Ranaya Aurora harus rela mengakhiri hubungan asmaranya dengan sang kekasih karena perselingkuhan. akibat dari itu, Naya tidak lagi percaya cinta dan pria sehingga memutuskan untuk tidak akan pernah menikah.
akan tetapi, tuntutan keluarga membuatnya harus menikah. Aero Mahendra menjadi pilihan Naya, lelaki asing dengan usia empat tahun di bawahnya. Walaupun pernikahan itu di tentang keluarga hanya karena perbedaan status sosial, Naya kekeh memilih Mahen atau tidak menikah sama sekali.
Bagaimana Naya menjalani pernikahan dan hidup bersama Mahen?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon intan_fa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ayo menikah
Naya dan Mahen janjian bertemu di sebuah restoran. Kali ini seperti ada yang berbeda, terasa canggung dan gugup. Akan tetapi, Naya harus menepis rasa itu.
"Rileks Naya ... Jangan baper!" gumamnya.
Tidak lama menunggu, akhirnya Mahen datang. Entah mengapa hatinya itu terasa hangat.
"Maaf aku terlambat," ujar Mahen lalu duduk di kursi di hadapan Naya.
"Saya yang datang terlalu cepat," jawab Naya. Ia melihat kalau Mahen baik-baik saja dengan senyuman manisnya.
Kemudian Naya memesan beberapa makanan dan juga minuman untuk mereka berdua.
"Kamu tidak apa-apa, kan? apa papamu memarahimu? Maafkan aku semalam malah membawamu pulang, aku lupa!" jelas Mahen.
"Ya, di marahi sedikit saja tidak apa-apa bukan salahmu kok santai saja. Apa kau tidak apa-apa? kau baik-baik saja setelah di pukul papa saya?" tanya Naya.
"Aghh gitu doang kok. Aku gak apa-apa!" cetus Mahen seraya mengusap-usap pipinya sendiri.
"Saya merasa tidak enak kamu malah kena omelan dan pukulan juga. Maafkan saya dan terima kasih untuk cokelat juga bunganya ..." ucap Naya.
"Sudah ... Tidak apa-apa, jangan kita bahas ini lagi. Ahh cuman cokelat aja kok ..." ujarnya seraya tersenyum kecil. "Eh Ada hal penting lain yang ingin aku bahas," ujar Mahen.
"Iya, aku juga ingin membahas hal lain." Naya menimpali.
Tidak lama makanan yang mereka pesan sudah datang. "Mari makanlah, kita bicara sambil makan saja," titah Naya.
"Kau tahu, papamu melarang kita berhubungan dan menyuruh kita untuk putus. Bahkan papamu menawarkan imbalan padaku yang penting mau menjauhimu apa saja akan di berikan," jelas Mahen.
"Terus kamu minta apa?" tatap Naya. Dengan Mahen menerima apapun dari papanya, itu akan membuat semuanya makin sulit dan Naya tidak akan bisa lepas dari perjodohan sang papa.
"Ya enggaklah. Jatuh harga diriku sebagai pria kalau minta sesuatu berharga pada papamu. Ya, walaupun pura-pura aku tidak mau punya image jelek!" tutur Mahen.
Penuturan Mahen membuat Naya tersenyum tipis. Andai semua itu bukan pura-pura pasti akan sangat beruntung memiliki pasangan yang tulus tanpa bisa ternilai dengan uang.
"Kenapa? Padahal minta saja, rumah kek, mobil atau uang yang banyak ..." ujar Naya.
"Dihhh gak punya harga diri banget jadi cowok."
"Itukan menguntungkanmu," kata Naya.
"Untung sementara doang, harga diri jatuh selamanya! Dengan aku meminta imbalan pada papamu, aku tidak akan bisa bertemu denganmu lagi dong?"
"Bagaimana kalau kita menikah saja?" ide Naya.
Ajakan Naya membuat Mahen tersedak makanan yang belum terkunyah seutuhnya.
Uhukkk uhukkk ... Makanan seakan mengganjal di tenggorokannya. Lalu Naya memberikan air minum untuknya.
"Pelan-pelan dong makannya!"
Mahen menghabiskan segelas minumannya sampai habis sehingga tenggorokannya sedikit lebih lega.
"Maksudmu menikah bagaimana? Bukannya kita hanya pura-pura pacaran saja? Katanya gak mau menikah," tanya Mahen penasaran.
"Gara-gara semalam, papa kembali carikan lagi jodoh untuk saya. Tadi siang saja saya di pertemukan dengan pria aneh, walaupun sudah saya tolak, pasti papa tidak akan berhenti begitu saja. Jadi, menikah denganmu jalan satu-satunya saya selamat dati perjodohan. Ya, sekarang kita juga pura-pura menikahlah. Bukan sungguhan ..." tutur Naya.
"Tapi papamu sudah melarang hubungan kita!"
"Kalau kamu mau gigih berusaha, pasti nanti akan luluh juga kok. Kalau kamu setuju nanti ada bayarannya. Pleaseeee ... Mau yaaa tolong saya ..." mohon Naya.
"Aku sih mau aja, tapi—"
"Aghhh oke deal kamu setuju!" Naya meraih tangan Mahen dan bersalaman menyepakatinya.
"Ehhh ... Tapi gimana caranya?"
"Kamu datang bersama orangtuamu untuk melamar saya. Mudah, kan?" saran Naya.
"Mudah kalau aku pakai identitas asliku!" batin Mahen. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.
"Kamu tahu sendiri kalau kita tidak setara, mana mungkin semudah itu?" ucap Mahen.
"Iya juga sih, papa saya sangat keras kepala. Mmmhh ... Nanti saya pikirkan lagi deh caranya ..." pikir Naya.
Saat sedang asyik mengobrol dan menikmati makanannya, tiba-tiba Lusia dan Rahadi menghampiri mereka.
"Naya ... Ya ampun akhirnya kita ketemu juga. Gimana semalam? Kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Lusia khawatir.
"Kau bisa melihatnya, aku sangat baik-baik saja. Ya walaupun rada mumet dikit!" jawab Naya.
Kemudian pandangan Lusia beralih pada Mahen. Makan malam berdua seperti telihat akrab sehingga membuat pertanyaan di kepala Lusia.
"Tunggu ... Kalian berdua terlihat sangat akrab? Apa yang aku gak tau?" tanya Lusia.
Naya tersenyum menampakkan gigi rapinya itu lalu berbisik pada Lusia. "Dia cowok yang aku bawa menghadap keluarga sebagai pacar pura-puraku!"
"Oh dia ternyata."
"Oh kalian mau makan juga, mari makan bersama," ajak Mahen ramah.
"Sudah sana pergi saja!" bisik Naya.
"Hehee ... Aku sama suamiku mau makan malam romantis berdua, jadi maaf tidak bisa bergabung dengan kalian. Lain waktu aja ya. Bye ..." ujar Lusia seraya berlalu pergi.
"Temanmu sudah lama menikah?" tanya Mahen.
"Menikahnya baru empat tahun, tapi mereka bersama-sama sudah dari zaman kami sekolah menengah atas," jawab Naya.
"Wah keren juga tuh pada setia ...."
"Ya, mereka sangat beruntung memiliki satu sama lain," ujar Naya.
"Tenang saja, aku juga sangat setia. Menikah denganku kau pasti akan beruntung juga!" oceh Mahen dengan diiringi tawa kecil.
"Apaan sih?" Naya merasa malu.
Di tengah obrolannya itu tiba-tiba Ilham menghampiri meja mereka. Datang seperti hantu yang mengejutkan Naya dan Mahen.
"Papa ..." lirih Naya.
"Papamu ..." cetus Mahen.
"Kalian masih berani berhubungan?" sentak Ilham. Kemudian menarik tangan Naya bangkit dari duduknya. "Sudah saya katakan, hubungan kalian tidak boleh berlanjut. Selain kau membawa dampak buruk untuk Naya, kau juga tidak setara dengan kami. Ingat itu!"
Ilham membawa Naya pergi dan Naya berontak berusaha melepaskan diri. "Papa ... Aku mau sama Mahen, Pa ... Jangan kayak gini!"
Mahen hanya melihat kepergian Naya dengan papanya. Mencegah membawanya pergi hanya akan memperpanjang masalah.
"Kasihan juga Naya kalau sampai menikah dengan pria yang papanya jodohkan. Aku harus bagaimana?"
Tidak ingin memikirkan hal ini sendirian, Mahen menghubungi Andro dan memintanya untuk datang ke kontrakan. Lalu ia bangkit dari duduknya hendak berlalu pergi, tapi pelayan memanggil Mahen karena ternyata makanan yang mereka pesan belum Naya bayar.
Untung saja ia tidak melupakan membawa kartu sehingga bisa membayarnya. Bergegas pergi dan pulang ke rumah kontrakannya. Disana Andro sudah menunggu duduk santai di teras kontrakan.
"Kau harus membantuku berpikir! Ayo masuk!" menarik tangan Andro untuk mengikutinya.
"Ada apa ini Tuan?"