NovelToon NovelToon
Ketika Hati Salah Memilih

Ketika Hati Salah Memilih

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Romantis / Cintamanis / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Fauzi rema

Andrew selalu percaya bahwa hidup adalah tentang tanggung jawab.
Sebagai pewaris perusahaan keluarga, ia memilih diam, bersifat logis, dan selalu mengalah,bahkan pada perasaannya sendiri.
sedangkan adiknya, Ares adalah kebalikannya.
Ares hidup lebih Bebas, bersinar, dan hidup di bawah sorotan dunia hiburan. Ia bisa mencintai dengan mudah, tertawa tanpa beban, dan memiliki seorang kekasih yang sempurna.
Sempurna… sampai Andrew menyadari satu hal yang tak seharusnya ia rasakan:
ia jatuh cinta pada wanita yang dicintai adiknya sendiri.
Di antara ikatan darah, loyalitas, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, Andrew terjebak dalam pilihan paling kejam,
apa Andrew harus mengorbankan dirinya,
atau menghancurkan segalanya.
Ketika cinta datang di waktu yang salah,
siapa yang harus melepaskan lebih dulu?

Novel ini adalah lanjutan dari Novel berjudul "Istri simpananku, canduku" happy reading...semoga kalian menyukainya ✨️🫰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fauzi rema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Malam itu, ruang keluarga kediaman Wijaksana terasa begitu hangat. Andrew sedang duduk di sofa tunggal, fokus menatap layar tablet yang menampilkan grafik saham bulanan, sementara Ares duduk santai di sofa panjang sambil melempar-lempar bola kasti kecil ke udara.

​“Gimana menurut lo, Kak?” tanya Ares tiba-tiba, memecah keheningan.

​Andrew tidak mendongak. “Gimana apanya?”

​“Si EL. Elena Valeska,” Ares menyeringai. “Cantik, kan? Udah gitu orangnya vibes-nya positif banget. Lokasi syuting jadi hidup kalau ada dia. Nggak ada tuh yang namanya sepi kalau El udah buka mulut.”

​Andrew menghela napas panjang, akhirnya meletakkan tabletnya di atas meja. “Cantik sih relatif, Res. Tapi berisiknya itu yang mutlak. Gadis itu nggak punya tombol off di mulutnya. Baru kali ini gue ketemu orang yang bisa ngomongin paha ayam dan cicilan KPR dalam satu kalimat. Aneh.”

​“Justru itu serunya!” Ares tertawa kencang. “Lo itu terlalu kaku, Kak. Hidup lo isinya angka, rapat, sama kontrak. Lo butuh orang kayak Elena buat bikin hidup lo sedikit berantakan. Biar ada warnanya, nggak abu-abu melulu kayak kemeja lo itu.”

​“Nggak tertarik,” jawab Andrew singkat dan dingin. “Gue butuh ketenangan, bukan radio rusak yang berjalan pakai gaun feminin.”

​Tanpa mereka sadari, Papi Adrian dan Mommy Revana baru saja masuk ke ruangan itu setelah berjalan-jalan di taman belakang. Mendengar nama seorang wanita disebut-sebut, telinga Mommy Revana langsung tegak.

​“Siapa yang radio rusak, Andrew?” tanya Revana sambil duduk di samping Ares dengan wajah penuh minat.

​Ares langsung mendapatkan amunisi baru. “Ini lho, Mom. Lawan main Ares di film baru, namanya Elena Valeska. Cantiknya luar biasa, sopan, pinter lagi. Tapi Kak Andrew bilang dia radio rusak cuma gara-gara Elena berani ceplas-ceplos di depan dia.”

​Papi Adrian terkekeh, ikut duduk di sofa seberang. “Elena Valeska? Bukannya dia juga salah satu model produk kita. Dia punya aura yang sangat ceria. Kenapa, Andrew? Dia berani mendebat kamu?”

​Andrew memijat pangkal hidungnya. “Dia menumpahkan minyak ayam di baju aku, Pi. Terus bukannya minta maaf, dia malah kasih tips mencuci pakai sabun cuci piring sambil ngetawain aku. Dia gadis yang nggak punya sopan santun.”

​“Tapi dia nggak bikin lo emosi, kan?” ledek Ares sambil menyenggol bahu Mommy-nya. “Mom, tahu nggak? Kak Andrew sampai kasih sapu tangan pribadinya buat El pas El lagi sedih. Padahal Kak Andrew kan paling anti barang pribadinya dipinjemin ke orang asing.”

​“Oh ya?!” mata Revana berbinar-binar. “Seorang Andrew kasih sapu tangan ke aktris cantik? Itu kemajuan besar, Pi!”

​Andrew merasa dikepung. “Ares, itu cuma bentuk kemanusiaan. Jangan dilebih-lebihkan.”

​“Kemanusiaan apa kemauan, Kak?” Ares terus menyerang. “Tadi aja pas El posting foto Kakak di Instagram, Kakak marah tapi tetep dipantengin terus tuh notifikasinya. Ngaku aja, Kak, lo sebenernya ngerasa dia menarik karena dia satu-satunya cewek yang nggak takut sama muka galak lo.”

​“Ares benar,” Papi Adrian menimpali dengan nada bijak namun menggoda. “Kamu itu butuh penyeimbang, Andrew. Kamu terlalu serius. Kalau kamu sama Elena, mungkin setiap pagi kamu nggak akan baca koran bisnis lagi, tapi dengerin dia gosip terbaru. Itu bagus buat kesehatan jantungmu.”

​“Papi, Mommy... tolong jangan ikut-ikutan Ares,” pinta Andrew frustrasi. “Dia itu gadis yang aneh. Tadi dia bahkan bilang kalau aku ini tipe orang yang sikat giginya harus sejajar sesuai warna. Siapa yang tahan hidup dengan orang yang analisisnya se-ngawur itu?”

​Ares tertawa sampai mengeluarkan air mata. “Tapi bener, kan?! Sikat gigi lo emang sejajar sesuai warna! Makanya gue bilang kalian cocok. Dia bisa baca lo cuma dalam waktu sepuluh menit!”

​“Dia hanya beruntung menebaknya,” bantah Andrew, meski telinganya mulai memerah.

​“Pokoknya,” Ares berdiri dan menunjuk kakaknya dengan gaya dramatis, “Aku sudah tantang El buat bikin Kak Andrew yang sedingin kutub utara ini luluh. Dan aku rasa, seblak setahun bakal jadi milik El karena Kakak sebenernya sudah mulai kalah sejak paha ayam itu mendarat di baju Kakak.”

​“Ares!” bentak Andrew, namun nadanya tidak benar-benar marah.

​Mommy Revana tersenyum penuh arti pada suaminya. “Bawa dia ke rumah suatu hari nanti, Andrew. Mommy mau lihat seberapa berisiknya gadis yang bisa membuat anak sulung Mommy yang pendiam ini jadi banyak bicara seperti sekarang.”

​Andrew hanya bisa terdiam, kembali meraih tabletnya dan berpura-pura sibuk. Namun, di dalam hatinya, suara tawa Elena dan aroma paha ayam goreng itu entah kenapa tiba-tiba melintas kembali, mengusik ketenangan yang selama ini ia agungkan.

----

Malam semakin larut. Andrew sudah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, mencoba mengusir sisa-sia ledekan Ares dan wajah penuh harap Mommy Revana dari benaknya. Kamarnya begitu sunyi, hanya ada suara detak jam dinding yang teratur, suasana yang selalu ia sukai.

​Namun, tepat saat ia hampir memejamkan mata, sebuah getaran singkat dari ponsel di atas nakas memecah keheningan. Andrew menghela napas, mengira itu adalah email pekerjaannya. Ia meraih ponselnya, namun keningnya langsung berkerut saat melihat nama pengirim di layar.

​Elena Valeska.

​Pesan itu muncul di layar kunci:

​"Mas Kanebo, belum tidur kan? Pasti lagi ngitungin bintang di langit ya biar tidurnya teratur? Hehe. Anyway, Mas kapan mampir ke lokasi lagi? Ini sapu tangannya udah aku cuci bersih, wangi bunga sakura lho, bukan wangi ayam goreng lagi. Mau aku balikin nih."

​Andrew menatap pesan itu selama beberapa detik. Ada dorongan aneh di dadanya untuk segera membalas, namun ia tetap mempertahankan egonya. Ia mengetik dengan jemari yang dingin dan kaku.

​Andrew: "Tidak perlu dikembalikan. Simpan saja atau buang kalau sudah tidak kamu pakai."

​Tidak sampai satu menit, ponselnya bergetar lagi. Kali ini sebuah foto masuk. Foto Elena sedang berpose cemberut sambil memegang sapu tangan biru navy milik Andrew di dekat pipinya.

​Elena: "Duh, sombong banget sih! Barang mahal begini disuruh buang. Mubazir tau, Mas! Ini sapu tangan kainnya halus banget, pasti harganya bisa buat beli seblak segerobak. Masa beneran nggak mau diambil? Apa Mas takut kalau ketemu aku lagi nanti Mas malah naksir?"

​Andrew mendengus pelan, nyaris melepaskan tawa sinis namun tertahan di tenggorokan.

​Andrew: "Saya tidak punya waktu untuk berdebat soal sapu tangan, Elena. Saya hanya tidak terbiasa memakai kembali barang yang sudah dipakai orang lain. Jadi, terserah kamu mau diapakan."

​Elena: "Oalah... dasar Sultan Higienis! Oke deh, kalau gitu sapu tangan ini resmi jadi 'Sapu Tangan Sakti Elena'. Bakal aku simpen buat ngelap air mata kalau aku lagi sedih nonton drakor, atau buat ngelap keringet pas lagi akting lari-lari sama Ares. Makasih ya, Mas Kanebo yang dermawan tapi gengsian!"

​Andrew hanya membaca pesan itu tanpa membalas lagi. Ia meletakkan ponselnya dengan sedikit kasar, namun pikirannya tidak bisa langsung tenang. Ia membayangkan Elena di kamarnya, mungkin sedang tertawa kecil melihat balasannya yang singkat, atau mungkin sedang sibuk mengoceh sendirian sambil memandangi sapu tangannya.

​"Gadis aneh," gumam Andrew pada kegelapan kamar.

​Ia memejamkan mata, mencoba kembali ke dunia logikanya. Namun, entah kenapa, aroma "sakura" yang disebut Elena dalam pesan tadi seolah-olah tercium di indra penciumannya, menggantikan aroma parfum maskulin yang biasanya memenuhi kamarnya.

​Sementara itu, di tempat lain, Elena menatap layar ponselnya sambil nyengir lebar. Ia memeluk sapu tangan itu sebentar, lalu menyimpannya dengan rapi di dalam tas kecilnya.

​"Buang katanya? Enak aja. Ini kan senjata utama buat bikin kulkas berjalan itu mencair," bisik Elena ceria.

...🌼...

...🌼...

...🌼...

...Bersambung......

1
Lilis Yuanita
bgus lnjut
Herman Lim
aduh Thor kog kasian bgt sih buat 2 sodara berdarah2 Krn 1 cew
Herman Lim
kyk bakalan perang sodara ne moga aja setelah ini Ares yg mau ngalah buat KK nya
muna aprilia
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!