NovelToon NovelToon
KIDUNG KINANTI UNTUK PANGLIMA KABUT

KIDUNG KINANTI UNTUK PANGLIMA KABUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Misteri
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Kirana Paramitha terbangun dari Peti Kaca Rembulan menghadapi Hukum Sumpah Sejiwa: wanita berusia dua puluh tahun wajib bersuami. Saat tunangannya kabur demi adik angkatnya, Kirana menjumpai Rangga Adinata, Panglima Kabut yang dilanda Krisis Api Darah. Dengan kidung dan ramuan ia menenangkannya, lalu bersumpah sejiwa. Tersembunyi sebagai penyanyi "Kinanti", Kirana membangun rumah tangga, melahirkan tiga anak bertalenta naga, dan bersama Rangga menyatukan ras-ras Cakrawala dalam Majelis Sejagat.

note : support para pembaca sangat berarti bagi penulis untuk tetap berkarya dan upload minimal 3 bab per hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21 - LEBIH TEH DARI TEH HIJAU

Suara pisau menghantam talenan terdengar keras dan berirama dari dapur vila keluarga Wijaya. Ratih sedang mengiris wortel dengan wajah memerah, giginya gemeretak menahan kesal; setiap potongannya semakin halus dan semakin cepat seiring naiknya amarah di dadanya.

Di sampingnya, Sekar berdiri dengan mata sembab dan tubuh yang tampak bergetar lemah, seolah-olah kapan saja ia bisa pingsan dan roboh ke lantai dapur yang dingin itu.

Kirana yang berdiri di ambang pintu menghela napas pelan. Sesuai dugaan, ibunya kalah telak di hadapan kepura-puraan Sekar yang selalu tampil polos bagai bunga teratai putih yang tidak bersalah. Sebagai perempuan yang juga piawai membaca panggung sandiwara, Kirana bisa menebak seluruh alur drama ini dari awal sampai akhir. Ia hanya perlu berdiri di sini dan membiarkan panggung berjalan, lalu memetik buahnya di saat yang tepat.

Baru beberapa kalimat saja ibunya sudah terpancing marah, dan pada akhirnya ibunyalah yang terlihat seperti orang jahat di hadapan semua orang, padahal sekadar ingin membela keadilan untuk putrinya sendiri.

Kirana bahkan sudah bisa menebak dengan tepat: dalam beberapa menit lagi, ayahnya Bawono akan muncul di ambang dapur ini, datang tepat pada saat pertikaian mencapai titik paling panasnya. Ia hafal benar pola yang selalu diulang Sekar, dari tangisan sampai alasan yang tak pernah habis.

---

Kirana berjalan cepat mendekat dan segera mengulurkan tangan untuk menopang Sekar yang 'hampir terjatuh' itu dengan penuh perhatian, seolah-olah ia benar-benar peduli pada kesehatan adik angkatnya itu, padahal di balik itu semua ia sudah menyiapkan langkah selanjutnya.

"Astaga, Sekar, kenapa kau keluar? Bukankah lebih baik kau beristirahat di kamar, atau berbaring di Ruang Peremajaan untuk memulihkan diri? Bagaimana kalau penyakitmu kambuh dan kakimu benar-benar lumpuh?"

Ekspresi Sekar berubah beberapa kali, dari merah menjadi pucat, lalu kembali tenang; pada akhirnya ia menjawab dengan getir sambil menunduk, "Lumpuh ya lumpuh saja. Asal Ibu tidak marah padaku, sekarang pun aku bisa langsung mematahkan kaki ini di depan semua orang!"

Ratih yang masih memegang pisau dapur mengerutkan dahi, matanya menyala-nyala menahan amarah. Ia sangat ingin sekali menurunkan pisau itu untuk memotong kaki peri kecil yang berdiri di depannya itu, biar tidak berani bersandiwara lagi di depan matanya.

Namun sebelum Ratih sempat bertindak, suara langkah kaki yang berat dan menenangkan terdengar dari balik pintu dapur, menghentikan setiap gerakan di ruangan itu seketika.

Tepat pada saat itu, Bawono muncul di ambang pintu, menatap satu per satu orang di ruangan itu dengan bingung, dari istri yang memegang pisau sampai putri angkatnya yang bermata sembab, lalu mengerutkan dahi.

Ia menatap istrinya, lalu menatap Sekar, lalu bertanya dengan suara rendah yang berusaha tenang, "Ada apa ini? Suasana dapur seperti medan perang saja."

Sekar hampir saja bersuara dengan wajah penuh air mata untuk memulai aduannya, tetapi Kirana mendahuluinya dengan senyum tenang, "Pa, Ibu mau memasak bersama Ayah hidangan istimewa yang dahulu berdua kalian santap pada hari pernikahan, dan malam ini kita akan menikmatinya bersama-sama."

Bawono menatap curiga istrinya yang masih berdiri dengan pisau terangkat dan wajah mengerikan, lalu menatap putrinya dengan penuh kecurigaan akan ucapan yang baru saja keluar dari mulutnya.

Ratih menangkap isyarat mata dari putrinya, lalu mendengus dan berkata dengan terpaksa, "Hm, asal kau tahu, aku tidak yakin masakanmu masih seenak dan selezat dulu."

Ekspresi Bawono langsung melunak, seketika itu juga ketegangan di wajahnya hilang. Ia melepas kancing manset bajunya, menyingsingkan lengan hingga ke siku, dan berkata dengan nada bersemangat, "Kita lihat saja nanti kalau sudah selesai dimasak."

Sekar tidak tega melihat suasana mencair begitu cepat. Ia menarik napas dengan suara yang keras dan menyengaukan hidungnya, berusaha menarik kembali perhatian semua orang kepada dirinya, seolah menangis tanpa sebab.

Bawono menoleh, melihat matanya yang merah dan membengkak, lalu mengerutkan dahi, "Sekar, kenapa kau menangis? Ada apa sebenarnya?"

Kirana memeluk bahu Sekar dengan mesra sambil tersenyum penuh pengertian, "Tadi Sekar memaksa membantu Ibu memotong bawang. Baru sebentar saja, matanya terus mengeluarkan air mata."

Ia menoleh dan mengedipkan mata pada Sekar, "Sekar, biarkan dapur untuk Ayah dan Ibu saja. Kita tidak perlu ikut menjadi penghalang di sini."

Sekar tidak bisa membantah di depan sang ayah; ia hanya menjawab dengan senyum yang dipaksakan, "Iya, Kak."

Begitu keduanya menaiki tangga dan berbelok di tikungan, lorong panjang di lantai atas itu hanya menyisakan mereka berdua, sunyi dan sepi. Tangga itu memangku setiap langkah mereka dengan derit kayu yang pelan, seolah ikut menyaksikan drama yang belum selesai.

Kirana segera melepaskan lengan Sekar dan menyandarkan punggungnya ke dinding, lalu berkata dengan senyum miring, "Sekar, kakimu memang lumpuh, jaga baik-baik. Kalau tidak ada keperluan, jangan berkeliaran di dekat Ibu, jangan pula memancing amarahnya dengan tangisanmu itu."

Sekar menjawab dengan nada terluka, matanya berkaca-kaca, "Kak, aku tidak sengaja. Aku tidak menyangka Ibu akan semarah itu hanya karena satu kejadian."

"Tentu saja Ibu marah. Lagi pula, ada orang yang bicaranya terlalu menyakitkan. Namun, entah Ayah dan Ibu bercerai atau tidak, keluarga Wijaya ini tidak akan pernah memberikan tempat bagi ibumu untuk masuk ke dalamnya, itu pasti."

Mata Sekar menyempit, ia menggigit bibirnya, "Kak, maksudmu apa? Kenapa aku tidak bisa mengerti maksudmu?" tanyanya pura-pura polos, seolah sama sekali tidak bersalah.

Kirana menepuk bahunya, "Kalimat terakhir tak usah kau mengerti. Kalimat yang ini pasti bisa kau pahami: apa kau masih ingin kaki ini sembuh?"

Ekspresi palsu di wajah Sekar akhirnya runtuh sedikit demi sedikit, seolah topeng yang selama ini ia kenakan retak berkeping-keping. Ia menatap lurus ke arah Kirana, "Apa kau sedang mengancamku?"

"Bukan, aku hanya peduli padamu." Kirana menjawab dengan tenang, lalu berbalik pergi dengan sudut bibir yang sedikit terangkat.

Kebetulan sekali, lentera gantung kecil di atas kepala Sekar berkedip, menambah suram wajah gadis yang sedang menahan amarah itu.

Kirana tidak mempedulikannya lagi. Ia terus melangkah, meninggalkan lorong itu sendirian dengan langkah yang ringan. Angin malam yang masuk lewat jendela membuat rambutnya berhamburan, seolah membebaskannya dari belenggu sandiwara itu.

Dahulu, di Alam Kuna, ia pernah membaca sebuah kalimat yang menurutnya sangat benar dan hingga kini ia pegang: jika bertemu dengan teh hijau yang tak tahu malu, kalahkan sihir dengan sihir, jadilah lebih teh darinya, dan biarkan dia kehilangan tempat untuk berpijak.

Kini, kalimat itu menjadi pegangan hidupnya, dan Sekar baru saja mendapat pelajaran kecil dari telapak tangan yang lembut namun tegas, meski ia sendiri belum menyadari akan hal itu.

1
falea sezi
ini kisah kayak saranjana kuno modern jd satu bner gak🤭
Kartika Candrabuwana: novel saya yang berjudul putri malam untuk panglima senja juga cukup menghibur
total 2 replies
Indriyati
novel sungguh bagus untuk pembaca wanita. penuh drama dan seru. semangat thor. kutunggu bab bab berikutnya
Kartika Candrabuwana: terima kasih atas votenya. supportnya sangat berarti bagi penulis
total 1 replies
falea sezi
lanjut
Kartika Candrabuwana: makasih. sudah siap 3 bab per hari terjadwal. supportnya sungguh berarti🙏
total 1 replies
falea sezi
rangga ini aneh g bertanggung jawab bingung aq novel gendre apaan inj😒
Kartika Candrabuwana: agar ada permainan emosi disini. makasih banyak komennya😍
total 1 replies
falea sezi
q bingung ini kisah apa di bilang dr jaman masa depan tp kayak kuno bgt baju dan dll tp ada dokter ada hape ada pesawat atau di sebut kapal terbang 🤣🤣 ini jaman apa thor jelasin klo. kerajaan mahh meski jaman dlu aja rakyat bebas makan buah sayur kali ahh🤣
Kartika Candrabuwana: iya untuk zaman saya buat unik agar bawa nuansa baru. makasih banyak komennya👍
total 1 replies
falea sezi
ini cerita fantasi kahh🤣 kok aneh bgt ada dokter tp kisahnya kayak kuno
Kartika Candrabuwana: ini cerita fantasi, sengaja biar unik. makasih komennya.
total 1 replies
falea sezi
baru nemu
Kartika Candrabuwana: semoga bisa menghibur
total 1 replies
prameswari azka salsabil
sekali membaca novel ini, saya langsung penasaran untuk membaca terus sampai akhir. luar biasa novel ini
Kartika Candrabuwana: terima kasih banyak atas votenya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!