NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Rival

Menikah Dengan Rival

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rii_Risa

"Lo pasti juga nggak mau terima perjodohan ini, kan?!"

"Mau."

Jawaban singkat pria itu sukses membuat mata Kara membelalak sempurna.

Hanya karena ingin menjadi pengangguran yang kaya raya, Lengkara Anasera nekat menerima perjodohan yang di buat oleh orang tuanya, tanpa mencari tahu terlebih dahulu siapa calon suaminya itu.

Sialnya, pria itu adalah Erlangga Bumi Maheswara, musuh bebuyutannya sejak kecil.

Bagaimana kisah mereka selanjutnya?
Akankah Kara nekat membatalkan perjodohan ini? Atau ia justru bertahan demi mewujudkan cita-citanya menjadi pengangguran yang kaya raya? Mengingat Erlangga adalah sosok pria tajir melintir yang selama ini ia cari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rii_Risa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Erlangga langsung menunduk, menatap tajam ke arah jemari lentik Kimberly yang sedang mencengkeram erat pergelangan tangannya.

Seketika rahangnya langsung mengeras."Lepas!" bentaknya.

Kimberly langsung tersentak kaget. "Erlangga... Aku mohon..."

Sebelum Kimberly sempat merengek lebih jauh lagi, Erlangga langsung menepis tangan wanita itu dengan kasar.

"Dia itu istri gue! Lo nggak seharusnya bertingkah seperti itu di depan dia!"

"Erlangga... aku benar-benar nggak tahu kalau dia istri kamu. Rafael nggak pernah cerita apapun soal pernikahan kalian..."

"Sekarang lo udah tahu, kan?" potong Erlangga cepat.

Tanpa mempedulikan wanita itu lagi, Erlangga langsung memutar tubuhnya dengan cepat. Ia melangkah lebar-lebar ke arah pintu dan langsung membukanya dengan sentakan kasar.

Begitu pintu itu terbuka, ia langsung disambut oleh kehadiran Rafael yang sedang melangkah di koridor menuju ke arahnya.

"Lang! Lo mau ke mana?" tanya Rafael begitu melihat raut wajah Erlangga yang sedang menahan amarah.

Erlangga berhenti sejenak, matanya melirik tajam ke arah sepupunya itu dengan nafas yang memburu. "Bukan urusan lo!" ucapnya dingin, lalu melangkah melewati Rafael begitu saja.

"Lang! Lo marah sama gue?!" teriak Rafael.

Namun teriakan itu diabaikan begitu saja oleh Erlangga. Pria itu tetap melangkah tenang melewati koridor dan berbelok ke arah lift. Tujuannya saat ini adalah, mencari keberadaan Kara, dan menjelaskan kalau ini cuma salah paham.

**

Sementara itu, di tempat lain, Kara akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya. Karena hari sudah menjelang sore dan kekesalan di dalam dadanya belum juga surut. sialnya lagi, ia sendiri tidak tahu di mana alamat rumah Erlangga berada.

Di dalam taksi, Kara duduk bersidekap dada. Bibirnya mengerucut sebal, sementara kepalanya sesekali menoleh ke arah jendela, menatap jalanan dengan pandangan kesal.

"Ck... Selera Erlangga tuh emang payah banget!" gerutu Kara dalam hati sambil mendengus sinis. "Lagian, masih cantikan juga gue daripada si bule itu. Sok dramatis banget jadi cewek."

Tak butuh waktu lama, hanya sekitar 20 menit saja, taksi yang ditumpanginya akhirnya melambat dan berhenti tepat di depan sebuah rumah berpagar besi dengan cat putih yang sangat familiar bagi Kara.

"Kita sudah sampai, Nona," ucap sopir taksi dari balik kemudi sambil melirik ke arah kaca spion tengah.

"Ah, iya, Pak." Kara segera merapikan dress-nya yang sedikit kusut, lalu mendorong pintu mobil itu perlahan.

Sebelum melangkah, Kara menyembulkan kepalanya kembali ke dalam. "Bapak tunggu dulu di sini ya, saya mau ambil uangnya di dalam," ucap Kara sambil tersenyum canggung.

"Baik, Nona," jawab sopir taksi itu sambil mengangguk sopan.

Kara memang sudah menjelaskan sejak awal bahwa ia tidak membawa dompet maupun ponsel, dan berjanji akan membayar ongkosnya setibanya di rumah.

Begitu melangkah masuk melewati pagar, mata Kara langsung tertuju pada sang mama yang sedang berdiri menyirami tanaman hias di halaman rumah.

"Ma!" teriak Kara dengan suara yang melengking.

Sonya langsung membalikkan tubuhnya dengan gerakan cepat. Karena terkejut, selang air di tangannya itu hampir saja merosot.

"Loh, Kara! Kok sendirian? Mana Erlangga?" tanya wanita paruh baya itu. Ia langsung meletakkan selang air begitu saja di atas rumput dan berjalan menghampiri putrinya.

Kara langsung menyengir lebar sambil menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal. Wajah sebalnya tadi mendadak berubah menjadi wajah penuh permohonan. "Udah, nanti aja ceritanya, Ma. Sekarang Kara boleh minta tolong nggak? Bayarin taksi di depan itu dong, Kara nggak bawa uang sama sekali nih."

Sonya langsung mengernyitkan keningnya dalam-dalam, menatap Kara dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Kamu ke sini naik taksi, Ra? Terus kenapa bisa nggak bawa uang?" tanya mamanya heran.

"Panjang ceritanya, Ma... Nanti Kara ceritain semuanya di dalam deh," bujuk Kara.

Sonya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat tingkah putrinya itu. Lalu ia merogoh kantong celananya, dan mengambil beberapa lembar uang, lalu memanggil asisten rumah tangga mereka untuk keluar dan menyelesaikan pembayaran taksi Kara.

Setelah urusan taksi selesai, Sonya langsung menggandeng lengan Kara, dan mengajaknya masuk ke dalam rumah, lalu mendudukkannya di atas sofa ruang keluarga.

"Sekarang cerita sama Mama, ada masalah apa sebenarnya? Kenapa kamu pulang ke rumah sendirian dengan muka ditekuk seperti itu?" tanya Sonya sambil menatap lekat-lekat wajah putrinya.

Kara langsung menghela nafas panjang, lalu ia mulai meluapkan unek-uneknya. Ia bercerita dengan nada yang menggebu-gebu, tangannya bergerak ke sana kemari menggambarkan betapa menyebalkannya satpam kantor Erlangga, bagaimana ia lupa membawa ponsel dan uang karena terburu-buru, hingga puncaknya saat ia memergoki seorang wanita bule sedang keluar dari mobil Erlangga.

"Jadi gitu, Ma! Pokoknya menyebalkan banget!" seru Kara yang mengakhiri ceritanya dengan nafas yang terengah-engah.

Mendengar cerita sepihak dari putrinya itu, mata Sonya langsung membelalak, wajahnya juga berubah menjadi geram. "Jadi... Erlangga selingkuhin kamu? Dia berani menduakan anak Mama?!"

Kara langsung mengangguk. "Kara nggak tahu sih yang jadi selingkuhan itu Kara atau si bule itu. Tapi yang jelas, si bule itu akrab banget sama Erlangga, sampai berani peluk-peluk lengannya segala!

"Wah! Nggak bisa dibiarin ini!" Sonya langsung berdiri dari sofanya dengan wajah yang memerah karena emosi. "Mama akan telepon Papa kamu sekarang juga biar dia cepat pulang dari kantor!"

Sambil menunggu panggilan tersambung ke suaminya, Sonya dengan gerakan cepat langsung mencari kontak lain di ponselnya. Ia berniat akan menelpon kedua orang tua Erlangga.

"Mama juga akan telepon orang tua Erlangga, biar di kesini juga," ucap Sonya.

Melihat mamanya yang mulai panik dan heboh sendiri itu, Kara langsung bangkit dan memegang lengan Sonya.

"Ma... Kenapa sih Mama sampai harus telepon Om Ridwan dan Tante Lisa segala? Jangan digede-gedein dong masalahnya."

Sonya langsung menepis pelan tangan Kara. "Biarin aja, Ra! Biar mereka tahu bagaimana kelakuan anak mereka itu! Dulu mereka yang memohon-mohon sama Mama dan Papa agar mau menjodohkan kalian berdua. Tapi sekarang apa? Belum lama menikah, kamu malah disakitin dan di duain seperti ini!" ketus Sonya.

Kara langsung menggaruk pipinya yang tidak gatal, lalu kembali duduk di atas sofa dan menyandarkan tubuhnya di sana. "Tapi Kara nggak ngerasa disakitin kok, Ma. Lagian kan Mama tahu sendiri kalau Kara nggak cinta sama Erlangga. Jadi dia mau sama siapa pun juga terserah."

"Udah! Kamu diam aja, nurut sama Mama!" potong Sonya. "Mau kamu cinta atau nggak, posisi kamu itu istri sah! Kalau kamu diinjak-injak dan disakitin seperti ini, Mama yang akan maju paling depan untuk belain kamu!" tegas Sonya, tepat saat panggilan teleponnya sudah diangkat oleh mamanya Erlangga.

Kara hanya bisa menghela nafas pasrah.

"Kok jadi membesar gini sih masalahnya? Gue tadi kan niatnya mau cerita sama mama aja, kenapa jadi merembet kemana-mana gini sih?!" batin Kara.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!