NovelToon NovelToon
Terjebak Di Dunia Siluman Burung Garuda Emas

Terjebak Di Dunia Siluman Burung Garuda Emas

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Mengubah Takdir / Romansa / Masuk ke dalam novel / Penyeberangan Dunia Lain / Fantasi Wanita
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Wardha

Aurora terbangun dari tidurnya dan mendapati dirinya berada di dunia asing yang begitu indah, penuh dengan keajaiban dan dikelilingi oleh pria-pria tampan yang bukan manusia biasa. Saat berjalan menelusuri tempat itu, ia menemukan sehelai bulu yang begitu indah dan berkilauan.

Keinginannya untuk menemukan pemilik bulu tersebut membawanya pada seorang siluman burung tampan yang penuh misteri. Namun, pertemuan itu bukan sekadar kebetulan—bulu tersebut ternyata adalah kunci dari takdir yang akan mengubah kehidupan Aurora di dunia siluman, membuatnya terlibat dalam rahasia besar yang menghubungkan dirinya dengan dunia yang baru saja ia masuki.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wardha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

melawan Zareth

Awan gelap terus berputar di langit Aevarion, membentuk pusaran hitam yang seakan menyedot semua cahaya. Zareth, Garuda Hitam, masih melayang di udara, sayapnya membentang seperti bayangan yang menutupi dunia.

Aurora menatapnya dengan perasaan campur aduk. Darahnya—berasal dari kegelapan dan cahaya?

"Aku tidak bisa menerimanya begitu saja. Tapi jika itu benar ...."

Raviel melangkah maju, menghunus pedangnya. "Apa pun hubunganmu dengan Aurora, aku tidak akan membiarkanmu membawanya ke dalam kegelapan!"

Zareth menatap Raviel dengan tatapan meremehkan. "Kau hanyalah seorang siluman biasa. Kau tidak mengerti apa yang terjadi di sini."

Julia ikut maju. "Kau salah. Kami adalah keluarga Aurora sekarang. Kami akan melindunginya!"

Zareth tertawa rendah. "Keluarga? Kalian hanya penghalang." Zareth menunjuk ke arah Raviel. "Kau hanya sayap, tanpa Aurora kau bukan apa-apa!"

"Karena dia jantungku!" Raviel bersiap-siap menggenggam pedangnya.

Zareth tertawa keras. "Kau tak berguna, pangeran!"

Dalam sekejap—ia mengibaskan sayapnya, dan badai energi kegelapan menghantam mereka semua!

Raviel berusaha menahan serangan dengan pedangnya, tetapi ia terdorong mundur. Julia menangkis dengan sihir bulan, tapi kekuatannya nyaris tak bisa menahan badai itu.

Aurora mengepalkan tangannya. Ia tidak bisa membiarkan mereka bertarung demi dirinya.

"Jika aku ingin kebenaran. Aku harus menemukannya sendiri."

Aurora mengepakkan sayap emasnya, terbang langsung ke hadapan Zareth. "Jika Kunci Terakhir akan mengungkapkan semuanya, di mana aku bisa menemukannya?"

Zareth tersenyum tipis. "Aku tahu kau akan memilih jalan itu,"

Dengan satu gerakan, ia mengangkat cakarnya, dan di tengah langit—sebuah portal hitam terbuka.

"Dunia ini tidak akan bisa menahan keberadaanku lebih lama. Jika kau ingin jawaban, kau harus datang ke Kuil Takdir—tempat di mana semua dimulai."

Aurora menatap portal itu. Ia bisa merasakan energi yang luar biasa kuat dari dalamnya, dan juga sesuatu yang menyeramkan.

Raviel berlari ke arahnya. "Aurora! Ini jelas jebakan!"

Aurora menoleh padanya, matanya bersinar lembut. "Aku tahu. Tapi ini sesuatu yang harus aku lakukan."

Ia menggenggam tangan Raviel sebentar, lalu menatap Julia dan Aeris.

"Aku harus menghadapi ini sendiri. Kalian semua telah membantuku sejauh ini. Sekarang, aku harus menemukan jawaban tanpa bantuan siapa pun."

"Aurora!" Raviel terlihat keberatan.

Aurora menggenggam erat tangan Raviel. "Kita tidak akan berpisah, Raviel. Percaya padaku, karena kau sayapku. Kau selalu ada di tubuhku, untuk apa khawatir?"

Tak ada pilihan lain, Raviel pun menghela napas. "Aku percaya padamu,"

Julia tampak ragu, tetapi akhirnya mengangguk. "Jika ini keputusanmu. Aku percaya juga padamu."

Aeris menatap Aurora dalam-dalam. "Kuil Takdir bukanlah tempat biasa. Ia menyimpan semua ingatan dan rahasia dunia ini. Kau harus siap menghadapi masa lalu dan kemungkinan besar, masa depanmu juga."

Aurora menarik napas dalam. "Aku siap."

Tanpa ragu lagi, ia mengepakkan sayapnya dan melesat masuk ke dalam portal—menuju Kuil Takdir, tempat di mana semua kebenaran akan terungkap.

Dan saat ia menghilang ke dalam kegelapan, Zareth tersenyum tipis.

"Akhirnya, permainan sesungguhnya dimulai."

---

Begitu Aurora melewati portal, tubuhnya seolah ditarik oleh kekuatan yang tak terlihat. Cahaya dan kegelapan bercampur dalam pusaran energi yang tak berujung. Udara di sekitarnya terasa berat, seakan menyimpan kenangan dari ribuan tahun lalu.

Tiba-tiba, kakinya menyentuh tanah. Ia berada di sebuah tempat yang asing—sebuah kuil kuno yang dikelilingi oleh pilar-pilar besar dengan ukiran burung garuda.

Namun, yang paling mencolok adalah cermin raksasa di tengah ruangan.

Aurora mendekat. Saat ia melihat pantulan dirinya, ia terkejut.

Bukan dirinya yang tampak di sana, melainkan sosok wanita berambut panjang dengan mata emas bersinar.

"Aurora ...."

Suara lembut bergema di ruangan itu.

Aurora membelalakkan mata. "Siapa kau?"

Sosok dalam cermin tersenyum sedih. "Aku adalah ibumu, Aerora."

Rahasia yang Terlupakan

Aurora terdiam. Ia bahkan hampir tak bisa bernapas. "Ibu?"

Aerora menatapnya penuh kasih. "Aku tahu ini berat untukmu, tapi kau harus tahu kebenaran."

Tiba-tiba, cermin itu mulai berkilauan, dan Aurora seolah tersedot ke dalamnya. Kenangan masa lalu mulai mengalir di hadapannya.

Ia melihat seorang wanita bersayap emas—ibunya—berdiri di puncak sebuah menara, menatap seorang pria bersayap hitam—Zareth.

"Kita tidak bisa membiarkan ini terjadi, Zareth!" seru Aerora.

"Dunia ini menolak keberadaanku!" balas Zareth dengan tatapan marah. "Kegelapan dan cahaya tidak bisa bersatu!"

Aurora menyadari sesuatu.

Zareth bukanlah penjahat dalam cerita ini. Ia hanya makhluk yang terjebak antara dua dunia.

"Kau tidak harus menjadi ancaman. Kita bisa melindungi Aurora bersama!"

"Tidak, Aerora. Dunia tidak akan pernah menerimanya. Kau tahu itu."

Aurora melihat ibunya menangis.

"Itulah mengapa aku harus menyembunyikan putri kita di dunia manusia. Dia adalah harapan terakhir. Harapan agar takdir baru bisa terlahir."

Aurora tersentak keluar dari penglihatan itu. Ia kembali berdiri di hadapan cermin, dengan Aerora menatapnya lembut.

"Putriku, kini kau tahu kebenarannya."

"Kau bukan hanya pewaris Garuda Emas atau Garuda Hitam. Kau adalah jembatan di antara keduanya."

Aurora mengepalkan tangannya. "Jadi, aku tidak harus memilih antara terang atau gelap?"

Aerora mengangguk. "Kau bisa menciptakan jalan baru. Takdirmu tidak ditentukan oleh warisanmu, tetapi oleh pilihanmu sendiri."

Aurora menarik napas dalam. Semua yang ia alami selama ini membawanya ke satu titik ini.

Ia tidak akan memilih untuk menghancurkan atau menguasai. Ia akan memilih untuk menyatukan.

Dengan tekad baru, ia menatap ke depan.

Zareth harus tahu bahwa ia tidak sendirian.

Dan untuk itu, ia harus kembali.

Aurora berdiri di tengah Kuil Takdir, jantungnya berdebar cepat. Kini, ia tahu siapa dirinya yang sebenarnya. Ia bukan hanya pewaris Garuda Emas atau Garuda Hitam—ia adalah jembatan antara terang dan gelap.

Di tangannya, Air Mata Langit mulai bersinar semakin terang, beresonansi dengan keputusan hatinya.

"Aku harus kembali. Aku harus menghentikan semua ini."

Tanpa ragu, Aurora mengepakkan sayap emasnya, dan dalam sekejap, ia melesat kembali ke dunia nyata para siluman.

---

Begitu Aurora keluar dari portal, ia melihat langit Aevarion telah berubah menjadi medan perang.

Pasukan siluman Garuda Hitam menyerang kerajaan, sementara pasukan Aetherion dan para siluman cahaya berusaha mempertahankannya.

Di tengah kekacauan itu, Zareth melayang di udara, mengamati semua dengan tatapan dingin.

"Akhirnya kau kembali."

Aurora menatapnya dengan tegas. "Aku sudah tahu semuanya, Zareth. Aku tahu mengapa kau melakukan semua ini."

Zareth tersenyum tipis. "Lalu, kau juga tahu bahwa dunia ini tidak akan pernah menerima kita yang berasal dari dua kekuatan yang bertolak belakang. Bahkan salah satu pangeran saja dibuang oleh mereka,"

Aurora mengepalkan tangannya. "Tidak. Dunia ini hanya takut pada apa yang tidak mereka pahami. Tapi aku tidak akan membiarkan ketakutan itu menguasai kita!"

Zareth menghela napas. "Kalau begitu, tunjukkan padaku kekuatanmu!"

Dalam sekejap, ia mengangkat tangannya, dan dari langit turun badai energi hitam yang siap menghancurkan segalanya.

Aurora langsung terbang ke atas, menangkis serangan itu dengan perisai cahaya. Benturan dahsyat mengguncang seluruh langit, membuat retakan terbentuk di ruang udara.

Pertempuran terakhir telah dimulai—Pertarungan Ayah dan Anak

Aurora dan Zareth bertabrakan di udara, pedang cahaya dan kegelapan saling menghantam.

Raviel dan Julia hanya bisa menyaksikan dari bawah, tak sanggup ikut campur dalam pertempuran yang terjadi di tingkat kekuatan yang jauh di atas mereka.

"Aurora, bisa menang, kan?" Julia berbisik.

Raviel menggenggam pedangnya erat. "Aku percaya padanya."

Di atas, Aurora mulai memahami ritme pertarungan Zareth. Ia tidak hanya mengandalkan kekuatan, tetapi juga emosi.

"Dia tidak bertarung untuk menghancurkan. Dia bertarung untuk membuktikan bahwa dunia ini salah!"

Aurora mulai menurunkan pedangnya.

Zareth terkejut. "Kenapa kau tidak menyerang?"

Aurora menatapnya dalam-dalam. "Karena aku tidak ingin melawanmu. Aku ingin kau percaya padaku, Zareth. Kita bisa mengubah dunia ini bersama!"

Zareth ragu. Energi kegelapan di sekelilingnya mulai bergetar.

Namun, tepat saat itu—sebuah kekuatan yang lebih besar muncul.

Bayangan raksasa tiba-tiba muncul dari dalam tubuh Zareth.

"Akhirnya ... aku bisa bebas."

Aurora membelalakkan mata. Itu bukan hanya Zareth. Ada sesuatu yang telah mengendalikan dirinya selama ini!

Sebuah kekuatan purba, entitas kegelapan sejati yang selama ini terkurung dalam darahnya.

Sosok raksasa itu muncul dari bayangan Zareth—sesosok siluman hitam dengan tanduk melengkung dan mata merah menyala.

"Aku adalah Malakar. Dewa Kegelapan yang Sejati."

Aurora merasa tubuhnya bergetar. Ini bukan hanya pertarungan pribadi lagi. Ini adalah pertarungan untuk nasib dunia.

Zareth jatuh berlutut, tubuhnya melemah setelah kegelapan dalam dirinya menghilang. "Aurora ... hanya kau yang bisa menghentikannya."

Aurora menggenggam pedangnya erat. Tidak ada lagi keraguan di hatinya.

Bersambung…

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!