NovelToon NovelToon
Apakah Itu Kamu?

Apakah Itu Kamu?

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Cerai / Selingkuh / Janda / Romansa / Berondong
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Mengisahkan Livia Winarti Samego, seorang wanita 30 tahun yang harus menerima nasib bahwa ia diduakan oleh suaminya, Attar Pangestu dengan wanita lain yang tidak bukan adalah Sheila Nandhita, teman baiknya. Livia harus berjuang seorang diri dalam perpisahannya dengan Attar hingga takdir mempertemukannya dengan Ayub Sangaji, seorang mahasiswa jurusan pendidikan olahraga di sebuah kampus yang tampan dan menggoda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kejujuran Pedih

Dunia Livia Winarti Samego seolah runtuh dalam satu kedipan mata. Sore itu, udara di dalam kamar tidur mereka terasa begitu menyesakkan, padahal pendingin ruangan diatur pada suhu terendah. Di tangannya, sebuah benda pipih bermerek mahal milik suaminya, Attar Pangestu, terasa panas seolah membakar telapak tangannya.

Livia, wanita berusia 30 tahun yang selalu tampak tenang dan elegan, kini terpaku dengan napas yang tertahan di tenggorokan. Matanya yang sembab menatap layar ponsel Attar yang masih menyala. Di sana, di aplikasi pesan singkat, terpampang rentetan kalimat yang merobek jantungnya.

Nama pengirimnya adalah Sheila Nandhita. Teman baiknya sendiri. Sosok yang selama ini ia anggap sebagai saudari, tempat ia berbagi keluh kesah tentang rumah tangga, dan orang yang sering ia ajak makan malam bersama Attar.

****

Awalnya, Livia meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu hanyalah urusan pekerjaan. Attar adalah seorang arsitek sukses berusia 33 tahun, dan Sheila adalah konsultan interior yang beberapa kali bekerja sama dengannya. Namun, semakin jauh jemarinya menggulir layar, semakin hancur pertahanannya.

“Aku rindu aroma parfummu di kemejaku, Attar. Kapan kita bisa bertemu lagi tanpa harus bersembunyi?”

“Sabar, Sayang. Livia sedang tidak curiga. Aku akan cari alasan lembur malam ini agar bisa mampir ke apartemenmu.”

Kalimat-kalimat itu bukan sekadar pesan rekan kerja. Itu adalah manifestasi dari pengkhianatan yang paling kotor. Livia merasakan denyut nadi di pelipisnya berdegup kencang. Tubuhnya mulai bergetar hebat. Rasa mual mendadak menyerang perutnya, membuatnya merasa seolah-olah seluruh organ dalamnya sedang dipilin.

Bagaimana bisa? Sheila? Wanita yang baru minggu lalu menemaninya berbelanja kado ulang tahun untuk Attar?

Suara pintu kamar mandi yang terbuka membuat Livia tersentak. Attar keluar dengan handuk melingkar di pinggang, uap air masih menyelimuti tubuh atletisnya. Wajahnya yang semula segar mendadak pucat pasi saat melihat Livia berdiri di dekat meja rias, menggenggam ponselnya dengan tangan yang gemetar hebat.

"Livia? Apa yang kamu lakukan dengan ponselku?" suara Attar meninggi, ada nada panik yang berusaha ia sembunyikan di balik otoritas suaranya.

Livia tidak menjawab. Ia hanya mengangkat ponsel itu, memperlihatkan layar yang masih menampilkan percakapan intim tersebut.

Attar menerjang maju. Dengan gerakan kasar yang tak pernah ia tunjukkan sebelumnya, ia merebut benda itu dari tangan Livia. "Kamu tidak sopan, Liv! Ini privasi pekerjaan!"

"Privasi?" suara Livia keluar sebagai bisikan parau yang menyayat. "Sejak kapan 'Sayang' dan 'Apartemen' menjadi istilah teknis dalam arsitektur, Tar?"

Attar terdiam. Rahangnya mengeras. Keheningan di antara mereka terasa begitu tajam, seolah bisa melukai kulit siapa pun yang berani bersuara.

"Jelaskan padaku," desak Livia, suaranya kini naik satu oktaf, pecah oleh tangis yang mulai tumpah. "Katakan padaku itu bukan Sheila. Katakan padaku itu hanya lelucon bodoh!"

****

Attar membuang muka. Ia tidak berani menatap mata istrinya yang jernih, mata yang selama delapan tahun ini selalu menatapnya dengan penuh cinta. Ia mondar-mandir di depan tempat tidur, mengacak rambutnya yang masih basah.

"Jawab aku, Attar Pangestu!" teriak Livia. Amarahnya meledak, menutupi rasa sakitnya sesaat. "Sudah berapa lama kalian membodohiku?!"

Attar berhenti melangkah. Ia menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang terdengar seperti kepasrahan yang kejam. "Satu tahun, Liv. Kami sudah berhubungan selama satu tahun."

Dunia Livia benar-benar gelap seketika. Angka "satu tahun" itu menghantamnya lebih keras daripada tamparan fisik mana pun. Selama setahun ini ia berbagi tempat tidur, berbagi mimpi, dan berbagi tawa dengan pria yang setiap harinya juga membagikan hal yang sama dengan sahabat baiknya.

"Kenapa?" tanya Livia lirih. "Kenapa harus Sheila? Kenapa kamu setega ini?"

"Aku tidak bermaksud menyakitimu," ujar Attar dengan nada yang sangat datar, sebuah nada yang justru lebih menyakitkan daripada kemarahan. "Semuanya terjadi begitu saja. Sheila mengerti tekanan pekerjaanku, dia ada di sana saat kamu terlalu sibuk dengan duniamu sendiri."

Livia tertawa sumbang di tengah isak tangisnya. Alasan klasik. Menyalahkan istri atas ketidakmampuan suami untuk setia.

****

Kekuatan di kaki Livia seolah menguap. Ia tidak sanggup lagi menopang berat beban pengkhianatan ini. Dengan perlahan, tubuhnya merosot, lututnya menghantam lantai kayu kamar mereka dengan keras. Namun, rasa sakit di lututnya sama sekali tidak terasa dibandingkan lubang menganga di dadanya.

Ia duduk bersimpuh, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Derai air mata membasahi pipinya, mengalir di sela-sela jarinya. Isakannya terdengar pilu, memenuhi setiap sudut ruangan yang kini terasa seperti penjara.

Attar hanya berdiri di sana, beberapa langkah darinya. Ia tidak mendekat untuk memeluknya, tidak juga berusaha menenangkan. Ia hanya berdiri menatap istrinya yang hancur, seolah Livia adalah sebuah proyek bangunan yang baru saja ia robohkan sendiri.

"Pergi..." bisik Livia di sela tangisnya. "Pergi dari sini, Attar."

Livia merasa seolah seluruh masa lalunya adalah kebohongan besar. Setiap pelukan Sheila, setiap kecupan Attar, semuanya kini terasa seperti racun yang menjalar di darahnya. Di lantai dingin itu, Livia Winarti Samego menyadari bahwa hidupnya yang sempurna hanyalah sebuah panggung sandiwara di mana ia adalah satu-satunya orang yang tidak memegang naskah.

****

Livia melajukan mobilnya membelah jalanan Jakarta dengan pandangan yang kabur oleh air mata. Dadanya sesak, seolah ada bongkahan batu besar yang menghimpit pernapasannya. Tujuan di GPS-nya sudah jelas: Apartemen Senopati Terrace, unit milik Sheila Nandhita.

Sepanjang perjalanan, memori tentang persahabatan mereka berputar seperti film usang yang menyakitkan. Livia ingat saat Sheila menangis di bahunya saat putus cinta, atau saat Livia memberikan modal pertama untuk bisnis interior Sheila. Ternyata, di balik senyum manis itu, Sheila sedang mengasah belati untuk ditancapkan tepat di punggungnya.

Livia tiba di depan pintu bernomor 1208. Tanpa mengetuk, ia menekan kode akses yang—ironisnya—masih merupakan tanggal lahir Livia yang digunakan Sheila sebagai bentuk "solidaritas sahabat". Pintu terbuka dengan bunyi klik yang dingin.

Di dalam, Sheila sedang duduk santai di sofa beludru merahnya, menyesap segelas wine sambil membaca majalah fashion. Ia hanya melirik sekilas saat Livia masuk dengan napas memburu dan wajah sembab.

"Livia? Kamu berisik sekali," ucap Sheila tenang, seolah tidak ada dosa yang baru saja terungkap.

"Kenapa, Shei? Kenapa harus Attar?" suara Livia bergetar, menahan ledakan emosi yang sudah di ubun-ubun.

Sheila meletakkan gelasnya perlahan. Ia berdiri, membetulkan letak jubah tidurnya yang tipis, lalu berjalan mendekati Livia dengan langkah yang angkuh. "Kenapa? Karena dia Attar Pangestu, Liv. Dia pria paling seksi dan menggoda yang pernah aku kenal. Kamu seharusnya berterima kasih padaku karena aku memberinya gairah yang tidak bisa diberikan oleh istri membosankan sepertimu."

Livia terperangah. Tidak ada jejak penyesalan. Tidak ada permintaan maaf. "Kamu... kamu bangga melakukan ini?"

"Sangat bangga," tantang Sheila dengan senyum miring yang meremehkan. "Attar itu seperti api, dan aku suka bermain api. Kami cocok di tempat tidur, Liv. Jauh lebih cocok daripada kalian yang hanya bicara soal cicilan rumah dan menu makan malam."

PLAK!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!