NovelToon NovelToon
Cahaya Cinta Naura

Cahaya Cinta Naura

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:301.7k
Nilai: 4.9
Nama Author: rahma khusnul

Naura Fina Mudya, seorang anak yang diharapkan menjadi cahaya yang bersinar bagi keluarganya, dipandang telah menorehkan noda bagi orang tuanya, keinginan untuk merubah perilaku seseorang menjadi lebih baik ternyata dipandang salah oleh lingkungannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rahma khusnul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjuanganku...

HAPPY READING... 🌹🌹🌹

Tanpa memperdulikanku yang masih terisak, dia terus membawaku menuju gang ke arah rumah kontrakan Pamanku.

"Maaf! tunggu sebentar!" ucapku sambil berusaha melepaskan pegangannya di pergelangan tanganku, setelah kami hampir sampai di depan rumah kontrakan Paman. Dia pun berhenti melangkah dan berbalik ke arahku. Aku cukup kaget setelah melihat wajahnya, segera ku hapus air mata yang masih tersisa di wajahku.

"Dari mana kamu selarut ini?" tanyanya dengan menatap iba ke arahku, lantas melepaskan pegangannya dengan perlahan.

"Mmmaas Azzam, bagai mana bisa ada disini?" aku balik bertanya.

"Tadi aku melihatmu lewat ke depan rumah berboncengan dengan Dikdik, memangnya dari mana selarut ini?"

"Saya..., Saya kerja paruh waktu di tempat sodaranya Dikdik, Mas!"

"Sampai selarut ini?"

"Sebenarnya baru kali ini saya pulang malam, dan Dikdik mengantarku tadi."

"Lalu mana dia sekarang?"

"Sudah pulang lagi, Mas!"

"Dasar, Bocah!" Ucapnya kemudian sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ku lihat sedikit kekesalan di wajahnya.

"Mmmaksud Mas?" tanyaku tak mengerti.

"Kenapa tidak memintanya mengantarmu sampai rumah? disini cukup rawan bagi seorang gadis malam-malam sendirian, makanya tadi aku menyusul kalian," jelasnya.

Kami kembali berjalan, Aku terus memikirkan kata-katanya. "Kenapa dia begitu peduli kepadaku?" tanyaku dalam hati, Aku mencoba mencuri pandang ke arahnya di tengah perjalanan kami. Dia terus melangkah disampingku, kedua tangannya di masukkan ke dalam saku jaket yang ia pakai. Ku lihat wajahnya manis, hidungnya mancung dengan kumis tipis menghiasi bagian atas bibirnya.

"Kenapa?" tanyanya sambil menoleh ke arahku, mungkin dia menyadari kalau aku sedang memperhatikannya.

Secepatnya ku tundukan pandanganku darinya, "Tidak apa-apa, Mas!" jawabku tanpa berani lagi menatapnya.

Tak lama, kami pun sampai di depan pintu rumah kontrakan Paman, langkahku terhenti saat mendengar perdebatan dari dalam rumah antara Paman dan Bibiku.

"Kamu lihat? Bahkan sampai jam segini pun dia belum pulang, gadis macam apa itu? Ibu gak tanggung jawab ya, kalau sampai terjadi apa-apa sama dia. Kamu juga, Pak! kenapa tiba-tiba bawa Ola kemari tanpa persetujuan Ibu? Bukankah kamu tau, kehidupan kita pun sudah pas pasan, rumah kita sempit, malah sok sokan ngurus anak sodara."

Suara Bibi terdengar sampai keluar rumah membuat Mas Azzam pun terdiam sambil menatapku. Dan aku hanya tertunduk di hadapannya. Mungkin ini hal baru bagi Mas Azzam, tapi hal yang biasa buatku, hampir setiap hari Bibi terus saja menyalahkan Paman atas kehadiranku di sini. Sempat aku berfikir untuk tinggal di rumah kost saja, namun Paman selalu melarangku, dan Uput kecilkulah yang membuatku terus bertahan disini dan selalu ingin cepat pulang untuk melihat tingkah lucunya saat bermanja di pangkuanku.

"Jadi ini rumah kontrakan Pamanmu?" tanya Mass Azam, Aku hanya mengangguk dalam tundukku. Aku tidak tau bagai mana dia bisa tau banyak tentang aku, mungkin Nahda yang cerita atau..., entah lah, aku juga tidak punya waktu untuk memikirkan hal itu.

Mas Azzam mengetuk pintu dengan tangan kanannya. Ku dengar perdebatan mereka berhenti, dan tak lama pintu terbuka. Aku segera mengucapkan salam, Bibi berdiri di depan pintu sambil menjawab salamku, lantas pandangannya beralih ke arah Mas Azzam. Cukup lama Bibi memperhatikan sosok Mas Azzam mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki.

"Assalamualaikum Tante," Ucap Mas Azam sambil tersenyum ke arah Bibiku, membuat Bibi yang sedang bengong langsung tersentak dan segera menjawab salamnya.

"Waalaikum salam, bukankah kamu Cucunya Bu haji Sariyah yang punya banyak kontrakan nyaman di jalan Kauman?" Tanya Bibi sambil mengerutkan dahinya.

"Iya betul, Tante! Nama saya Azzam," mengulurkan tangan ke hadapan Bibiku.

Bibi segera menyalaminya, "Mari...mari silahkan masuk!" ucap Bibiku ramah dan mempersilahkan kami masuk, Bibi terlihat senang dengan kehadiran Mas Azzam tanpa memperhatikan pakaianku yang basah dan berbau tak sedap ini. "Pak! ini ada Cucunya Bu haji Sariyah kemari mengantar Ola," Bibi menoleh ke arah Paman sambil tersenyum senang membuat aku tidak mengerti dengan sikapnya yang tiba-tiba berubah manis setelah perdebatan yang ku dengar tadi.

"Cucunya siapa, Bu?" Tanya paman yang sepertinya juga tidak mengerti.

"Cucunya Bu Haji Sariyah, itu tu yang punya banyak rumah kontrakan nyaman dan rumah kost di jalan kauman sana," Ucap Bibi. Sepertinya Bu Haji Sariyah cukup populer di kalangan Ibu-ibu disini. Entah terkenal karena kontrakannya atau juga yang lainnya.

"La! kok pakaianmu basah? dan..., bau apa ini?" tanya Paman setelah aku berada di hadapannya.

"Tadi... Ola jatuh, Paman!" Ucapku sambil menyimpan ransel di samping tas besarku, lantas mengambil handuk dan pakaian ganti dari dalam tas ku. Sempat ku lihat Mas Azzam yang sudah duduk bersila bersama Paman memperhatikan tas besar yang berisi semua pakaianku.

"Kok bisa? jatuh di mana?" tanya Paman.

"Kamu jatuh, La?" timpal Bibi.

"Ola mau bersih-bersih dulu, Paman! Bibi!" ucapku sambil berjalan menuju ruang belakang, setelah mendapat anggukan dari mereka. Sempat ku lihat Uput dan Dika sudah tertidur dengan pulas di ruang tengah.

Selesai dengan kegiatan bersih-bersih dan mengenakan kembali pakaianku, aku kembali ke ruang depan. Ku lihat Mas Azam masih duduk disana sedang berbicara santai dengan Paman dan Bibiku.

"Sudah selesai, La? Duduklah!" kata Paman. Aku mengangguk dan duduk di samping Paman. "Azzam sudah menceritakan semuanya. Lain kali jangan pulang sampai larut lagi, cukuplah sampai maghrib saja, usahakan sebelum maghrib sudah ada di rumah."

"Iya, Paman!" Ucapku sambil tertunduk dan meremas-remas jemari di atas pangkuanku.

"Apa ada yang sakit, Ra?" tanya Mas Azam.

"Tidak, Mas!" Ucapku menyembunyikan rasa sakit di bagian lututku yang sedikit berdarah, "Terimakasih banyak sudah menolong saya," Kuberanikan untuk melihat wajahnya, ternyata dia sedang tersenyum manis sambil menatapku. Segera ku tundukan kembali pandanganku.

"Sama-sama," Ucapnya.

"Waduuuh..., terimakasih banyak ya Nak Azam, duh Bibi gak tau deh apa yang akan terjadi dengan keponakan Bibi jika tidak ada Nak Azam," Bibi menimpali sambil tersenyum ramah.

"Kebetulan saja, Bi. Kalau begitu saya permisi," Pamit Mas Azam.

"Kok buru-buru, Nak?" tanya Bibi.

"Sudah larut, Bi!" Ucapnya sambil berdiri dan menyalami Paman, lantas mengucapkan salam kepada kami bertiga. Diapun keluar diantar Paman dan Bibi sampai ke depan pintu.

Aku masih terdiam, dan entah apa yang terjadi, aku merasa sikap Bibiku berubah menjadi lebih manis setelah bertemu dengan Mas Azzam tadi.

Malam semakin larut, aku pun berusaha memejamkan mataku, meski ingatan tentang kejadian tadi terus saja menghantuiku. Kembali ku ambil tasbih kecilku, dan melarutkan diri pada dzikir kepada Sang Pemilik segalanya. sampai aku benar-benar terlelap.

Hari minggu pagi, setelah sarapan bersama dan semua pekerjaan rumah sudah selesai, Dika dan 3 orang temannya datang ke rumah denhan membawa buku pelajaran mereka, apalagi kalau bukan ingin belajar bersamaku, dan aku pun dengan senang hati menyambut kedatangan mereka, rumah Bibi yang sempit membuat kami harus menggelar tikar di depan rumah dekat pinggiran kali yang sudah di pelitur semen itu. Sebuah pohon rindang melindungi kami dari teriknya matahari.

Berawal dari membantu Dika mengerjakan PR matematika, kini setiap hari Sabtu dan Minggu, Dika selalu mengajak teman-temannya untuk belajar bersamaku, awalnya satu orang, lalu sekarang 3 orang dan mungkin saja nantinya akan terus bertambah.

*********

Hari senin kembali datang. Aku kembali kepada aktivitasku, pergi kuliah dan bekerja di tempat Wa Usep. Kejadian semalam aku ceritakan, dan Wa Usep mengizinkanku untuk bekerja sampai sore saja.

Waktu terus berlalu, Aku dan Nahda semakin dekat. Aku sering main ke rumahnya, Nahda pun sering main ke rumah kontrakan Paman. Dari sana aku tahu, bahwa Nahda dan Mas Azzam adalah dua bersodara yang sudah tidak punya kedua orang tua. Keduanya meninggal pada kecelakaan saat mereka tinggal di Jakarta 5 tahun yang lalu, dan sejak itu Nahda dan Mas Azzam di bawa oleh Neneknya ke kota ini. Mereka di rawat dengan sangat protektif oleh neneknya karena merekalah yang akan menjadi generasi penerus Beliau setelah anak laki-laki semata wayangnya pergi meninggalkannya.

Suatu hari Nahda bertanya banyak tentang kehidupanku dan asal-usulku. Sepertinya dia merasa iba dengan keadaanku, lantas dia mengajakku untuk ngekost di tempat kost Neneknya yang kebetulan sedang kosong. Aku sempat menolaknya, tapi permohonannya yang sangat tulus ingin membantuku agar lebih nyaman dan memiliki banyak waktu untuk belajar bersama aku pun mengiyakannya, tapi dengan syarat mendapat izin dari Paman dan Bibiku.

Tanpa fikir panjang malah dia sendiri yang meminta izin kepada Paman, dan tentu saja Paman mengizinkannya meski dengan berat hati harus berpisah rumah denganku.

Hari demi hari terus berganti, kehidupanku di tempat kost baru tentu saja jauh lebih nyaman, meski hanya satu kamar, kurasa itu cukup untuk ruang pribadiku. Uang living kost yang ku terima dari kampus ku pakai untuk membayar kostan sebesar 200 ribu rupiah setiap bulannya.

Beban hidupku semakin bertambah karena harus memikirlan uang kost juga uang makanku sehari-hari, meski tak jarang Paman datang memberiku sedikit uang ataupun makanan, tapi semakin lama aku merasa malu dan hanya menjadi beban untuknya. Akhir-akhir ini aku sering menolak saat Paman memberi uang kepadaku, bukannya aku tidak membutuhkannya, tapi aku betfikir bahwa keluarga Paman jauh lebih membutuhkannya.

Aku berfikir keras untuk mendapat uang tambahan, akhirnya aku berinisiatif untuk berjualan pulsa kecil-kecilan kepada teman-temanku, ku gunakan uang yang aku kumpulkan dari hasil bekerja di tempat Wa Usep sebagai modal awal. Aku mempromosikan usaha pulsaku kepada teman-teman di kampus dan di sekitar rumah kost tanpa ada sedikitpun rasa malu, semua akan aku lakukan, selama itu halal dan bisa menutupi kebutuhan hidupku di kota Gudeg ini.

Meski sudah di tempat baru, setiap hari sabtu dan minggu, Dika selalu datang bersama teman-temannya untuk belajar bersamaku di tempat kost. Nahda dan Mas Azam yang melihat hal itu, menyarankanku untuk membuka lest private di setiap akhir pekan. Dengan bantuan Nahda dan Mas Azzam, anak-anak les privateku terus bertambah. Dan entah apa yang mereka lakukan, sampai banyak dari kalangan orang-orang berada memintaku untuk mengajari anak-anak mereka di akhir pekan. Dan tentu saja mereka memberikan sejumlah uang yang cukup banyak menurutku sebagai kepuasan mereka terhadapku dalam membantu putra putrinya belajar, meski aku tidak pernah memberi target untuk pembayarannya.

*******************************

Bersambung...❤❤❤⚘⚘⚘

\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

Assalamualaikum Readers, mohon maaf sekali akhir-akhir ini saya jarang Up, karena sulitnya membagi waktu.

mohon do'anya saja ya dari semuanya, semoga urusan dunia nyata saya tetap lancar dan Up Ola pun terus lancar 🤗

Terimakasih sudah membaca, tetap like, vote, klik bintang 5 dan komentar ya 😉.

I LOVE YOU ALL...😗😗😗❤❤❤⚘⚘⚘

By : Rahma Husnul

1
Rahma Husnul
menarik
@InunAnwar
olla hamidun nich😁
@InunAnwar
aaaa.... mas Azzam,,,, kangen sama kamu mas😅😅
@InunAnwar
waduh kok ikutan grogi😅😅😅😅
@InunAnwar
iya bener itu bunda,,,, saya juga merasakan begitu😁
@InunAnwar
aaaa so sweet 😘😘😘
@InunAnwar
ah Mas Azzam bbrp thn ini sdh menjaga jodohnya Galih😅😅
@InunAnwar
sekarang kepergok ibu😅
@InunAnwar
pasti ini ibunya Galih
@InunAnwar
MasyaAllah, tar ketemu nya Naura n Galih di Tanah Suci kah????,,,, ini yg dinamakan Manusia yg berencana tp Allah SWT lah Yg menentukan....

ya.... siapa jodoh sesungguhnya yg baik utk Naura. jika niat Galih utk memantaskan dirinya, maka disaat sdh pantas Allah pasti mempertemukan mrk ber dua😷
@InunAnwar
jadi bingung mau milih, jd tim Galih atau Azzam 😅😅
@InunAnwar
ah Galih ternyata hadir di acara itu,,,,, huhuhu....
@InunAnwar
haduh ga cuma meleleh, tp bisa sesenggukan 😭😭😭😭
@InunAnwar
ah kannnn... air mata jadi meleleh 😭😭
@InunAnwar
jadi terharu 😂😂
@InunAnwar
nah benerkan itu si "DIA".... 😅😅
@InunAnwar
apakah taufiq ini si "DIA"....... wekaweka 😂😂
@InunAnwar
Galih masih dlm Fase memantaskan diri utk muncul kepermukaan 😅😅
@InunAnwar
ndok????
nduk kali ya thor? , tp ini utk sebutan anak perempuan,
kalau laki² itu kan Le😁
@InunAnwar
haduh serasa naik rollercoaster 😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!