Axcelino Pierce tampak sempurna, namun raganya terpecah oleh dua kepribadian yang saling berebut kendali akibat trauma masa kecil. Menyaksikan rumahnya terbakar dan sang kakak tewas mengenaskan tepat didepan mata, membuat Amnesia traumatis yang mengunci kehidupannya. Penyakit itu mustahil disembuhkan medis, hingga ia lelah terus berbagi kehidupan.
Kehadiran Sora Kyne yang ceria menjadi titik balik. Sora bukan hanya satu-satunya orang yang sanggup meredam gejolak kepribadian ganda Axcelino, tetapi juga bertekad membantunya mengingat kembali masa lalu yang terkunci demi kesembuhan sahabat barunya itu.
Namun, misteri besar menanti, bagaimana cara mereka membongkar skandal konspirasi di balik kematian sang kakak yang janggal, sekaligus membuka kunci rahasia kesembuhan Axcelino, sebelum kepribadian gelapnya mengambil alih selamanya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena kira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesalahpahaman
# Kesalahpahaman #
"Tapi Nona... Kalau memang pacar Nona itu anak baik-baik, bagaimana bisa dia ngajak Nona masuk ke klub malam itu? Bibi ini yang kurang pergaulan saja tahu kok citra buruk Moon Cafe itu. Bibi juga khawatir."
Belum sempat memberi pembelaan lagi, Sora dan Bi Muna terdiam dengan menajamkan pendengaran. Ada sesuatu yang membentur kaca dan tembok balkon kamar Sora berkali-kali. Mereka berdua langsung mendatangi sumber suara, membuka pintu kaca balkon, dan langsung menemukan Axcel yang sudah menunggunya di bawah balkon. Axcel melambaikan tangannya tanpa suara dengan kewaspadaan penuh. Entah bagaimana cara Axcel lolos dari penjagaan satpam depan. Axcel meminta Sora turun untuk menemuinya, karena tak akan mungkin bisa berbicara lirih jika jarak mereka terlalu jauh.
"Bibi kok jadi nggak yakin lagi sih. Nona nggak boleh kabur sama dia, Non. Cinta itu nggak selamanya indah. Realitanya kita butuh cukup uang buat hidup, Nona..."
Sora menepuk keningnya mendengar kesalahpahaman yang terlalu dalam itu. Ia ingin mengatakan kalau Axcel itu seorang putra mahkota, bahkan ia sudah menerima terlalu banyak barang dan uang dari Axcel. Kalaupun mau kabur dengan Axcel, mana mungkin hidupnya jadi susah? Yang aneh lagi Mamanya, bukankah Nyonya Jolly yang menerima pemberian mobil dan tas-tas branded dari Nyonya Evelyn? Apakah mereka tak menyampaikan kalau itu semua dari Axcel? Bundanya juga tak menanyakan sama sekali tentang asal-usul semua pemberian itu.
"Duh, Bi... Pusing deh. Bunda sama Bibi sama aja. Jangan mikir yang jelek-jelek soal Axcel. Lagian aku udah nerima banyak mahar dari dia. Cel... Cel... Cepat pergi! Nanti aku nemuin kamu."
BRUGH!
Bi Muna tiba-tiba pingsan setelah mendekap dadanya, seperti mengalami gangguan pernapasan sebelum hilang kesadaran. Sora bingung dan panik bukan kepalang. Di satu sisi Axcel belum mau pergi, di sisi lain ia harus menolong Bi Muna. Sora harus segera mencari bantuan, dan tak berapa lama ia mendengar satpam rumah, Pak Ringgo, berteriak memanggil para asisten rumah tangga lain karena sudah menemukan keberadaan Axcel. Sora bergegas melongok kembali ke bawah lalu memberi peringatan pada Axcel dengan tangannya, menyuruh Axcel segera pergi.
"Pak Ringgo! Pak, sini naik, Pak! Tolongin Bi Muna pingsan!"
Sora bersyukur idenya muncul di saat yang tepat. Pak Ringgo yang awalnya menargetkan Axcel, sekarang beralih panik mendengar kondisi Bi Muna yang mendadak pingsan. Pak Ringgo mengajak ketiga asisten rumah lainnya untuk membantunya menolong Bi Muna terlebih dahulu. Untuk sesaat Axcel bisa selamat dan melarikan diri diam-diam, dan Sora terduduk lunglai di sebelah tubuh Bi Muna yang belum sadarkan diri.
----
"Ah... Syukurlah, sudah sadar ya... Bi Muna kenapa, kok bisa pingsan? Bibi sakit kah? Saya panggilkan dokter ya? Atau mau dibelikan obatnya aja?"
Di ruang keluarga sudah berkumpul semua anggota keluarga, termasuk Pak Ringgo dan ART lainnya mengelilingi Bi Muna yang sedang dibaringkan di sofa. Nyonya Jolly sudah bersiap menelpon dokter keluarga untuk memeriksa kondisi Bi Muna, tapi Bi Muna tersadar lebih awal saat rekan kerjanya yang bernama Bi Ina mengolesi banyak minyak angin di hidungnya. Bi Muna juga menolak tawaran Nyonya Jolly dan mengatakan kalau dirinya baik-baik saja.
Bi Muna hanya syok karena mendengar pernyataan nona kecilnya tentang Axcel. Ternyata diam-diam nona kecilnya sudah menerima banyak mahar dari pria yang bernama Axcel itu dan berencana kabur; mereka berdua akan kawin lari.
Sontak keterangan Bi Muna membuat syok semua orang, dan memunculkan gelombang kemarahan yang besar pada kedua orang tua Sora. Semua memandang Sora dengan tatapan intens, bahkan terlihat jelas bagaimana kilatan mata Nyonya Jolly mampu menusuk jantung Sora.
Bi Muna menundukkan kepalanya, tak berani melihat nona kecilnya yang sedang terpojok dan bersiap akan menerima hukumannya. Tapi ia tak punya cara lain lagi untuk menghentikan rencana Sora dan Axcel. Tadi saja Axcel hampir berhasil membawa kabur Sora karena berhasil menyusup dan mengelabui Pak Ringgo.
"Jadi, tempo hari itu, mobil sama barang-barang yang masih Bunda simpan di gudang, itu semua mahar yang dikasih keluarga si berandalan itu? SORA!"
Tubuh Sora seakan terasa menyusut, menciut seperti seekor tikus yang siap diterkam kucing raksasa. Ia bersimpuh pasrah sambil memohon untuk diberi waktu menjelaskan. Tapi Nyonya Jolly sudah tidak bisa mentoleransi lagi tindakan sembrono putri semata wayangnya itu.
Nyonya Jolly memberi perintah pada Bi Muna dan Pak Timo, salah satu tukang kebunnya, untuk mengemas kembali semua pemberian Axcel, lalu mengirimnya kembali ke kediaman Nyonya Evelyn esok hari. Kemudian Nyonya Jolly memerintahkan Pak Ringgo untuk membawa Sora kembali ke kamarnya dan menguncinya dari luar. Dalam kata lain, Sora kembali dikurung di kamarnya sampai hari lamarannya tiba. Itu akan terjadi dua hari lagi.
-----
BUGH! BUGH!
"Auw... Argh! Bunda ni bener-bener nggak mau dengerin penjelasanku sama sekali!"
Sora terduduk di depan pintu kamar sambil mengelus kakinya yang terasa sakit setelah menendang pintu beberapa kali. Ia merasa kesal tapi juga tak berani melawan orang tuanya, jadi Sora hanya bisa menggerutu.
"Hey... Calon pengantin kok nangis? Kan harusnya happy."
Mata Sora terbelalak melihat Axcel yang sedang berdiri di dekat pintu kamar mandinya. Buru-buru Sora bangun dan mendorong kuat-kuat tubuh Axcel, memintanya untuk segera keluar dari kamarnya. Entah terbang atau melompat dari balkon, yang penting harus segera pergi sebelum ketahuan orang rumah. Bagi Sora situasi ini sudah kacau, ia sendiri tak bisa membela diri. Kalau Axcel tertangkap, bisa jadi hari pernikahannya dengan Easton akan dipercepat.
"Eh, tunggu... Tunggu... Aku nggak bisa keluar lagi. Di bawah udah ada yang jaga. Tadi kan aku masuknya manjat pohon di samping pas nggak ada satpammu."
Karena tak percaya dengan perkataan Axcel, Sora membuka tirai dan juga pintu balkon untuk melongok ke bawah. Ternyata benar Pak Ringgo dan Pak Timo sudah berjaga di bawah. Sora mondar-mandir tak tenang, seperti sedang mencari cara untuk mengeluarkan Axcel. Ini sudah malam, Axcel harus pulang. Nyonya Evelyn pasti khawatir kalau anaknya belum pulang. Di sisi lain, ponsel Sora juga disita dan tak bisa memberi kabar ke Nyonya Evelyn.
TOK... TOK... TOK...
"Non... Malam ini mau makan malam apa? Bibi mau suruh Bi Ina masakin."
Sora menarik Axcel yang masih bersandar santai di sofa untuk segera bersembunyi di bawah ranjang, waspada siapa tahu Bi Muna membuka kunci dan masuk untuk melihat kondisinya. Tubuh Axcel terpelanting ke lantai dan lumayan kesakitan, tapi ia tahu situasi sedang tidak baik, jadi Axcel tak berani mengeluh. Tak hanya itu, Sora juga melempar asal-asalan selimut tebalnya untuk menutupi Axcel.
"Tolong pesankan aku pizza dan hotdog aja, Bi. Yang Large ya... Aku lapar banget. Bibi nggak masuk dulu?"
Dari balik pintu Bi Muna mengiyakan permintaan Sora, dan mengatakan kalau kunci kamar sudah diserahkan ke Nyonya Besar, jadi kalau mau buka pintu kamar harus bersama Nyonya Jolly. Sora mendengus kesal. Ia berharap Bi Muna yang memegang kunci dan bisa ia ajak bekerja sama untuk mengeluarkan Axcel dari pintu utama yang sepertinya tak dijaga ketat oleh Pak Ringgo.
"Tunggu sebentar... Kalau Bi Muna bilang Bunda yang bawa kunci, berarti yang antar makanan nanti Bunda dong... Wah, gawat! Itu anak mau diumpetin ke mana ya? Di ruang ganti aja kali ya, simpan di lemari. Ah, ya bener! Cel... Ayo ikut aku."
Sora berjingkat saat melihat Axcel malah menggunakan selimutnya untuk alas ia berbaring lengkap dengan bantal, dan malah asyik main game di ponselnya. Terlihat terlalu santai di situasi yang menegangkan seperti ini. Tanpa basa-basi lagi, Sora langsung menggeret Axcel ke walk-in closet dan menyuruhnya masuk ke laci penyimpanan tas-tas besar yang benar-benar pas untuk badan Axcel saat terlentang.
"Ini kenapa aku dimasukkan ke peti mati? Sora, kau ini bener-bener pengen nyingkirin aku kah? Takut aku ganggu pernikahan kalian? Sora, kau tahu kan siapa aku? Kita bicarakan baik-baik kan bisa? Kan bisa tetap ngurusin aku sama Ino setelah kau nikah."
CKLEK... CEKLEK...
Sora mendorong kening Axcel dan memaksanya untuk berbaring, menutup rapat storage, lalu segera keluar dari walk-in closet. Sedikit gugup menanti Bundanya membuka gagang pintu dengan jantung yang berdegup kencang. Nyonya Jolly masuk ke kamar diikuti dengan Bi Muna yang membawa makanan pesanan Sora dengan porsi yang jumbo. Bi Muna langsung menata makan malam di meja Sora. Sedangkan Nyonya Jolly sibuk meneliti setiap sudut ruangan Sora, dari tirai hingga kolong ranjang. Dan saat Nyonya Jolly mendekati area toilet, tangan Sora mulai gemetaran, karena pastinya Bundanya juga akan masuk ke walk-in closet yang letaknya tepat berhadapan dengan toilet.
"Bunda nyari apa? Bilang aja, nanti Sora bantu nyariin."
Sora memberanikan diri untuk mengalihkan perhatian Nyonya Jolly ketika beliau mulai menyentuh gagang pintu ruang ganti Sora. Berharap Nyonya Jolly teralihkan fokusnya, tapi ternyata malah membuatnya semakin curiga. Nyonya Jolly menyeringai dengan menaikkan satu alis, lalu dengan tegas membuka lebar pintu wardrobe dengan sekali hentakan.
Terasa tidak ada yang aneh di sana, semua barang juga masih tertata rapi. Untuk memastikannya, Nyonya Jolly membuka satu per satu lemari Sora dan meneliti dengan cermat dengan memindah-mindahkan gaun-gaun Sora yang tergantung rapi. Nyonya Jolly mengira ada seseorang yang disembunyikan Sora di balik baju-baju itu. Kecurigaan itu muncul karena Sora meminta makan malam dengan porsi besar, tidak seperti kebiasaan Sora yang paling takut makan malam banyak-banyak. Untungnya Sora berhasil menahan dirinya untuk tidak menghalangi Nyonya Jolly. Jika tidak, Bundanya pasti semakin curiga dan mengerahkan tenaga bantuan untuk mengobrak-abrik kamarnya untuk menemukan Axcel yang sedang ia sembunyikan di dalam lemari duffle bag.
"Jadi... Beneran kamu mau makan semua ini sendirian? Yakin habis? Bunda heran kenapa nafsu makanmu tiba-tiba membludak kayak gini, apa nggak takut gendut? Atau mau dimakan bareng-bareng sama orang lain? Atau... Jangan-jangan kamu lagi hamil, YAA...?"
Sora yang sedari awal masih tegak berdiri di dekat pintu tanpa mengubah posisinya seinci pun, langsung menggelengkan kepalanya kuat-kuat dan langsung menyanggah tuduhan Nyonya Jolly. Bahkan ia bersumpah atas nama Ayah dan Bundanya tidak berani bertingkah macam-macam dan siap melakukan tes kehamilan jika Nyonya Jolly masih ragu. Keringat dingin Sora bercucuran, perutnya terasa kram karena menahan rasa ketakutannya yang berlebih.
Nyonya Jolly menunjukkan sedikit belas kasihan yang tak ia tampakkan secara gamblang karena Sora sudah nampak pucat pasi. Nyonya Jolly mengajak Bi Muna keluar dengan alasan sudah lelah dan ingin istirahat. Setelah suara kunci pintu berputar dua kali, Sora segera menempelkan telinganya di pintu untuk memastikan suara langkah Nyonya Jolly dan Bi Muna menjauh.
Dirasa semua sudah benar-benar aman, Sora membawa pizza dan satu kaleng soda masuk ke ruang ganti dan berencana untuk mengajak Axcel makan malam.
"Cel... Axcel... Woy, bangun woy! Mati kah ini anak? Gawat... Gawat... Bangun, Ceeel...!"
Sora semakin panik karena pria itu terlalu tenang.
***
WADUH KIRAVERS! BIKIN SENOT-SENOT YA AKSI AXCEL SAMA SORA INI! 😱💥
Bisa-bisanya Si Rambut Silver tidur santai di laci penyimpanan tas sampai dikira Sora 'mati' karena terlalu tenang! Mana Sora tadi dituduh hamil lagi sama Bunda Jolly cuma gara-gara pesan pizza jumbo! 😭🍕
Tapi yang bikin greget, Bi Muna malah salah paham total dan ngira barang-barang seserahan mewah dari Nyonya Evelyn itu 'mahar' buat kawin lari! Aduh Bi Muna, malah makin memperkeruh suasana! 🤦♀️🔥
Kira-kira Axcel pingsan beneran, ketiduran gara-gara pusing, atau malah Ino yang mau mengambil alih tubuhnya lagi?! Dan gimana cara Sora mengeluarkan Axcel dari kamarnya yang terkunci rapat?! 😱💥
Yuk, tumpahkan teori dan kepanikan kalian di kolom komentar sekarang, Kiravers! 💬👇
Jangan lupa ya Kiravers:
TEKAN TOMBOL LIKE & LOVE (❤️) buat dukung Sora yang lagi jantungan!
SIMPAN NOVEL INI DI LIBRARY (TAP/BOOKMARK) kalian biar nggak ketinggalan Notifikasi Bab selanjutnya!
FOLLOW PROFILKU untuk dapat update cerita paling cepat!
Terima kasih banyak sudah setia membaca dan sampai jumpa di bab selanjutnya! Happy reading, Kiravers! 🚀🔥