[CERITA INI MASIH DALAM TAHAP REVISI] Pear akan dikembalikan seperti versi wa**pad mulai dari status pernikahan tokoh utama dan juga agamanya, sesuai First Impression kalian di sana. Kalian bisa lihat aku baru revisi sampe mana sesuai judul-judul di part-nya ya (aku harap pada ngeh :') yang udah aku revisi judul babnya itu "Chapter ...(...)", kalo ga gitu artinya belum sampe sana ✌🏻 so, sorry kalo kalian baca ceritanya jadi ga konsisten.
***
"Kalo lo masih sayang sama Devan, terserah," ucap Rafa bergetar, seolah tak kuasa mengucapkannya, tapi jika pada kenyataannya Vallen ingin dengan Devan, ia bisa apa.
"LUPAIN JANJI LO SAMA BUNDA! Berduaan lagi sana, lakuin hal MENJIJIKAN yang udah biasa lo pada lakuin!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biru Vanila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11 (2)
Sebentar lagi pasti akan ada berita di mading, web sekolah, bahkan di tv!
Seorang siswi disekap di toilet sekolah, di Ani Yahya dan dimitilisi.
Astaga pikiran Vallen sungguh jauh. Sampai-sampai ia mengeluarkan air mata.
"Sttt!"
Orang itu menyuruh tenang. Mendengar desutannya, membuat Vallen membuka mata dan menoleh. Matanya terbelalak dan kembali memukul tangan yang membekap mulutnya.
"Kak!!!" teriak beberapa orang dari luar. Kemudian terdengar suara sepatu yang mendekat ke arah kamar mandi, beberapa dari mereka menggedor pintu dan mencoba membukanya.
Vallen menggerakkan kakinya, ia berusaha untuk menendang pintu dari dalam.
Gawat, batin sang penculik.
Karena itu, penculik ini malah merapatkan cewek itu ke tembok hingga kening Vallen berhasil mencium temboknya.
"Emang rusak nih toiletnya!" kata salah satu dari mereka yang telah mencoba memutar kenop.
"Ya udahlah!"
Kemudian derap langkah siswi-siswi itu semakin mengecil. Peka akan hal tersebut, akhirnya Vallen menjauhkan tangan si penculik perlahan. Ya, tangan yang sedari tadi seperti merangkul Vallen posisinya, tapi telapaknya terus menahan gadis itu agar tidak bicara.
Segera Vallen memutar tubuh. "Gila lo! Mau ngebuat gue mati ngedadak gara-gara kaget kayak barusan?!" Vallen tercengang saat menatap Rafa karena jarak mereka dekat sekali, mana bilik ini hanya 1×1,5 meter saja, ditambah lagi satu kloset duduk yang makin mempersempit ruang gerak mereka. "Mu-munduran lo!" titah Vallen gugup.
Rafa menurutinya, ia mundur walau hanya bisa sejauh satu telapak kakinya. Hal itu membuat Vallen berdesis, ini tak jauh beda seperti tadi. Kemudian Vallen mengusir pikiran anehnya dan memegang kening. "Mana sakit lagi kejedot tembok!" Gadis itu melanjutkan omelannya, lebih baik begini daripada mereka canggung di dalam sana, kan.
Rafa diam tak menanggapi, malah berangsur menyender sambil melipat kedua tangannya saja.
"Ngapain lo di sini?" tanya Vallen ketus.
Rafa lantas menghela napas. "Kabur dari dekel bar-bar."
"Yang pake bando inisial R itu?"
"Hm," ujar Rafa membenarkan. "Gak aman nyawa gue kalo ngelewatin mereka sendirian."
Vallen berusaha menahan tawanya, pengakuan Rafa benar, karena pernah sekali waktu dia menyaksikan Rafa jalan sendiri, dan fans bar-barnya itu tiba-tiba datang lalu memeluk dia erat sambil teriak histeris.
Vallen kemudian teringat sesuatu yang membuat dirinya tidak jadi tertawa. "Heh! Tapi lo gak usah nyeret gue kayak tadi juga! Gue udah mikir ini hari terakhir gue melihat dunia dan segala keindahannya ...." Vallen semakin menurunkan nada saat bicara demikian, ia juga geleng-geleng kepala dengan menunjukkan puppy eyes-nya.
"Lebay," ujar Rafa menanggapi yang dibalas decakan dari Vallen. Alasan Rafa membawa Vallen ke sini bukan karena hal aneh-aneh. Dia hanya takut saat dirinya mengintip keluar pintu tadi, Vallen malah berbalik dan meneriakkan namanya. Namun tentu tidak begitu, Vallen tidak mungkin mau lihat ke belakang karena dipikirnya Rafa adalah penculik, penjahat, penyekap, dan sebagainya. Lebih baik ia lari langsung saja, lagian siapa juga yang mau menoleh ke belakang dan bertatapan-tatapan dengan penjahat, nanti ada lagu:
Pandangan pertama awal aku berjumpa ...
Plak!
"Lo ngapain?" Rafa bertanya balik.
"Kabur juga."
Vallen kemudian mengetukkan kakinya sambil menatap ujung sepatu. Tak lama melakukan kegabutan semacam itu hingga ia pun akhirnya melirik Rafa.
kan kasiaann.... padahal aku lebih Suka Devan dibanding Rafa.. Devan lebih besar cintanya ke vallen... hiks. hiks. hiks.