NovelToon NovelToon
Respect

Respect

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Matabatin / Hamil di luar nikah
Popularitas:83
Nilai: 5
Nama Author: Anisa Rahayu

Arisa Salsa Bila atau Acha adalah seorang pramuniaga minimarket yang ceria, rajin, namun terkadang egois dan kekanak-kanakan. Suatu hari ia bertemu dengan Andra Nathan Ardimana, pemuda pekerja keras yang merintis usaha percetakan sablon sandal. Di balik sikap keras kepalanya, Nathan memiliki hati yang lembut dan selalu mengalah demi orang lain.

Hubungan mereka tumbuh menjadi cinta yang tulus. Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama ketika keluarga mereka menolak hubungan tersebut karena perbedaan latar belakang dan berbagai kesalahpahaman. Hinaan, penolakan, dan tekanan membuat hubungan mereka berkali-kali berada di ambang perpisahan.

Meski begitu, Nathan dan Acha memilih bertahan. Mereka belajar bahwa cinta tidak cukup hanya dengan rasa sayang, tetapi juga membutuhkan rasa hormat, kepercayaan, pengorbanan, dan penerimaan. Di tengah segala luka, mereka membuktikan bahwa perjuangan yang dilakukan dengan tulus tidak akan pernah sia-sia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25. Respect

Matahari pagi menyapa dengan hangat, menandakan dimulainya hari baru yang dinanti-nanti oleh Acha. Setelah merapikan seluruh koper dan tas berisi perlengkapan kerjanya semalam, kini Acha sudah berdiri manis di teras depan rumah dengan mengenakan pakaian kerjanya yang rapi serta tas ransel tersampir di pundak.

Dia berdiri di dekat pagar halaman, sesekali melirik ke jalan raya sambil mengecek jam di ponselnya, tak sabar menunggu kedatangan Nathan yang berjanji akan menjemputnya pagi ini untuk mengantar ke tempat kosan.

Melihat kakaknya yang mondar-mandir salah tingkah dan terus-menerus senyum-senyum sendiri menatap layar ponsel, Fitri—sang adik yang sedang menikmati sarapan ringan di ruang tamu—langsung berjalan mendekati teras dengan senyumlah jahil.

"Ehem! Wah, yang pengantin baru—eh, maksudnya yang pacarnya mau datang, gayanya udah rapi banget nih dari subuh," ledek Fitri sambil melipat tangan di dada dengan tatapan menggoda.

Acha yang merasa sedang diledek langsung menoleh dengan mata menyipit tajam, mencoba memasang wajah galak.

"Apaan sih, loh! Orang lagi buru-buru siap mau berangkat kerja, malah diledekin."

"Alah, ngeles aja loh teh!" balas Fitri terkikik geli.

"Dari tadi matanya gak lepas dari ujung jalan. Nungguin pangeran jemputan ya? Hati-hati, nanti kesambet angin pagi kalau senyum-senyum sendirian terus!"

Belum sempat Acha melayangkan cubitan gemas ke lengan adiknya, suara deru knalpot motor yang sudah sangat dia kenal tiba-tiba terdengar memasuki halaman rumah.

Sosok Nathan dengan motornya pun berhenti tepat di depan pagar, melambaikan tangan dengan senyuman paling cerah untuk menyambut Acha pagi itu.

Begitu motor Nathan berhenti sempurna di depan halaman, Acha langsung berpamitan kepada Fitri yang masih berdiri di teras sambil tersenyum penuh godaan.

Keduanya berjalan menghampiri Yanto dan Ranti yang kebetulan sedang berada di ruang tamu untuk bersiap melepas kepergian Acha kembali ke tempat kos.

Acha menyalami kedua orang tuanya secara bergantian dengan takzim, meminta doa restu agar pekerjaannya hari ini berjalan lancar.

Yanto dan Ranti menyambut uluran tangan sang anak dengan senyuman hangat. Sebelum Acha melangkah pergi, Ranti memberikan beberapa pesan khusus kepada Nathan yang berdiri tak jauh dari mereka.

"Nak Nathan, Tante titip Acha ya," ucap Ranti dengan nada penuh keibuan dan sedikit menitipkan pesan serius.

"Karena kita nggak bisa memantau kesehatannya setiap saat dari rumah, sekarang cuma kamu yang bisa jagain dia di sana."

Yanto mengangguk mengamini perkataan istrinya. "Iya, Nak Nathan. Apalagi rumah kamu kan masih satu kompleks dengan tempat kosan Acha, ditambah lokasinya juga dekat sekali dari tempat kerjanya. Jadi tolong bantu ingatkan dan awasi makannya, ya, biar nggak kecapekan lagi."

Mendengar titipan penuh kepercayaan dari calon mertuanya, Nathan menegakkan punggungnya dengan sikap tegap dan penuh tanggung jawab. Dia tersenyum meyakinkan sambil mengangguk mantap.

"Siap, Om, Tante! Tenang aja, saya bakal pastikan Acha jaga kesehatan, nggak kecapekan, dan selalu tepat waktu istirahatnya selama di kosan," jawab Nathan dengan sungguh-sungguh.

Mendengar janji Nathan yang begitu meyakinkan, Ranti dan Yanto merasa jauh lebih tenang. Setelah berpamitan sekali lagi dan merapikan bawaan Acha di motornya.

Nathan dan Acha akhirnya melaju meninggalkan rumah menuju tempat kosan, siap memulai kembali rutinitas harian mereka dengan perasaan aman dan bahagia.

Angin pagi berembus sejuk menyapa perjalanan Acha dan Nathan menuju ke kawasan tempat kos. Di atas motor, Acha duduk dengan postur agak kaku di jok belakang.

Tangannya sengaja bertumpu di besi pegangan belakang motor, menjaga jarak aman dari punggung Nathan karena rasa gengsi dan malu yang masih menggelayut di hatinya setelah diledek Fitri tadi pagi.

Nathan yang melihat posisi Acha dari spion spion motor sempat tersenyum kecil. "Pegangan yang bener, Cha, jalurnya agak ramai nih," ucap Nathan sedikit menoleh ke belakang.

"Enggak usah, aku pegangan besi kok, aman!" balas Acha agak berseru di tengah bisingnya kendaraan kota.

Namun, situasi di jalan raya tak bisa ditebak. Menjelang tikungan dekat area pertokoan, sebuah mobil SUV di depan mereka tiba-tiba mengerem mendadak karena menghindari pengendara motor lain yang memotong jalur secara sembarangan.

CIIIIT!

Nathan langsung sigap menarik rem tangan dan menyeimbangkan motornya agar tidak menabrak mobil di depan.

Karena terkejut, refleks tubuh Acha langsung mengambil alih. Tanpa sempat berpikir panjang, dia menerjang ke depan dan memeluk erat punggung Nathan dari belakang untuk menahan tubuhnya agar tidak terdorong ke depan.

Wajahnya bahkan sempat menempel sesaat di punggung tegap sang kekasih.

Begitu motor berhasil berhenti sempurna dan situasi kembali terkendali, Acha langsung tersadar.

Semburat merah merona seketika menjalar di kedua pipinya karena rasa malu. Dia buru-buru menegakkan duduknya dan melepaskan pelukannya.

"E-eh, maaf, a! Refleks tadi, kaget ada mobil ngerem mendadak," ujar Acha salah tingkah sambil merapikan tas ranselnya, berusaha menjaga jarak lagi.

Bukannya melepaskan atau membiarkan Acha kembali menjaga jarak, Nathan justru tersenyum hangat. Tangan kanannya terulur ke belakang, meraih tangan Acha dengan erat, lalu menariknya melingkar kembali ke pinggangnya.

"Udah, pegangan yang erat aja sama aku," kata Nathan dengan nada lembut namun tegas.

"Enggak usah gengsi segala, deh, kalau kamu kenapa-napa atau jatuh dari motor di tengah jalan gimana."

Acha tertegun sejenak merasakan kehangatan tangan Nathan yang menggenggam jemarinya di atas perut pemuda itu.

Jantungnya berdegup semakin kencang, bukan lagi karena kaget akibat rem mendadak, melainkan karena perlakuan manis Nathan yang begitu protektif.

Menyerah pada rasa malu dan rasa amannya, Acha akhirnya membiarkan tangannya melingkar memeluk Nathan dengan nyaman sepanjang sisa perjalanan menuju tempat kos.

Perjalanan singkat yang diwarnai debaran jantung dan kehangatan itu akhirnya membawa mereka tiba di halaman depan tempat kos Acha.

Nathan mematikan mesin motornya, lalu dengan sigap membantu menurunkan koper serta kantong berisi perlengkapan kerja Acha dari jok belakang.

Acha membuka pintu kamar kosnya yang tampak rapi dan bersih. Sambil dibantu oleh Nathan yang membawakan koper beratnya masuk ke dalam.

Acha mulai mengeluarkan pakaian, perlengkapan mandi, serta peralatan kerjanya untuk disusun kembali ke dalam lemari dan meja rias.

Tidak butuh waktu lama bagi mereka berdua untuk merapikan semuanya, karena barang-barang memang sudah dipilah sejak semalam di rumah.

"Nah, beres kan! Kamar kosannya udah rapi lagi," ucap Nathan sambil menyeka sedikit keringat di dahinya, lalu mendudukkan diri sejenak di tepi kasur Acha.

Acha tersenyum manis sambil menyerahkan sebotol air mineral dingin yang ia ambil dari kulkas mini di sudut kamar.

"Makasih banyak ya, a, udah dibantuin bawa koper dan beberes kamar."

Nathan menerima botol air tersebut dan meneguknya perlahan. "Sama-sama, Yang. Kan tugas pawang memastikan semuanya beres dan aman," balas Nathan dengan senyuman jenaka yang membuat Acha merona malu.

Setelah beristirahat sejenak dan memastikan semua barang Acha sudah tertata dengan baik, mereka melirik jam dinding yang menunjukkan waktu semakin mendekati jam masuk kerja.

"Eh, sebentar lagi kamu harus masuk shift kan? Nanti malah kesiangan ke minimarket tempat kamu kerja," ujar Acha mengingatkan sambil merapikan tas ransel kerjanya sendiri.

Nathan mengangguk setuju. "Iya, benar juga. Ya udah, yuk kita berangkat sekarang. Biar aku antar kamu langsung ke tempat kerja dulu, baru setelah itu aku langsung pulang."

Acha mengunci pintu kamar kosnya rapat-rapat. Keduanya kembali naik ke atas motor Nathan, meninggalkan area kos dengan hati yang ringan dan siap menjalani hari baru penuh semangat.

Motor matic Nathan meluncur mulus sebelum akhirnya berhenti tepat di depan pelataran minimarket tempat Acha bekerja.

Suasana pagi di depan toko tampak sibuk dengan beberapa rekan kerja yang sedang menata barang dagangan di rak luar.

Begitu Acha melepas helm dan turun dari motor, kehadiran Nathan yang memboncengnya seketika menarik perhatian seluruh mata rekan kerjanya.

Terutama Vika dan Tasya, dua rekan kerja Acha yang paling hobi bergosip, langsung melotot kaget lalu tersenyum penuh arti sambil berbisik-bisik.

"Wihhh... Datang-datang diantar pangeran nih ye! Pengantin baru mah beda ya, diantar jemput terus!" seru Vika dengan nada menggoda begitu Acha mendekati pintu masuk minimarket.

Amina langsung ikut nimbrung sambil menatap Nathan yang masih duduk di atas motor melambaikan tangan ramah.

"Heh, Acha! Ngaku nggak? Sejak kapan jadi sepasang lengket terus kayak perangko? Padahal kemarin-kemarin masih malu-malu kucing, eh sekarang udah diantar sampai depan toko!"

Acha yang mendengar godaan bertubi-tubi itu langsung salah tingkah bukan main. Pijakannya terasa gamang, pipinya merona merah hingga menjalar ke leher.

Dia buru-buru melepas ranselnya dan meletakkannya di locker karyawan, lalu menghampiri kedua temannya dengan wajah cemberut pura-pura kesal.

"Apaan sih kalian! Biasa aja kali, nggak usah lebay deh!" elak Acha dengan suara tertahan, berusaha menutupi rasa malunya.

"Ih, nggak bisa gitu dong! Cerita dong, Cha! Dari mana asal-muasalnya tiba-tiba kalian jadi sedekat ini? Kemarin-kemarin kan kamu masih jual mahal!" kejar Amina penasaran sambil mencolek-colek lengan Acha.

Acha menghela napas panjang sambil memijat pelipisnya pelan. Bukan dia tidak mau berbagi cerita, tetapi dia benar-benar bingung harus memulainya dari mana.

Ceritanya terlalu panjang—mulai dari dirinya yang jatuh sakit, drama kunjungan ke rumah, jalan-jalan ke mal kemarin, hingga urusan titip-menitip pesan dari mamahnya.

Kalau harus dijelaskan satu-satu dari awal, bisa-bisa pekerjaannya hari ini tertunda karena keburu di- bully habis-habisan oleh teman-temannya.

"Udah ah, kepo banget kalian! Udah mau masuk jam shift nih, nanti keburu ditegur kepala toko!" kilah Acha mengalihkan pembicaraan sambil buru-buru merapikan seragamnya dan bersiap memegang mesin kasir.

Dari luar kaca minimarket, Nathan yang melihat ekspresi Acha yang salah tingkah hanya bisa terkekeh geli melihat tingkah sang kekasih yang kerepotan menghadapi temannya.

Nathan pun membunyikan klakson motornya sekilas sebagai tanda pamit, lalu melambaikan tangan sebelum akhirnya tancap gas menuju tempat kerjanya sendiri.

Suasana di area gudang minimarket tempat Acha bekerja terasa cukup sibuk. Mengenakan seragam rapi dengan rambut dicepol rapi, Acha berdiri di depan rak stok barang.

Di tangannya terdapat clipboard daftar inventaris, sementara matanya teliti memeriksa tanggal kedaluwarsa (expired date) pada setiap kemasan produk makanan ringan dan minuman kaleng yang tertata di rak.

Di tengah keserukannya, langkah kaki seseorang mendekat ke arahnya. Denis, salah seorang rekan kerja pria yang dikenal cukup usil dan ramah, muncul dengan membawa kardus kosong.

Sebenarnya, sudah lama menjadi rahasia umum di antara pegawai minimarket bahwa Denis diam-diam menaruh hati kepada Acha.

Denis sengaja memperlambat langkahnya, lalu berdiri tepat di samping Acha sambil ikut-ikutan pura-pura melihat deretan kaleng minuman.

"Rajin banget sih, Cha. Hati-hati matanya pusing kalau kelamaan liatin angka expired gitu," sapa Denis dengan nada sok akrab, mencoba mencuri perhatian.

Acha hanya melirik sekilas, lalu kembali fokus pada pekerjaannya tanpa menghentikan gerak tangannya.

"Biasa, Den, kewajiban. Kalau nggak dicek teliti, nanti bisa bahaya kalau sampai ke tangan pembeli."

Melihat Acha yang tetap cuek, Denis menarik napas dalam-dalam seolah mengumpulkan keberanian.

Suasananya yang agak sepi di sudut gudang membuatnya merasa ini waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaan yang selama ini dipendamnya.

"Cha... Sebenarnya, ada hal penting yang sudah lama pengen aku omongin ke kamu," kata Denis serius, mengubah nada bicaranya menjadi lebih pelan dan menatap Acha lekat-lekat.

Acha menghentikan aktivitasnya, menoleh dengan kening berkerut tipis. "Ngomong apa, Den? Serius banget."

Denis tersenyum canggung namun menyiratkan ketulusan. "Aku nggak mau basa-basi lagi, Cha. Selama kita kerja bareng di sini, aku makin yakin kalau aku benar-benar suka sama kamu. Aku suka cara kamu kerja, cara kamu senyum... Kalau boleh, aku mau serius mendekati kamu buat jadi pacar aku."

Mendengar pengakuan blak-blakan itu, Acha sempat tertegun sejenak. Meskipun sikap Denis selama ini memang terkadang berlebihan, dia tidak menyangka pria itu akan menyatakannya secara terang-terangan di tempat kerja.

Namun, ekspresi wajah Acha langsung berubah tenang. Tanpa ragu dan dengan nada bicara yang sangat sopan, dia menatap Denis lalu menolak secara halus.

"Makasih banyak ya, Den, atas perasaan dan perhatian kamu selama ini. Aku sangat menghargainya sebagai teman sekerja. Tapi... maaf banget, aku nggak bisa terima perasaan kamu," ucap Acha lembut.

Denis tampak kecewa, namun ia masih penasaran. "Kenapa, Cha? Apa karena aku kurang serius? Atau... kamu sudah ada yang punya?" tanya Denis, menyiratkan sedikit rasa penasaran.

Acha tersenyum tipis, mengangguk perlahan untuk memperjelas batasannya. "Iya, Den. Jawabannya karena aku memang sudah punya pacar. Jadi, lebih baik kita temenan profesional aja ya sebagai rekan kerja."

Mendengar jawaban jujur namun telak itu, Denis hanya bisa menghembuskan napas pasrah, tersenyum kecut sambil mengangguk pelan.

"Ah... begitu ya. Oke deh, Cha, kalau kamu sudah ada yang punya, aku bisa apa. Tapi setidaknya aku lega sudah jujur ke kamu."

Setelah perbincangan singkat itu usai, Denis berpamitan untuk kembali melanjutkan tugasnya di bagian kasir, meninggalkan Acha yang kembali fokus menyelesaikan pemeriksaan barang kedaluwarsa dengan tenang.

Sepeninggal Denis, suasana kembali tenang. Acha menarik napas pelan untuk menetralisir rasa canggung, lalu kembali fokus menuntaskan tugasnya di sudut gudang minimarket tersebut.

Dengan cekatan, dia melanjutkan pemeriksaan tanggal kedaluwarsa pada sisa deretan produk makanan dan minuman di rak. Setelah bagian itu dipastikan aman, Acha tidak langsung kembali ke area depan toko.

Mengingat jam operasional sudah berjalan cukup siang, dia berinisiatif mengecek ketersediaan stok barang harian yang mulai menipis di etalase utama.

Acha menyusuri lorong-lorong rak penyimpanan di gudang, memeriksa satu per satu kardus persediaan—mulai dari mi instan, sabun mandi, hingga deretan minuman dingin.

Dia mengambil beberapa item barang yang persediaannya di minimarket hampir habis atau bahkan sudah kosong melompong.

Satu per satu produk tersebut dia susun rapi ke atas troli dorong barang agar bisa langsung dibawa ke depan dan ditata kembali ke rak pajangan, memastikan pembeli tidak kecewa mendapati barang yang mereka cari kosong.

Tanpa sepengetahuan Acha, pintu kaca minimarket bergeser otomatis terbuka, diiringi suara bel sensor yang berbunyi nyaring menyambut kedatangan seorang pelanggan baru.

Sosok Nathan melangkah masuk ke dalam area toko. Siang itu, dia sengaja mampir ke minimarket tempat Acha bekerja karena berniat membeli beberapa kebutuhan pribadinya sekaligus ingin sekadar melihat sekilas keadaan sang kekasih di sela-sela jam istirahatnya.

Nathan berjalan santai menyusuri lorong demi lorong rak pajangan. Matanya diam-diam mengedar ke sekeliling, berharap bisa menangkap sosok berhijab rapi yang sejak tadi memenuhi pikirannya.

Dia sempat melangkah ke dekat area kasir dan berpapasan sejenak dengan Vika serta Amina.

Melihat kedatangan Nathan, kedua rekan kerja Acha itu langsung tersenyum penuh arti sambil saling menyenggol lengan satu sama lain.

"Eh, cari siapa, a? Nyariin pawangnya ya?" sapa Vika setengah berbisik dengan nada menggoda.

Nathan tersenyum tipis, sedikit salah tingkah. "Iya nih, teh. Lagi break sebentar. Acha-nya mana ya?"

"Wah, lagi sial nih, A! Dari tadi anak itu sibuk banget di gudang belakang, meriksa-meriksa barang sama expired date. Belum kelihatan batang hidungnya ke depan," jawab Tasya menimpali.

Nathan mengangguk paham mendengar penjelasan itu. Dia melirik jam di pergelangan tangannya, menyadari bahwa waktu istirahatnya tidak lama lagi dan dia harus segera kembali ke tempat kerjanya sendiri.

Mengingat Acha yang tampaknya sedang kerepotan dengan setumpuk pekerjaan di gudang, Nathan memutuskan untuk tidak mengganggunya.

Dia pun segera mengambil beberapa barang yang dibutuhkannya, membayarnya di kasir, lalu berpesan kepada Vika dan Tasya untuk menyampaikan salam kepada Acha sebelum akhirnya dia berlalu pergi meninggalkan minimarket.

Hingga Nathan selesai berbelanja dan kembali melajukan motornya, Acha sama sekali tidak menyadari kehadiran sang kekasih karena masih terlalu fokus berkutat dengan kardus-kardus persediaan di dalam gudang.

Begitu urusan di gudang beres, Acha mendorong troli penuh barang belanjaan yang hampir habis stoknya menuju area depan toko.

Dia mulai merapikan dan menata produk-produk tersebut ke rak pajangan satu persatu dengan teliti.

Melihat Acha sudah keluar dari gudang, Vika yang tadinya menjaga kasir langsung beranjak mendekati meja sambil melipat tangan di dada dengan senyuman penuh arti.

"Waduh, pengantin baru baru kelar dari pertapaannya di gudang nih!" ledek Vika begitu berdiri di hadapan Acha.

Acha yang sedang memegang botol minuman langsung menghentikan kegiatannya dan menoleh heran.

"Apaan sih, vik? Selesai juga kan akhirnya tugas aku."

"Iya sih kelar, tapi tahu nggak? Tadi ada pangeran kamu tahu datang ke sini, nyariin kamu lho!" timpal Vika dengan nada gemas.

Kening Acha langsung berkerut dalam. "Hah? Siapa? Maksud kamu A Nathan?"

"Yaiyalah siapa lagi kalau bukan A Nathan! Tadi dia belanja ke sini, terus nyamperin kasir nyariin kamu. Pas aku bilang kamu lagi sibuk di gudang meriksa barang, dia nggak mau gangguin kamu, jadi cuma belanja sebentar terus langsung pamit pergi lagi," jelas Vika panjang lebar.

Mendengar penjelasan itu, mata Acha langsung membelalak kaget. Perasaan kecewa seketika menyergap hatinya. Dia mendengus kecil sambil memegang pinggangnya.

"Ih, Vika! Kok kamu nggak manggil aku sih pas A Nathan datang? Tau gitu kan aku bisa keluar sebentar nemuin dia!"

Vika terkekeh geli melihat ekspresi cemberut Acha. "Ya ampun, Bu Bos, habisnya kamu keliatan sibuk banget serius meriksa expired date di dalam. Mana enak aku manggil-manggil di tengah kerjaan. Lagian dia juga buru-buru harus balik kerja lagi."

Acha mengerucutkan bibirnya, merasa sedikit kesal karena melewatkan kesempatan bertemu Nathan siang itu.

Namun, melihat Vika yang malah senyum-senyum meledek, kekesalannya perlahan menguap. Dia akhirnya hanya bisa nyengenges-nyengenges sendiri sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"Hehehe... ya ampun, padahal pengen ketemu sebentar tadi. Ya udah deh, nanti aja aku chat atau telepon dia pas istirahat," kata Acha sambil nyengir lebar, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya merapikan sisa barang di rak dengan perasaan gemas pada sang kekasih.

Sembari menikmati jeda waktu istirahat kerjanya, Acha lekas merogoh saku seragamnya dan mengeluarkan ponsel untuk mengirim pesan singkat kepada Nathan.

Rasa penasaran sekaligus sedikit rasa gemas karena tadi sempat terlewat bertemu membuat jari-jarinya lincah mengetik layar.

“Aa tadi beneran ke minimarket ya? Kok nggak manggil aku sih pas ke sini? Tahu gitu kan aku bisa keluar sebentar nemuin aa, ih!” tulis Acha di pesan WhatsApp-nya.

Tidak butuh waktu lama bagi Nathan untuk membalas pesan tersebut. Ponsel Acha bergetar pelan, memunculkan notifikasi balasan dari sang kekasih.

“Iya, tadi aku sempat mampir sebentar mau lihat kamu sekalian belanja. Sengaja nggak manggil karena teman kamu bilang lagi sibuk banget di gudang. Nggak apa-apa, Sayang, kamu harus tetap profesional kalau lagi jam kerja. Takutnya nanti kalau atasan kamu tahu kita pacaran di tempat kerja, kamu malah ditegur atau ditegur kepala toko,” balas Nathan panjang lebar penuh pengertian.

Membaca balasan pesan dari Nathan yang begitu bijak dan perhatian, senyuman manis langsung terkembang di bibir Acha.

Rasa kecewanya seketika menguap, berganti dengan kehangatan di dadanya. Pria itu selalu bisa membuatnya merasa dihargai sekaligus diingatkan untuk bersikap profesional.

Acha pun mengetikkan balasan singkat tanda setuju, lalu kembali bersiap melanjutkan sisa jam kerjanya dengan hati yang berbunga-bunga.

Waktu istirahat kerja yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Sembari melepas apron kerjanya, ponsel Acha kembali bergetar di dalam saku.

Sebuah pesan singkat dari Nathan muncul di layar, menawarkan ajakan yang langsung membuat matanya berbinar.

“Sayang, jam istirahat ya? Udah makan belum? Kalau belum, yuk cari makan di luar aja. Biar aku jemput ke minimarket, kamu pasti bingung kan mau makan apa?”

Membaca pesan itu, Acha tersenyum lebar karena Nathan sangat paham kebiasaannya yang selalu kebingungan setiap kali ditanya ingin makan apa. Tanpa pikir panjang, dia langsung membalas setuju.

Tidak lama setelah pesan itu terkirim, motor Nathan sudah tampak berhenti di pelataran minimarket. Acha yang sudah bersiap langsung menghampiri sang kekasih dengan langkah riang.

Setelah berpamitan sebentar kepada Vika dan Amina, Acha dan Nathan langsung meluncur meninggalkan area minimarket untuk mencari tempat makan siang enak di sekitar sana.

Motor Nathan melaju santai menyusuri jalanan kota hingga akhirnya berbelok masuk ke sebuah warung makan sederhana yang tampak bersih dan cukup ramai pengunjung.

Tempat ini rupanya adalah warung makan langganan Nathan setiap kali dia jam istirahat kerja.

Begitu mereka mendapatkan meja kosong di bagian sudut, seorang pramusaji datang membawa buku menu sekaligus lembar pesanan.

Nathan langsung memesan menu favoritnya, yakni seporsi capcay hangat, perkedel kentang yang gurih, serta rolade goreng.

Giliran Acha yang memesan sempat membuat Nathan kebingungan. Dengan ragu-ragu dan wajah terpaksa, Acha menunjuk menu sayur sop di daftar makanan.

Melihat pilihan Acha, Nathan langsung mengernyitkan dahi heran. "Loh, kok pesan sayur sop, Cha? Emangnya kamu suka sayur? Setahu aku kamu kan paling anti sama kuah sayur bening begitu."

Acha mendengus pelan sambil memutar bola matanya malas. "Mau gimana lagi, tadi pagi mamah pesan lewat chat supaya aku perbanyak makan sayur biar nggak gampang sakit lagi. Makanya aku paksain pesan sop ini, walaupun aslinya aku males banget," aku Acha dengan nada cemberut.

Nathan terkekeh pelan mendengar alasan kekasihnya itu. Sebagai pawang yang paling tahu kebiasaan Acha, dia tahu betul kalau memaksa Acha menghabiskan mangkuk sayur sop dengan kuah bening itu sama saja menyiksanya.

"Udah, nggak usah dipaksa kalau memang nggak suka banget sama kuahnya. Biar aku bantu modifikasi menunya," kata Nathan penuh perhatian.

Nathan lantas memanggil pramusaji dan memesan tambahan ayam suwir serta seporsi kecil kentang mustopa yang renyah dan pedas manis dari etalase.

Setelah pesanan datang, Nathan dengan sigap memisahkan kuah sop tersebut, lalu mencampurkan suwiran ayam dan taburan kentang mustopa yang gurih kering ke atas nasi dan sayuran pilihan Acha.

"Nah, coba makan pakai ayam suwir sama kentang mustopa gini. Dijamin rasanya nggak hambar dan tetap masuk kategori makan sayur sesuai pesan mamah kamu," bujuk Nathan sambil menyodorkan piring ke hadapan Acha.

Acha mencoba menyuap sesapuan nasi dengan suwiran ayam dan kentang mustopa buatan Nathan. Matanya langsung berbinar cerah karena rasanya ternyata jauh lebih nikmat dan pas di lidah, menutupi rasa sayur yang kurang dia sukai.

Sambil tertawa kecil, Acha melahap makan siang itu dengan lahap, menikmati kebersamaan mereka di tengah sela-sela jam kerja yang padat.

Suasana di warung makan sederhana itu terasa begitu hangat dan menyenangkan. Berkat trik jitu Nathan yang memadukan sayuran dengan ayam suwir dan kentang mustopa.

Acha yang tadinya sempat cemberut kini melahap makan siangnya dengan sangat lahap dan tanpa beban. Piring mereka berdua akhirnya bersih tak bersisa, menandakan betapa nikmatnya santap siang kali ini.

Setelah membayar pesanan dan sedikit beristirahat melepas penat, Nathan melirik jam tangan di pergelangan tangannya.

"Wah, sebentar lagi jam istirahat kamu habis, Cha. Kita harus balik sekarang biar kamu nggak terlambat masuk kerja," ajak Nathan.

Acha mengangguk patuh sambil merapikan tas kecilnya. Keduanya lantas berjalan keluar menuju parkiran motor.

Di atas motor matic Nathan, perjalanan singkat kembali dilalui. Tak butuh waktu lama, kendaraan mereka sudah tiba dan berhenti mulus di depan pelataran minimarket tempat Acha bekerja.

Acha turun dari motor, melepas helmnya, lalu menyerahkannya kembali kepada Nathan sambil tersenyum manis.

"Makasih banyak ya, a, udah ditraktir makan siang sekalian diselamatkan dari siksaan sayur sop tadi," ucap Acha berseloroh riang.

Nathan terkekeh pelan sambil merapikan sedikit kerudung Acha yang agak berantakan kena angin.

"Sama-sama, Sayang. Makanya jangan suka protes kalau dipedulikan pawang. Sana masuk, kerja yang bener ya, jangan melamun mikirin aku terus."

"Dih, GR banget!" balas Acha tertawa kecil, meski pipinya merona merah.

Setelah melambaikan tangan pamit, motor Nathan melaju meninggalkan halaman minimarket untuk kembali ke tempat kerjanya sendiri.

Acha pun menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah masuk ke dalam toko dengan perasaan bahagia dan tenaga yang sudah terisi penuh, siap melanjutkan sisa hari kerjanya.

Be to continued

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!