Satu tahun menikah, tapi Sekar (Eka) tak pernah disentuh suaminya, Adit. Hingga suatu malam, sebuah pesan mengundangnya ke hotel—dan di sanalah hidupnya berubah. Ia terjebak dalam permainan kejam Adit, tetapi justru terjatuh ke pelukan pria lain—Kaisar Harjuno, CEO dingin yang mengira dirinya hanya wanita bayaran.
Saat kebenaran terungkap, Eka tak tinggal diam. Dendamnya membara, dan ia tahu satu cara untuk membalas, menikahi lelaki yang bahkan tak percaya pada pernikahan.
"Benihmu sudah tertanam di rahamiku. Jadi kamu hanya punya dua pilihan—terima atau hadapi akibatnya."
Antara kebencian dan ketertarikan, siapa yang akhirnya akan menyerah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Hujan baru saja reda, menyisakan aroma tanah basah yang bercampur dengan udara dingin malam. Mobil yang Eka tumpangi melaju cepat, hampir menerobos lampu merah di beberapa persimpangan. Tangannya mencengkeram ponsel erat, napasnya memburu sejak mendengar ancaman itu—suara dingin yang tanpa ragu menekan kelemahannya.
Saat akhirnya mobil berhenti di depan rumah megah itu, Eka nyaris tersentak keluar sebelum sopir sempat membukakan pintu. Tumitnya beradu dengan lantai marmer basah, langkahnya terburu-buru, hampir terpeleset di tangga.
Pintu rumah terbuka sebelum ia sempat mengetuk. Seorang pelayan berdiri di ambang pintu, sedikit terkejut melihat Eka yang tampak kehabisan napas.
“Tuan sudah menunggu Anda,” ucap pelayan itu dengan nada hormat, meski ada sedikit ketegangan di wajahnya.
Eka tidak menjawab. Ia melangkah masuk, aroma mawar dan lily menyeruak, bercampur dengan hawa dingin yang menusuk kulit. Di tengah ruangan luas itu, Kai berdiri dengan satu tangan menyelip di saku celananya. Tatapannya tajam, tapi tidak terburu-buru menatap Eka secara langsung.
Buket bunga yang ia genggam sebelumnya kini tergeletak begitu saja di atas meja, kelopaknya mulai layu, seolah mencerminkan harapan yang sudah pudar.
Eka menelan ludah, berusaha mengatur napasnya sebelum akhirnya membuka suara.
“Aku sudah datang,” katanya, suaranya sedikit bergetar.
Kai akhirnya mengangkat wajah, menatapnya dengan dingin.
“Tentu saja,” gumamnya. “Kamu tahu apa yang akan terjadi jika tidak.”
Keheningan menyelimuti ruangan. Dengan langkah santai, Kai berjalan mendekat. Pandangannya menelisik Eka dari ujung rambut hingga ke ujung kaki, lalu berhenti pada tangan Eka yang tengah mengelus lembut perutnya. Seketika, perasaan bersalah menyelinap di hati Kai, dan kemarahan yang sempat membara dalam dirinya perlahan memudar.
"Duduklah," perintah Kai.
Eka mengernyit, bingung dengan perubahan nada suara Kai. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya bertanya, "Sebenarnya, kenapa kamu memanggilku? Kamu tahu kan, ini sudah jam sepuluh malam?"
Bukannya menjawab, Kai justru memberi isyarat pada pelayan untuk menyiapkan segelas susu dan sebaskom air hangat.
Eka masih berdiri, ragu. Tatapan Kai tak lagi setajam tadi, tapi itu justru membuatnya lebih gugup. Lelaki itu tak langsung menjawab pertanyaannya, malah sibuk memberi perintah pada pelayan.
"Kai?" panggilnya lagi, suaranya lebih pelan.
"Sini," ujar Kai akhirnya, lebih lembut dari yang Eka duga.
Ia berjalan mendekat, tanpa sadar menggigit bibir bawahnya, mencoba memahami perubahan sikap lelaki itu. Kai menunggu sampai Eka duduk di sofa sebelum berjongkok di hadapannya.
Tatapannya turun ke perut Eka. Sekali lagi, mata itu tak lagi dipenuhi ketegangan seperti tadi. Ada sesuatu yang berbeda—sesuatu yang Eka tak pernah bayangkan akan melihatnya dalam diri Kai.
"Seharusnya kamu tidak tergesa-gesa datang," gumam Kai, lebih pada dirinya sendiri. Jemarinya terangkat, ragu-ragu sejenak sebelum akhirnya menyentuh pergelangan kaki Eka. "Lihat, kakimu sampai basah begini."
Eka tertegun. Napasnya tersangkut saat Kai meraih handuk hangat yang disodorkan pelayan, lalu mulai mengelap kakinya dengan gerakan yang lembut dan hati-hati.
Kai yang selalu mendominasi, selalu berbicara dengan nada dingin dan tajam… kini duduk bersimpuh di hadapannya, mengeringkan kakinya dengan penuh perhatian.
"Apa yang kamu lakukan?" bisiknya, jantungnya berdebar tak karuan.
"Merawat ibu dari anakku," jawabnya singkat.
Eka menelan ludah. Pipinya terasa hangat, meski udara malam masih menusuk kulitnya.
Tak lama kemudian, pelayan datang membawa segelas susu hangat. Kai menerimanya dan tanpa berkata-kata, ia menyodorkan gelas itu ke hadapan Eka.
"Minum," katanya, suaranya tetap terdengar tegas, tapi tanpa unsur paksaan seperti biasanya.
Eka mengerjap, lalu mengambil gelas itu dengan kedua tangan. Jemarinya sempat bersentuhan dengan jemari Kai, dan entah kenapa, itu membuatnya semakin gugup.
Eka menyeruput susu perlahan, membiarkan kehangatannya merayap di tenggorokannya. Kai masih menatapnya, tapi kali ini… ada sesuatu yang lebih lembut di sana.
"Kamu sudah makan?" tanyanya tiba-tiba.
Eka menggeleng pelan. "Kai jangan bercanda."
Kai mendengus pelan, seolah kesal dengan dirinya sendiri. Namun, ia tidak menjawab kalimat Eka, ia justru berkata, "Aku akan menyuruh mereka menyiapkan sesuatu untukmu. Setelah makan, kamu langsung istirahat."
Eka mengangkat wajah, menatap Kai penuh kebingungan. "Aku tidak berencana menginap di sini—"
"Siapa bilang kamu boleh pulang?" Kai memotong dengan nada santai, tapi ada ketegasan yang tak bisa dibantah. "Mulai malam ini, kamu tinggal di sini, Eka."
Jantung Eka berdegup kencang. Ia ingin membantah, tapi tatapan Kai yang tak terbaca membuatnya kehilangan kata-kata.
Kai meraih buket bunga yang tadi sempat ia abaikan, lalu meletakkannya di pangkuan Eka.
"Ini untukmu," katanya lirih, hampir tak terdengar.
Eka menunduk, menatap kelopak mawar dan lily yang meski sedikit layu, masih terlihat begitu indah. Dan saat ia kembali menatap Kai, lelaki itu sudah lebih dekat—terlalu dekat.
"Sekarang, berhenti membantah dan lakukan apa yang kubilang," bisik Kai, suaranya begitu rendah dan dalam.
Eka tak tahu harus mengatakan apa. Yang ia tahu hanyalah, untuk pertama kalinya, ancaman Kai tak lagi terasa seperti paksaan… melainkan sesuatu yang perlahan mengikatnya dengan cara yang berbeda.
Namun, bukan ini yang ia inginkan.
Kesadarannya kembali seperti ombak yang menghantam karang, membangunkannya dari ketenangan sesaat. Ia tak boleh lupa tujuan utamanya. Kehamilan ini adalah alat, bukan anugerah. Ia harus memastikan Kai mengakuinya sebagai istri, memastikan dirinya dapat membalas dendam pada keluarga Wirawan. Jadi, tidak akan ada kata cinta dalam hubungan ini. Tidak boleh ada. Sebelum dirinya terbawa perasaan, Eka harus sadar diri.
"Patkai..." panggilnya pelan, mencoba memecah suasana yang terasa terlalu aneh baginya.
Kai menoleh dengan alis sedikit terangkat. Tapi, tak ada kemarahan di sana. Hanya sorot mata yang penuh ketenangan.
"Apa kamu mau anak kita seperti babi? Jangan bicara sembarangan. Aku dengar ucapan ibu hamil bisa menembus langit," ucapnya, nada suaranya ringan, nyaris seperti candaan.
Eka tertegun. Kai tidak marah? Biasanya, mendengar panggilan itu saja sudah cukup untuk membuatnya melempar tatapan tajam atau menggerutu dengan nada kesal. Tapi sekarang?
Perubahan ini… terlalu mendadak. Terlalu aneh.
Eka merasakan ketakutan yang berbeda—bukan karena ancaman atau kemarahan Kai, tapi karena sesuatu yang tak bisa ia pahami sepenuhnya.
Apa ini bom waktu untuknya?
"Kai..." Eka menarik napas dalam. "Jangan bercanda lagi."
Kai menatapnya sejenak sebelum menjawab, "Bercanda?"
Eka mengangguk, lalu menggigit bibir, mencoba mengumpulkan keberanian.
"Hem... kalau kamu marah padaku, cukup bilang saja. Jangan seperti ini." Suaranya terdengar sedikit bergetar, tapi ia lanjut bicara. "Oke, aku akui tadi aku pakai uang yang ada di kartu untuk beli baju. Aku janji setelah aku dapat pekerjaan, aku akan bayar kembali. Jujur, hanya itu kesalahan yang aku buat hari ini."
Eka menghela napas. Ia tidak tahan dengan ketenangan Kai yang terasa begitu asing.
"Kalau aku memang buat kesalahan lain… lebih baik tegur aku saja kayak biasanya," lanjutnya, suara semakin lirih. "Jangan seperti ini, Kai. Aku takut."
Kai masih menatapnya, matanya mengunci gerakan kecil di wajah Eka, seolah sedang menilai sesuatu. Lalu, sesuatu yang lebih mengejutkan terjadi.