Dikhianati oleh keluarga yang seharusnya menjadi tempat pulang, Arunika kehilangan segalanya dalam satu malam. Difitnah sebagai anak pembawa sial, diusir dari rumah, dan dirampas hak warisnya demi ambisi mereka. Tak ada yang percaya pada tangisnya, bahkan pria yang pernah ia cintai pun memilih berpaling.
Saat hidupnya berada di titik terendah, takdir mempertemukannya dengan Kael Adrian, seorang CEO muda yang dingin, berkuasa, dan ditakuti banyak orang. Di balik sikapnya yang sulit ditebak, Kael justru menjadi satu-satunya orang yang berdiri di sisi Arunika ketika seluruh dunia meninggalkannya.
Namun, cinta mereka tidak datang tanpa harga.
Rahasia besar tentang kelahiran Arunika mulai terungkap. Pengkhianatan keluarganya ternyata hanyalah awal dari konspirasi yang telah disusun selama puluhan tahun. Orang-orang yang dulu membuangnya kini ingin merebutnya kembali, bukan karena penyesalan, melainkan karena sebuah warisan yang mampu mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Winna Yun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab - 14 Perburuan Tanpa Batas
Alarm darurat terus meraung.
Lampu koridor berubah menjadi merah, berkedip cepat, membuat seluruh gedung terasa seperti berada di tengah keadaan perang.
Arunika berdiri membeku di tengah kamar, Tatapannya jatuh pada liontin phoenix di lehernya. Cahaya merah yang keluar dari benda itu semakin terang.
Berdenyut.
Sekali.
Dua kali.
Lalu—
KRAK!
Arunika tersentak.
"Pak Adrian?"
Tidak ada jawaban, Ia segera berjalan menuju pintu. Namun sebelum tangannya sempat menyentuh gagang—
BRAK!
Sebuah suara benturan keras terdengar dari luar, Arunika mundur beberapa langkah. Jantungnya berdegup kencang.
"Siapa?"
Tidak ada jawaban, Kemudian terdengar suara langkah.
Bukan satu orang.
Beberapa.
Arunika langsung memahami sesuatu, Mereka sudah masuk. Tangannya refleks menggenggam liontin phoenix. Tiba-tiba suara Raka terdengar melalui pengeras suara kecil di sudut kamar.
"nona Arunika! Jangan keluar dari kamar!"
Arunika menoleh.
"Raka?"
"Jangan buka pintunya! Tim Delta sedang menuju ke sana!"
Namun suara Raka terdengar semakin terputus-putus.
"Jaringan komunikasi mereka berhasil menembus sistem keamanan lantai tiga. Kami sedang—"
Suara itu mendadak hilang, Arunika menahan napas. Kemudian
DUK!
Sesuatu menghantam pintu, Arunika tersentak mundur. Sekali lagi.
DUK!
Retakan mulai terlihat pada bagian pintu.
"Ya Tuhan..."
Arunika berbalik dan mencari jalan keluar lain, Jendela. Tetapi begitu ia mendekatinya, terdengar suara dari belakang.
BRAK!
Pintu kamar jebol.
Arunika berteriak tertahan, Beberapa sosok berpakaian hitam memasuki ruangan. Wajah mereka tertutup.
Gerakan mereka cepat dan terkoordinasi, Arunika mundur.
"Jangan mendekat!"
Salah satu dari mereka mengangkat tangan.
"Maaf, Nona."
Arunika langsung berbalik.
Ia berusaha berlari menuju jendela, Namun seseorang sudah lebih dulu memotong jalurnya. Arunika berhenti.
Matanya bergerak cepat.
Kiri.
Kanan.
Tidak ada jalan.
"Tolong..."
Ia mundur, Salah satu pria melangkah maju.
"Anda harus ikut dengan kami."
"Aku tidak mau!"
Arunika berusaha menghindar.
Tetapi dalam hitungan detik, pandangannya mulai kabur setelah sebuah kain didekatkan ke wajahnya.
Arunika berusaha menahan napas.
Tangannya mencengkeram liontin phoenix.
"Adrian..."
Itulah kata terakhir yang berhasil keluar dari bibirnya.
Tubuhnya melemah.
Pandangan Arunika perlahan menggelap.
Dan sebelum kesadarannya benar-benar hilang, liontin phoenix di tangannya memancarkan cahaya merah yang sangat terang.
Di lorong lantai bawah—
Adrian berdiri tanpa bergerak.
Alarm terus meraung.
Raka akhirnya berhasil tersambung kembali.
"Direktur!"
"Arunika."
Bukan pertanyaan.
Sebuah perintah.
Raka terdiam sesaat.
Adrian menatap layar keamanan yang berkedip.
"Di mana Arunika?"
"Tim Delta sedang menuju kamarnya."
"Jawab."
Nada suara Adrian berubah.
Raka menelan ludah.
"Kontak dengan Tim Delta terputus."
Adrian tidak mengatakan apa-apa.
"Dan kamera lantai tiga mati selama empat puluh tujuh detik."
Hening.
"Empat puluh tujuh detik," ulang Adrian.
"Ya."
"Dan kalian baru memberitahuku sekarang?"
"Direktur, kami sedang berusaha—"
"Berhenti."
Satu kata.
Namun seluruh anggota yang berada di ruang kontrol mendadak diam. Adrian mengangkat wajah, Tatapannya tidak lagi memiliki kelembutan seperti beberapa menit sebelumnya.
Tidak ada Adrian yang baru saja berbicara tentang perasaan, Tidak ada pria yang mengatakan bahwa ia bersedia menunggu.
Yang berdiri di sana sekarang adalah direktur yang selama bertahun-tahun membuat banyak orang memilih mundur bahkan sebelum berhadapan dengannya.
"Putar rekaman kamera sebelum sistem mati."
"Sedang kami lakukan."
"Dan buka semua akses keluar."
"Sudah."
"Jangan."
Raka terdiam.
Adrian melanjutkan dengan suara sangat tenang.
"Biarkan satu jalur terbuka."
"Untuk apa?"
"Supaya mereka merasa masih punya jalan keluar."
Raka langsung memahami maksudnya.
Wajahnya berubah.
"Direktur..."
Adrian berjalan menuju tangga.
"Kalau mereka ingin membawa Arunika keluar dari gedung ini..."
Ia berhenti.
Tatapannya mengarah ke lorong gelap di depannya.
"...biarkan mereka mencoba."
Lima menit kemudian.
Sebuah kendaraan hitam melaju meninggalkan area belakang gedung.
Di dalamnya, Arunika terbaring dalam keadaan tidak sadar.
Salah satu pria memeriksa liontin phoenix yang masih menggantung di lehernya.
"Lambangnya aktif."
Pria di kursi depan menoleh.
"Bagus."
"Haruskah kita melepasnya?"
"Jangan."
"Kenapa?"
Pria itu tersenyum tipis.
"Karena justru itu yang akan membawa Adrian kepada kita."
"Raka."
"Ya."
"Berapa kendaraan?"
"Tiga."
"Yang membawa Arunika?"
"Belum pasti."
Adrian tersenyum tipis, Senyum yang sama sekali tidak memiliki kehangatan.
"Mereka terlalu percaya diri."
Ia menyerahkan tablet kepada Raka.
"Putuskan semua jalur komunikasi mereka."
"Direktur, kalau kita memutus komunikasi, kita juga kehilangan posisi mereka."
Adrian menoleh.
"Siapa bilang aku ingin mereka tahu bahwa kita mengikuti?"
Raka terdiam.
Adrian mengambil senjata komunikasi dari meja.
"Hubungi Unit Bayangan."
"Semua?"
"Semua."
"Termasuk unit yang sudah dinonaktifkan?"
Adrian menatapnya.
"Terutama mereka."
Raka menarik napas.
"Dimengerti."
Adrian berjalan keluar, Namun langkahnya berhenti ketika ia melihat sesuatu di lantai.
Sebuah benda kecil.
Liontin phoenix cadangan.
Milik Arunika.
Entah bagaimana benda itu terlepas dari pakaian Arunika saat para penculik membawanya.
Adrian mengambilnya, Jemarinya menggenggam benda tersebut. Untuk beberapa detik, wajahnya benar-benar kosong.
Kemudian
KREK.
Liontin itu nyaris remuk dalam genggamannya.
"Berani sekali..."
Suaranya sangat pelan.
Raka yang berdiri beberapa langkah di belakangnya bahkan tidak berani menyela.
Adrian mengangkat wajah.
"Raka."
"Ya."
"Mulai malam ini, hentikan semua aturan lama."
Raka membeku.
"Direktur?"
"Jangan beri mereka peringatan."
"Jangan beri mereka kesempatan bernegosiasi."
"Dan jangan biarkan satu pun dari mereka menyentuh Arunika lagi."
Tatapan Adrian berubah menjadi dingin.
"Siapa pun yang terlibat..."
Ia berhenti sejenak.
"...hapus semua akses mereka."
Raka mengangguk.
Namun Adrian belum selesai.
"Kalau mereka melawan?"
Raka terdiam.l, Adrian menatap lurus ke arahnya.
"Jangan kejar mereka untuk menangkap."
"Kejar mereka untuk menghentikan."
Raka mengerti, Malam ini bukan operasi penyelamatan biasa. Ini sudah menjadi perburuan.
Sementara itu, kendaraan yang membawa Arunika berhenti di sebuah gudang tua.
Pintu belakang dibuka, Arunika perlahan tersadar, Kepalanya terasa berat Ia mencoba bergerak.Tangannya tertahan.
Arunika mengangkat wajah, Beberapa pria berdiri di depannya. Salah satu dari mereka berjongkok.
"Sudah sadar?"
Arunika tidak menjawab, Matanya bergerak mengamati sekitar.
Gudang.
Pintu besi.
Empat orang.
Satu kamera.
Dua pintu keluar.
Dan—
liontin phoenix masih berada di lehernya.
Arunika menggenggamnya.
Pria itu tersenyum.
"Jangan khawatir."
"Kami tidak akan menyakitimu."
Arunika menatapnya tajam.
"Kalau begitu lepaskan aku."
Pria itu tertawa kecil.
"Sayangnya tidak bisa."
"Siapa kalian?"
"Orang-orang yang ingin mengetahui kebenaran tentang Phoenix."
Arunika terdiam.
"Dan kami tahu satu-satunya cara untuk memancing mereka keluar adalah melalui dirimu."
"Mereka?"
Pria itu mendekat.
"Adrian."
Nama itu membuat dada Arunika sesak, Bukan karena takut. Melainkan karena satu pikiran langsung muncul di kepalanya.
Adrian akan datang, Namun justru itulah yang membuat Arunika semakin khawatir.
"Jangan panggil dia."
Pria itu mengerutkan dahi.
"Apa?"
"Jangan panggil Adrian."
Untuk pertama kalinya, ketakutan terlihat jelas di mata Arunika.
"Bukan karena dia tidak akan datang."
Arunika menelan ludah.
"Justru karena dia pasti datang."