NovelToon NovelToon
Takut Sial, Mau Tunangan

Takut Sial, Mau Tunangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Teen / Idola sekolah
Popularitas:277
Nilai: 5
Nama Author: whimsy quinn

menikahi musuh? itu biasa.
menikahi sahabat masa kecil karena takut sial? itu baru bencana.

Baffin yang dingin dan serba rapi sangat membenci segala bentuk kekacauan. Sialnya, hidupnya selalu diacak-acak oleh Silva, sahabat masa kecilnya yang super ceroboh dan pembawa bencana.

Tepat di hari ulang tahun mereka yang ke-17, keduanya mendapat kejutan tak terduga: mereka dipaksa bertunangan karena sebuah mitos kuno. Konon, karena lahir di hari dan jam yang sama, menolak perjodohan ini akan mendatangkan kutukan kesialan seumur hidup.

Baffin tentu saja menolak mentah-mentah takhayul itu. Namun, Silva yang ketakutan setengah mati justru bertekad melakukan segala cara agar cincin pertunangan itu terpasang di jari Baffin—meski ia harus memecahkan lebih banyak piring dan terjungkir dari kursi demi mengejarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon whimsy quinn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pola Masa Kecil Yang Terulang

Ponsel di atas meja belajar Baffin tidak berhenti bergetar. Layarnya terus menyala, menampilkan rentetan notifikasi dari aplikasi WhatsApp yang masuk seperti air bah.

Baffin yang baru saja selesai mandi dan mengenakan kaus rumahan abu-abu, melirik benda persegi itu dengan malas.

Begitu ia meraih dan membuka ponselnya, dugaannya seratus persen tepat.

Grup chat "Baffin tampan FC" sudah berubah menjadi lautan api gosip akibat video berdurasi 45 detik yang dikirimkan oleh Cyriel.

[Grup Chat: Baffin tampan FC]

Novel: DEMI APAAA YA?! Kulkas dua pintu kita ternyata diam-diam sudah laku! Gua yang ramah lingkungan begini malah masih jomblo!

Novel: Tapi bentar, itu ceweknya lucu banget pas meluk.

Tidak berselang lama, sebuah nama yang sudah dua minggu ini tidak muncul di grup akhirnya ikut nimbrung.

Kaisan, sang social butterfly yang sedang berlibur mewah di luar negeri bersama keluarganya, mendadak bangkit dari kubur pertongkrongan.

Kaisan joined the group 

Kaisan: [Mengirim emotikon melotot syok]

Kaisan: Sumpah, demi apa?! Gue baru buka grup langsung jantungan! Itu si Baffin?! Dia beneran punya tunangan?! Sejak kapan woi!

Melihat respons Kaisan yang ketinggalan kereta, Cyriel langsung mengetik dengan kecepatan penuh untuk memanaskan suasana.

Cyriel: @Kaisan Yeh, ke mana aja lo, anak sultan? Masa lo baru tahu sekarang? Telat banget informasi lo!

Cyriel: Jangankan kita yang satu geng, satu mall aja sudah tahu semua, San! Panggilan daruratnya pakai pengeras suara pusat informasi, bayangkan! .              Novel: Benar! "Saudara Baffin ditunggu tunangannya..." Beuh, bergetar seluruh kaca mal dengar pengumuman keramat itu. Harga diri kapten kita langsung mutasi jadi butiran debu.

Kaisan di seberang sana tampaknya benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya, meskipun dirinya sedang berada di belahan bumi lain.

Kaisan: Sial*n, gue nyesel banget ikut bokap nyokap liburan kalau tahu di rumah ada tontonan se-epic ini! Gue mau pulang aja lah besok!

Melihat keluhan Kaisan, Cyriel langsung memanfaatkannya untuk melontarkan ejekan telak.

Cyriel: Makanya, San... di luar negeri mah gak ada pemandangan yang kayak gini!

Cyriel: Lo boleh pamer pemandangan gedung estetik atau gunung salju di sana. Tapi, pemandangan kita yang gak keluar negeri ini jauh lebih fantastis dan tiada duanya! Melihat seorang Baffin Gualla Estuary makein cewek helm, gandengan tangan. Beuh, itu keajaiban dunia kedelapan!

Novel: Betul! Pemandangan luar negeri lo kalah telak sama drama kolosal "Si Kulkas dan Tunangan polosnya".

Kaisan di seberang sana tampaknya benar-benar tidak bisa membendung rasa penasarannya lagi. Jempolnya dengan cepat mengetik rentetan pertanyaan di layar ponsel.

Kaisan: Tapi bentar, itu cewek di video siapa namanya? Anak mana? Terus kok bisa-bisanya si Baffin yang anti-cewek tiba-tiba punya tunangan modelan begitu? Ceritain ke gue buruan!

Cyriel: Namanya Silva, San. Kalau gak salah denger dari pengumuman mal tadi sih, Silvanna. Mukanya asli polos banget, tipe-tipe cewek baik yang kalau ngomong halus. Tapi kelakuannya pas meluk Baffin tadi... beuh, meluluhkan hati es batu!

Kaisan: Serius lo?! Terus reaksi si Baffin gimana pas dipeluk? Dia gak langsung nge-freeze atau malah ngedepak itu cewek kan?

Novel: Ngedepak apanya! Lo harus lihat kelanjutan videonya, San. Si Baffin malah ngegandeng tangannya erat banget pas keluar mall, kayak takut itu cewek ilang lagi. Terus pas di parkiran, dia sendiri yang masangin helm ke kepala tunangannya dengan sangat-sangat lembut. Romantis abis, kalah lo semua!

Kaisan: Demi apa?! merinding gue dengernya. Ini beneran Baffin yang kita kenal, kan?

Novel: kepelet menurut gue.

Baffin yang sejak tadi hanya membaca obrolan itu sebagai penonton gelap, akhirnya menarik napas dalam-dalam.

Urat di dahinya kembali menegang. Jika ia terus diam, ketiga temannya yang menjelma jadi lambe turah ini pasti akan terus membuat cerita fiktif yang makin ngawur.

Daripada meladeni lingkaran setan yang tidak ada ujungnya ini, jempol Baffin dengan tegas menekan tombol pengaturan grup, lalu memilih opsi paling bawah tanpa ragu.

Baffin: Berisik.

Baffin telah meninggalkan grup.

Suasana grup chat mendadak hening selama tiga detik, sebelum akhirnya badai teks kembali pecah dengan skala yang jauh lebih besar.

Novel: LAH ANJIRRRR KABUR KULKASNYA!!! @Cyriel @Archard @Kaisan Woi kapten kita murtad dari pertongkrongan!!

Cyriel: MAMPUS MEREDAM EMOSI DENGAN CARA LEAVE GRUP KAGAK TUH!! HAHAHAHA! Gara-gara lo nih @Kaisan, baru dateng langsung bikin pawang singa ngamuk!

Kaisan: Lah kok gue?! Si Novel tuh yang bilang kena pelet! Pindahin grup piala dunia buruan, ntar malem kita gak dioper bola pas latihan!

Archard: Berisik. Tambahin lagi aja ntar malam.

Setelah memberi balasan singkat tadi, dan keluar dari grup, Baffin langsung melempar ponselnya kembali ke atas kasur dengan kasar. Ia memijat pangkal hidungnya yang terasa pening.

Mengingat bagaimana Silva dengan polosnya memeluknya di lobi timur tadi, lalu mengucapkan kalimat legendaris yang sangat ia hindari, Baffin tahu... tahun ajaran baru di sekolahnya nanti tidak akan pernah sama lagi.

•••

Sementara itu, di rumah sebelah, suasana dapur Baskara sedang berada dalam mode siaga satu. Silva sedang sibuk melakukan eksperimen kuliner malam sebagai tanda terima kasih dan permohonan maaf karena insiden mangkok bakso pecah sore tadi.

Di atas meja, Silva mengambil sebuah piring panjang berwarna putih. Dengan penuh konsentrasi, ia mencoba untuk membentuk nasi goreng buatannya agar terlihat estetik seperti di restoran mewah.

Namun karena tidak terbiasa, bentuknya terlihat agak hancur dan tidak simetris.

Silva menatanya di paling pojok, lalu menambahkan pelengkapnya. Di sebelah nasi goreng yang agak reyot itu, ia menaruh sebutir telur ceplok yang sialnya kuning telurnya sudah pecah dan tidak bulat lagi. Di sebelah telur, ia menaruh segenggam kerupuk, lalu menyisipkan selembar daun selada di sebelah kerupuk. Terakhir, Silva mengambil sebuah timun utuh dan sebuah tomat segar dari dalam kulkas.

Namun baru saja tangannya mengangkat pisau dan hendak memotong timun tersebut, sebuah lengkingan suara tinggi mendadak memotong gerakannya.

"Astaga, SILVAAAAA!" Silva tersentak dan langsung mendongak dengan mata membulat polos.

Di ambang pintu dapur, Airin sudah berdiri dengan kedua tangan berkacak pinggang. Wajah ibunya memerah padam, siap meledak kapan saja.

Melihat sinyal bahaya nasional, jiwa taktis Silva langsung aktif. Tanpa membuang waktu satu detik pun untuk mencuci tangan, Silva langsung menyambar piring berisi nasi goreng tataannya, lengkap dengan buah tomat dan timun utuh yang belum sempat ia potong.

Dengan gerakan secepat kilat, Silva berlari kencang menerobos pintu belakang dan kabur menuju rumah Baffin.

Di dapur yang ditinggalkan, Baskara yang baru saja turun karena mendengar teriakan istrinya hanya bisa berdiri mematung di samping Airin. "Kenapa, Bun?" tanya Baskara bingung.

Namun begitu mata Baskara menyapu seluruh sudut dapur, mulutnya otomatis terbuka lebar. "Astagaaa..."

Kondisi dapur malam itu benar-benar mirip medan perang pasca-ledakan bom. Minyak goreng berceceran di mana-mana membuat lantai berkilau licin. Kulit bawang merah dan putih berserakan tak beraturan seperti guguran daun musim gugur. Garam tumpah membentuk pulau kecil di atas meja konter. Cangkang telur juga senasib; satu teronggok mengenaskan di atas lantai marmer, sementara satu lagi tergeletak di sebelah kompor. Belum lagi tiga biji pisau dapur yang entah bagaimana ceritanya bisa berakhir tergeletak di lantai, ditambah tumpukan beberapa piring dan wajan kotor sisa proses memasak. Heboh banget memang. Orang yang masak untuk kondangan aja gak kayak gini.

"Si Silva bikin nasi goreng lagi?" tanya Baskara pelan, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Silva sebenarnya memang sering bikin nasi goreng. Dan secara objektif, rasanya memang selalu enak. Masalahnya cuma satu: yang gak enak itu bagian ngeberesin dapurnya!

Kecerobohan Silva saat memasak selalu sukses membuat Airin mengurut dada, hingga sang bunda sempat mengeluarkan keputusan mutlak bahwa ananda Silva dilarang keras menyentuh kompor lagi.

Melihat masih ada sisa nasi goreng di dalam wajan, Baskara mencoba melangkah mendekat. Ia mengambil sebuah piring bersih, lalu mengambil sisa nasi goreng tersebut.

Gerakan kaki Baskara terpaksa harus jinjit-jinjit dengan sangat hati-hati, karena lantai dapur benar-benar sangat jorok dan super licin akibat minyak yang berceceran.

"Sudah... sudah, Bun. Makan dulu baru beresin. Lagian nasi goreng buatan anak kita kan emang enak kok, biarin aja dia masak sesekali," ujar Baskara mencoba menenangkan sambil menyodorkan sesuap nasi goreng ke arah mulut istrinya.

Airin langsung mendelik tajam, menolak suapan itu. "Enak ya enak, Yah! Tapi yang gak enak itu yang ngeberesinnya! Sana Ayah beresin sendiri sekarang! Rasain dulu capeknya baru ngomong begitu! Bunda mau lihat, kalau Ayah sudah beresin kekacauan ini sampai bersih, apa Ayah bakal tetap bilang kayak tadi? Apa bakal tetap ngebiarin Silva masak?" omel Airin beruntun sebelum berbalik pergi dengan kesal.

Baskara hanya bisa menghela napas pasrah, menatap piring di tangannya lalu menatap lantai berminyak di bawah kakinya dengan senyum kecut.

•••

Di rumah sebelah, Silva sudah berdiri di depan pintu kamar Baffin di lantai dua. Tangan kanannya memegang piring panjang berisi nasi goreng berjejer, sementara tangan kirinya mengetuk daun pintu dengan ritme cepat.

"Apin..."

Beberapa detik berlalu, tidak ada jawaban.

"Apin.."

Masih tidak ada jawaban.

"Apin... buka, ih." Panggil Silva lagi mulai tidak sabar.

Di dalam kamar, Baffin sebenarnya mendengar panggilan itu dengan sangat jelas. Awalnya, ia berniat kuat untuk mengabaikannya.

Rencana Baffin sudah matang: pura-pura tidur, lalu kalau besok Silva protes, ia tinggal menjawab tidak dengar karena sudah terlanjur terlelap.

Namun, panggilan itu tidak kunjung berhenti. Dan sama seperti pola masa kecil mereka, rasa tidak tega yang entah dari mana datangnya membuat Baffin kalah. Ia tidak pernah bisa membiarkan anak itu menunggu terlalu lama di luar kamarnya.

Dengan langkah malas, Baffin memutar kunci dan membuka pintu.

"Ngapain?" tanya Baffin langsung begitu daun pintunya terbuka.

Begitu pintu terbuka, wajah Silva langsung dihiasi oleh sebuah senyuman lebar yang sangat cerah.         

Senyuman itu... adalah senyuman yang sama persis dengan senyuman belasan tahun lalu, setiap kali cewek ceroboh itu datang mengetuk pintunya sambil membawa es potek sebagai upeti perdamaian setelah merusak barang Baffin.

Namun malam ini, polanya sudah sedikit berubah. Di tangan mungil Silva bukan lagi es lilin yang batangnya bisa dipotek, melainkan sepiring nasi goreng yang sepertinya punya konsep mau dihias estetik, tapi hasilnya malah cuma dijejer lurus mirip orang jualan sayur di pasar tradisional.

"Buat kamu," ucap Silva riang, menyodorkan piring itu ke depan dada Baffin.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!