Lana Croft, seorang mahasiswi biasa, tiba-tiba terbangun sebagai tokoh antagonis kaya raya dalam novel zombie apokaliptik yang baru dibacanya. Tak hanya mewarisi kekayaan dan wajah "Campus Goddess" yang mencolok, ia juga mewarisi takdir kematian mengerikan: dilempar ke gerombolan zombie oleh pemeran utama pria.
Karena itu dia membuat rencana menjauhi tokoh dalam novel. Namun, takdir mempermainkannya. Saat kabut virus menyelimuti dunia, Lana justru terjebak satu atap dengan pemeran utama pria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YukiLuffy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Kael menyeringai tipis. "Sebuah kehormatan besar, Jax. Duduklah."
Kael menarik Lana dari pangkuannya, tetapi segera memposisikan dirinya di bilik pribadi, menarik Lana untuk duduk di sisinya, punggung gadis itu bersandar di dadanya. Kael memeluk pinggang Lana, memastikan kontak itu jelas.
"Komandan Thorne memang beruntung," ujar Jax, matanya yang tajam menyapu Lana, menikmati keindahan gadis itu tanpa riasan. "Wanita secantik ini, aku belum pernah melihatnya. Namanya?"
"Dia Lana Croft. Dan dia adalah milikku," potong Kael dingin, ciuman singkat di puncak kepala Lana. "Sekarang, tentang tujuanmu di Enklave Selatan."
Lana merasakan Kael semakin memeluknya, isyarat dominasi yang jelas. Lana menoleh, memberikan lirikan kesal pada Jax, yang hanya tertawa kecil.
Kael memulai negosiasi. "Aku tahu kau dalam pelarian dari Enklave Utara dan tentara bayaran mereka. Mereka menetapkan harga yang cukup besar untuk kepalamu."
"Aku tidak meragukan kapabilitasmu, Komandan," balas Jax, nada bercandanya menghilang. "Aku yakin kau tidak tertarik pada uang. Jadi, mari kita berbisnis. Aku butuh bantuanmu untuk kembali ke Enklave Utara dengan selamat. Sebagai imbalannya, setelah aku mengambil alih kepemimpinan, Enklave Utara akan memasuki aliansi dengan Enklave Thorne. Semua data penelitian kami, terutama tentang Mutasi Flora, akan dibagikan."
Kael mengetuk meja, matanya memancarkan perhitungan. Itu adalah tawaran yang luar biasa. Akses ke intelijen dan sumber daya Enklave Utara.
"Kesepakatan," Kael mengangguk. "Itu adalah tawaran yang menguntungkan bagi kami. Aliansi ini akan memperkuat posisi kita."
"Kerja sama yang baik," ujar Jax, menyeringai. Ekspresi dingin sekilas muncul di matanya—sifat politikus yang bersembunyi di balik penampilan santai.
"Aku punya berita yang mungkin menarik bagimu," kata Kael. "Kakekku sedang merencanakan KTT Enklave Regional di sini minggu depan, mengundang para pemimpin dari Enklave lain untuk membahas pertahanan. Ini akan menjadi waktu yang tepat bagimu untuk kembali, di bawah perlindungan Markas Komando."
Mata Jax berkilat tajam. "Itu akan sempurna. Terima kasih atas informasinya, Komandan."
Kael mengakhiri pertemuan, menggendong Lana dan keluar dari bistro, meninggalkan Jax.
Begitu mereka berada di mobil, Kael berbalik menghadap Lana. Wajahnya gelap.
"Ceritakan. Secara rinci. Bagaimana pria itu bisa bersamamu di mobil? Dan apa yang ia lakukan padamu?" tuntut Kael.
Lana segera bertindak mengasihani diri. "Dia jahat, Kakak! Dia menipuku, menggunakan tembakan liar untuk merusak mobilku, lalu memaksaku mengganti mobil di depan matanya. Dia tahu aku punya ruang! Dia mengancamku! Aku dipaksa mengemudi berjam-jam, dan dia memanggilku 'Tante Gede'! Aku sangat ketakutan dan tertekan!"
Kael mendesis, kemarahan membakar matanya. "Dia menggunakanmu sebagai perisai dan mengancammu? Beraninya dia."
Kael mencium Lana, ciuman yang dalam dan posesif. "Tenang, Sayang. Aku akan mengurusnya. Dia tidak akan mengalami perjalanan yang nyaman ke KTT itu. Aku berjanji."
Lana tersenyum puas. Rencana balas dendam Kael akan jauh lebih memuaskan daripada yang bisa ia lakukan sendiri.
Keesokan harinya, Lana dan Riley pergi berbelanja.
"Aku harus merayakan kau masih hidup dengan sesuatu yang manis!" seru Riley, menyeret Lana ke toko kue mewah di Pusat Perdagangan.
Toko itu dipenuhi dengan hidangan penutup yang indah—sebuah kemewahan yang langka. Lana menggunakan kartu Credit Score yang diberikan Kael.
"Kau berencana membeli apa, Sayang? Integral Enklave-mu hampir tidak terbatas, kau tahu itu," goda Riley.
Lana menghela napas, melihat saldo di layar yang terdiri dari sederet angka panjang. "Ini terasa berlebihan." Lana membeli dua potong kue Chocolate Truffle dan Tarte aux Fraises.
"Lihat kau! Angka itu bahkan tidak berkurang!" Riley tertawa. "Jangan khawatir. Seluruh Enklave ini didanai oleh Kael. Nikmati saja."
Tepat saat mereka duduk, Ryder, Kapten Fenrir Squad, muncul di ambang pintu.
"Riley!" panggil Ryder, wajahnya memancarkan kegembiraan.
Riley tersipu malu. "Ryder? Kenapa kau ada di sini?"
"Aku mencarimu! Aku dengar kau di sini." Ryder menghampiri meja mereka. Ia mencondongkan tubuh, mencium pipi Riley dengan cepat. "Sampai nanti malam. Jangan lupakan janji kencan kita."
Riley, wajahnya memerah total, mendorong Ryder pergi. "Aku akan mencarimu! Pergilah!"
Lana hanya bisa tersenyum penuh arti, menyaksikan romansa kecil sahabatnya. Dunia mungkin telah berakhir, tetapi cinta, ambisi, dan bahkan humor, tetap hidup.