangan pamit, Sal! Aku masih disini! Aku masih cinta sama kamu! ' tapi lidah kelu. Aruna sudah terlanjur membangun tembok tinggi dengan kehadiran Arya disisi nya, Aruna tidak punya hak untuk memintanya kembali setelah Aruna sendiri yang mengakhiri semuanya.

" Aku seneng, Sal. Akhirnya kamu ngomong gini, kamu berhak....... Bahagia." ucap Aruna, meski setiap kata yang keluar terasa seperti menelan duri.

Aruna melihat kelegaan Dimata Faisal. Ia tampak lebih ringan, seolah beban di pundaknya baru saja terangkat. Sementara Aruna, justru merasa beban itu pindah ke pundaknya, berkali kali lipat lebih berat.

" Aku duluan ya, Na. Semoga kamu juga bahagia. " ucapnya sebelum berbalik.

Aruna memperhatikan punggungnya yang semakin menjauh. Di parkiran, Arya sudah menunggu di atas motornya. Aruna berjalan ke arah Arya dengan langkah gontai.

Saat Aruna menaiki motor Arya dan melingkarkan tangan di pinggangnya, Aruna memejamkan mata nya rapat rapat. Di balik pelukan ini, bukan aroma Arya yang ia hirup, melainkan aroma kenangan bersama Faisal yang baru saja dilepaskan untuk selamanya. Aruna mendapatkan bantuan yang ia butuhkan untuk menjadi yang terbaik di sekolah, tapi ia kehilangan satu satunya alasan yang membuatnya ingin bangun setiap pagi dengan rasa bahagia.

Disisi lain, Faisal berjalan meninggalkan Aruna tanpa sekali pun menoleh ke belakang. Ia mengeluarkan ponselnya, melihat nama Devina di daftar kontak. Ia tidak langsung menelponnya, ia tahu ia masih butuh waktu selama beberapa hari untuk benar benar membersihkan sisa sisa debu dihatinya.

kali ini langkah nya berbeda, tidak ada lagi tarikan dari masa lalu. Ia berjalan menuju parkiran motor dengan satu tujuan di kepalanya. Memperbaiki apa yang hampir ia hancurkan dengan Devina.

Beberapa hari kemudian.....

Langit berubah mendung, seolah mewakili perasaan yang tak tersampaikan. Faisal kini lebih sering menghabiskan waktunya bersama Devina. Sore itu, mereka berada diperpustakaan umum. Faisal, dengan sifat humorisnya yang khas tongkrongan, sesekali membisikkan candaan konyol tentang ilustrasi di buku sejarah yang mereka baca, membuat Devina harus mati Matian menahan tawa agar tidak ditegur oleh penjaga perpustakaan.

Bagi Faisal, Devina adalah ketenangan. Meski bayangan masa lalu belum sepenuhnya hilang. Kehadiran Devina yang hangat memberikan warna baru. Faisal sering memberikan kejutan kecil seperti menyelipkan coklat di saku tas Devina atau tiba tiba membawakan bunga liar yang ia petik dijalan.

" Ada ada aja kamu, kak. " bisik Devina sambil tersenyum malu, wajahnya merona. Faisal hanya terkekeh, merasa bahwa perlahan, ia mulai menemukan semangatnya kembali.

Sementara disisi lain. Disebuah kedai kopi yang sunyi, Aruna duduk berhadapan dengan Arya. Didepan Aruna tertumpuk buku buku latihan soal. Arya sedang menjelaskan rumus fisika dengan nada yang datar, kaku, dan tanpa ekspresi.

" Fokus, Na. Kalo kamu ga paham sama konsep dasarnya, kamu ga akan bisa jawab soal soal ulangan nanti. " Ucap Arya dingin, matanya tetap tertuju pada kertas tanpa menatap Aruna sedikit pun.

Aruna menghela nafas panjang. Ia merasa sesak, Arya memang sangat membantunya dalam pelajaran, tapi berada didekat Arya terasa seperti berada di dalam ruang kelas yang abadi. Tidak ada candaan, tidak ada kejutan, tidak ada percakapan tentang mimpi atau perasaan. Semua hanya tentang logika, nilai, dan efisiensi.

Pikirannya melayang pada Faisal, ia rindu bagaimana Faisal selalu punya cara untuk membuatnya tertawa bahkan disaat ia mendapatkan nilai buruk. Ia rindu kejutan kejutan kecil yang tidak logis tapi manis di ingatan.

" Arya, kita bisa istirahat sebentar? Aku pusing, " keluh Aruna.

Arya melihat jam tangannya.

" kita baru mulai 40 menit, Na. Jadwal istirahat masih 20 menit lagi. Kita harus efisien, Na. "

Aruna menutup bukunya dengan kasar. dan untuk pertama kalinya, Aruna berbicara dengan nada tinggi.

" Kamu terlalu kak, Ya. Hidup itu bukan cuma soal rumus dan jadwal! "

Arya menatapnya bingung, seolah emosi Aruna adalah variabel yang tidak ada dalam persamaannya.

" Aku cuma mau kamu lulus dengan nilai terbaik. Bukannya itu alesan kita sama sama sekarang? "

Kata kata itu menghantam Aruna. Alasan kita bersama, Ya. Ia memang membutuhkan Arya untuk sekolahnya, tapi kini hatinya sekarat karena perlakuan itu. Disaat yang sama, ia melihat dari jendela kedai. Faisal dan Devina yang sedang berjalan melewati trotoar di seberang jalan. Faisal terlihat sedang memperagakan sesuatu, gerakan lucu yang membuat Devina tertawa lepas hingga bahunya terguncang.

Aruna memalingkan wajah, hatinya panas. Ia menyadari, ia memiliki bantuan yang ia butuhkan untuk masa depannya. Tapi ia kehilangan cinta yang menghidupkan jiwanya. Ia terjebak dalam pilihannya sendiri.

- Arya adalah jawaban untuk logika ku, tapi Faisal..... Faisal adalah satu satunya soal yang harus aku pelajari meski tak pernah ada jawabannya.

Langkah Faisal semakin mantap. Ketidakhadiran Aruna di hidupnya kini bukan lagi sebuah lubang hitam yang menghisap energinya, melainkan sebuah ruang kosong yang telah ia tata kembali dengan kehadiran Devina.

Di pasar malam, ditengah hiruk pikuk suara wahana dan aroma jagung bakar. Faisal menghentikan langkahnya di depan STAN komedi putar. Ia menoleh ke arah Devina yang sedang sibuk memandangi lampu warna warni dengan binar mata yang jujur.

" Devina? " panggil Faisal.

Devina menoleh.

" Iya, kak? "

Tanpa aba aba, Faisal mengeluarkan kotak kecil dari saku jaketnya. Bukan cincin mewah, melainkan sebuah gantungan kunci berbentuk love kecil. Dengan tulisan ditengahnya ' strongest together '.

" Aku tau ini sederhana, " ucap Faisal, suaranya terdengar lembut namun penuh keyakinan.

" Tapi lambang hati ini jadi pengingat buat aku. Aku pernah layu, tapi kemudian kamu datang tanpa diminta dan tetap bertahan disamping aku sampai aku bisa utuh lagi. Aku gamau kamu lari lagi, Na. Aku mau kamu menetap disini, seterusnya sama aku. "

Devina tertegun, ia bisa merasakan bahwa kata kata Faisal kali ini tidak lagi terbebani oleh masa lalunya. Faisal yang ada didepannya adalah Faisal yang utuh. Devina tersenyum lebar, matanya berkaca kaca saat menerima pemberian itu.

" Makasih, kak. Aku juga ga akan pernah pergi jauh dari kamu. Ga akan pernah bisa,"

Disaat yang bersamaan, hanya terpaut beberapa blok dari pasar malam. Aruna berdiri didepan toko buku bersama Arya. Arya sedang melihat daftar buku referensi yang bagus untuk Aruna, sangat teratur dan kaku seperti biasa. Aruna sempat melihat motor Faisal melintas dikejauhan, ia mengenali jaket parasut itu. Namun, ia tak lagi berusaha mengejarnya. Ia hanya bisa berdiri mematung, menggenggam tali tas nya dengan erat. Sementara Arya terus berbicara tentang target nilai ujiannya.

Faisal telah menemukan ' rumahnya ' , sementara Aruna malah semakin merasa terjebak didalam ' rumah kelas ' yang ia pilih sendiri sebagai masa depan yang aman secara emosional, namun gersang secara rasa.

Malam itu, sebelum tidur, Faisal menghapus folder foto tersembunyi di ponselnya. Tidak ada rasa benci, tidak ada rasa sedih. Hanya sebuah perasaan tuntas. Ia lalu mengirimkan pesan singkat kepada Devina.

"Tidur yang nyenyak, Cinta ku. Sampai ketemu di perpustakaan besok."

Faisal memejamkan mata. Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir, ia tidak lagi bermimpi tentang hujan di bawah payung bersama Aruna. Ia bermimpi tentang sinar matahari yang hangat, yang menyinari jalannya bersama Devina.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!