NovelToon NovelToon
Sentuhan Hangat Sahabat Putriku

Sentuhan Hangat Sahabat Putriku

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Duda
Popularitas:45.3k
Nilai: 5
Nama Author: Escendol94

Dewangga tak menyangka di usianya yang menginjak 42 tahun, dia harus menikahi sahabat putrinya karena kesalahan pahaman. Pernikahan mereka pun harus dirahasiakan dari sang putri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Escendol94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26~ Pembahasan yang selalu sama

Dirga menoleh ke arah Dewangga dengan kening berkerut. Suara ombak yang berdebur keras menelan sebagian ucapan kakaknya barusan.

"Kamu tadi apa?" tanyanya, sedikit meninggikan suara.

Dewangga menoleh pelan. Tatapannya jatuh pada wajah Dirga, diam lebih lama dari biasanya, seolah membaca sesuatu yang tak mampu terucap. Lalu, ia menepuk pundak Dirga, pelan tapi terasa.

"Menangislah... kalau itu bisa membuatmu lebih baik."

Dirga menepis tangan itu dengan kasar. "Aku tak selemah itu!" decaknya, nada suaranya meninggi, tapi goyah.

Senyum miring terukir di bibir Dewangga. "Matamu tidak bisa bohong," ucapnya tenang. "Menangis tidak pernah membuat seseorang jadi pecundang."

"Sialan...."

Dirga mengusap cepat sudut mata. Ia mendengkus pelan, mencoba menahan sesuatu yang sejak tadi menekan dadanya. Namun sia-sia.

Beberapa detik ia terdiam, menatap gelapnya laut. Lalu... perlahan tubuhnya condong. Ia merebahkan kepala ke pundak Dewangga. Tanpa kata. Hanya suara ombak yang terus bergemuruh, seolah ikut mengerti rasa yang tak mampu ia ucapkan.

Dewangga menghela napas pelan. Syukurlah ia urung mengatakan yang sebenarnya tentang dirinya dan Riri. Belum sekarang. Ia belum siap melihat Dirga hancur lebih jauh.

"Melompat dari kapal bukan pilihan yang tepat," ucapnya rendah, nyaris tertelan suara ombak.

Dirga yang semula membungkuk langsung menegakkan tubuh. "Aku tidak sebodoh itu!" ketusnya, tersinggung.

Dewangga melirik sekilas. "Aku pikir rencana itu sudah kau siapkan."

"Sialan!" Dirga mendengkus keras, menatap kakaknya tajam. "Kau pikir aku ini apa? Mau mati sampai segitunya?"

Tak ada jawaban. Dewangga hanya diam, menatap laut lepas.

Sikap itu justru membuat dada Dirga makin panas.

"Kau ini...." Dirga mengusap wajahnya kasar. "Sekali saja Dewangga. Sekali saja bicara yang benar. Bukan nyinyir begini."

Hening sejenak.

"Aku tidak pandai menghibur," balas Dewangga akhirnya, datar. Namun, kali ini suaranya lebih pelan. "Tapi aku tidak akan membiarkanmu melakukan hal bodoh."

Ada jeda sejenak. Sebelum Dewangga kembali bicara.

"Meskipun terkadang kau merepotkan, tapi kau tetap adikku. Mana mungkin aku ingin kau mati?" Dewangga kembali memeluk pundak Dirga.

Dirga berdecak, lalu menepis tangan Dewangga dari bahunya. Ia kembali menatap lautan di depan.

"Bagaimana denganmu?" melirik sekilas. "Nura sangat berharap kau menikah dengan mamanya."

Dewangga menghela napas pelan. Tatapannya lurus ke depan, tapi pikirannya jelas tidak setenang itu.

"Itu tidak akan terjadi."

Jawaban singkat itu membuat Dirga mengernyit. "Apa kau tidak takut membuat Nura kecewa?"

Ada jeda. Cukup lama hingga hanya suara ombak yang terdengar.

"Kecewa sebentar tidak ada salahnya," ucap Dewangga akhirnya. "Dia harus tahu... tidak semua yang dia inginkan bisa dia miliki."

Dirga terdiam, kali ini benar-benar menatap kakaknya, mencoba membaca sesuatu yang tidak pernah diucapkan. Ia menghela napas pelan, lalu kembali menatap lautan di depan.

"Aku tidak tega melihatnya sedih." Dirga menghela napas pendek. "Kenapa kau tidak mencobanya?"

Dewangga terdiam sejenak. Tatapannya lurus ke depan, seolah menimbang sesuatu. "Aku sudah ada wanita yang aku sukai," ucapnya tenang.

Dirga langsung menoleh cepat. Keningnya berkerut dalam, jelas tak percaya. "Apa aku tidak salah dengar?"

Dewangga melirik sekilas, ekspresinya tetap datar. "Aku rasa telingamu masih berfungsi dengan baik."

"Sialan...." Dirga mengusap wajahnya kasar, lalu menatap kakaknya lagi. "Jadi benar?"

Tak ada jawaban langsung. Dewangga hanya menghela napas pelan, tapi itu sudah cukup menjadi jawaban.

"Siapa wanita itu?" tanya Dirga, kali ini dengan wajah serius. Ia benar-benar penasaran siapa wanita yang mampu merobohkan dinding es kakaknya. "Apa aku mengenalnya?"

"Sebenarnya aku tidak ingin pamer pada orang yang sedang patah hati," ucapnya santai. "Tapi... aku sangat mencintainya."

Dirga membeku sepersekian detik sebelum akhirnya mendengkus kesal.

. "Haih! Kau memang kakak sialan!" Ia menunjuk wajah Dewangga tanpa ragu. "Di saat adikmu patah hati, kau malah pamer begini? kau-"

Dewangga menurunkan tangan Dirga perlahan dari depan wajahnya. Tatapannya tetap tenang, nyaris tak terganggu.

"Tidak semua orang harus merasakan seperti yang kau rasakan." Ia bangkit berdiri, lalu menepuk pundak Dirga. "Ingat pesanku tadi. Jangan melompat dari atas kapal."

Tanpa menunggu jawaban, Dewangga berbalik dan melangkah pergi.

Dirga meninju udara di depannya. "Kakak sialan! Sedikit saja berempati tidak bisa, ya?!"

Tak ada balasan. Hanya lambaian tangan tanpa menoleh sebelum Dewangga benar-benar menghilang di balik pintu.

Keheningan kembali mengambil alih.

Dirga menghela napas panjang. Tatapannya kembali jatuh ke lautan gelap dihadapannya. Sesal itu datang lagi, tapi ada rasa bahagia untuk kakaknya.

*,*

"Mas," panggil Sarah saat berpapasan dengan Dewangga. "Bisa kita bicara sebentar?"

Dewangga menatap datar. "Kalau tentang keinginan Nura, lupakan."

Ia hendak melangkah pergi, tapi Sarah lebih dulu menahan lengannya.

"Ini bukan soal Nura."

Dewangga menoleh perlahan, menatap tangan Sarah yang masih menggenggam lengannya, lalu beralih ke wajah wanita itu. "Katakan."

"Bisa kita cari tempat yang lebih nyaman?" pinta Sarah pelan.

Dewangga terdiam sejenak, seolah mempertimbangkan. Rahangnya mengeras tipis, tapi akhirnya ia berbalik dan berjalan menuju deck luar. Sarah mengikuti di belakangnya.

Angin laut menyapu pelan saat mereka berdiri berdampingan, namun jarak di antara keduanya tetap terasa.

Sarah menoleh, menatap Dewangga dengan senyum kecil yang samar. "Aku kira... dengan Nura meminta kita bersatu kamu akan mengabulkannya, Mas," ucapnya pelan. "Ternyata aku salah."

Dewangga tidak langsung menjawab.

"Apa kamu masih marah sama aku?"

Dewangga sedikit kesal. Rahangnya mengeras tipis. "Aku tidak pernah marah denganmu, Sarah. Dulu begitu, sekarang pun sama."

Sarah mengerutkan kening. Tatapannya berubah, ada sesuatu yang mulai retak di sana.

"Kalau begitu... kenapa sikapmu sedingin ini padaku, Mas?" Suaranya melemah. "Apa kamu lupa malam itu? Malam di mana kita menyatu?"

Dewangga memejamkan mata sejenak, lalu menghela napas panjang, seolah lelah dengan pembasahan yang terus berulang.

"Mau sampai kapan kamu mengungkit itu, Sarah?"

"Aku hanya ingin tahu," balas Sarah cepat, nyaris mendesak. "Apa dulu kamu tidak punya perasaan apa pun padaku?"

Dewangga menatapnya, bukan marah, bukan lembut, hanya lelah.

 "Tidak."

Jawaban itu jatuh begitu saja. Pendek. Tegas. Tanpa ruang untuk disalahartikan.

"Bohong!" sanggah Sarah, suaranya bergetar. "Kalau kamu tidak punya rasa, kenapa dulu kamu memaksaku, Mas?"

Dewangga meraup wajahnya kasar, napasnya mulai tak teratur. Saat menatap Sarah lagi, sorot matanya tajam.

"Berapa kali harus aku bilang? Jangan pernah mengungkit itu lagi, Sarah!" geramnya.

"Aku hanya ingin tahu!" balas Sarah, tak kalah keras. "Apa itu salah?!"

"Kamu tahu aku waktu itu mabuk!" potong Dewangga, menakan setiap kata. "Itu bukan sesuatu yang aku rencanakan!"

Sarah tertawa pelan. Bukan karena lucu--lebih seperti menahan sesuatu yang nyaris pecah.

"Baik," ucapnya lirih, tapi tajam. "Kalau begitu... kenapa kamu datang memohon untuk menikahiku?"

Pertanyaan itu membuat Dewangga terdiam sejenak. Rahangnya mengeras. "Itu tanggung jawab," jawaban akhirnya. "Aku tidak akan lari dari apa yang sudah terjadi. Tapi jangan salah artikan itu sebagai perasaan."

Sarah menggeleng pelan, senyum pahit tersungging di bibirnya. "Kamu bohong, Mas. Kamu masih marah... karena aku memilih pergi. Memilih masa depanku daripada menikah denganmu."

Dewangga menghela napas panjang, kali ini benar-benar terdengar lelah. "Terserah apa yang kamu pikirkan," ucapnya datar. "Aku sudah tidak peduli." Ia berbalik dan melangkah pergi. Baru beberapa langkah, langkahnya terhenti --

"Bagaimana kalau Nura tahu?" Suara Sarah berubah dingin. "Dia lahir dari sesuatu yang sangat memalukan? Orang tuanya bahkan tidak pernah benar-benar bersama. Dia ada-"

Langkah Dewangga terhenti. Perlahan, ia berbalik. Sorot matanya berubah--gelap, penuh amarah yang selama ini terkunci rapat.

"Selesaikan kalimatmu, Sarah," ucapnya pelan, tapi berbahaya.

Sarah menatap lurus, seolah menantang. "Dia ada karena kesalahanmu! Karena kau meleceh-"

Dalam sekejap, Dewangga sudah berdiri tepat di depan Sarah. Tangannya mencengkram lengan wanita itu kuat --cukup untuk membuat Sarah meringis.

.

"Jangan memancing amarahku," desisnya, suaranya rendah namun bergetar.

Kalimat itu bukan sekedar peringatan -itu luka yang belum pernah sembuh.

Bertahun-tahun ia mencoba menguburnya. Namun setiap kali melihat senyum Nura, rasa bersalah itu selalu kembali... diam-diam menghantam.

"Mas... sakit...," lirih Sarah, berusaha melepaskan diri.

Dewangga menatapnya tajam, lalu mendorong menjauh.

"Jangan pernah ucapkan itu lagi," tegasnya. "Atau aku tidak akan tinggal diam."

Sarah meringis pelan, tangannya refleks memegang lengannya yang memerah. Napasnya masih tidak stabil, tapi sorot matanya tetap keras.

Dewangga berbalik, hendak pergi. Namun, sebelum melangkah jauh, ia berhenti --tanpa menoleh. "Ingat ini, Sarah," ucapnya dingin. "Kamu yang memilih pergi."

Ada jeda.

"Kamu yang meninggalkan anakmu." Kali ini ia benar-benar pergi.

Sarah berdiri terpaku. Rahangnya mengeras, matanya menyipit menatap punggung Dewangga yang menjauh.

"Aku akan mendapatkanmu kembali, Mas," gumamnya pelan, penuh tekad. "Dengan cara apa pun."

*,*

1
NN
knp lama up thor
Kp kandang wo Suka wo
👍
D_wiwied
part yg ditunggu2, sayangnya krg hott thor 😁🤭
D_wiwied: masa sih kaaak, pdhl kalo bikin part dewa nyosor riri feel nya udah dapet lho, menggebu gebu gitu tp giliran pas mp koq anyep 🤭😁
total 3 replies
Sri S
ahirnya terjadi jg mlm pertamanya thor
MbakDipa: hihii, iya kak
total 1 replies
sundusiyah86
lanjut Thor lanjut....semoga cepetan hamil...
MbakDipa: siap kak
total 1 replies
💞Putri Chania💞
akhirnya up juga Thor...lama banget nunggu bab baru nya... semangat Thor..
MbakDipa: makasih kwk🙏
total 1 replies
NN
lanjut
Sri S: suka sekali
total 1 replies
Nifatul Masruro Hikari Masaru
ya susul sana. biar bebas berduaannya
💞Putri Chania💞
akhirnya up juga yg d tunggu"
NN
jgn lama² thor
MbakDipa: maaf ya kak. kemarin ada masalah sama mataku jadi rehat sembari pengobatan 🙏😄
total 2 replies
Sri Rahayu
lanjut thor
MbakDipa: siap kak
total 1 replies
NN
lanjut
💞Putri Chania💞
kepergok Dirga ya...baguslah..
💞Putri Chania💞
curiga euui sama Sarah...ga mungkin sama Dirga kan Thor..??
MbakDipa: hehee enggak kak😁
total 1 replies
💞Putri Chania💞
lanjut up nya thor
NN
lanjut thor
MbakDipa: makasih kak sudah mampir 🤭
total 1 replies
💞Putri Chania💞
wow.. pengakuan yg buat Dirga jantungan..😄
Reni Anjarwani
doubel up
MbakDipa: makasih kak sudah mampir 🤭
total 1 replies
Bunga
good
Karo Karo
sepertinya bukan anaknya deh 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!