NovelToon NovelToon
Sistem Mata Dewa : Dari Pria Terhina Menjadi Miliarder

Sistem Mata Dewa : Dari Pria Terhina Menjadi Miliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Anton adalah seorang pria biasa yang hidupnya hancur dalam semalam setelah dicampakkan dan dipermalukan secara brutal oleh pacarnya demi seorang anak konglomerat. Di titik terendahnya, saat rasa sakit dan keputusasaan memuncak, Anton secara tak terduga membangkitkan [Sistem Mata Dewa] yang memberinya kemampuan luar biasa untuk melihat menembus segala jenis benda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Deru mesin puluhan ekskavator dan truk tanah menggema di kawasan industri utara.

Hanya dalam waktu tiga hari sejak surat tanah diserahkan, lahan seluas lima puluh hektar itu telah diratakan. Pembangunan fondasi pabrik Baterai Quantum milik Star Technology berjalan dengan kecepatan yang tidak masuk akal, beroperasi dua puluh empat jam penuh dengan sistem pembagian tiga shift pekerja.

​Anton berdiri di area VIP yang sedikit lebih tinggi dari lokasi proyek, mengenakan kacamata hitam dan kemeja kasual. Angin kencang meniup rambutnya, namun tatapannya tetap tenang mengawasi pergerakan ratusan pekerja di bawah sana.

​Siska yang berdiri di sampingnya memegang tablet dengan wajah sedikit cemas.

"Pak Anton, progres pembangunan fondasi sudah mencapai dua puluh persen. Namun... karena area ini terlalu luas dan berbatasan langsung dengan hutan pinus di sisi barat, tim keamanan kita kewalahan melakukan patroli," lapor Siska.

​"Apakah kita perlu menyewa perusahaan keamanan swasta dari ibu kota untuk menjaga aset-aset berat ini?"

​Anton tersenyum tipis. "Keamanan swasta yang berisi manusia terlalu mudah disuap atau dilumpuhkan, Siska. Untuk pabrik teknologi paling berharga di dunia, kita tidak akan bergantung pada otot manusia."

​Siska mengerutkan kening, bingung. "Lalu, siapa yang akan menjaganya, Pak?"

​Sebelum Anton sempat menjawab, sebuah mobil Range Rover berwarna hitam melaju kencang memasuki area proyek dan berhenti mendadak di dekat pos pengawasan mereka.

​Pintu terbuka, dan Clara Vance melangkah keluar dengan tergesa-gesa.

Dia tidak mengenakan setelan blazer hukumnya yang biasa, melainkan jaket kulit hitam dan celana jins yang membuatnya terlihat lebih kasual, namun raut wajahnya dipenuhi kepanikan.

​"Siska, beri kami waktu sebentar," perintah Anton tanpa mengalihkan pandangannya dari Clara yang sedang berjalan menghampiri mereka.

​Siska menatap Clara dengan curiga, namun ia menunduk patuh dan mundur beberapa langkah untuk memberi ruang.

​"Nona Clara. Sepertinya jam kerja pengacara sudah selesai. Ada apa mengunjungiku di tempat berdebu ini?" sapa Anton santai, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.

​Clara berhenti tepat di depan Anton. Nafasnya sedikit memburu.

"Hentikan proyek ini sekarang juga, Anton! Tarik semua pekerjamu sebelum matahari terbenam!" desak Clara dengan suara tertahan.

​Anton menaikkan sebelah alisnya. "Oh? Apakah pamanmu berhasil menemukan celah hukum lain?"

​"Ini bukan soal hukum lagi!" bantah Clara cepat, matanya menatap liar ke sekeliling memastikan tidak ada yang menguping. "Paman Victor sudah kehilangan kesabarannya. Dia menyewa Shadow Hound, kelompok tentara bayaran elit dari perbatasan untuk menghancurkan tempat ini."

​Jantung Clara berdebar kencang saat mengucapkan itu. Dia tahu membocorkan informasi rahasia Titanium Group adalah pengkhianatan besar. Namun, sejak kekalahannya di ruang rapat tempo hari, bayangan Anton yang dominan terus menghantui pikirannya. Dia tidak ingin pemuda jenius ini mati konyol.

​"Mereka akan menyerang malam ini," bisik Clara gemetar. "Mereka membawa peledak C4 kelas militer dan senjata api peredam suara. Tim keamanan biasamu tidak akan berdaya. Ku-kumohon, Anton... tinggalkan tempat ini."

​Anton menatap mata Clara dalam-dalam. Bukannya panik atau takut, senyum di bibir pemuda itu justru semakin mengembang.

​Anton melangkah maju, mempersempit jarak hingga ujung sepatu mereka bersentuhan. Dengan gerakan perlahan namun pasti, tangan kanan Anton terangkat dan jari telunjuknya menyentuh pelan dagu Clara, mengangkat wajah wanita itu agar menatap langsung ke matanya.

​"Kau mengkhianati pamanmu dan mempertaruhkan nyawamu sendiri hanya untuk memperingatkanku, Clara?" bisik Anton dengan suara bariton yang menggoda. "Apakah sang Ratu Hukum yang dingin kini mulai peduli padaku?"

​Wajah Clara seketika memerah layaknya tomat matang. Tubuhnya menegang, namun ia tidak memiliki tenaga sedikit pun untuk menepis tangan Anton. Jantungnya berdegup sepuluh kali lebih cepat.

​"A-aku hanya tidak ingin... tidak ingin melihat darah tumpah karena masalah bisnis," elak Clara terbata-bata, mengalihkan pandangannya ke samping meski pipinya masih sangat merah.

​Anton tertawa pelan, melepaskan sentuhannya di dagu Clara.

"Terima kasih atas peringatannya, Clara. Tapi sayangnya, aku tidak pernah lari dari rumahku sendiri."

​Anton berbalik menatap hutan pinus di sisi barat.

"Biarkan anjing-anjing bayaran pamanmu itu datang. Akan kutunjukkan pada mereka apa yang terjadi jika mencoba menggigit baja."

​Malam harinya, pukul 02:00 dini hari.

​Suasana di lokasi proyek berangsur sepi. Pekerja shift malam sedang beristirahat di barak yang berjarak cukup jauh dari area fondasi utama tempat puluhan alat berat bernilai ratusan miliar terparkir.

​Dari balik kegelapan hutan pinus, dua belas bayangan hitam bergerak tanpa suara. Mereka adalah pasukan Shadow Hound, tentara bayaran elit yang disewa Victor Vance. Masing-masing dilengkapi dengan kacamata inframerah, senapan serbu taktis, dan tas berisi bahan peledak.

​"Target ada di area fondasi tengah. Pasang C4 di semua ekskavator dan generator utama. Waktu kita lima menit sebelum mundur," bisik sang Kapten melalui radio komunikasi terenkripsi.

​"Copy that," balas anak buahnya serentak.

​Mereka menyusup melewati pagar kawat yang belum sepenuhnya selesai dibangun tanpa memicu alarm apa pun. Kapten bayaran itu tersenyum sinis. Pengamanan perusahaan teknologi ini benar-benar lelucon, batinnya.

​Namun, baru saja mereka melangkah sejauh sepuluh meter memasuki area proyek yang gelap gulita...

​Klik.

​Sebuah suara mekanis pelan terdengar.

Tiba-tiba, lampu sorot LED berkekuatan puluhan ribu lumen menyala serentak dari empat menara darurat di sudut proyek, mengubah malam yang gelap gulita menjadi seterang siang hari.

​Pasukan bayaran itu langsung berjongkok, menyipitkan mata karena silau yang membutakan.

​"Sial! Kita ketahuan! Menyebar!" teriak sang Kapten.

​Namun, sebelum mereka bisa bergerak, suara dengungan pelan terdengar dari langit.

Enam belas unit drone berukuran sebesar elang dewasa turun dari udara, mengepung kedua belas tentara bayaran itu dalam formasi melingkar yang sempurna.

​Setiap drone dilengkapi dengan lensa kamera merah yang menyala terang dan sebuah moncong laras kecil di bagian bawahnya.

​Di ruang kontrol sementara yang berada tak jauh dari sana, Anton duduk santai di depan layar monitor besar sambil menyeruput kopi hangatnya.

​"Sistem AI berbasis Star-Core 1 benar-benar bekerja mulus," gumam Anton.

​Kemampuan komputasi chip Star-Core 1 memungkinkan Anton menciptakan kecerdasan buatan tingkat tinggi yang mampu mengendalikan kawanan drone penjaga secara otonom, mengunci target melalui sensor panas tubuh dan gerak.

​"Peringatan. Anda memasuki wilayah pribadi Star Technology. Letakkan senjata Anda, atau tindakan pertahanan mematikan akan diaktifkan," suara sintesis wanita terdengar menggema dari speaker drone-drone tersebut.

​"Hanya mainan terbang! Tembak jatuh mereka!" perintah Kapten Shadow Hound sambil mengarahkan senapannya ke atas.

​Namun, sebelum jari telunjuknya sempat menarik pelatuk...

​Zzap! Zzap! Zzap!

​Sinar laser biru tipis namun sangat terang menembak keluar dari laras drone dalam hitungan milidetik.

Itu bukan peluru tajam, melainkan proyektil bius kejut listrik bertegangan tinggi.

​Tembakan itu begitu cepat dan presisi. Tiga tentara bayaran di barisan depan langsung kejang-kejang sebelum jatuh pingsan ke tanah, tubuh mereka berasap tipis.

​"Tembak! Tembak!"

Sisa pasukan panik dan melepaskan tembakan membabi buta ke udara.

​Namun AI milik Anton bermanuver dengan sangat lincah, memprediksi arah lintasan peluru dan menghindar dengan gerakan zig-zag yang tidak mungkin dilakukan oleh pilot manusia.

​Dalam waktu kurang dari dua menit, suara tembakan berhenti sepenuhnya.

Kedua belas anggota tentara bayaran elit yang ditakuti itu kini tergeletak tak berdaya di atas tanah berdebu, lumpuh total oleh sistem pertahanan keamanan tanpa awak milik Star Technology.

​Anton berdiri dari kursinya. Melalui Penglihatan Tembus Pandang Tingkat 2, matanya menembus dinding kontainer ruang kontrol dan melihat ke arah hutan pinus yang berjarak lima ratus meter.

​Di balik batang pohon besar, Clara Vance sedang berdiri mematung dengan teropong di tangannya. Dia datang diam-diam untuk memastikan keselamatan Anton, namun justru disuguhi pemandangan pembantaian sepihak yang sangat mengerikan namun bersih.

​"Sekarang, saatnya mengirimkan paket kejutan ini ke meja Victor Vance," ucap Anton sambil tersenyum dingin.

​Invasi militer korporat berhasil dipatahkan bahkan tanpa Anton perlu mengotorkan tangannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!