Sean Joris adalah Presdir muda tampan yang terlanjur kaya dan sangat sibuk, karena di desak menikah, maka dibuatlah “Kontes Menjadi Istri Presdir”.
Samuel atau biasa dipanggil Sam adalah teman juga asisten pribadinya Sean.
Nah apa yang terjadi jika dalam kontes, Sean meminta Samuel untuk bertukar tempat menggantikannya menjadi presdir dan Sean menjadi asistennya?
Lorena Ayala adalah salah satu peserta kontes yang kehilangan dompetnya dan terpaksa menumpang di rumah kontrakannya Sean, sang Presdir yang asli.
Apakah Sean akan menemukan cinta sejatinya lewat kontes itu?
Follow IG@rr_maesa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RR Maesa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CH-25 Lomba mencuci pakaian (part 2)
“Dia curang Pak, memakai sarung tangan!” seru peserta yang melaporkan Lorena itu. Suaranya yang keras memancing banyak perhatian semua peserta. Semua mata melihat kearah Lorena dan ke arah sarung tangannya.
Panitia menghampiri Lorena.
“Kenapa kau memakai sarung tangan?” tanya panitia.
“Tanganku alergi detergent,” jawab Lorena, hatinya sudah benar-benar pesimis, sepertinya di akan gugur, benar-benar gugur. Diapun berdiri.
Pria itu menoleh pada panitia yang lain.
“Bagaimana ini? Dia harus didiskualifikasi,” katanya.
Mendengar kata diskualifikasi membuat Lorena semakin gelisah, dia benar-benar gagal mengikuti kontes ini.
“Kau benar,dia melakukan kecurangan,” kata yang lainnya.
Melihat ada rame-rame disalah satu peserta, Sam dan Sean yang ada di tenda merasa tertarik dan bertanya pada panitia yang datang menghampri mereka.
“Maaf Pak, ada peserta yang curang, jadi akan dinyatakan gugur sekarang juga,” kata orang yang datang itu.
“Curang? Apa maksudmu curang?” tanya Sam.
“Dia memakai sarung tangan,” jawab panitia itu.
Mendengar nama sarungtangan, spontan Sean bangun dari duduknya. Apakah itu Lorena? Batinnya.
Sam langsung beranjak mengikuti panitia tadi, Sean buru-buru mengikutinya.
Benar saja ternyata Lorena dituduh curang. Sean melihat wajah wanita itu terlihat pucat, dia merasa tidak tega melihatnya.
Sam menatap Lorena.
“Kenapa kau memakai sarung tangan,”tanya Sam.
“Aku alergi detergen,” jawab Lorena.
“Aku juga alergi detergen tidak pakai sarung tangan! Harus fair dong!” terdengar salah saeorang peserta berteriak.
“Tapi aku benar-benar tidak tahan dengan detergent,” jawab Lorena dengan lesu, dia benar-benar putus asa.
Sean menarik tangan Sam spaya menjauh dari kerumunan ini.
“Ada apa?” tanya Sam.
“Aku yang memberinya sarung tangan itu,” jawab Sean.
“Apa?” Sam terkejut.
“Dia alergi detergent, tangannya akan merah merah. Dia menangis seharian dirumahku gara-gara tangannya alergi,” kata Sean.
“Tapi bagaimana ya, masalahnya peserta yang lain juga tidak menggunakan sarung tangan,mereka juga banyak yang alergi detergen. Kau harus tahu, semua peserta rata-rata dari kalangan menengah ke atas, pasti sehari-harinya mereka tidak mencuci di rumahnya, jadi bukan Lorena saja,” jawab Sam.
“Aku tidak mau dia disikualifikasi, kasihan dia,” jawab Sean.
“Kenapa kau jadi perhatian padanya? Bukankah kau yang ingin dia didiskualifikasi dari awal? Kau ingin dia pulang kampung kan?” tanya Sam.
“Bukan begitu, aku tidak tega saja kalau dia gugur karena sarung tangan dariku,” jawab Sean.
“Ya meskpun kau tidak membeirnya sarung tangan, tetap saja dia akan gagal kalau alergi detergen,” kata Sam.
Sean menatap Sam.
“Kau sih bikin lomba macam –macam saja, yang jadi istriku tidak akan aku suruh-suruh mencuci,” gerutu Sean.
“Kenapa kau jadi menyalahkan aku? Kau sendiri yang menyerahkan semuanya padaku, bahkan kau tidak peduli siapapun pesertanya. Aku sampai pusing memikirkan wanita yang bisa membuatmu jatuh cinta, aku harus bagaimana lagi?” kata Sam, dia jadi kesal disalahkan oleh Sean.
Sean akhirnya diam.
“Ya aku cuma berusaha supaya kau bisa punya waktu memilih wanita yang kau suka ditiap lombanya,” jawab Sam.
“Jadi bagaimana sekarang? Ada cara lain supaya Lorena tidak gugur?” tanya Sean.
“Sebenarnya sih menggunakan sarung tangan tidak menjadi masalah karena kita tidak membuat aturan itu, hanya mungkin kita akan diserang oleh peserta lain, ini yang akan jadi maslah, kita dianggap tidak adil oleh mereka,” jawab Sam, membuat Sean kebingungan, dia tidak tega kalau Lorena harus gugur.
Seorang panitia menghampiri mereka.
“Pak bagaimana? Acara terus berjalan,” kata orang itu.
Sam menatap sean.
“Ayo kita kesana lagi,” ajak Sam. Sean mengangguk, merekapun menuju kerumunan tadi.
“Pak, dia harus didiskualifikasi, dia tidak bisa mengikuti lomba selanjutnya, dia gugur,” kata panitia.
Mendengar kata gugur, membuat hati Lorena sedih. Dia benar-benar kalah. Semua pengorbanannya sia-sia.
Sam menatap Lorena.
“Kau punya dua pilihan. Kalau kau mau melanjutkan lomba ini tanpa sarung tangan, kau boleh lanjut. Kalau tidak, berarti kau gugur,” kata Sam, menatap Lorena. Semua orang diam tidak ada yang bicara.
“Aku, aku tidak bisa lanjut, aku alergi detergen,” jawab Lorena, sambil menunduk.
Sean semakin tidak tega melihatnya. Tapi dia tidak bisa membela Lorena di depan orang-orang lagi, nanti dinilainya mereka pilih kasih.
“Baiklah kalau begitu kau dinyatakan gugur,” jawab Sam. Mendengar kata-kata itu membuat Lorena sedih, dia benar-benar ingin menangis.
“Maaf,” ucap Sam.
“Ya, tidak apa-apa,” jawab Lorena.
Panitia kembali memberikan pengumuman pada peserta supaya melanjutkan kembali lombanya.
Lorena membereskan barang-barangnya, dia berjalan dengan lesu meninggalkan lapaknya.
“Kau gugur?” tanya Indri. Lorena mengangguk, tanpa bicara apa-apa lagi. Dia harus menerima keputusan ini, dia gagal, dia tidak akan jadi istri Presdir lagi.
Sean menatapLorena berjalan menjauh. Peserta sudah mulai mencuci kembali.
Sean menatap sarung tangan di lapak itu, diambilnya sarung tangan itu. Lalu berdiri menatap Sam.
“Kau harus memikirkan cara supaya dia bisa ikut lomba lagi,” bisik Sean.
“Bagaimana caranya? Ini sistim gugur. Kalau kau menyukainya, kau lamar saja dia,” kata Sam.
“Apa? Menyukainya? Tidak bukan itu, aku hanya kasihan padanya,” kata Sean.
“Sean, walaubagaimanapun pemenang kontes ini hanya satu orang. Kau akan menikah dengan satu orang, kau harus ingat itu,” kata Sam.
Sean akhirnya diam. Bagaimana ini? Dia tidak tega Lorena gugur.
Diapun beranjak meninggalkan Sam.
“Kau mau kemana?” tanya Sam.
“Aku mau pulang,” jawab Sean.
Sean memarkir mobilnya di depan teras. Pintu rumah masih tertutup, karena pak Roby tidak tahu kalau dia akan pulang sebelum sore.
Saat dia membuka pintu, rumahnya terlihat sepi. Matanya langsung tertuju ke lantai atas, apakah Lorena ada dirumah?
“Pak Sean, kau pulang belum waktunya!” tiba-tiba Pak Roby muncul dari dalam rumah.
“Wanita itu mana?” tanya Sean.
“Nona Lorena?” tanya Pak Roby.
“Iya siapa lagi?” tanya Sean.
“Dia ada di dalam kamarnya,” jawab Pak Roby.
Sean tidak bicara apa-apa lagi, dia menuju kamar wanita itu, dari luar terdengar suara tangisnya. Wanita itu sedang menangis.
Sean ingin bicara tapi dia bingung. Tangannya akan mengetuk pintu itu tapi dia takut mengganggunya. Mungkin Lorena ingin sendiri.
Seanpun duduk di kursi pemisah kamar mereka itu. Dia malah mendengarkan wanita itu menangis. Dia jadi ikut sedih. Apakah Lorena benar-benar akan pulang kampung? Diapun bangun dari duduknya, lalu menuruni tangga.
“Anda akan pergi lagi?” tanya Pak Roby.
“Iya aku akan ke kantor,” jawab Sean.
“Apakah wanita itu bilang akan pulang kampung?” tanya Sean.
“Nona tidak bicara apa-apa, dia hanya langsung masuk ke kamarnya saja,” jawab Pak Roby.
Seanpun melangkah meninggalkan rumahnya.
************
Di kantornya Sean.
“Ada apa? Kau tahu aku sibuk di lokasi lomba,” tanya Sam, sambil duduk di sofa.
“Aku ingin wanita itu kembali ikut lomba,” kata Sean.
“Bagaimana caranya? Ini sistem gugur. Dari awal aku sudah mengajakmu untuk melihat gadis-gadis yang kau suka, biar dalam lomba bisa diakali kalau dia tidak lulus. Tapi kau tidak mau. Kalau begini caranya semua sudah terlanjur aku bingung harus bagaimana?” tanya Sam.
“Bukan masalah suka atau tidak. Aku tidak tega dia gugur. Dia terus saja menangis di kamarnya,” kata Sean.
Sam menatap Sean.
“Kau ada ide supaya dia bisa ikut lomba berirutnya?” tanya Sam.
“Entahlah,” jawab Sean.
“Lorena juga pasti merasa aneh kenapa dia gugur tapi bisa ikut lomba selanjutnya?”tanya Sam.
Sean tidak bicara lagi, kepalanya berdenyut-denyut bingung harus melakukan apa.
*******
Sore harinya, Sean pulang dari pekerjaannya. Kali ini pak Roby membukakan pintu untuknya.
“Mana wanita itu?” tanya Sean.
“Ada dikamarnya,” jawab pak Roby.
“Dia tidak keluar kamar dari siang tadi?” tanya Sean.
“Tidak, nona terus saja menangis seharian. Dia sangat sedih, semua pelayan juga ikut sedih,” jawab Pak Roby dengan raut muka sedih.
“Entah apa yang terjadi padanya,” lanjut pak Roby.
Sean semakin bingung dibuatnya. Dia belum menemukan cara meloloskan Lorena ke babak selanjutnya.
Akhirnya dia berjalan menuju kamar Lorena. Benar saja wanita itu masih menangis di dalam kamarnya. Sean menghitung hitung, sudah berapa jam wanita itu menangis.
Perlahan diketuknya pintu kamar Lorena.
Tok tok tok! Belum dibuka.
Tok tok tok! Belum dibuka juga.
Sean akan mengetuk lagi pintunya ternyata Lorena membuka pintunya. Wajah wanita itu terlihat memerah dan matanya bengkak, Sean semakin kasihan dan tidak tega melihatnya.
“Kau baik-baik saja?” tanya sean dengan pelan. Sudah tidak ada lagi nada ketus yang keluar dari mulutnya.
“Aku baik-baik saja,” jawab Lorena, tapi airmatanya kembali menetes dipipinya. Semakin membuat Sean merasa kasihan.
“Kau mau apa?” tanya Lorena sambil duduk di pinggir tempat tidur.
“Maaf aku tidak bisa membantuu,” jawab Sean.
“Tidak apa-apa, mungkin memang aku tidak berjodoh dengan Presdir Samuel,” kata Lorena. Mendengar kata Sam disebut, membuat Sean jadi kesal, kenapa Sam lagi?
“Kau akan pulang kampung?” tanya Sean.
“Sepertinya begitu. Aku minta maaf belum bisa membayar sewa rumah ini. Nanti setelah aku pulang aku akan membayarnya, “jawab Lorena.
“Kau tidak perlu memikirkannya,” jawab Sean, dia dudak di sofa didalam kamar itu. Mereka terdiam beberapa menit. Sean terus berfikir. Di lihatnya selebaran kontes itu masih tergantung di pot bunga.
“Kau benar- benar akan pulang kampong?” tanya Sean lagi. Lorena mengangguk.
“Kau senang kan tidak akan ada yang menganggumu lagi,” kata Lorena.
Sean terdiam apa benar begitu? Dia akan senang kalau Lorena pergi? Memang sih wanita itu sangat menjengkelkan, tapi melihat dia gagal di kontes rasanya dia merasa kasihan. Tapi dia tidak punya ide untuk membuat wanita itu kembali ikut lomba.
Sean bangun dari duduknya, dia keluar dari kamar Lorena dengan lesu. Dilihatnya lagi wajah merah itu dan matanya yang sembab, dia benar-benar tidak tega.
Malam itu Sean tidak bisa tidur, dia gelisah memikirkan Lorena gagal dikontes. Dalam benaknya terus tebayang matanya yang sembab, wajahnya yang merah, wanita itu tidak lagi ceria seperti biasanya. Terdengar alunan music biola yang sangat sedih dimalam itu. Alunannya sangat menyahat hati. Sean tahu wanita itu masih terus bersedih.
Keesokan harinya…
Sean bangun dari tidurnya, dia langsung ke kamarnya Lorena dengan tergesa-gesa. Dilihatnya wanita itu sudah mengepak barang-barangnya ke kopernya.
“Kau, kau akan pulang hari ini?” tanya Sean.
“Iya,” jawab Lorena. Wanita itu terlihat cantik sudah siap-siap berangkat, meskipun masih terlihat bekas-bekas mata sembab karena menangis.
“Kau tidak bisa pergi!” kata Sean.
“Apa? Kenapa?” tanya Lorena tidak mengerti.
**********
Jangan lupa like vote dan komen
sehat selalu, ditunggu cerita cerita berikutnya 🙏