Bima selalu dianggap sebagai pemuda idiot desa yang hanya bisa tersenyum saat dihina dan dilempari batu oleh warga, padahal di balik kepolosannya ia adalah pewaris tunggal ilmu pengobatan tingkat dewa dari seorang pertapa sakti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Sinar mentari pagi kembali menembus tirai kamar tamu mewah tempat Bima menginap.
Bima membuka matanya setelah semalaman melakukan meditasi pernafasan tanpa henti di atas kasur.
Fisiknya kini terasa jauh lebih bugar dan segar dibandingkan hari-hari sebelumnya saat dia masih menjadi kuli.
"Tenaga dalamku sudah pulih hampir setengahnya, ini kemajuan yang sangat bagus untuk ukuran kota yang udaranya kotor."
Bima bergumam santai sambil mengepalkan tangan kanannya yang terasa kokoh dan kembali penuh energi.
Di sisi lain rumah mewah itu, suasana hati Tante Vina justru sedang hancur lebur berkeping-keping.
Prang!
Sebuah vas bunga dari keramik mahal pecah berantakan setelah dibanting keras oleh Tante Vina ke lantai kamarnya.
"Sialan, anak kampung bau kotoran sapi itu benar-benar merusak semua rencana besarku!"
Tante Vina menggigit kuku jari telunjuknya dengan ekspresi wajah yang sangat panik dan penuh amarah yang meluap-luap.
Tadi pagi dia melihat sendiri bagaimana wajah Clara sudah kembali merona merah dan gadis itu bahkan sudah bisa berjalan pelan ke kamar mandi.
Kemajuan pesat itu membuat posisi Tante Vina sebagai kandidat pengganti pewaris di perusahaan keluarga Herman terancam hancur total.
Tuuuut. Tuuuut.
Tante Vina kembali menempelkan ponselnya ke telinganya untuk menelpon sekutu misteriusnya dengan tangan gemetar.
"Halo, kau harus bertindak lebih cepat, kondisi Clara semakin membaik pagi ini dan dia bahkan sudah bisa tersenyum!" teriak Tante Vina tertahan dari balik pintu kamarnya.
"Tenanglah Vina, aku sudah menyiapkan pembunuh bayaran tingkat tinggi untuk menyusup ke kediaman Herman malam ini juga."
Suara pria di ujung telepon terdengar sangat dingin, santai, dan penuh percaya diri.
"Pastikan pembunuh itu menghabisi si tabib udik itu dulu, dia adalah ancaman terbesar kita sekarang karena kemampuannya di luar nalar."
"Tentu saja, bayaranku sangat mahal jadi hasil kerjanya pasti bersih, cepat, dan tanpa jejak sama sekali."
Tante Vina tersenyum sinis penuh kejahatan lalu mematikan sambungan teleponnya dengan perasaan lega yang mengalir di dadanya.
Menjelang siang hari, Bima sudah berdiri di depan pintu kamar Clara dengan membawa kotak kayu usangnya yang penuh sejarah.
Tok tok tok.
"Masuklah Bima, pintunya tidak dikunci dari dalam."
Terdengar suara Clara dari dalam kamar yang kini terdengar jauh lebih bertenaga dan merdu dari biasanya.
Cklek.
Bima melangkah masuk dan melihat putri miliarder itu sedang duduk bersandar di tepi ranjang besarnya.
Gadis itu mengenakan gaun tidur berbahan sutra tipis yang sangat anggun dan pas di tubuhnya.
Melihat Bima datang, wajah Clara mendadak berubah menjadi merah muda mengingat rentetan terapi yang harus dia jalani hari ini.
"Selamat siang Nona Clara, sepertinya raut wajah Anda sudah jauh lebih segar hari ini."
Bima menyapa dengan nada datar andalannya tanpa menunjukkan ekspresi terpesona sedikit pun melihat kecantikan Clara.
"Iya, badanku terasa sangat ringan dan aku sudah tidak merasakan hawa dingin yang menusuk tulang lagi sejak semalam."
Clara menjawab dengan suara pelan sambil meremas ujung gaun sutranya karena merasa sangat gugup.
"Itu pertanda bagus, berarti ekstrak teratai darah itu bekerja dengan sangat sempurna di jaringan saraf punggung Anda."
Bima meletakkan kotak kayunya di atas meja lalu menatap Clara dengan sorot mata yang serius.
"Hari ini kita akan melakukan tahap kedua untuk membersihkan sisa racun yang bersarang di sekitar dada dan saluran pernafasan utama."
Clara langsung menelan ludahnya dengan susah payah mendengar kata dada diucapkan secara terang-terangan oleh pemuda itu.
"A-apakah aku harus membuka bajuku sepenuhnya seperti posisi tengkurap semalam?" tanya Clara dengan suara yang sedikit bergetar.
"Tidak perlu sepenuhnya Nona, cukup turunkan sedikit bagian kerah gaun Anda sampai ke batas atas dada."
"Jarum perak saya hanya perlu menembus beberapa titik meridian di sekitar tulang selangka dan area ulu hati."
Penjelasan teknis Bima sedikit membuat Clara bernafas lega meskipun rasa malunya sebagai seorang wanita tetap saja meluap-luap.
Clara memejamkan matanya rapat-rapat lalu dengan gerakan lambat dia mulai menurunkan kerah gaun sutranya ke bawah bahu.
Kulit putih mulusnya kini terekspos jelas di hadapan Bima tanpa terhalang kain apa pun.
Namun Bima sama sekali tidak memancarkan pandangan mesum dari kedua matanya yang hitam pekat.
Pandangan pemuda itu setajam elang yang sedang mengincar mangsa, murni hanya melihat aliran penyakit dan aura buruk di dalam tubuh pasiennya.
"Saya akan mulai meneteskan ekstrak teratai darah ini, tahan sedikit rasa perihnya ya Nona, jangan berteriak."
Bima meneteskan cairan merah pekat itu ke ujung jari telunjuknya lalu menyentuh tulang selangka Clara dengan lembut.
Sedes!
Hawa panas seketika menjalar di kulit Clara membuat gadis itu membusungkan dadanya ke depan tanpa sadar karena terkejut.
"Ugh."
Clara merintih pelan sambil menggigit bibir bawahnya, mencoba mati-matian menahan rasa sakit dan geli yang bercampur menjadi satu.
Tangan kanan Bima bergerak sangat lincah bagaikan kilatan bayangan yang sulit diikuti mata biasa.
Jleb! Jleb! Jleb!
Empat buah jarum perak berukuran sedang langsung tertancap sempurna di titik-titik krusial di sekitar dada bagian atas Clara.
Bima kembali memejamkan matanya untuk menyalurkan sisa tenaga dalamnya melalui ujung jarum-jarum tersebut secara perlahan.
Jarak antara wajah Bima dan wajah Clara saat ini sangat dekat, hanya terpaut beberapa jengkal saja.
Clara perlahan membuka kelopak matanya dan menatap wajah serius Bima yang sedang berkeringat menahan fokus.
Nafas hangat pemuda itu sesekali menerpa wajah Clara membuat jantung gadis miliarder itu berdebar dua kali lebih cepat dari biasanya.
"Ternyata kalau dilihat dari jarak sedekat ini, wajah pemuda desa ini lumayan tampan dan garis rahangnya sangat jantan."
Clara membatin dalam hati sambil terus menatap lekat-lekat wajah Bima seolah terhipnotis.
Perasaan angkuh dan gengsi tingginya sebagai putri seorang taipan kini benar-benar mulai luntur tak berbekas.
Pssss.
Asap tipis berwarna kehitaman perlahan keluar merembes dari ujung jarum yang menancap di kulit dada Clara.
Bau busuk samar mulai tercium mengotori udara kamar, menandakan racun ganas itu dipaksa keluar dari persembunyian terdalamnya.