NovelToon NovelToon
DENDAM MEMBAWA PETAKA DI DESA

DENDAM MEMBAWA PETAKA DI DESA

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Iblis / Balas Dendam
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Hasri Ani

Tak pernah di sangka kehidupan bahagia keluarga Azka akan berakhir mengerikan hanya karena Ayahnya di tuduh menghamili anak dari seorang kaya dan sangat berpengaruh di desanya.

Azka yang sakit hati, terpaksa mengambil jalan pintas untuk membalaskan kekejaman para warga yang sudah di butakan oleh uang.

Dia terpaksa bersekutu dengan Iblis untuk membalaskan sakit hatinya.

Bagaimanakah nasib Azka, selanjutnya? Yu ikuti kisahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasri Ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MENDAPATKAN PENYAKIT

Sejak kejadian dia di tendang sangat kuat oleh orang asing, Jaka sering ngamuk-ngamuk sendiri. Istri dan anaknya pun sampai heran dengan kelakuan Jaka yang semakin hari semakin tidak bisa di kontrol emosinya.

"Sialan! Gara-gara lelaki misterius itu aku jadi kehilangan dia. Awas kamu! Huuu,,,h!"

BRA..K!!!

Maki Jaka, kesal. Sambil menendang kursi anaknya yang tepat di hadapannya.

"Ya ampun, Mas! Itu kan punya si Dimas, kenapa kamu rusak?! Heran sama kamu Mas, akhir-akhir ini sering ngamuk nggak jelas. Ada apa sih sebenarnya masalah kamu?" Tanya Istrinya.

"Kamu itu jadi Istri jangan banyak nanya! Lakukan aja kewajibanmu. Jangan ngurusin aku!" Cerca Jaka dengan kedua tangannya di pinggang.

Wati, istri Jaka hanya bisa diam.

Beru saja Jaka akan mengomeli istrinya lagi, Laela datang dengan sepeda motor barunya.

"A', ikut yu? Aku baru beli sepeda motor baru ni." Ajak Laela dengan melirik Wati angkuh.

Jaka yang melihat motor keren itu tiba-tiba lupa dengan amarahnya. Dia langsung menuju, Laela.

"Wah...! Keren ini, La. Mulus... lagi. Seperti motor

idamanku."

"Iya dong, A'. Makanya aku beli yang sama persis seperti yang Aa', suka. Biar kita mejeng bareng. Hehe!"

Jaka segera menaiki motor itu, Laela pun langsung

naik di belakangnya, siap hendak pergi.

"Mas! Mau kemana? Kita hari ini ada acara kawinan di rumah saudara, jangan pergi."

"Halah... kamu itu, nyusahin saja! Kamu saja yang pergi sana." Jawab Jaka asal.

Wati menatap suami dan Laela bergantian kesal. Udah punya anak istri, tapi tetap saja nggak berubah. Semoga aja mas Jaka sakit, biar tu cewek nakal nggak jadi bawa suamiku.

Batin Wati.

Wati pun masuk ke dalam rumah hendak menyiapkan segala sesuatu untuk pergi ke rumah saudaranya.

Baru juga beberapa langkah, tiba-tiba

BRA..K!!!

Suara orang jatuh terdengar keras di telinga, Wati.

Dia pun segera berbalik keluar.

"Astaga, Mas Jaka!" Terlihat suaminya kejang-kejang sambil menggaruk tubuhnya.

"Tolong! Aduh... gatal! Panas! Gatal sekali, panas, sangat panas." Racau Jaka di tanah.

Laela yang tidak paham dengan apa yang terjadi kepada Jaka, hanya terpaku. Jaka terlihat persis seperti orang terkena bubuk gatal, tak hentinya ia menggaruk seluruh badannya hingga kemaluannya tak luput dari garukannya.

"Haduh... gatal sekali. Gatal...! Panas! Wati! Bantu aku Wat!" Teriak Jaka, meminta pertolongan kepada istrinya.

Wati yang melihat suaminya terkena penyakit pun tersenyum. Hummm, baru aja aku doain, eh terkabul. Emang doaku ini mujarab banget. Rasain tu! Berani-beraninya menganggapku sepele.

Dengan langkah angkuh Wati mendekati suaminya.

"Tuh kan, karma itu. Makanya, istri itu harus di nomor satukan! Mentingin gadis nakal kayak dia, buat apa? Liat kamu begini saja dia udah kebingungan, kan? Tuh... orang yang kamu pentingin, takut mendekati kamu." Omel Wati, masih berbangga diri.

Lima menit kemudian, sekujur tubuh jaka tiba-tiba timbul gelembung-gelembung kecil, persis seperti bisul.

Wati ternganga dengan pemandangan di hadapannya.

"Me-Mas? Tubuh kamu?!" Suaranya tercekat kala melihat wajah Jaka pun mulai di penuhi bisul-bisul yang berwarna merah keputihan pekat.

Laela beringsut mundur. "A'! Kok wajah Aa', jadi mengerikan begitu? Ih! Laela nggak mau ah, kalau sampai tertular. Mana bau banget lagi. Ihh...! Laela pulang ya, A'." Laela segera kabur dengan motor barunya. Sepanjang jalan tak hentinya bergidik geli melihat keadaan Jaka yang semula tubuhnya kekar, berkulit mulus, dan tampangnya yang tampan, kini berubah menjadi tak ubahnya monster berbau busuk.

"Laela! La! Kok malah ninggalin Aa', sih?!" Jaka

berusaha mengejar namun tak sanggup karena tiba-tiba tulangnya sangat lemas.

"Aduh! Kok aku merasa sangat lemas sekali ya, Wati. Tolong aku." Rintih Jaka.

Wati semakin kesal melihat suaminya yang bukannya sadar malah masih saja memperdulikan gadis yang sukanya kelayapan itu.

"Udah di kasih sakit masih saja ngotot mau ngejar gadis brandal itu. Sekarang tau rasa! Nggak bisa lari kan?"

Walau hati terasa sakit, Wati tetap menolong suaminya.

Di papahnya Jaka masuk ke dalam rumah.

Di taruhnya suaminya di dipan yang ada di ruang tamu. Namun, tiba-tiba gelembung itu pecah.

Seketika bau busuk menguar dari cairan tersebut.

"Eemmpt! Bau banget sih mas!" Wati menutup hidungnya sambil mundur beberapa langkah.

"Wati! Suami lagi kesakitan bukannya nolongin cari obat malah menjauh! Kamu kira aku ini binatang yang menjijikan apa?!" Bentak Jaka kesal.

"I-iya mas." Wati pun segera memanggil bidan kampung. Karena tidak mungkin dia membawa Jaka yang sudah tidak bisa bangun dari tempatnya.

"Bu Bidan. Begitulah ceritanya." Jelas Wati saat memberi alasan kenapa ia tak membawa suaminya langsung ke klinik.

"Astagfirullahhalazim. Iya Embak Wati, saya paham. Baiklah, saya akan mengambil alat-alat saya dulu, lalu pergi ke rumah Embak Wati." Setelah segalanya di

persiapkan, Bidan tersebut meluncur ke rumah Wati.

***

Laela yang sepanjang jalan terus bergidik karena terbayang tubuh Jaka. Sampai juga di rumah.

"Bu! Ibu!" Seru Leala saat melihat Ibunya sedang berbicara dengan Parmi.

"Ada apa kamu, La! Pulang-pulang bikin kaget orang tua saja."

"Bu, A' Jaka, Bu. Dia terkena penyakit aneh! Tubuhnya di penuhi bentolan bernanah persih seperti bisul. Dan parahnya, itu sangat bau Bu. Persis seperti bau bangkai.

Ueak!" Tegas Laela saat menceritakan keadaan Jaka.

"Astaga! Yang bener kamu, Neng. Perasaan kemarin saya ketemu Jaka, dia baik-baik saja." Sela Parmi.

"Awalnya pun saya begitu, Bi. A' Jaka seperti biasanya. Tapi, saat kami akan pergi, tiba-tiba Aa' kejang-kejang, lalu timbullah penyakit aneh itu."

Sulis dan Parmi saling tatap. "Ah, itu mungkin si Jaka suka asal aja kalau masuk hutan. Mungkin dia terkena binantang beracun di hutan, makanya tiba-tiba mengalami hal semacam itu." Imbuh Parmi.

"Ayo, kita ke sana lihat." Ajak Parmi.

"Ah! Kalian saja sana. Aku nggak mau. Takut ketularan, hihh. Iiih! Amit-amit, kalau kulitku yang mulus ini tertular. Hihh! Nggak ah!" Laela segera masuk ke dalam kamarnya dan langsung mandi, sangking takutnya tertular.

"Par! Apa mungkin, itu...." Sulis masih terbayang

sosok suami istri tersebut.

"Walah, Embak! Udah jangan mikir kesana. Si Jaka itu cuma terkena penyakit biasa. Embak Sulis kalau takut, biar saya saja yang kesana melihat kebenaran yang di ucapkan si Eneng, barusan."

"Parmi! Saya ikut sajalah. Biar saya juga tau kondisi persisnya si Jaka."

***

Berita tentang sakitnya Jaka menyebar ke seluruh kampung. Desas-desus warga yang menceritakan kondisi Jaka yang sangat mengerikan dengan kondisi penyakitnya terdengar begitu santer, hingga sampai ke telinga Romli yang saat itu berada di rumah saudaranya yang rumahnya berada jauh dari desanya.

"Ah yang bener, Mang?! Jaka sakit?" Tanya Romli meminta keyakinan.

"Eh, beneran, Romli. Mamang sih Mamang, nggak lihat langsung. Tapi kabarnya begitu."

Romli nampak berpikir. Tanpa sadar tangannya bergetar hingga gelas kopi yang ia pegang tak terasa, jatuh ke lantai.

PRAANG!

"Astagfirullahhalazim, kamu kenapa, Rom?"

Romli tersadar segera berjongkok mengambil pecahan kaca tersebut. Ya Tuhan. Apakah sebentar lagi akan adanya giliranku? Teh Seruni, ku mohon maafkan aku. Aku nggak mau meninggalkan anak istriku secepat ini. Anakku saja masih balita.

Romli tak sadar matanya meneteskan air mata.

"Loh, Rom? Kok kamu nangis? Kenapa? Apa kamu ada masalah?" Tanya si Mamang yang heran dengan sikap Romli yang mendadak tremor dan terlihat linglung, dengan wajahnya yang pucat.

"E-eh...! Nggak, Mang! Saya kayaknya kecapekan saja." Kilah Romli.

"Oh begitu. Ya sudah saya pulang dulu, Rom." Si Mamang bangkit lalu segera pergi.

***

Di rumah Jaka. Dia terus saja merintih tubunya gatal dan kepanasan.

"Wati, gatal sekali, juga panas. Kasih aku obat, Wat. Aku nggak tahan ini."

"Ini udah di olesi salep dari Bu Bidan, Mas. Sabar, entar juga sembuh." Jawab Wati, yang dalam hatinya nggak yakin kalau penyakit suaminya itu akan sembuh. Melihat pecahan bentolan itu terlihat menjadi koreng yang sebagian malah sudah di singgahi belatung. Andai Wati tak teramat mencintai suaminya, mungkin dia lebih baik hengkang dari rumah itu.

"Wati, sakit sekali di area kemaluanku, Wat. Rasanya perih sekali, tolong lihat, Wat. Rasanya perih, panas, dan sakit." Jaka menggoyang-goyangkan pinggulnya berharap mengurangi rasa sakit itu.

Wati terdiam. Ada apa lagi...? Astaga, aku hanya berdoa supaya suamiku sakit biasa saja, agar ia tidak bisa kemana-mana dengan gadis centil itu. Kok malah keadaannya sampai kayak gini sih?!

"I-iya Mas. Aku akan lihat." Ujar Wati yang menyesali akan doa yang ia ucapkan beberapa hari yang lalu.

Dan saat di buka. Mata Wati membulat seolah hendak keluar dari tempatnya. Segera ia tutup kembali sarung yang di kenakan suaminya.

Astaga! Ya Tuhan. Apa itu. Banyak sekali belatung-belatung berukuran sangat besar di sana. Ya Tuhan! Apa sebenarnya yang terjadi.

Wati bergidik ngeri. Pasalnya kemaluan suaminya sudah seperti daging busuk yang sangat di gemari oleh binatang kecil pemakan bangkai tersebut.

"Wati. Kok kamu diam saja sih? Tolong kasih obat, Wat. Perih sekali rasnya, andai tanganku bisa aku gerakkan, aku tidak perlu menyuruhmu." Keluh Jaka yang terdengar suaranya mulai lemah.

Belum sempat Wati mengambil obat, pintu pun terdengar ada yang mengetuk.

"Aku buka pintu dulu ya, Mas." Wati segera bangkit menuju pintu depan.

Saat di buka. "Wati! Maaf baru datang memjenguk. Bagaimana keadaan suamimu?" Tanya Parmi tanpa mengucap salam. Dia datang bersamaan dengan Sulis.

"Eh, Mbak Sulis? Parmi, mari masuk." Sambut Wati. Kedua tamu itu segera masuk dan langsung menuju ke ruang yang di tempati, Jaka.

Wati terlihat tidak senang. Dari dulu nggak berubah tuh sikap si Parmi. Sok banget! Kalau nggak ada Embak Sulis, males banget bukain pintu buat dia. Tatapan sinis Wati pun berubah gembira saat Sulis menyerahkan amplop yang berisi uang.

"Ini, buat berobat suamimu. Bagaimana pun, suamimu sering membantu keluarga kami."

"Duh, repot-repot, Embak Sulis ini. Makasih ya, Embak. Iya, suami saya makin hari makin parah. Saya pun tidak tahu lagi harus membawanya kemana. Bolak-balik saya panggil Bu Bidan, tapi tetap, obat yang di beri Bu Bidan, sama sekali tak berpengaruh." Ucap Wati. Sulis terdiam memyimak kembali kelanjutan cerita Wati, yang menceritakan area sensitive suaminya. Sulis merasa merinding mendengarnya.

"Iya, begitulah, Embak."

Sedang Wati dan Sulis sedang berbagi cerita.

Di dalam, di ruangan Jaka, bersama Parmi.

"Kamu tu kenapa sih, Jak. Kok bisa-bisanya kamu mendapat penyakit aneh seperti ini?! Mana bau banget lagi, Jak. Aku sampe nggak berani mendekat."

"Iya ini, Par. Kayaknya aku di santet sama si Wardah, gadis tetangga desa itu, Par. Waktu itu aku pernah akan memperkaosnya. Tapi keburu ada yang nolong dia. Selang sehari saja, aku langsung begini. Dasar wanita sialan! Bingung aku Par. Rasanya tubuhku perih, panas, dan sakit sekali. Apa lagi di daerah kemaluanku, Par." Keluh Jaka.

"Lagian, kamu ini kok sembarangan gitu sih. Biasanya kamu kebal, dan di takuti sama gadis-gadis desa ini, dan hampir semuanya nurut sama kamu. Tapi, kenapa hanya sama gadis miskin itu kamu malah jadi seperti ini. Kamu tuh, harus menceritakan ini sama keluargamu, Jak. Biar mereka yang menuntut si gadis itu, supaya mencabut santetnya."

"Benar juga apa katamu, Par. Biar aku cerita sama, Wati." Ujar Jaka yang tiba-tiba menggoyangkan pinggulnya karena tiba-tiba kemaluannya terasa ada yang menggigit sangat kuat, hingga menimbulkan rasa sakit yang luar biasa.

"ARRRGGGHHTTT!!!" Jerit Jaka.

Tiba-tiba segerombolan belatung keluar berloncatan dari dalam sarungnya.

"Aaa!!!" Pekik Parmi yang terkejut langsung loncat kebelakang.

Wati dan Sulis segera berlari masuk.

"Ada apa, Par?" Tanya Wati dan Sulis.

namun, tanpa Parmi menjawab, keduanya sudah paham dengan banyaknya belatung yang merayap di sarung hingga berjatuhan di lantain.

"Astaga...!!!" Ucap keduanya.

Bau busuk yang menyengat pun membuat ketiganya segera meninggalkan ruangan itu.

Wati seketika terduduk di lantai. "Aku sangat merasa bersalah dengan keadaan suamiku, Embak. Aku hanya berdoa dia sakit. Tapi bukan sakit yang seperti ini." Wati mencengkeram kain dasternya menangis pilu.

Sulis yang bingung harus apa, tiba-tiba ia melihat sosok Yusuf bersama Istrinya kembali yang berada di ujung kamar yang di tempati Jaka.

"Pa-Parmi! A-ayo kita pulang, Par." Ucapnya terdengar

gugup.

Kepala Yusuf dan Seruni seketika menoleh dan menatap Sulis tajam, seperti hendak menerkam Sulis.

Sulis sontak terkejut dan langsung panik.

"Je-jangan! Pa-Parmi! Ayo cepat pulang!" Seru Sulis saat melihat mata kedua pasangan itu tiba-tiba keluar dari tempatnya menambah ketakutan Sulis menjadi-jadi.

"Aaakkhhh!" Teriak Sulis langsung keluar dari rumah Wati.

Parmi yang bingung hanya bisa mengikuti kemana majikannya pergi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!