NovelToon NovelToon
Menikahi Mafia Berkedok Tukang Cilok

Menikahi Mafia Berkedok Tukang Cilok

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Misteri / Penyelamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Van pen.

Bagi Kinanti, Arka hanyalah suami sederhana yang berprofesi sebagai tukang cilok. Pria lembut yang rajin mendorong gerobak demi mencukupi kebutuhan mereka.

Namun, Kinanti tidak tahu bahwa di balik kaus lusuh itu, Arka adalah mantan bos mafia paling ditakuti yang rela pensiun demi dirinya. Ketika musuh masa lalu Arka mulai mengincar Kinanti, sang raja kegelapan terpaksa bangkit kembali tanpa membuat istrinya sadar bahwa suami manisnya adalah seorang pembunuh berdarah dingin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Van pen., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Matahari terbit dengan kehangatan yang sempurna di pedesaan Bandung. Kabut tipis yang biasanya menggantung dingin di atas perkebunan teh perlahan menyapu pergi, tergantikan oleh pendar perak dan emas yang menembus celah-celah jendela rumah panggung.

​Di atas ranjang, Kinanti perlahan membuka matanya. Hal pertama yang ia rasakan adalah kehangatan dada bidang Arka yang menjadi sandaran kepalanya sepanjang malam. Napas Arka berembus teratur, mengusap lembut dahi Kinanti.

​Kinanti tersenyum kecil. Dengan gerak perlahan agar tidak membangunkan sang suami, jemari halusnya menelusuri rahang tegas Arka, mengusap pipinya yang sedikit kasar oleh tipisnya jambang.

​"Mas Arka..." bisik Kinanti sangat pelan.

​Mata Arka terbuka seketika. Meski seluruh pertempuran semalam telah usai, refleksnya tetap secepat kilat. Namun, begitu melihat wajah cantik Kinanti yang menatapnya penuh kehangatan, binar mata Arka yang semula tajam langsung melunak pasrah.

​"Pagi, Sayang," suara Arka terdengar serak khas bangun tidur, sangat dalam dan seksi. Ia menarik Kinanti makin rapat ke dalam pelukannya, mendaratkan kecupan hangat yang lama di dahi sang istri.

​"Pagi, Mas ," balas Kinanti dengan rona merah di pipinya. "Tidur Mas nyenyak banget semalam? Biasanya Mas gampang kebangun kalau ada suara angin."

​Arka tersenyum tipis, mengelus punggung Kinanti dengan lembut. "Nyenyak banget. Soalnya ada kamu yang meluk Mas erat banget semalam. Rasanya semua beban Mas hilang."

​Kinanti tertawa kecil, menyembunyikan wajah bahagianya di leher Arka. "Ih, pinter banget gombalnya pagi-pagi!"

​Arka terkekeh rendah. Bagi Arka, kedamaian pagi ini adalah hadiah terbesar setelah pertempuran berdarah melawan Blackcurrant beberapa jam lalu. Tidak ada lagi intrik Club Strawberry, tidak ada lagi ancaman racun atau penembak jitu. Yang tersisa hanyalah dirinya, Kinanti, dan masa depan damai yang telah ia perjuangkan dengan seluruh pertaruhan nyawa.

​Beberapa saat kemudian, Kinanti sudah sibuk di dapur. Suara dentingan kuali dan wangi renyah adonan gorengan menyatu harmonis dengan kicau burung di luar rumah. Arka memperhatikan istrinya dari meja makan, menyesap teh hangat racikan Kinanti dengan tatapan penuh rasa syukur.

​Thok! Thok! Thok!

​Pintu depan diketuk pelan. Arka bangkit dari duduknya, melangkah santai menuju pintu utama. Saat pintu dibuka, Lingga sudah berdiri di sana dengan gaya pakaian santai dan rambut mullet-nya yang khas. Di sampingnya, Sarah berdiri anggun dengan senyum manis ala pramugari.

​"Pagi, Bos!" sapa Lingga setengah berbisik seraya memberikan isyarat jempol. "Jakarta sudah bersih total. Jaringan pusat Club Strawberry benar-benar bubar tanpa sisa."

​"Bagus," jawab Arka singkat namun penuh kepuasan.

​Sarah menyela dengan wajah ceria, menenteng sebuah keranjang buah besar. "Pagi Mas Arka! Mbak Kinanti ada di dalam? Aku sama Lingga mau pamitan sebentar sebelum balik ke markas utama."

​Kinanti yang mendengar suara Sarah langsung keluar dari dapur seraya tersenyum lebar. "Mbak Sarah! Mas Lingga! Ayo masuk dulu, aku baru aja bikin sarapan hangat!"

​"Wah, kebetulan banget, Mbak Kinanti! Aku emang kangen banget sama gorengan hangat buatan Mbak!" puji Sarah gembira seraya melangkah masuk ke dalam rumah panggung.

​Mereka pun duduk melingkar di ruang tengah yang beralaskan tikar pandan. Gelak tawa mewarnai sarapan pagi itu. Lingga menyantap pisang goreng hangat dengan lalapan cabai rawit seraya bersiul puas, sementara Sarah dan Kinanti asyik mengobrolkan resep masakan dan rencana bisnis kuliner kecil-kecilan.

​Di sela-sela obrolan, Lingga menggeser duduknya sedikit mendekati Arka yang sedang menyesap teh hangat.

​"Bos," bisik Lingga amat pelan agar tak terdengar oleh Kinanti dan Sarah. "Anak-anak The White Dragon tetap bakal ada di ring tiga luar desa. Cuma buat jaga-jaga kalau ada mafia semenjana yang coba-coba cari panggung pasca jatuhnya Club Strawberry."

​Arka menatap Lingga datar, lalu menggeleng pelan. "Tarik semua pasukanmu kembali ke Jakarta, Ngga. Fokus urus wilayahmu sendiri. Desa ini sudah sepenuhnya aman."

​Lingga menatap Arka sejenak, lalu menyunggingkan cengiran khasnya seraya menyisir rambut mullet-nya. "Gaya Lu emang nggak pernah berubah, Bos. Percaya diri tingkat dewa. Tapi ya sutra lah, kalau ada apa-apa, Lu tahu cara hubungi gua."

​Satu jam kemudian, Lingga dan Sarah berpamitan di halaman rumah.

​"Mbak Kinanti, aku balik ke Jakarta dulu ya!" pamit Sarah seraya memeluk erat Kinanti. "Nanti kalau ke Jakarta, wajib menginap di tempat kita ya!"

​"Iya, Mbak Sarah. Hati-hati di jalan ya," balas Kinanti penuh kehangatan.

​Dengan raungan halus mesin motor besarnya, Lingga dan Sarah melaju perlahan menembus jalanan perkebunan teh, melambaikan tangan hingga akhirnya menghilang di balik belokan lembah.

​Keheningan yang menenangkan kembali menyelimuti pekarangan rumah panggung.

​Kinanti membalikkan badan, menyandarkan punggungnya di dada tegap Arka yang berdiri di belakangnya. Arka melingkarkan kedua tangannya di pinggang Kinanti, melindunginya dari embusan angin pagi yang dingin.

​"Mas Arka..." gumam Kinanti pelan, memainkan jemari tegap suaminya.

​"Iya, Sayang?"

​"Sekarang musuh-musuh atau orang jahat yang dulu suka neror daerah kita udah nggak ada lagi kan, Mas?" tanya Kinanti polos, menengadah menatap wajah tampan Arka.

​Arka tersenyum sangat lembut, menatap mata bening istrinya dengan pendar cinta mutlak. Ia merunduk sedikit, mendaratkan kecupan hangat yang dalam di bibir manis Kinanti.

​"Nggak akan ada lagi yang bisa mengganggu kita, Kin," bisik Arka tepat di depan wajah istrinya. "Mas akan pastikan hidup kamu cuma diisi sama kebahagiaan."

​Pipi Kinanti merona merah sempurna. Ia tertawa manja seraya menyembunyikan wajah bahagianya di dada bidang Arka, memeluk erat pinggang suaminya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!