NovelToon NovelToon
Kebangkitan Sang Immortal

Kebangkitan Sang Immortal

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: BRAXX

Di Kerajaan Awan, Kaisar muda bernama Jing Yan difitnah dan dibunuh secara keji oleh Tang Long, seorang Kultivator Pedang dari Sekte Pedang Roh Biru, dan Fang Zhelan, putri Perdana Menteri yang berkhianat demi merebut takhta. Keluarga Fang lalu mengambil alih kerajaan, mencoreng nama baik Jing Yan selamanya.

Namun, kematian bukanlah akhir bagi Jing Yan. Jiwanya ditarik ke dalam Peti Mati Perunggu Kuno milik seorang Pencipta Immortal yang telah mati. Dengan menggunakan sisa kulit sang Immortal, Jing Yan bereinkarnasi ke dalam tubuh baru yang sempurna. Ia ditemani oleh dua kesadaran dalam satu makhluk kecil bernama Bintang Biru dan Bulan Merah—yang merupakan jelmaan dari peti mati tersebut.

Jing Yan mengetahui bahwa ia mewarisi kekuatan Pencipta Immortal. Untuk menjadi kuat, ia harus mengumpulkan Benih Ciptaan, yaitu fragmen kekuatan sang Immortal yang tersebar di seluruh dunia. Tujuan utamanya: membalas dendam kepada Tang Long dan Fang Zhelan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 - Kenapa Kau Membunuhnya??

Tang Chen mencengkeram dagu gadis muda itu, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum penuh ejekan dan kenakalan. "Sebaiknya kau jangan bergerak, atau akan kubunuh kau di tempat!"

Gadis itu panik sambil memeluk dadanya dengan erat untuk melindungi diri.

"Sekte Pedang Roh Biru adalah tempat para Immortal, bukan taman bermainmu!" balasnya dengan gigi terkatup menahan amarah.

Tang Chen tertawa terbahak-bahak hingga suaranya bergema di sekeliling mereka.

Tiba-tiba ia menampar gadis itu.

Tubuh gadis itu langsung terjatuh ke tanah dengan keras. Darah mengalir dari sudut bibirnya, dan ia hampir kehilangan kesadaran.

"Saat kakakku menjadi Pemimpin Sekte termuda dalam sejarah Sekte Pedang Roh Biru, tempat ini akan menjadi milikku!" kata Tang Chen dengan bangga.

Tepat ketika ia hendak melanjutkan perbuatannya terhadap gadis itu, sebuah suara dingin terdengar dari dalam hutan.

"Lepaskan dia."

"Siapa itu!?" seru Tang Chen dengan terkejut. Ia segera berbalik mencari sumber suara itu.

Tiba-tiba, seorang pemuda berjubah putih muncul di hadapannya.

"Oh, bukankah ini si wajah cantik?" kata Tang Chen sambil tertawa mengejek. Awalnya ia sempat waspada, tetapi setelah melihat siapa yang datang, ia langsung menjadi santai. "Enyahlah dari sini! Kau mengganggu kesenanganku!" katanya dengan dingin.

"Jangan pergi! Tolong selamatkan aku!" teriak gadis muda itu. Ia buru-buru merapikan pakaiannya untuk menutupi tubuhnya yang seputih salju, lalu menatap pemuda berjubah putih itu dengan penuh harap.

"Baik. Jangan khawatir." Jing Yan mengangguk. Ia melangkah tenang menuju Tang Chen.

Tang Chen tertawa hingga membungkuk. "Kau, sampah yang bahkan belum mencapai Alam Mata Air Naga, berani menggonggong di hadapanku?"

"Dia bahkan belum mencapai Alam Mata Air Naga?" gumam gadis itu dengan putus asa sambil menatap Jing Yan.

"Kalau begitu, akan kubiarkan kau merasakan sendiri betapa kejamnya jalan seorang Immortal! Bersiaplah membayar dengan darahmu sendiri!" Tang Chen menyeringai.

Clang!

Di tangan kanannya, Jiwa Pedang emas memanjang keluar dari telapak tangannya. Saat Jiwa Pedang itu muncul, udara di sekeliling langsung dipenuhi aura ribuan pedang.

Sebuah Jiwa Pedang Bintang Emas tingkat Meteor yang sangat langka!

Di permukaan Jiwa Pedang Bintang Emas itu terdapat lapisan energi emas yang sangat tebal. Itulah Lapisan Aura Pedang yang melindungi Jiwa Pedang sekaligus meningkatkan kekerasannya.

"Orang lemah, apa kau pernah melihat Transformasi Jiwa Pedang?" ejek Tang Chen. Sambil tertawa, Jiwa Pedang Bintang Emas sepanjang tiga inci itu tiba-tiba diselimuti kabut, lalu mulai memanjang!

Jiwa Pedang sepanjang tiga inci itu berubah menjadi pedang panjang emas sepanjang tiga kaki. Inilah Transformasi Jiwa Pedang! Setelah mencapai Alam Mata Air Naga dan mampu mengendalikan kekuatan, Jiwa Pedang dapat berubah menjadi tiga bentuk.

Pedang Terbang — Bentuk paling kecil, mampu terbang ribuan mil untuk membunuh musuh dari kejauhan.

Pedang Genggam — Panjangnya tiga kaki dan digunakan di tangan untuk pertarungan jarak dekat.

Pedang Penguasa — Bentuk terbesar yang dapat ditunggangi untuk terbang menembus langit dan bumi.

Saat ini, Tang Chen telah mengubah Jiwa Pedangnya menjadi bentuk Pedang Genggam untuk bertempur.

Jiwa Pedang biru milik Jing Yan yang hanya sepanjang tiga inci tidak dapat bertransformasi dan panjangnya bahkan hanya sepersepuluh dari Jiwa Pedang Bintang Emas. Bagaimana mungkin keduanya bisa dibandingkan?

"Ingin menjadi pahlawan yang menyelamatkan gadis cantik? Bagus! Akan kupotong bibirmu, kupotong lidahmu, lalu kuberi kau kursi paling depan untuk menyaksikan pertunjukan terbaik!" Tang Chen menjilat bibirnya sambil menoleh ke arah gadis itu dengan senyum yang sangat menyeramkan.

Whoosh!

Tiba-tiba tubuh Jing Yan melesat maju bagai bayangan. Di tangannya, Jiwa Pedang biru sepanjang tiga inci memancarkan niat membunuh yang mengerikan!

"Berani sekali kau menyerang lebih dulu!?" teriak Tang Chen.

Dengan marah ia segera mengangkat pedangnya untuk menangkis!

Ding!

Suara benturan yang tajam langsung menggema.

"Ah!"

Wajah Tang Chen langsung berubah karena kesakitan. Ia menjerit sambil terhuyung dan jatuh ke tanah. Tangan kanannya pecah hingga darah muncrat ke segala arah!

Jiwa Pedang Bintang Emas yang semula tampak begitu kokoh kini dipenuhi beberapa retakan berwarna biru. Aliran kabut biru merembes masuk ke dalam retakan-retakan itu, membuat Jiwa Pedang Bintang Emas mengeluarkan suara retak yang terus-menerus.

Pfft!

Akibat benturan yang dahsyat, Tang Chen memuntahkan seteguk darah ke atas Jiwa Pedangnya. Yang mengejutkan, retakan-retakan biru itu justru menyerap darah tersebut.

"Jiwa Pedangku... hancur!" Ia sama sekali tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

Retakan yang kini muncul bukan hanya terdapat pada Jiwa Pedang Tang Chen, tetapi juga telah merambat hingga ke jiwanya sendiri. Jiwa yang retak akan membuat seseorang menjadi lemah dan kehilangan arah. Sejak dahulu telah ada pepatah yang mengatakan, begitu Jiwa Pedang hancur, nyawa pemiliknya pun berada di ambang kematian.

"Ini... tidak mungkin..." gumam Tang Chen dengan penuh ketidakpercayaan. Saat ia mengangkat kepalanya, ia melihat seorang pemuda berjubah putih menggenggam Jiwa Pedang biru sepanjang tiga inci yang tampak biasa saja, sedang menatapnya dengan ekspresi yang sulit ditebak.

"Tang Chen," ujar Jing Yan sambil menyunggingkan senyum tipis, "sepertinya Jiwa Pedangmu tidak sehebat yang kau bayangkan."

"K-kau..." Melihat pedang emas kebanggaannya yang kini dipenuhi retakan, Tang Chen merasa seolah-olah jiwanya sendiri sedang tercabik-cabik.

"D-dia begitu kuat..." Gadis muda itu menatap Jing Yan dengan keterkejutan yang luar biasa.

Suara Jing Yan terdengar begitu dingin saat ia berkata, "Di jalan yang kita tempuh ini, begitu Jiwa Pedang telah dikeluarkan, pertarungan hanya akan berakhir dengan kematian. Entah kau menang atau kau mati. Sayangnya bagimu, hari ini akulah pemenangnya."

Kata-kata Jing Yan membuat wajah Tang Chen semakin dipenuhi penderitaan. "Beraninya kau merusak Jiwa Pedangku? Kau tahu tidak siapa kakakku? Tang Long adalah Raja Pedang dari Sekte Pedang Roh Biru! Jenius nomor satu sekte sekaligus calon Pemimpin Sekte di masa depan!"

"Tang Long? Aku mengenalnya." Jing Yan tersenyum tipis. Ia langsung mencengkeram rambut Tang Chen dan mengangkatnya hingga pria itu menjerit kesakitan, sementara darah terus menetes ke tanah.

Tang Chen berkata dengan terbata-bata, "Kalau kau mengenalnya... kenapa kau masih berani menyentuhku?"

"Justru adik Tang Long-lah yang ingin kubunuh." Jing Yan tersenyum dingin.

Pada detik berikutnya, ia langsung mengayunkan pedangnya. Suara lirih terdengar ketika Pedang Pengubur Langit, menebas leher Tang Chen hingga putus dalam satu tebasan.

Dengan wajah penuh ketidakpercayaan, kepala Tang Chen terpisah dari tubuhnya. Tubuh tanpa kepalanya roboh ke tanah, sementara darah mengalir disekitar. Kepalanya sendiri masih berada dalam genggaman Jing Yan.

"Ah... kau membunuhnya...!" Gadis muda itu berseru ketakutan. Wajahnya langsung memucat.

"Pencuri makanan sudah mati! Sekarang giliran bayi bergerak!" teriak Bulan Merah dengan penuh semangat. Sejak tadi matanya terus tertuju pada gadis muda itu.

Jing Yan bahkan tidak mengedipkan mata. Ia langsung mendorong makhluk kecil itu kembali ke dalam jubahnya. Kemudian ia berjalan mendekati gadis itu dan bertanya dengan lembut, "Apa kau baik-baik saja?"

"A-aku baik-baik saja..." jawab gadis itu sambil masih gemetar menatap mayat Tang Chen. "Kenapa kau membunuhnya?"

"Karena hanya ada dua pilihan, dia atau kita. Kalau tadi aku tidak membunuhnya, setelah kita masuk ke Sekte Pedang Roh Biru, dia pasti akan membuat nasib kita jauh lebih mengenaskan," jawab Jing Yan.

"Tapi... dia adalah adik Raja Pedang..." kata gadis muda itu dengan wajah yang penuh keraguan.

"Yah... kalau kau tidak mengatakan apa-apa, dan aku juga tidak mengatakan apa-apa, memangnya siapa yang akan tahu?" ujar Jing Yan dengan tenang.

"Aku mengerti... Baik!" Gadis itu mengangguk pelan sambil mengatupkan bibirnya.

“Lagipula, aku baru saja menyelamatkanmu. Bukankah setidaknya aku pantas mendapat ucapan terima kasih?” tanya Jing Yan sambil tersenyum lembut.

"Ah!" Gadis itu baru tersadar. Ia memaksakan sebuah senyum kecil, lalu berkata, "Terima kasih!"

"Aku akan mengurus mayatnya dulu," kata Jing Yan.

"B-baik!" Gadis itu mengangguk.

Jing Yan meraih mayat Tang Chen lalu menyeretnya semakin jauh ke dalam hutan. Tak lama kemudian, sosoknya benar-benar menghilang dari pandangan gadis itu.

Setelah itu, wajah gadis tersebut dipenuhi rasa mencibir. "Yang membunuh dia adalah kau, bukan aku! Kenapa aku harus merahasiakan perbuatanmu lalu ikut terseret ke dalam masalah ini!" Ia menggertakkan giginya sambil menahan rasa sakit akibat luka-lukanya. Setelah itu, ia berlari menuju pintu masuk Jalan Surgawi. "Kalau aku tidak segera melaporkan ini, nanti aku juga akan dianggap sebagai kaki tangan..."

"Tolong! Tolong! Adik Raja Pedang telah dibunuh oleh seseorang!" teriak gadis muda itu begitu mendekati pintu masuk.

"Untuk apa kau berteriak?" Sebuah suara dingin tiba-tiba terdengar dari belakangnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!