NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali: ChatGPT Jadi Senjata Rahasiaku

Terlahir Kembali: ChatGPT Jadi Senjata Rahasiaku

Status: sedang berlangsung
Popularitas:61
Nilai: 5
Nama Author: Elang

Arka Wicaksono, 28 tahun, programmer lulusan bootcamp. Hidupnya habis di depan layar komputer — lembur tanpa akhir, gaji pas-pasan, dan mimpi yang sudah lama mati. Sampai suatu malam, jantungnya berhenti di tengah shift ketiga berturut-turut. Mati. Tamat.

Atau begitulah seharusnya.

Arka membuka mata di kamar kos-nya di Bandung. Tahun 2018. Usia 20 tahun. Mahasiswa ITB semester 5.

Dan di saku celananya — sebuah smartphone dari tahun 2026 dengan satu aplikasi yang tidak seharusnya ada: ChatGPT.

AI yang bisa menulis kode sempurna dalam hitungan detik. Merancang produk yang belum pernah dilihat dunia. Menganalisis pasar dengan ketepatan yang melampaui konsultan manapun.

Dengan ingatan masa depan di kepalanya dan AI tercanggih di tangannya, Arka memulai dari nol: menyelamatkan pabrik ayahnya yang hampir bangkrut, membangun platform teknologi yang mengguncang industri, dan diam-diam menyiapkan strategi yang akan membuat dunia berlutut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

Bab 25: Nadia dan Malam Sebelum Badai

Jakarta, Februari 2019.

Arka datang ke ibukota tiga hari lebih awal dari jadwal BIN. Persiapan Summit sudah selesai di BSD. Agenda hari ini media briefing KlikNews yang Kevin jadwalkan di Hotel Mulia Senayan.

Ruangan konferensi kecil. Dua puluh lima jurnalis dari berbagai media—Techinasia, DailySocial, CNN Indonesia, beberapa portal teknologi dan bisnis. Kevin berdiri di depan sebagai MC, Arka duduk di panel bersama Hendra.

Topik: KlikNews melewati milestone 5 juta DAU.

Kevin membuka: "Ladies and gentlemen, terima kasih sudah hadir. Hari ini kami ingin mengumumkan bahwa KlikNews resmi melewati lima juta pengguna aktif harian—"

Arka mendengarkan sambil scanning ruangan. Wajah-wajah profesional, laptop terbuka, kamera ponsel teracung.

Lalu dia melihatnya.

Baris ketiga. Kursi paling kiri. Rambut hitam diikat ekor kuda. Buku catatan kecil di tangan, kertas dan pena alih-alih laptop. Luka di lutut sudah sembuh, tapi cara dia duduk—sedikit miring ke kanan—menunjukkan kebiasaan yang terbentuk dari menjaga luka yang baru pulih.

Nadia Putri Ayu.

Dia juga melihat Arka. Matanya melebar satu milimeter—surprise yang terkontrol, seperti jurnalis yang terlatih untuk tidak menunjukkan reaksi.

Briefing berlangsung empat puluh menit. Arka menjawab pertanyaan dengan autopilot—angka, strategi, roadmap—sementara sebagian kecil otaknya terus kembali ke baris ketiga.

Sesi berakhir. Jurnalis mulai berkemas. Kevin menjabat tangan orang-orang dengan energi yang tidak pernah habis.

Arka berdiri, hendak keluar lewat pintu samping. Lalu suara dari belakang:

"Jadi 'mahasiswa' itu sekarang jadi keynote speaker di press conference."

Arka berhenti. Berbalik.

Nadia berdiri di depannya, buku catatan di satu tangan, senyum tipis di wajahnya. Dia tampak seperti seseorang yang merasa dipermainkan dan menemukan itu agak lucu.

"Nadia."

"Arka. Yang jualan kucing plastik. Yang bikin app berita DAU lima juta. Yang waktu itu bilang dia 'mahasiswa'." Dia memiringkan kepala. "Apa lagi yang nggak kamu ceritakan?"

"Banyak."

Nadia tertawa—tawa pendek yang lepas. "Setidaknya kamu jujur soal itu."

---

Mereka keluar dari hotel dan berjalan ke Kopi Kenangan di seberang jalan. Nadia yang memilih. "Gaji magang nggak afford hotel coffee," katanya tanpa malu.

Arka pesan Kopi Mantan—es kopi susu gula aren yang jadi andalan chain itu. Nadia pesan yang sama. Mereka duduk di meja kecil dekat jendela.

"Jadi," kata Nadia, mengaduk kopinya dengan sedotan. "Aku googling namamu setelah Kota Tua."

"Aku tahu."

"Kamu tahu?" Alis naik. "Gimana?"

"Karena aku juga googling namamu."

Nadia berhenti mengaduk. Satu detik. Dua. Lalu dia menyembunyikan senyum di balik gelas kopi.

"KlikNews founder. Oyen creator. Forbes 30 Under 30 candidate—ya, aku baca semua." Dia meletakkan gelas. "Kenapa nggak bilang waktu di Kota Tua?"

Arka menatapnya. Pertanyaan ini—dia sudah memikirkan jawabannya sejak hari itu.

"Karena aku mau kamu mengenal Arka. Bukan KlikNews."

Nadia diam. Matanya—gelap, cerdas, selalu menganalisis—mempelajarinya selama beberapa detik.

"Itu... jawaban yang sangat spesifik untuk pertemuan kebetulan dengan orang asing di trotoar."

"Mungkin."

Nadia tersenyum lagi. Kali ini bukan senyum jurnalis. Senyum yang lebih kecil, lebih jujur.

Mereka bicara selama satu jam tentang hal-hal kecil. Nadia bercerita tentang pekerjaannya: magang di KompasTV, ditugaskan meliput entertainment news, bidang yang tidak pernah jadi passion-nya.

"Aku masuk jurnalistik karena mau bongkar korupsi, investigasi kriminal, hal-hal yang penting," katanya, jarinya mengetuk meja pelan. "Bukan karena mau tanya artis sinetron soal skincare routine-nya."

"Kenapa nggak minta pindah desk?"

"Magang. Nggak ada bargaining power." Dia mengangkat bahu. "Bulan depan kontrak selesai. Belum tahu mau kemana."

"Kamu harus melakukan apa yang kamu mau lakukan," kata Arka. "Jangan biarkan orang lain mengunci hidupmu di tugas yang salah."

Nadia menatapnya. "Gampang bilang begitu kalau kamu CEO perusahaan sendiri."

"Aku bilang begitu justru karena aku pernah tidak punya pilihan." Kalimat itu keluar sebelum Arka sempat menyaringnya. Terlalu jujur. Terlalu dekat dengan kehidupan sebelumnya—enam tahun bekerja untuk orang lain, melakukan apa yang ditugaskan, sampai mati di lantai kantor.

Nadia menangkap sesuatu di matanya—sekilas, sepersekian detik, sesuatu yang berat.

"Kamu pernah kerja untuk orang lain?"

"Lama sekali."

"Kamu baru dua puluh satu, Arka."

Dia tersenyum. "Kadang umur tidak diukur dari tahun."

Nadia memiringkan kepala. Radar jurnalisnya menyala—tapi dia memilih untuk tidak mengejar. Belum.

---

Mereka bertukar WhatsApp di depan Kopi Kenangan. Nomor asli kali ini—bukan nomor teman.

"Terima kasih kopinya," kata Nadia.

"Terima kasih sudah tidak marah soal 'mahasiswa'."

"Oh, aku masih agak kesal." Dia tersenyum. "Tapi kopi-nya enak, jadi kumaafkan."

Nadia pergi naik ojol. Arka berdiri di trotoar, menatap motor yang menghilang di lalulintas Jakarta.

Ponselnya bergetar. WhatsApp.

**Nadia:** Btw, kenapa kamu nggak bilang kamu yang bikin KlikNews waktu itu? Jawaban jujur.

**Arka:** Karena aku ingin kamu mengenalku sebagai orang yang menolong di trotoar. Artikel Techinasia bisa belakangan.

**Nadia:** 🙄 Jawaban yang sama.

**Arka:** Karena itu jawaban yang benar.

**Nadia:** ...

**Nadia:** Oke. Kali ini aku percaya.

**Nadia:** Selamat malam, Arka.

**Arka:** Selamat malam, Nadia.

---

Malam itu, Arka kembali ke hotel di Kuningan. Budget hotel, sekelas tempat yang dia pakai di Surabaya dan Gambir. Dia masih belum terbiasa mengeluarkan uang untuk dirinya sendiri, meskipun rekeningnya sudah memiliki angka yang akan membuat kebanyakan orang pingsan.

Dia duduk di meja kecil, membuka laptop, dan melakukan review akhir.

KlikNews: DAU 5,2 juta. MAU 19 juta. Revenue bulanan Rp 8,7 miliar. Tim 22 orang. Profitable sejak bulan kedua.

Oyen: revenue tahunan diproyeksikan Rp 100 miliar (termasuk lisensi). Pabrik 150 karyawan. Operasi berjalan otonom di bawah Budi dan Pak Parman.

DeepWave Capital: $800K notional CDS position dibangun. On track untuk $5 juta dalam empat bulan.

PT SuryaTech Indonesia: registered, operational, growing.

Tim inti: Kevin (business), Fajar (security), Hendra (tech ops), Daniel (finance, offshore).

Dan dalam tujuh hari—Jakarta Cyber Defense Summit. Phantom.

Arka membuka video call terakhir malam itu. Letjen Surya Atmaja menerima dalam tiga dering.

"Jenderal. Saya tiba di Jakarta. Siap memulai persiapan lapangan besok."

"Bagus." Jenderal Surya terlihat lelah—lebih tua dari video call terakhir. Beban Summit terlihat di garis-garis di bawah matanya. "Tim kita sudah di JCC. Mayor Rendra akan jemput kamu jam enam pagi."

"Satu pertanyaan, Jenderal."

"Ya?"

"Phantom—apakah ada intel baru?"

Hening sedetik terlalu lama.

"Ada," kata Jenderal pelan. "NSA share intercept dua hari lalu. Phantom menyiapkan serangan siber dan aset lapangan—seseorang yang sudah di Jakarta. Codename: Ghost."

Ghost. Aset fisik di Jakarta. Itu berarti serangan tidak hanya datang dari dunia maya—seseorang secara fisik akan mencoba menyusup ke JCC.

"Nak Arka." Jenderal Surya menatapnya dari layar. Matanya—mata seorang jenderal yang sudah menghadapi puluhan krisis—menunjukkan sesuatu yang jarang: kekhawatiran yang tulus.

"Kamu siap?"

Arka menatap balik. Di kepalanya, arsitektur pertahanan yang dirancang bersama ChatGPT berputar seperti blueprint tiga dimensi—setiap node, setiap firewall, setiap honeypot, setiap contingency plan.

"Siap, Jenderal."

Jenderal mengangguk. Call berakhir.

Arka menutup laptop. Menatap jendela. Jakarta malam hari—lautan cahaya yang membentang sampai cakrawala.

Di suatu tempat di kota ini, Ghost sedang mempersiapkan serangan. Di suatu tempat di Singapura, Daniel membangun posisi yang akan membuat Trident Capital berdarah. Di suatu tempat di Tebet, Nadia mungkin sedang membaca artikelnya lagi.

Dan di kamar hotel murah ini, Arka Wicaksono—yang delapan bulan lalu mati di lantai kantor orang lain—sedang merencanakan pertahanan untuk sebuah negara.

Dia mematikan lampu. Menutup mata.

Besok, perang dimulai.

*— Akhir Volume 1: Kebangkitan dan Kesadaran —*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!