Denara baru saja menyelesaikan sebuah novel di sela-sela kesibukannya ketika tiba-tiba dia terikat pada sebuah sistem.
Apa? Menyelamatkan Protagonis?
Bagaimana dengan kisah tragis di awal tapi menjadi kuat di akhir?
Tidak! Aku tidak peduli dengan skrip ini!
Sebagai petugas museum, Denara tahu satu atau dua hal tentang sejarah asli di balik legenda-legenda Nusantara.
Tapi… lalu kenapa?
Dia hanya ingin bersenang-senang!
Tapi... ada apa dengan pria tampan yang sama disetiap legenda ini? Menjauhlah!!
———
Happy Reading ^^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DancingCorn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kisah Ande-Ande Lumut (25)
Kisah Ande-Ande Lumut (25)
"Kuning..." panggil Ande pelan, nyaris seperti bisikan. Suaranya terdengar ragu, seolah menahan napas.
Denara menunduk, menjawab dengan nada rendah dan penuh rasa rendah diri, "Tidak, Yang Mulia. Wanita rendahan ini tidak pantas untuk Anda sebut namanya."
Apapun yang terjadi, Ande telah berbohong padanya. Sebagai seorang manusia dia tetap harus menunjukkan kemarahannya. Tapi karena Ande adalah seorang pangeran, dia tidak bisa menunjukkan kemarahan secara langsung.
Yang bisa dilakukan Denara sekarang adalah bersikap jauh, layaknya rakyat terhadap rajanya.
Namun kata-kata itu bagaikan paku bagi Ande. Tatapannya mengeras, bukan karena marah. Tapi karena terluka.
"Tidak... bagaimana kamu berbicara seperti itu?" gumamnya, nyaris tak terdengar.
Dia serius? pikir Ande.
Apa itu artinya… semua yang kulakukan selama ini... berakhir sia-sia? Dia marah, ingin menjauh darinya.
Ande tidak mau hal itu terjadi.
Denara kebingungan dengan sikap Ande. Sebagian dirinya marah, sebagian lainnya bingung. Lelaki di depannya tak pernah bertingkah seperti pangeran. Tidak ada arogansi. Tidak ada jarak.
Namun bukankah status sangat penting di masa lalu?
Sekarang Ande telah membuka identitasnya... bukankah sudah seharusnya dia bersikap lebih hormat?
"Yang Mulia," katanya, mencoba menjaga formalitas, "saya hanya rakyat biasa. Beraninya saya masuk ke dalam penglihatan tinggi anda, anda tidak perlu menjelaskan apapun pada saya..."
Dia mulai berlutut.
Tapi tangan Ande segera menangkap lengannya, menghentikannya. Genggamannya erat, bahkan nyaris gemetar.
"Jangan," katanya pelan. "Jangan lakukan itu. Jangan pernah berlutut di hadapanku. Bukan kamu."
"Kenapa?" suara Denara serak, kebingungan membanjiri wajahnya. "Bukankah kamu... seorang pangeran?"
"Aku memang pangeran... Tapi aku tidak pernah ingin kamu berlutut padaku." Ande menarik napas dalam. "Di hadapanmu, aku ingin jadi Ande. Bukan Raden Panji."
Denara masih menatapnya dengan wajah bingung, polos.
Ande mengatupkan rahangnya, menahan segala rasa malu dan takut di dadanya. Kemudian, suaranya meledak. Lirih, namun penuh emosi.
"Karena aku menyukaimu, Kuning! Sejak pertama aku melihatmu! Tapi setelah insiden itu... kamu menghilang."
"Aku mencari mu... Tapi kemudian aku sadar, aku tak bisa memaksamu kembali. Jadi aku hanya bisa meminta orang lain melindungi mu. Bertahun-tahun aku menunggumu di desa... Lalu saat kamu kembali, aku pikir itu kesempatan kedua. Aku belum sempat menjelaskan apapun. Aku hanya bisa mengubah penampilanku... mendekatimu sebagai orang biasa. Aku terlalu takut kamu akan menjauh saat tahu siapa aku sebenarnya."
Wajahnya tegang, tapi jujur.
"Penampilanmu juga tampak... tidak tertarik waktu bertanya tentangku. Tentang Raden Panji. Itu membuatku takut kehilanganmu."
Denara terdiam. Matanya membelalak.
"Aku tahu aku bodoh. Aku seharusnya menyelesaikan semuanya sejak awal. Tapi aku..."
Ande kini tidak menyembunyikan apapun. Tidak ada topeng. Hanya ketulusan dan rasa takut kehilangan.
"Jadi jangan bilang kamu tidak pantas untukku. Karena bagiku... kamu satu-satunya yang membuatku merasa jadi manusia. Jadi kumohon, jangan menjauh. Jangan lihat aku sebagai orang asing."
Denara tercengang.
Orang dingin dan acuh seperti Ande bisa mengucapkan kata-kata cinta seperti itu?
Dia tahu dia seharusnya rasional. Sebagai orang luar, dia hanya harus menyelesaikan misi. Lalu pergi. Tapi mendengar semua itu...
Dia merasa hatinya sedikit tersentuh.
Tunggu… misi?
Jadi... Takdir apa yang harus dia ubah?
Untuk sekarang... dia tak bisa membiarkan orang di depannya terus merasa bersalah.
Dan dengan memikirkan bagaimana kisah Ande-Ande Lumut dan Klenting Kuning seharusnya berakhir, Denara tersenyum malu-malu.
"Tunggu sebentar, jadi kamu benar-benar dijebak saat itu... oleh kakakku?"
Ande mengangguk pelan, "Ya, aku selalu ingin menjelaskan ini. Tapi ketika aku berpura-pura menjadi Ande, aku takut kamu akan mengenaliku sebagai Raden Panji jika aku menjelaskan hal ini."
"Itu dia..." Denara menunduk.
Setelah memikirkan akhir asli dari cerita ande-ande lumut, wajah Denara mau merah. "Aku... aku sebenarnya juga menyukaimu. Tapi... tapi kamu sudah bertunangan dengan kakakku... sekarang kesalahpahaman telah diselesaikan."
[Ding!]
"Heh." Ande mendengus, "Dia? Dia tidak akan pernah menjadi putri mahkota."
Mata Denara membelalak. "Apa yang terjadi pada kakakku?"
Baik, itu hanya sandiwara, pikir Denara.
Karena kebaikan Klenting Kuning, dia harus peduli pada keluarganya... Tapi lebih dari itu, dia terkejut karena sistemnya berbunyi.
Ande tak tahu kepura-puraan Denara.
Berpikir Denara akan menyesal karena kakaknya, Ande hanya menggeleng dan tidak menjelaskan.
"Aku akan bicara dengan bawahanku dulu. Tunggu sebentar. Setelah itu, aku akan jelaskan semuanya padamu," kata Ande pelan.
Lalu menambahkan, "Kuning... karena kamu juga menyukaiku, menikah denganku, ya?"
Blush
Wajah Denara memerah seketika.
Baik dalam hidupnya dulu, maupun dalam hidupnya sekarang sebagai Klenting Kuning, ini adalah pertama kalinya dia dilamar oleh seorang pria.
Meskipun bingung, dia mengangguk pelan.
Ande membalas dengan senyuman.
Dan tepat saat dia berbalik, sistem kembali berbunyi di kepala Denara.
[Selamat Host, misi selesai.]
Denara: "...??"
[Apakah Host ingin meninggalkan dunia ini?]
✔️ Ya
❌ Tidak
Tentu saja, 'ya!'
Kemudian pandangan Denara menjadi gelap...
Saat Ande berbalik, dia merasa ada sesuatu yang sedikit aneh dari Klenting Kuning. Tapi karena dia tidak tahu... dia mengabaikannya.