Willie, seorang pengusaha muda yang sukses, hidupnya hancur seketika ketika sang istri, Vira meninggal secara tragis setelah berusaha membuka kasus pemerkosaan yang melibatkan anak didiknya sendiri.
Kematian Vira bukan kecelakaan biasa. Willie bersumpah akan menuntut balas kepada mereka yang telah merenggut keadilan dan istrinya.
Namun di balik amarah dan tekadnya, ada sosok kecil yang menahannya untuk tidak tenggelam sepenuhnya, putri semata wayangnya, Alia.
Alia berubah menjadi anak yang pendiam dan lemah sejak kepergian ibunya. Tidak ada satu pun yang mampu menenangkannya. Hanya seorang guru TK bernama Tisha, wanita lembut yang tanpa sengaja berhasil mengembalikan tawa Alia.
Merasa berhutang sekaligus membutuhkan kestabilan bagi putrinya, Willie mengambil keputusan untuk melakukan pernikahan kontrak dengan Tisha.
Willie harus memilih tetap melanjutkan dendamnya atau mengobati kehilangan dengan cinta yang tumbuh perlahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerita Tina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pergi
Hartono langsung membuka potongan berita dari akun berita anonim itu dibagikan ribuan kali. Komentar membanjir, tajam dan tanpa ampun.
“Pantas saja sering ke luar negeri.”
“Istrinya di rumah, dia main perempuan.”
“Topeng orang bersih akhirnya lepas juga.”
Staf-staf di kantornya mulai gelisah. Beberapa rekan mendadak sulit dihubungi. Hartono benar-benar sadar, bukan uang yang hilang, atau jabatan yang terancam terlebih dulu melainkan wibawanya.
Para pejabat yang biasa bersama Hartono langsung memilih menjaga jarak. Bukan karena tak percaya, melainkan karena takut skandalnya menular, dan tak ada yang mau ikut tenggelam.
Agenda-agenda penting ditunda sampai situasi kondusif. Di rumahnya, istri Hartono menerima tatapan iba dari kerabat. Lebih menyakitkan daripada kemarahan.
Anaknya pun ikut dihujat. Putranya yang dulu melecehkan Lestari sekarang memilih menjaga sikap sementara waktu sampai skandal ayahnya mereda.
Hartono langsung memesan tiket menuju Malaysia, seolah itu hanyalah perjalanan dinas biasa atau rapat mendadak mengisi agenda penting, alasan yang selalu ampuh menutup jejak kepanikan.
Ia bangkit dari ranjang, menarik jasnya. Ia menoleh sekilas pada perempuan yang masih polos di balik selimut.
Hartono melemparkan sejumlah uang begitu saja ke atas ranjang, jatuh berserakan di dekat tubuh perempuan itu.
“Pulanglah nanti sendiri, Jangan menghubungiku sementara waktu.” Ucapnya dengan nada dingin.
Perempuan itu terdiam, matanya menatap uang di hadapannya, ia merasa tertampar dan sadar pada posisinya. Bukan siapa-siapa bagi laki-laki itu.
Hartono sudah melangkah ke pintu, raut wajahnya mengeras. Di balik ketenangan palsu itu, pikirannya berputar cepat, menyusun langkah demi langkah.
Skandal ini tak boleh menelan dirinya. Dan siapa pun dalangnya, akan ia cari lalu dan ia berniat menghancurkannya.
***
Willie masih diam di kursinya. Pikirannya berputar tanpa arah yang pasti.
Ia mengernyit, merasa asing terhadap dirinya sendiri. Sejak kapan ia kehilangan kendali hanya karena berhadapan dengan seorang gadis.
Ia menekan bel di mejanya. Tak lama, seorang bawahan masuk dengan sikap sigap.
“Kapan jadwal kita dinas ke luar kota lagi?” tanya Willie datar.
“Minggu depan, Pak.”
Willie terdiam sejenak. Jemarinya mengetuk meja perlahan, seolah menimbang sesuatu yang tak terdengar.
“Kita majukan sekarang.”
“Sekarang, Pak?” Bawahannya tampak terkejut.
“Iya. Kenapa?” tatap Willie tajam.
“Tidak apa-apa.” Ia segera menunduk. “Kalau begitu saya siapkan kendaraan.”
“Antar saya sekarang ke bandara.”
“Bapak tidak bersiap dulu?”
“Tidak.” Suara Willie tegas.
Bawahannya tak berani bertanya lagi dan langsung bergegas keluar.
Willie bersandar, menghela napas panjang. Ia tahu ini bukan keputusan paling rasional. Namun saat ini, pulang bukan pilihan terbaik.
Ia ingin menjauh dari rumah, dari tatapan Tisha, dari rasa bersalah yang terus menggerogoti dadanya.
'Mungkin dengan jarak, amarah Tisha akan mereda dan aku bisa kembali berpikir dengan kepala dingin.' Pikirnya getir.
Willie mengirimi pesan pada Tisha. "Aku keluar kota sementara waktu. Titip Alia ya. Baik-baik di rumah."
Pesan itu singkat dan padat, seolah kepergiannya hanyalah urusan kerja biasa.
Tisha membiarkan saja, tak ada niat membalas pesan itu. Tapi notifikasi lain masuk.
Ada sebuah notif transferan dari Willie,
Angkanya membuat mata Tisha melebar tanpa ia sadari.
Beberapa detik kemudian, pesan dari Willie masuk lagi. "Buatlah apa yang kau suka."
Tisha menatap lama pada layar ponselnya dengan alis mengerut.
“Apa-apaan ini…,” gumamnya.
“Dia pikir semuanya bisa diselesaikan dengan uang?”
Rasa kesal jadi bertambah. Bukan karena jumlah uangnya melainkan maknanya. Seolah uang itu adalah penutup mulut untuk diam
Seolah kesalahan semalam, sikap kasarnya, kegagalannya sebagai pemegang kontrak bisa ditebus dengan angka.
Ia menghela napas, menekan dadanya sendiri agar tetap tenang. Jarinya gemetar ketika layar ponsel diredupkan.
"Jadi ini caramu menghindar, Willie. Baiklah, Aku ikuti permainanmu.” dengus Tisha.
Di sisi lain, di ruang tunggu bandara, Willie menatap papan keberangkatan. Entah mengapa, bayangan wajah Tisha yang menatapnya dingin pagi tadi terus muncul.
“Kenapa aku merasa seperti kalah, padahal aku yang pergi?” gumamnya.
Ia membuka ponsel, melihat ruang chat mereka. Status pesan itu terkirim, tapi tak dibalas sama sekali
Tak ada marah, protes atau apapun itu.Dan justru itu yang membuat dadanya terasa semakin sesak.
Hari itu, Tisha mulai mengubah ritme rumah.
Rumah itu justru terasa lebih lapang saat Willie pergi.
Tisha berjalan keluar kamar tanpa kerudung, rambutnya terurai natural di punggungnya. Ia merasa aman karena tak ada perasaan terawasi.
Malamnya, setelah menidurkan Alia. Tisha duduk sendiri di ruang tengan. Ia membuka laptop. Beberapa tab terbuka, jadwal kuliah, rencana penelitian dan peluang lomba akademik yang dulu hanya ia lihat sekilas.
Langkahnya juga lebih ringan. Ia menyeduh teh di dapur sambil menyenandungkan lagu pelan, sesuatu yang nyaris tak pernah ia lakukan sejak tinggal di rumah itu.
Ratih memperhatikan dari kejauhan. Ia sempat heran, Tisha sama sekali membuka kerudungnya didalam rumah, apalagi dengan baju santai, bahkan bersenandung begitu.
Biasanya Tisha selalu terlihat penuh tekanan seolah ia berada ditempat kerja. Namun sekarang ia menangkap satu hal yang berbeda, Tisha tidak lagi tegang.
Ratih mendekat, Tisha menyadarinya dan menoleh sekilas, "Bi Ratih mau teh?"
Ratih langsung menggeleng, "Kok Ibu buat teh sendiri, kalau Ibu perlu apa-apa beritahu saja biar saya siapkan."
Tisha menoleh lagi dengan senyum tipis, "Tidak usah Bi. Kalau dilayani terus saya takut tidak bisa apa-apa sendiri nantinya.
Mereka tertawa kecil. Ratih melihat ke sekeliling rumah, "Tapi tuan kok belum pulang."
Tisha mengangkat cangkir, menyesapkan tehnya pelan dan berbalik badan. "Pak Willie sudah berangkat keluar kota."
Ratih membatin, "Oh pantas Bu Tisha merasa bebas."
Ia sangat tahu, kalau Willie sudah keluar kota dan menyangkut urusan kerja sudah pasti akan pulang lama.