Citra tak pernah menduga akan terjerat asmara dengan mantan kakak iparnya, Bima. Bima adalah kakak tiri Bayu, mantan suami Citra.
Rumah tangga Citra dan Bayu hanya bertahan selama dua tahun. Campur tangan Arini, ibu kandung Bayu membuat keharmonisan rumah tangga mereka kandas di tengah jalan.
Akankah Citra menerima Bima dan kembali masuk dalam lingkungan keluarga mantan suaminya dulu? Bagaimana juga reaksi Bayu juga Arini ketika mengetahui Bima menjalin asmara dengan Citra?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenapa Harus Bima?
Citra menepuk-nepuk wajah dengan tangan tangannya yang telah ia basahi dengan sedikit air. Pipinya menggelembung saat ia menghempas nafas dengan kasar. Dia berusaha untuk tetap tenang di saat hatinya tak nyaman berada di antara keluarga Bayu dan istri Bayu.
"Relax, Citra! Tenangkan dirimu! Jangan biarkan mereka bebas mengintimidasimu! Selain Laras, mereka hanya orang lain bagi Mas Bima, jadi jangan perdulikan apa pun yang mereka katakan untuk melemahkan hatimu!" Citra berusaha menyemangati dirinya. Sebab, jika dia terus merasa takut seperti ini, mereka akan menganggap dirinya belum bisa move on dari Bayu.
Citra berniat meninggalkan toilet, berharap Bima sudah selesai menelepon agar mereka segera meninggalkan restoran itu. Dia rasa tak ada gunanya berlama-lama berada di tengah-tengah mereka. Namun, ketika Citra melangkahkan kaki keluar dari toilet, tiba-tiba saja Bayu sudah menunggunya di depan toilet. Pria itu langsung menarik tangannya dan merapatkan tubuhnya ke dinding toilet .
"Aakkhh! Mau apa kamu!?" Citra terkejut dengan sikap Bayu yang kasar padanya.
"Aku yang semestinya tanya, apa tujuanmu mendekati Bima?" Bayu membalas pertanyaan Citra dengan sebuah pertanyaan bernada menyelidik.
Citra menghempas nafas kasar, karena Bayu berpikiran sama dengan Arini yang mengira dirinya mempunyai maksud tertentu dengan mendekati Bima.
"Memangnya apa yang kamu pikirkan!?" Mencoba lepas dari intimidasi Bayu, Citra membalas dengan memberanikan diri beradu pandang dengan pria yang dulu pernah dicintainya. Seperti tersadar, bisa-bisanya dia jatuh cinta dengan pria pengecut seperti Bayu dan kini ia benar-benar menyesalinya.
"Apa kamu berniat balas dendam padaku dengan mendekati Bima?" tuding Bayu, "Atau, ini cara yang kamu pakai, supaya kamu bisa dekat denganku lagi?" Buku jari Bayu menyentuh dan mengusap wajah Citra sambil berkata, seolah Citra masih berharap bersamanya seperti dulu.
"Jangan kurang ajar, Bayu!" Citra menepis kasar tangan Bayu yang menyentuh wajahnya. "Dan jangan terlalu percaya diri! Jangan merasa kalau dirimu itu begitu penting sehingga aku mengharapkanmu kembali!" sanggah Citra, menyangkal tuduhan Bayu yang ia anggap konyol. Untuk apa dia kembali pada pria yang tak punya prinsip seperti Bayu? Pikirnya.
"Oke!" Bayu mundur selangkah, "Lalu, kenapa mesti Bima? Kamu bisa memilih pria lain, kenapa harus Bima? Kamu tahu kalau dia kakak tiriku, kan?" Bayu mempertanyakan alasan Citra memilih bersama Bima sehingga ia menganggap Citra sedang berusaha membalas dendam padanya.
"Memangnya kenapa? Apa ada yang salah? Lagi pula, aku sudah bukan istrimu lagi, Bayu! Aku berhak menentukan dengan siapa pun yang aku inginkan untuk menjadi pendamping hidupku kelak, termasuk dengan Mas Bima!" tegas Citra kembali dengan lantang. "Dan kamu, kamu nggak ada hak untuk melarangku!" tukasnya.
"Apa ada masalah?" Suara Bima tiba-tiba terdengar di pintu masuk toilet. Dia sudah selesai berbicara dengan anak buahnya di telepon dan langsung menyusul Citra ketika Laras mengatakan Citra ke toilet, karena ia juga tak melihat keberadaan Bayu di private room itu.
Citra bergegas menghampiri Bima dan melingkarkan tangannya di lengan pria itu. Dia menarik nafas lega karena kemunculan Bima membuatnya terbebas dari intimidasi Bayu kepadanya.
"Kita pulang saja, Mas!" ujarnya kemudian.
Ekor mata Bima melirik tangan Citra yang melingkar di lengannya, seolah memohon bantuan untuk dilindungi dari Bayu. Ini pertama kali Citra menyentuhnya lebih dulu dan itu membuat hatinya senang. Dia yakin, lambat laun seiring berjalannya waktu, Citra pasti akan luluh kepadanya.
Kini pandangan Bima mengarah pada Bayu.
"Apa rencana pernikahan kami mengganggumu, Bayu?" tanyanya, karena ia melihat gelagat kecemburuan dari sorot mata dan gesture tubuh Bayu.
Bayu menatap Citra seraya menghempas nafas kasar. "Tidak!" jawabnya, lalu melangkah meninggalkan Bima dan Citra berdua.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Bima memastikan Bayu tidak menyakiti atau melakukan hal yang kasar pada Citra.
"Nggak, Mas. Sebaiknya kita pulang saja!" Sikap Bayu tadi membuat Citra tak betah berlama-lama di tempat itu dan ingin segera meninggalkan restoran.
"Baiklah, saya juga sudah selesai." Bima merangkul punggung Citra dan membawa Citra keluar dari toilet.
***
"Apa yang dilakukan Bayu tadi?" Dalam mobil saat mengantar Citra pulang, Bima bertanya, karena merasa penasaran apa yang dilakukan dan dikatakan Bayu pada Citra. Dia hanya sempat mendengar sedikit kata-kata Citra 'Aku berhak menentukan dengan siapa pun yang aku inginkan untuk menjadi pendamping hidupku kelak, termasuk dengan Mas Bima'.
Bima tak tahu apa yang dikatakan Citra itu hanya untuk memancing Bayu cemburu, atau karena Citra memang sudah mempunyai perasaan padanya, yang pasti dia sangat senang melihat Citra tak terpengaruh pada Bayu.
Citra menoleh sepintas pada Bima dan menghempas nafas perlahan setelahnya.
"Nggak ada," jawab Citra tak ingin membahas soal tadi.
"Kita akan berumah tangga, tidak ada yang perlu dirahasiakan dari saya, terutama jika berhubungan dengan keluarga tiri saya itu." Bima sangat percaya diri Citra akan menjadi pendampingnya, sehingga ia meminta Citra untuk selalu terbuka kepadanya.
"Dia mengira saya mendekati Mas untuk balas dendam ke dia." Akhirnya Citra mau terbuka mengatakan apa yang dituduhkan Bayu kepadanya.
Tawa kecil Bima terdengar mengetahui apa yang dikatakan Bayu pada Citra.
"Percaya diri sekali dia mengatakan hal itu," cibirnya kemudian.
"Sekarang mereka sudah tahu kalau Mas dekat dengan saya, pasti mereka nggak suka mengetahui hal itu." Nada bicara Citra terdengar gusar.
"Sudah saya katakan, jangan cemaskan itu! Mereka tak punya hak melarang saya bersama kamu." Berulang kali Bima berusaha menyakinkan Citra soal hal tersebut. "Kamu tenang saja, mereka tidak berani mengusik kamu setelah kita menikah nanti." Bima memastikan jika Citra akan aman selama bersamanya.
Citra kembali menoleh pada Bima. Senyumnya sedikit mengembang. Setiap kalimat Bima yang menegaskan bahwa pria itu akan menjadi pelindungnya, selalu menghangatkan hati Citra. Bukan hanya sekedar kata-kata, tapi juga dari sikap yang ditunjukkan selama mereka bersama.
***
Arini berjalan bolak-balik di kamarnya dengan gelisah. Mengetahui Bima saat ini bersama dengan Citra adalah kabar buruk baginya. Hubungannya dengan anak bawaan suaminya itu belum bisa harmonis karena Bima selalu menjaga jarak, kini Bima justru berencana menikahi Citra, wanita yang ia singkirkan dari status sebagai menantunya dulu.
Bisa Arini bayangkan, pasti Citra akan mempengaruhi Bima agar membencinya dan menjauhkan Bima dari Laras sebagai cara Citra membalaskan dendam karena ia berhasil menjauhkan Bayu dari wanita itu.
"Ini nggak bisa dibiarkan! Jangan sampai Bima berhasil memperistri wanita itu! Aku harus bertindak! Ya, aku harus bertindak! Aku yakin Almarhum suamiku juga nggak ingin Bima mendapatkan wanita yang sama sekali nggak pantas untuk dia!" Otak Arini terus berpikir, mencari cara agar dia bisa menggagalkan rencana Bima menikah dengan Citra.
❤️❤️❤️
Bersambung ...
woooooy kamu itu udah mantaaan yaah
mantan buang pada tempatnya
tempat nya tong sampah
semoga bima sama citra tdk terpengaruh...
sepicik itu pikiran Arini terhadap Citra?
Ayo Bima lindungi Citra dari niat jahat Arini
kamu emang the best