NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Bangsal Jiwa

Rahasia Di Balik Bangsal Jiwa

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Sebagai seorang perawat di Rumah Sakit Jiwa Harapan Sehat, Nadira Anindya selalu percaya bahwa setiap pasien berhak mendapatkan kasih sayang.

Ketika Adrian Mahendra, pria pendiam yang didiagnosis mengalami gangguan jiwa berat, menjadi pasien barunya, Nadira merawatnya dengan penuh ketulusan tanpa mengetahui siapa pria itu sebenarnya.

Di balik tatapan kosong Adrian, tersimpan sebuah rahasia besar. Ia bukan penderita gangguan jiwa, melainkan pewaris tunggal Mahendra Grup yang sengaja dijebloskan ke rumah sakit jiwa oleh ibu sambungnya demi menguasai seluruh harta warisan miliknya.

Ketulusan Nadira perlahan menjadi cahaya dalam hidup Adrian yang telah kehilangan segalanya. Namun saat cinta mulai tumbuh, keduanya harus menghadapi konspirasi, pengkhianatan, dan perebutan warisan yang mengancam nyawa.

Akankah Nadira berhasil mengungkap kebenaran, atau justru ikut terjebak dalam permainan kejam keluarga Mahendra?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15 : Siapa Mereka?

Satu jam kemudian...

Sebuah mobil hitam berhenti tidak jauh dari pelabuhan lama. Adrian dan Nadira turun dengan hati-hati. Gudang-gudang tua berdiri berjajar di antara kabut malam. Suasana begitu sepi hingga suara langkah kaki mereka terdengar jelas.

Nadira menggenggam lengan Adrian. "Kamu yakin kita harus masuk?"

Adrian mengangguk. "Tidak. Aku justru yakin ini semua jebakan."

"Lalu kenapa kamu tetap ingin datang?"

"Karena aku ingin tahu siapa yang berada di balik semuanya."

Mereka berjalan menuju Gudang 17, pintu gudang ternyata sedikit terbuka.

Adrian berhenti. "Jangan masuk dulu." Ia memperhatikan sekitar, tidak ada kendaraan, tidak ada penjaga yang terlihat, semua terlalu sepi.

"Ini terlalu mudah," gumamnya.

Namun dari dalam gudang tiba-tiba terdengar suara teriakan. "Tolong..."

Nadira langsung mengenalinya. "Rendra!"

Ia hendak berlari masuk, tetapi Adrian menahannya. "Tunggu."

Adrian menatap pintu beberapa detik sebelum akhirnya masuk bersama Nadira. Di dalam gudang, Rendra memang berada di sana. Tangannya terikat pada sebuah kursi, wajahnya penuh luka.

"Rendra!" Nadira berlari menghampirinya.

Adrian mengikuti dari belakang. "Siapa yang melakukan ini?" tanyanya.

Rendra mengangkat kepala dengan susah payah. "Kalian... seharusnya tidak datang."

Tiba-tiba...

Brak!

Pintu gudang tertutup keras.

Nadira tersentak, beberapa lampu langsung menyala. Dari balik tumpukan peti, muncul sejumlah pria bersenjata.

Adrian langsung berdiri di depan Nadira. "Aku sudah menduga."

Salah seorang pria tertawa. "Sayangnya, kalian tetap datang."

Adrian menatap mereka. "Siapa yang menyuruh kalian?"

Pria itu hanya tersenyum. "Orang yang sama yang selama ini mengendalikan semuanya."

Rendra langsung menundukkan kepala.

Nadira menatapnya. "Rendra, siapa mereka?"

Rendra tidak menjawab.

Salah satu pria kemudian melangkah maju. "Serahkan ponsel kalian."

Adrian tidak bergerak.

"Kalau tidak?" Pria itu mengangkat senjata. "Kalian tidak akan keluar dari sini."

Nadira menggenggam tangan Adrian. Namun sebelum keadaan semakin buruk... terdengar suara mesin mobil dari luar.

Para penjahat langsung saling berpandangan. "Suara mobil siapa itu?"

Salah satu dari mereka berlari menuju jendela kecil. Ia mengintip keluar, wajahnya langsung berubah.

"Sepertinya itu mobil Gunawan!"

Pemimpin mereka menoleh tajam. "Ada berapa banyak?"

"Sepertinya empat mobil."

Pria itu mengumpat pelan. "Bagaimana mereka bisa menemukan tempat ini?"

Rekannya menjawab panik, "Mungkin mereka melacak ponsel Adrian."

Pemimpin kelompok itu segera melihat Adrian. "Jadi kalian sengaja memberitahukan ini padanya."

Adrian hanya tersenyum tipis. "Apa kalian takut?"

Suara mobil semakin dekat, pemimpin kelompok itu langsung mengambil keputusan. "Kita pergi sekarang"

"Tapi mereka?"

"Biarkan saja, kita masih punya cara untuk menghancurkan mereka semua." Ia menatap Adrian dan Nadira. "Saat ini, belum waktunya Gunawan menangkap kita." Pria itu tersenyum dingin. "Biarkan mereka hidup."

Nadira menatapnya dengan bingung. "Apa maksud kalian?"

"Supaya kalian masih dalam kendali kita."

Beberapa pria segera berlari menuju pintu belakang gudang. Adrian mencoba mengejar, tetapi salah seorang penjahat menendang sebuah peti hingga menghalangi jalan.

"Bugh!"

Adrian hampir terjatuh.

Nadira segera memegang lengannya. "Adrian!"

"Aku tidak apa-apa."

Para penjahat kemudian menghilang melalui sebuah lorong sempit di belakang gudang. Namun mereka tidak pergi tanpa meninggalkan sesuatu. Salah seorang pria melempar sebuah benda kecil ke lantai.

Sebuah ponsel, ponsel itu menyala. Layar menampilkan satu pesan. "Ini baru permulaan."

Adrian menatap layar tersebut dengan rahang mengeras. "Orang ini sengaja menekan kita."

Tiba-tiba...

Brak!

Pintu depan gudang terbuka keras.

Gunawan bersama beberapa pengawalnya masuk. "Adrian!" Gunawan berlari ke dalam.

Namun langkahnya mendadak terhenti. Gunawan langsung menoleh kepada para pengawalnya. "Periksa semuanya!"

"Baik, Tuan!"

Gunawan berlari semakin dalam. "Nadira!"

Tidak ada jawaban.

"Adrian!"

Suara Gunawan menggema di seluruh gudang.

Kemudian terdengar suara dari kejauhan.

"Om!"

Gunawan langsung berlari menuju sumber suara.

Di salah satu ruangan belakang, ia menemukan Adrian dan Nadira berdiri di samping Rendra yang masih terikat.

"Nadira!"

Gunawan segera menghampiri keponakannya. "Kamu tidak apa-apa?"

Nadira menggeleng. "Aku tidak terluka, Om."

Gunawan kemudian menatap Adrian. "Bagaimana dengan kamu?"

"Aku baik-baik saja."

Gunawan mengembuskan napas lega. "Syukurlah."

Namun ekspresinya kembali serius saat melihat Rendra. "Siapa yang melakukan ini?"

Rendra menundukkan kepala. "Mereka..."

Gunawan mendekat. "Mereka siapa?"

Rendra menatap Gunawan dengan wajah penuh ketakutan. "Mereka bukan orang Miranda."

Gunawan seketika membeku.

Adrian langsung menoleh. "Apa maksudmu?"

Rendra menarik napas panjang. "Selama ini saya pikir Miranda yang mengendalikan semuanya."

Gunawan mengepalkan tangan.

"Tapi?" Rendra menatap Adrian. "Miranda hanya menerima perintah."

Suasana mendadak sunyi.

Nadira membelalakkan mata. "Kalau begitu... siapa yang memberikan perintah?"

Rendra hendak menjawab, namun tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari luar gudang.

Semua orang langsung menoleh.

Salah seorang pengawal Gunawan berlari masuk. "Tuan!"

"Ada apa?"

"Kami menemukan kendaraan yang digunakan para pelaku."

Gunawan mengernyit. "Di mana?"

"Di belakang gudang."

Gunawan segera keluar bersama Adrian. Sebuah mobil hitam terparkir beberapa meter dari gudang.

Mesinnya masih menyala. Namun tidak ada seorang pun di dalamnya.

Pengawal membuka pintu kendaraan. "Tuan..."

Ia menunjuk kursi belakang, di sana terdapat sebuah map hitam. Gunawan mengambilnya, saat dibuka... wajahnya seketika berubah. Di halaman pertama terdapat sebuah foto lama. Foto Gunawan bersama mendiang istri dan anaknya.

Nadira yang melihat foto itu langsung terdiam.

"Om..."

Gunawan tidak menjawab, tangannya mengepal erat.

Di bawah foto tersebut terdapat sebuah kalimat.

Kau seharusnya tidak ikut campur, Gunawan.

Gunawan menatap tulisan itu dengan wajah dingin.

Kemudian sebuah kertas kecil jatuh dari dalam map.

Adrian mengambilnya, hanya ada satu kalimat.

Tanyakan kepada Gunawan siapa yang membunuh keluarganya.

Adrian perlahan menoleh kepada Gunawan. Nadira juga menatap pamannya dengan penuh kebingungan. Gunawan berdiri membeku, kali ini wajah pria itu tidak lagi terlihat tenang. Ada ketakutan di matanya.

Dan Adrian mulai menyadari sesuatu, rahasia tentang keluarganya sendiri mungkin ternyata memiliki hubungan dengan semua yang sedang terjadi sekarang.

Suasana di belakang gudang mendadak berubah. Tidak ada seorang pun yang berbicara. Gunawan masih berdiri mematung sambil menatap foto lama yang berada di tangannya.

Foto dirinya bersama mendiang istri dan anaknya. Tangannya mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

Nadira perlahan mendekat. "Om... siapa yang membunuh keluarga Om?"

Pertanyaan itu membuat Gunawan akhirnya mengangkat wajah, tatapannya bertemu dengan mata Nadira. Namun kali ini, Nadira melihat sesuatu yang selama ini tidak pernah ditunjukkan pamannya... ketakutan.

"Om..." suara Nadira bergetar. "Apa maksud tulisan ini?"

Gunawan menarik napas panjang. "Jangan percaya semua yang tertulis di kertas itu."

Adrian langsung menyela. "Justru karena mereka tahu tentang keluarga Om, berarti mereka sudah menyelidiki kehidupan Om sejak lama."

Gunawan menatap Adrian. "Kamu benar."

Adrian mengernyit.

Gunawan memasukkan foto tersebut ke dalam map. "Tapi ada satu hal yang harus kalian pahami." Ia menatap Nadira. "Orang yang mengirim pesan ini tidak ingin kita mengetahui siapa mereka."

"Kenapa?"

"Karena mereka ingin kita saling mencurigai."

Adrian sesaat terdiam, ia kembali mengingat semua kejadian. Semuanya seperti potongan puzzle yang belum menemukan tempatnya.

Namun ada satu hal yang membuat Adrian merasa semakin tidak nyaman. Semua petunjuk selalu muncul tepat ketika mereka mulai mendekati kebenaran.

"Om..." Adrian berkata pelan. "Menurutku ini bukan sekadar ancaman."

"Apa maksudmu?"

"Mereka sengaja meninggalkan foto keluarga Om."

Adrian menunjuk map tersebut. "Kalau mereka hanya ingin menakut-nakuti Om, mereka bisa mengirim ancaman biasa." Tatapannya menjadi tajam. "Tapi mereka memilih foto keluarga."

Gunawan terdiam sesaat... lalu berkata, "artinya mereka ingin Om mengingat sesuatu."

1
It's me Sky
terimakasih kakak selalu suport karyaku🙏
Arditya
novel bagus ini sih, wajib di baca. Author satu ini gk pernah gagal buat buku. semangat thoor,😎
Amoera
suka banget sama alur ceritanya, mantap thoor👍
Amoera
Asli ini sih novelnya bagus thoor, menegangkan... semangat thoor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!