NovelToon NovelToon
Penjinak Hati Duda Hot

Penjinak Hati Duda Hot

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Selingkuh / Tamat
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: fania Mikaila AzZahrah

“Sadarlah, Kamu itu kunikahi semata-mata karena aku ingin mendapatkan keturunan bukan karena cinta! Janganlah menganggap kamu itu wanita yang paling berharga di hidupku! Jadi mulai detik ini kamu bukan lagi istriku! Pulanglah ke kampung halamanmu!”

Ucapan itu bagaikan petir di siang bolong menghancurkan dunianya Citra.

“Ya Allah takdir apa yang telah Engkau tetapkan dan gariskan untukku? Disaat diriku kehilangan calon buah hatiku disaat itu pula suamiku yang doyan nikah begitu tega menceraikan diriku.”

Citra meratapi nasibnya yang begitu malang diceraikan oleh suaminya disaat baru saja kehilangan calon anak kembarnya.

Semakin diperparah ketika suaminya tanpa belas kasih tidak mau membantu membayar biaya pengobatannya selama di rawat di rumah sakit.

Akankah Citra mampu menghadapi ujian yang bertubi-tubi menghampiri kehidupannya yang begitu malang ataukah akan semakin terpuruk dalam jurang putus asa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fania Mikaila AzZahrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 26

“Jangan main-main dengan hal seperti ini,” katanya dengan aura yang cukup mampu mendinginkan ruangan tersebut.

Inara sampai dibuat tercengang melihat Ardhanza yang baru kali ini berbicara sedingin es abadi di hadapannya.

“Kita bahkan tidak pernah melakukan hubungan intim!”

Mata Inara berkaca-kaca, tapi ada sesuatu yang mencurigakan yaitu tidak ada ketakutan, hanya obsesi untuk menang yang terlihat di raut wajahnya.

“Aku nggak bohong, Abang,” ucapnya dengan suara gemetar dibuat-buat.

“Kau mau cek ke dokter? Mau tes DNA nanti? Aku siap! Tapi jangan tinggalkanaku mohon, aku nggak sanggup hidup sendirian dengan calon bayi kita ini,” ratapnya Inara sambil mengusap dengan lembut perutnya.

Ardhanza menutup mata sejenak, mencoba menstabilkan nafas, emosi, tekanan yang dirasakannya saat ini tapi, tiba-tiba bayang-bayang Citra justru muncul lebih jelas di benaknya.

“Sampai kapan kau akan melakukan semua ini?” tanyanya lirih namun tajam.

Ardhanza menatap jengah ke arah Inara yang masih memperlihatkan tampang memelasnya agar Ardhanza bisa masuk dalam bujukan dan tipu dayanya.

“Memaksakan hubungan yang nggak pernah ada? Apa sih sebenarnya yang kamu inginkan!? Apakah karena demi uang harta kekayaan, kejayaan semata-mata sehingga kamu bersikap liar seolah-olah kamu ini perempuan murahan!” ucapnya Ardhanza tanpa peduli dengan perasaannya Inara lagi.

Inara menangis, tapi tangisnya lebih mirip ancaman daripada kesedihan. “Kalau kau tinggalkan aku, kalau kau pilih perempuan lain hidupku akan hancur, Danza. Dan aku akan membuatmu ikut hancur.”

Ardhanza tercengang bukan karena takut, tapi karena kecewa seseorang bisa mencintai dengan cara seburuk itu.

“Inara…” ia menjawab perlahan, penuh luka yang tak terlihat, “kalau memang benar kau sedang mengandung calon anakku calon penerus keluarga Lee Dewantara, maka aku akan bertanggung jawab. Tapi bukan sebagai pasanganmu hanya sebatas menafkahi anak itu dari lahir hingga dewasa.”

Mata Inara spontan membesar karena ucapan Ardhanza barusan bukanlah respons yang dia inginkan.

“Brengsek! Kenapa dia bisa berubah sejauh ini? Padahal baru hari ini aku nggak campurkan ramuan cinta di dalam makanan dan minumannya,” batinnya Inara.

Ardhanza melangkah mendekat, menatap tepat ke matanya dengan wibawa yang membuat Inara tersudut.

“Aku tidak mencintaimu dari awal hingga saat ini. Dan aku tidak akan pernah mencintaimu karena hatiku bukan untuk mencintai perempuan sejenis kamu.” tukasnya yang bernada cibiran.

Air mata Inara akhirnya jatuh juga mendengar perkataannya Ardhanza. Bukan karena sedih, tapi karena rencananya yang mulai gagal di depan mata.

“Mungkin Abang sudah lupa,” Inara menyeka air matanya sambil tersenyum getir, “dua bulan lalu waktu kita pulang dari pesta. Kita sama-sama mabuk, Danza. Kita melakukannya berkali-kali di kamar apartemenku apakah malam yang penuh gairah dan panas itu Abang sudah melupakannya?” tanyanya dengan tatapan berusaha terlihat memohon.

Kata-kata itu meluncur pelan tapi menusuk seperti belati. Ardhanza terdiam, pandangannya kosong sesaat, seolah memaksa otaknya memutar ulang memori malam itu.

“Itu tidak mungkin! Semabuk apapun diriku masa aku nggak bisa rasakan ketika aku berhubungan badan dengan perempuan,” batinnya Ardhanza yang menggelengkan kepalanya.

Ia memegang pelipisnya, mencoba mengingat tetapi nihil. Yang dia ingat hanya samar suara dentuman musik klub, lampu warna-warni, Inara yang tersenyum genit, dan rasa pusing yang sangat kuat. Setelah itu gelap.

Semakin dia berusaha mengingat, semakin kepalanya berdenyut.

“Aku nggak ingat apa-apa,” gumamnya akhirnya, suara rendah dan berat oleh frustrasi.

Inara justru memanfaatkan celah itu. “Karena kau mabuk berat. Tapi aku ingat semuanya,” katanya, mendekat lagi. “Kau memeluk aku, kau inginkan aku dan akhirnya kau lah yang memulainya lebih duluan. Itu terjadi karena kau benar-benar menginginkan kehangatan tubuhku malam itu.”

“Cukup.” Ardhanza mengangkat tangan sebagai peringatan agar Inara berhenti berbicara, napasnya mulai berat.

“Jangan memelintir fakta! Aku yakin kamu hanya rekayasa dan memalsukan kenyataan itu!” Pungkasnya Ardhanza yang jelas-jelas tak mau mengakui kesalahan yang sama sekali tidak diperbuatnya.

“Apa yang kupelintir?!” Inara berseru dengan ekspresi seperti seorang korban, meski sorot matanya memaksa untuk Ardhanza patuh dan mengiyakan.

“Kau mau bilang kalau aku bohong? Kau mau bilang kalau aku memanfaatkanmu? Kalau begitu ayobkita ke dokter sekarang juga! Kita USG dan lita cek semuanya! Pasti akan ketahuan kalau aku saat ini sedang hamil,” ujarnya.

Nada menantangnya membuat Ardhanza semakin pasti ada sesuatu yang tidak beres.

“Aku yakin ada sesuatu hal yang disembunyikannya dan feeling aku dia ingin menjadikan aku kambing hitam dan tameng dari kejahatannya,” Ardhanza membatin.

Bukan hanya isi kalimatnya, tapi caranya berkata-kata, seperti skenario yang sudah dihafal dengan sangat baik dan begitu jelas.

“Satu hal yang aku tahu,” Ardhanza berkata dengan suara dingin, “malam itu bahkan kalau benar terjadi, itu bukan cinta. Itu bukan hubungan. Itu hanya kesalahan yang seharusnya tak aku lakukan.”

Inara terdiam, lalu senyum tipis terangkat di bibirnya senyum yang bukan lagi manja, tapi penuh luka bercampur obsesi.

“Kesalahan tapi menghasilkan nyawa.” ucapnya sambil tertawa sumbang.

Ardhanza tak mampu menahan diri lagi dan akhirnya emosinya meledak-ledak.

“Jangan gunakan kata nyawa untuk memerangkapku Inara Irene Handono! Kau tahu tidak semudah itu kalau kamu ingin membohongi dan membodohiku!” ketusnya sembari melangkah beberapa langkah ke arah belakangnya.

Tatapannya menusuk, membuat Inara spontan mundur dua langkah.

“Aku akan bertanggung jawab kalau kau memang hamil,” ulang Ardhanza dengan nada tegas. “Tapi aku nggak akan menjalani hubungan yang dibangun atas manipulasi.”

Keheningan menguasai ruangan..Untuk pertama kalinya air mata Inara jatuh dengan nyata, tanpa make-up drama, tanpa skenario. Ada terbersit ketakutan di sana ketakutan kehilangan kendali atas Ardhanza.

“Kenapa harus seperti ini sih akhirnya!? Padahal aku sudah memakai trik jitu?” suaranya bergetar, penuh cemburu dan rasa kalah.

Inara menyeka air matanya dengan kasar kemudian berjalan ke arah Ardhanza yang semakin memundurkan langkahnya.

“Apa mungkin karena ada perempuan lain yang sudah menggantikan posisiku di dalam hidupmu? sehebat itukah wanita itu sampai Abang buta?”

Ardhanza menutup matanya sejenak, menarik napas panjang kemudian menghembuskannya perlahan-lahan menahan gejolak perasaan.

“Ini bukan tentang siapa lebih hebat,” katanya perlahan. “Ini tentang hati yang memilih tanpa adanya paksaan dan sejujurnya aku tidak pernah mencintaimu.”

Seketika Inara mengepalkan kepalan tangannya saking marahnya dengan skenario yang sudah tidak berjalan sesuai dengan harapannya.

Dan untuk pertama kalinya, dia sadar kalau rasa cintanya berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap.

Ardhanza mengambil jarak, berdiri tegak, lalu kembali berkata rendah namun jelas.

“Aku akan hadapi ini dengan kepala dingin. Tapi jangan pernah paksa aku untuk mencintaimu.”

Inara terduduk kembali ke lantai bukan karena didorong, tapi karena kekalahan emosional yang tak mampu lagi ditahannya.

Ardhanza kemudian melangkah cepat menuju walk-in closet. Ia membuka laci dan mengambil pakaian seadanya tanpa mempedulikan warna maupun kecocokannya.

Yang penting baginya bisa keluar dari ruangan itu secepat mungkin. Hawa dingin AC pun terasa menyesakkan dibandingkan berada satu ruangan dengan Inara, perempuan yang seharusnya menjadi calon tunangannya.namun kini justru menjadi sumber kekacauan pikiran dan hatinya.

“Aku harus cek langsung rekaman CCTV apartemennya,” gumamnya dalam hati.

“Aku sangat yakin kalau dia ini berbohong. Perempuan itu pasti bohong. Tapi tanpa bukti aku cuma bisa marah-marah nggak jelas.”

Ia melirik sekilas. Inara masih terduduk di ujung ranjang, bahunya bergetar menahan isak. Rambutnya berantakan, dan matanya sembap.

Namun bukan itu yang membuat Ardhanza mendengus melainkan perasaan jengah. Ia tidak bisa percaya bahwa air mata itu asli atau hanya bagian dari rencana besar untuk menjebaknya.

“Semabuk apapun diriku, aku masih bisa membedakan perempuan yang aku sentuh,” desisnya dalam batin, rahangnya mengeras. “Kalau terbukti dia memanipulasi aku habislah dia. Aku nggak cuma batalkan pernikahan bodoh ini. Aku bakal pastikan dia masuk penjara. Biar membusuk sekalian.”

Keputusan itu membuat dadanya sedikit lebih lega. Ia mengenakan kaus, merapikan sedikit rambutnya, lalu tanpa menoleh lagi, meninggalkan Inara yang masih menangis dengan wajah memelas.

Penthouse mewah itu mendadak terasa terlalu sempit untuk menampung kekesalannya.

“Aku jelas ingat malam itu. Aku mabuk iya, aku akui. Tapi begitu sampai kamar, aku langsung tepar. Mana mungkin aku tidur sama seseorang tanpa sadar? Mana mungkin aku nggak ngerasain apa-apa?” gumamnya frustrasi begitu berjalan keluar ke koridor.

Di depan pintu, ia memberi instruksi tegas pada bodyguard kepercayaannya.

“Ganti semua kode akse masuk ke penthouse mewah miliki,!? Sekarang juga. Dan setelah dia pergi dari sini, jangan biarkan perempuan itu berada dalam radius empat meter dari aku,” katanya datar namun penuh tekanan.

Sang bodyguard menunduk. “Baik, Tuan Muda. Perintah segera kami laksanakan.”

Ardhanza tidak menunggu jawaban lebih lama. Ia berjalan cepat menuju lift, langkahnya berat namun emosinya justru semakin memuncak.

Di dalam lift ia mengepal-ngepal tangannya, mencoba menahan gejolak amarah dan kecurigaan yang terus bermain di kepalanya.

Begitu sampai di basement parkir, ia menghentikan langkahnya. Sebuah pikiran lain muncul dan ini membuatnya lebih kesal daripada Inara.

Wajah polos itu. Suara lembut itu. Cara perempuan itu mengaji waktu menidurkan bayi kembarnya. Cara dia menyebut “Tuan Muda” dengan sopan tapi penuh jarak.

“Kenapa harus dia yang muncul di kepalaku sekarang!?” Rutuknya.

Ardhanza menendang ban mobil sportnya cukup keras hingga alarmnya hampir berbunyi.

Bugh!!

Bayangan Citra sang pengasuh bayi kembarnya muncul terlalu jelas di benaknya.

Senyumnya yang manis, sorot matanya yang jujur, bahkan aroma lembut tubuhnya waktu ia menggendong si kembar hari itu.

Ardhanza meremas rambutnya frustasi. “What the hell!? Kenapa pengasuh anak kembarku yang muncul disaat seperti ini sih!?” geramnya dalam bahasa campur, napasnya naik turun.

“Cukup Inara yang bikin pusing. Sekarang malah dia juga ikut muncul. Padahal jelas-jelas aku nggak pernah… nggak mungkin… Ya Allah!”

Ia memukul pintu mobilnya kali ini, lebih keras dari tadi.

“Inara bilang dua bulan, tapi dua bulan lalu aku inget banget aku nggak ngapa-ngapain! Apa-apaan ini!?”

Ia menghembuskan napas panjang, berusaha menenangkan dirinya.

Namun entah kenapa, semakin ia mencoba menepis bayangan itu, semakin Citra justru hadir lebih jelas di kepalanya.membuat amarahnya berubah menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak diinginkan. Tidak pada saat sepusing ini. Dan itu membuat Ardhanza semakin kacau.

“Oh Tuhan… tolonglah diriku kenapa bisa si cewek reseh, bar-bar dan jelek itu muncul dan menari-nari di kepalaku!” Ketusnya.

Apa yang diperbuat oleh Ardhanza menjadi tontonan dari beberapa orang yang kebetulan berada di basement apartemen mewah itu.

“Argh!” pekik Ardhanza.

Ardhanza mengemudikan mobilnya tak tentu arah. Dia hanya mengemudikan mobilnya dengan arah jalan yang dilaluinya tanpa melihat jalanan.

“Seharusnya beberapa hari yang lalu aku marah dan balas dendam padanya! Namun ketika aku melihatnya shalat, mengaji, menidurkan kedua bayi kembarku dengan dzikir dan shalawat hingga tanpa sengaja aku melihat benda aset pentingnya dan dari situlah aku terus dibayang-bayangi olehnya,” sungutnya Ardhanza.

Sedangkan Inara tersenyum puas setelah melihat kepergian Ardhanza, ia menyeka air matanya dengan kasar.

“Baiklah aku akan melakukan apapun agar kamu menikahiku dalam bulan ini. Kalau kamu menolak terus aku bisa mendatangi Tante Hilda dan berbicara dengannya kalau aku hamil calon cucunya yang ketiga,” gumamnya kemudian memperbaiki posisi gaun seksi yang dipakainya kemudian memperbaiki make-upnya.

Inara kemudian berjalan ke arah luar kemudian menuju ke club malam langganannya.

“Mulai detik ini aku harus mengakhiri hubunganku dengan Ki Bodo Jongkok dan mencari pria yang bisa aku lampiaskan hasratku,” cicitnya yang melangkah dengan penuh keyakinan kuat.

Beberapa hari kemudian…

Hari ini Citra diajak oleh Ariestya ke mall dengan membawa baby Jaylani dan Jianira yang sudah semakin besar.

Citra mengganti popok keduanya setelah bergantian disusui oleh Citra.

“Masya Allah kalian semakin gede yah… semakin ganteng semakin cantik pula. Ngomong-ngomong anaknya siapa nih,” ucapnya Citra yang selalu mengajak bayi tujuh bulan itu berbicara meskipun mereka hanya bereaksi dengan gerakan tubuhnya.

“Aaa… uuu… iii.” Celoteh Jianira sambil memainkan kedua kakinya yang panjang.

“Anaknya Ardhanza Lee Dewantara dong masa anaknya tetangga,” sahut seseorang dari belakang.

Citra spontan menolehkan kepalanya ke arah sumber suara dan tersenyum canggung melihat siapa orang tersebut.

1
Intan Melani
y banyak Napa thor upnya
GeGe Fani@🦩⃝ᶠ͢ᵌ™: makasih banyak 😍
total 1 replies
Aqella Lindi
lanjut ya thor jgn lama
GeGe Fani@🦩⃝ᶠ͢ᵌ™: insha Allah...
total 1 replies
Dew666
💎💎💎💎💎
Aqella Lindi
tetap d tguya thor semangat💪
Aqella Lindi
jgn lama2 ya thor nti lupa ceritany
Dew666
🍒🍒🍒🍒🍒
Evi Lusiana
dasar laki² gila lo yg nyakitin,nyerai in tp msih jg mo ngganggu hidupny dasr gak waras
Evi Lusiana
sungguh kluarga ardian yg toxic itu pst dpt balasan tlh menyakiti mendholimi mnsia ber akhlak baik sprti citra
Evi Lusiana
menggelikan satu kluarga toxic tunggu sj karma kalian
Dew666
💥💥💥💥💥
Dew666
💃💃💃💃💃
Sastri Dalila
😅😅😅 semangat Citra
GeGe Fani@🦩⃝ᶠ͢ᵌ™: makasih banyak kak 🙏🏻🥰
total 1 replies
Dew666
🔥🔥🔥🔥🔥
§𝆺𝅥⃝©༆𝓐𝓯𝔂𝓪♡𝓣𝓪𝓷༆ѕ⍣⃝✰☕︎⃝❥
Adrian tabur tuai pasti ada .ingat apa yg kamu tuai itu yg akan kamu dpt, dasar mantan suami iblis
§𝆺𝅥⃝©༆𝓐𝓯𝔂𝓪♡𝓣𝓪𝓷༆ѕ⍣⃝✰☕︎⃝❥
Bagus Citra.. usah di balas dgn kejahatan pd org yg tlh berbuat jahat kpd kamu.
Sastri Dalila
👍👍👍
§𝆺𝅥⃝©༆𝓐𝓯𝔂𝓪♡𝓣𝓪𝓷༆ѕ⍣⃝✰☕︎⃝❥
semoga bener Citra itu anak pak Ridho yg hilang. aduhhh Citra terima saja pekerjaan yg ditawarkan semoga kehidupan kamu berubah dgn lbh baik lagi.
§𝆺𝅥⃝©༆𝓐𝓯𝔂𝓪♡𝓣𝓪𝓷༆ѕ⍣⃝✰☕︎⃝❥
rose pasti akan menerima nasib yg sama seperti Citra, jgn terlalu sombong kerna karma itu ada. apa yg dituai itu yg kamu dpt begitu juga dgn ibu serta sdra Andrian yg sudah menyakiti hati dan mental Cutra
§𝆺𝅥⃝©༆𝓐𝓯𝔂𝓪♡𝓣𝓪𝓷༆ѕ⍣⃝✰☕︎⃝❥
siapa yg dtg ya
GeGe Fani@🦩⃝ᶠ͢ᵌ™: ditebak kira-kira siapa???
total 1 replies
§𝆺𝅥⃝©༆𝓐𝓯𝔂𝓪♡𝓣𝓪𝓷༆ѕ⍣⃝✰☕︎⃝❥
ayuh Citra ga usah peduli dgn kata2 pedas dari keluarga mantan sok percaya diri bgt mereka.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!