NovelToon NovelToon
BANGKITNYA PENDEKAR TERKUAT

BANGKITNYA PENDEKAR TERKUAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: GEELANG

aku akan mengguncang dunia persilatan, aku yang memiliki ingatan masa depan memiliki keunggulan yang akan menghacurkan segala yang merebut waktu dan duniaku!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GEELANG, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9 - Pertempuran di Lembah Batu Pecah

Mata Sun Chen terbuka lebar tepat ketika bayangan sisik naga purba memudar dari dalam lautan kesadarannya. Napasnya tertahan, bulu-bulu di sekujur tubuhnya berdiri tegak. Udara malam yang semula dingin dan tenang di Lembah Batu Pecah mendadak berubah menjadi sangat pekat, sesak, dan berbau amis yang menyengat.

Tekanan aura membunuh yang dingin luar biasa merayap turun dari tebing-tebing batu yang mengelilingi lembah.

Sun Chen mengalihkan pandangannya ke ambang pintu gubuk bambu. Di sana, Chou Tian sudah berdiri tegap. Jubah sederhananya berkibar pelan terkena angin malam yang tidak alami. Pria tua itu menatap lurus ke puncak tebing, tempat sosok Tetua Bayangan berdiri melayang di kegelapan.

Dari balik pepohonan pinus dan celah-celah batu raksasa, belasan sosok bergaun hitam pekat bermunculan tanpa suara. Mereka mendarat di atas tanah dengan gerakan sehalus bulu, membentuk lingkaran rapat yang menutup seluruh akses keluar dari lembah tersebut.

Chou Tian menyipitkan matanya. Pengalaman bertarungnya selama puluhan tahun langsung memberi tahu bahwa orang-orang ini bukan pedagang budak atau pemburu murahan. Mereka adalah pasukan pembunuh elit yang bertindak dengan disiplin tinggi dan efisiensi mematikan.

"Sun Chen," panggil Chou Tian dengan suara rendah namun berbobot yang memotong keheningan malam. "Masuk ke dalam celah gua di belakang air terjun. Apa pun yang terdengar atau terjadi di luar, jangan pernah menampakkan dirimu."

Sun Chen mengepalkan tangan kecilnya rapat-rapat. Jiwanya yang pernah menjadi Jenderal Demonic memberontak; ia tidak ingin bersembunyi seperti anak kecil yang tidak berdaya sementara gurunya menghadapi bahaya besar. Namun, melihat tubuh balitanya yang baru saja menumbuhkan benih Qi paling dasar, ia sadar keberadaannya di halaman hanya akan menjadi beban dan gangguan bagi Chou Tian.

"Baik, Guru," jawab Sun Chen seraya menunduk dalam. "Harap Guru berhati-hati."

Sun Chen bergerak secepat angin malam, merayap menembus kegelapan menuju ke balik kucuran air terjun dan menyusup ke dalam celah batu yang sempit. Dari tempat persembunyiannya yang terlindung, ia menempelkan wajahnya ke celah batu, mengawasi halaman gubuk dengan mata yang tak berkedip.

Sosok Tetua Bayangan melompat turun dari puncak tebing. Tubuhnya melayang anggun di udara sebelum mendarat tanpa suara di tengah halaman tanah, hanya beberapa belas langkah di hadapan Chou Tian.

"Lama tidak berjumpa, Chou Tian," suara Tetua Bayangan terdengar parau dan dingin, bagaikan gesekan dua batu gilingan. "Tiga puluh tahun lalu di Kota Langit Merah, kau adalah sosok yang ditakuti dengan julukan Setan Tinju. Siapa yang menyangka sang legenda kini membusuk di gubuk bambu yang reyot?"

Chou Tian menatap pria bermuka pucat di hadapannya tanpa riak emosi. "Lu Gu. Dulu kau hanyalah anjing pelacak di sekte kecil. Ternyata sekarang kau sudah menjadi tetua di antara para pembunuh bayaran."

Tetua Bayangan menyeringai, memperlihatkan deretan giginya yang berwarna kehitaman. "Dunia persilatan berubah, Chou Tian. Yang tidak mau beradaptasi akan punah. Aku datang bukan untuk bernostalgia. Serahkan bocah yang kau lindungi itu. Atasanku menginginkannya. Jika kau menyerahkannya sekarang, aku akan memperhitungkan nama besarmu di masa lalu dan membiarkanmu mati tua di lembah ini."

Chou Tian perlahan merenggangkan kedua kakinya, menancapkan pijakannya ke dalam tanah keras. Tekanan udara di sekitarnya mendadak bergetar halus saat ia mengalirkan Qi di dalam meridian utamanya.

"Anak itu adalah muridku," ucap Chou Tian tegas, suaranya menggelegar menembus deru air terjun. "Selama aku, Chou Tian, masih bernapas di bawah langit ini, tidak ada satu pun bajingan yang boleh menyentuhnya!"

"Kalau begitu," kata Tetua Bayangan seraya mencabut pedang tipis dari pinggangnya yang berkilat kebiruan di bawah cahaya bulan, "kau akan mati bersama tekad konyolmu itu. Serang!"

Atas perintah itu, delapan pembunuh elit berbaju hitam menerjang maju secara bersamaan dari berbagai arah. Bilah-bilah pedang dan belati mereka memotong udara malam, memancarkan aura dingin yang mengincar titik-titik mematikan di tubuh Chou Tian.

Chou Tian tidak sedikit pun bergeming. Saat tiga mata pedang pertama berada hanya beberapa inci dari dadanya, pria tua itu mengambil setengah langkah ke samping.

Wus!

Serangan lawan meleset menghantam udara kosong. Chou Tian memutar pinggulnya secara presisi, lalu melayangkan satu telapak tangan terbuka ke arah dada pembunuh terdekat.

Brak!

Getaran Tinju Penghancur Gunung menyalur seketika melalui jubah pembunuh itu. Tanpa ada luka luar, organ dalam pria berbaju hitam itu hancur berantakan. Ia terlempar belasan langkah ke belakang dan roboh menghantam tanah tanpa sempat menjerit.

Chou Tian terus bergerak dengan efisiensi yang luar biasa. Langkah kakinya begitu seimbang, setiap tangkisan dan dorongan tangannya mematahkan persendian serta memusnahkan aliran energi musuh. Satu demi satu pembunuh elit bertumbangan di tanah bagaikan daun-daun kering yang berguguran dihempas badai.

Dari celah batu di balik air terjun, Sun Chen menyaksikan setiap detik pertarungan itu dengan napas tertahan. Ia menghafal bagaimana gurunya membagi berat tubuh, mengalihkan fokus Qi dalam hitungan detik, dan mengeksekusi gerakan tanpa ada energi yang terbuang sia-sia.

Hanya dalam waktu singkat, seluruh anak buah elit itu telah terkapar.

Melihat hal tersebut, Tetua Bayangan menyipitkan matanya yang kelabu. "Masih memiliki taring rupanya..."

Tubuh Tetua Bayangan mendadak mengabur. Dalam sekejap mata, ia sudah berada di depan Chou Tian, melayangkan puluhan tusukan pedang tipis yang berubah menjadi bayangan-bayangan kelam yang mematikan.

Pertarungan tingkat tinggi pun meletus.

Tinju Penghancur Gunung milik Chou Tian bertabrakan secara sengit dengan Teknik Pedang Bayangan milik Tetua Bayangan. Gelombang energi tenaga dalam dari kedua ahli tingkat tinggi itu meledak bertubi-tubi di halaman.

Batu-batu kali raksasa pecah terbelah menjadi debu, pepohonan pinus tumbang tersapu angin Qi, dan tanah halaman terkelupas membentuk ceruk-ceruk dalam. Udara di Lembah Batu Pecah berguncang dahsyat seolah tebing-tebing batu di sekelilingnya akan runtuh.

Sun Chen mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Ini adalah pertempuran antara para ahli sejati di tingkat Ahli tinggi. Ia menyadari betapa luas dan dalamnya dunia persilatan ini, serta betapa jauhnya jarak kekuatan fisik balitanya saat ini untuk bisa berdiri serentak di arena pertempuran seperti itu.

Brak!

Sebuah pukulan lurus Chou Tian yang teraliri seluruh kekuatan meridian utamanya berhasil menembus benteng bayangan pedang Lu Gu, menghantam tepat di tengah dada Tetua Bayangan.

Pria pucat itu memuntahkan darah segar dan terhempas hebat menghantam tebing batu di ujung halaman. Dinding tebing retak menjalar akibat benturan keras tersebut.

Tetua Bayangan merayap turun dari reruntuhan batu dengan wajah yang sangat pucat. Dadanya melesak ke dalam dan napasnya terengah-engah parah. Namun, bukannya panik, bibir kehitamannya justru menyunggingkan senyuman licik yang menyeramkan.

"Ugh... Pukulan yang hebat, Setan Tinju..." bisik Tetua Bayangan seraya mengusap darah di bibirnya. Ia memutar pedang tipisnya yang kini memancarkan asap tipis berwarna kehijauan. "Tapi waktumu... sudah habis."

Tetua Bayangan menyadari bahwa ia tidak akan bisa menang dalam pertarungan jarak dekat secara murni. Karena itu, saat benturan terakhir tadi, ia secara diam-diam membiarkan jarum beracun yang tersembunyi di ujung pedangnya menyayat tipis bahu kiri Chou Tian, menyalurkan Qi Racun Bayangan Hitam yang sangat pekat ke dalam pembuluh darah pria tua itu.

Chou Tian berdiri tegak di tengah halaman. Wajahnya tetap tenang dan dingin, tidak menunjukkan tanda-tanda kelemahan sedikit pun.

Melihat ketenangan Chou Tian yang intimidatif, Tetua Bayangan tidak berani mengambil risiko untuk menyerang lagi. Ia memberi isyarat kepada beberapa anak buahnya yang masih bisa bergerak untuk mundur.

"Kita pergi!" seru Tetua Bayangan seraya melompat ke atas tebing batu. Ia menoleh ke arah Chou Tian dengan mata penuh dendam. "Chou Tian! Tempat ini tidak lagi aman bagimu! Organisasi kami akan kembali dengan kekuatan yang sepuluh kali lebih besar!"

Dalam hitungan detik, bayangan orang-orang itu lenyap menembus kegelapan hutan malam.

Suasana Lembah Batu Pecah kembali sunyi, menyisakan halaman yang hancur berantakan dan bau amis darah yang menyengat.

Sun Chen keluar dari celah batu di balik air terjun. Ia berlari cepat mendekati gurunya yang masih berdiri tegap di tengah halaman dengan posisi bersedekap, menatap ke arah hutan yang gelap.

"Guru!" panggil Sun Chen seraya menghentikan langkahnya di samping Chou Tian.

Chou Tian memalingkan wajahnya pelan. Wajah kaku pria tua itu tampak tenang bagaikan telaga yang tak berombak.

"Mereka sudah pergi," kata Chou Tian dengan suara yang datar. "Masuklah ke gubuk dan ambilkan wadah kayu berisi salep obat di atas meja. Mulai besok, latihanmu akan dipercepat. Musuh tidak akan memberi kita banyak waktu."

"Baik, Guru," jawab Sun Chen. Ia lega melihat gurunya tampak baik-baik saja dan tampak tidak terluka sama sekali dari pertempuran sengit melawan ahli tingkat tinggi tersebut. Sun Chen segera berbalik dan berlari kecil masuk ke dalam gubuk bambu.

Namun, begitu tubuh kecil Sun Chen menghilang di balik pintu gubuk...

Pertahanan tubuh Chou Tian runtuh seketika.

Pria tua itu berlutut dengan satu kaki di atas tanah. Punggungnya membungkuk hebat. Wajahnya yang semula tenang mendadak berubah menjadi pucat pasi, dan urat-urat hitam yang mengerikan mulai menjalar cepat dari bahu kirinya menuju ke lehernya.

Uhuk! Uhuk!

Chou Tian terbatuk parah. Ia memuntahkan seteguk darah kental berwarna hitam pekat ke atas tanah kering. Darah beracun itu terasa sangat panas, membakar rumput di sekitarnya hingga layu seketika.

Chou Tian memegangi dadanya yang terasa seperti ditusuk ribuan jarum beracun. Qi Racun Bayangan Hitam milik Lu Gu mulai merayap dan merusak organ dalamnya secara perlahan. Dengan sisa tenaga dalam yang dimilikinya, Chou Tian memaksa menekan peredaran racun itu agar tidak menyebar ke jantungnya, meskipun ia tahu ini hanya menunda kematian.

Pria tua itu mengepalkan tangannya yang gemetar hingga menancap ke dalam tanah berdebu. Matanya yang mulai mengabur menatap ke pintu gubuk tempat muridnya berada.

"Aku harus bertahan..." gumam Chou Tian dengan suara serak yang tertahan di tenggorokan. "Langit... berikan aku cukup waktu... hingga anak itu cukup kuat untuk berdiri sendiri..."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!