NovelToon NovelToon
Pura-pura Buta Untuk Melihat Pengkhianatan Suami Dan Sahabatku

Pura-pura Buta Untuk Melihat Pengkhianatan Suami Dan Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​Riuh derap langkah di koridor kampus hari itu menjadi saksi hangatnya hubungan yang membendung segala keraguan. Di bawah naungan pohon angsana yang menggugurkan bunganya, Amanda duduk bersama Zahra, menatap lembaran tugas akhir yang hampir rampung. Enam tahun bukan waktu yang singkat untuk merajut benang persahabatan. Sejak mengenakan seragam putih-biru di bangku SMP, Zahra selalu menjadi tempat Amanda pulang, berbagi tawa, hingga rahasia terkecil sekalipun. Bagi Amanda, Zahra bukan sekadar teman biasa, melainkan saudara kandung yang tidak terikat oleh darah. Setiap keputusan besar dalam hidup Amanda selalu melewati pertimbangan Zahra, termasuk ketika seorang pria bernama Zidan datang mengisi hatinya dua tahun lalu.

​Zidan adalah sesosok pria berkarisma dengan senyum menenangkan yang berhasil meluluhkan hati Amanda. Selama masa perkuliahan, ketiganya hampir tidak pernah terpisahkan. Di mana ada Amanda dan Zidan, di situ pula ada Zahra. Amanda sering kali merasa menjadi wanita paling

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penyesalan Di Sel Yang Berbeda

​Di dalam sel tahanan yang sempit dan berbau pengap, kehidupan Zahra berbalik 180 derajat. Tidak ada lagi gaun-gaun mahal, perawatan salon, atau kemanjaan yang biasa ia nikmati. Tempat yang kini menjadi rumahnya dikuasai oleh hukum rimba, di mana tahanan paling lama dan paling disegani menjadi penguasa tunggal.

​"Lama banget sih kamu! Tanganku sudah pegal dari tadi!" bentak Mbak Nur, wanita gempal bertato pudar yang menjadi ketua di sel tersebut.

​Zahra tersentak kaget. Dengan jemari yang gemetar dan badan kaku, ia berlutut di lantai semen yang dingin, menekan bahu Mbak Nur yang lebar. Sifat manjanya sirna seketika, tergantikan oleh rasa takut yang luar biasa.

​"Ma-maaf, Mbak Nur... ini sudah saya tekan sekuat tenaga," cicit Zahra dengan suara hampir habis. Pakaian oranye tahanannya tampak kumal dan kotor akibat disuruh membersihkan toilet sel setiap pagi.

​"Tenagamu itu lemas! Makanya kalau cuma modal paras tapi suka rebut suami orang, di sini tidak ada gunanya!" seru salah satu tahanan lain di pojokan yang disambut tawa ejekan dari penghuni sel lainnya. "Lanjut pijat sampai ke kaki! Nanti sekalian cuci baju kita semua!"

​Airmata Zahra menetes satu per satu, jatuh membasahi lantai semen. Jemarinya yang biasa dihiasi cat kuku mahal kini kasar dan pegal luar biasa. Setiap pijatan, setiap seruan, dan setiap makian yang ia terima menjadi cambukan harian yang menyiksa batinnya.

​Di balik jeruji besi yang dingin, di saat Amanda mulai menata masa depannya yang penuh harapan, Zahra justru sedang mereguk habis pahitnya penderitaan atas setiap benih kejahatan yang pernah ia tanam.

​Tak jauh dari blok tahanan wanita, suasana di sel pria tak kalah mengerikan bagi Zidan. Pria yang dulu selalu berpenampilan rapi dengan kemeja necis itu kini terduduk di sudut lantai semen yang kotor. Pakaian tahanannya kumal, dan wajahnya kusam ditumbuhi cambang yang tak terurus.

​Di dalam sel sempit yang dihuni belasan tahanan itu, Zidan kehilangan seluruh martabatnya. Harta gono-gini yang selama ini ia banggakan telah disita penuh oleh pengadilan untuk Amanda. Jabatan dan kariernya hancur berkeping-keping. Bahkan, rekan-rekan bisnis yang dulu mengerumuninya kini menghilang tanpa jejak.

​"Woy, melamun saja!" bentak seorang tahanan berbadan kekar sembari menendang pelan kaki Zidan. "Ambilkan tempat minum di pojok sana! Cepat!"

​Zidan tersentak. Dengan tubuh gemetar dan kepala tertunduk, ia buru-buru bangkit menuruti perintah tersebut tanpa berani membalas sepatah kata pun. Rasa bangga dan kesombongannya telah remuk redam.

​Ketika malam makin larut dan penghuni sel lainnya mulai tertidur lelap, Zidan menyandarkan kepalanya di dinding tembok yang dingin. Bayangan Amanda yang mencium tangannya dengan begitu dewasa dan penuh ketegasan di ruang sidang kembali berputar di ingatannya.

​Kata-kata terakhir Amanda terus bergema, menancap dalam di dadanya: “Nikmati apa yang sudah kamu tabur.”

​Zidan meremas dadanya yang terasa sangat sesak. Penyesalan yang luar biasa hebat menyergap jiwanya. Ia telah membuang wanita tulus yang menemaninya dari nol demi Zahra—seorang wanita parasit yang kini juga membusuk di sel lain. Namun, semua penyesalan itu sudah terlambat. Pintu kehidupan lamanya telah tertutup rapat, dan yang tersisa hanyalah dinding besi yang dingin serta penderitaan panjang yang harus ia jalani.

1
sunaryati jarum
Nah emak suka cerita seperti ini pengkhianat dan pelakor ditindak
Dian Yuliana
kok kasus inaroh dan suami siri nya kagak di hukum ya....gantung GK ada kelanjutannya 🤣🤣
gaby: Inaroh pny bekingan pejabat ka. Dia itu pelacur syari, bukan si If doang. Sblm sama If dia itu bookingan pejabat & kepolisian, makanya kebal hukum. Tp walau kebal hukum, nama baiknya sdh cukup merusak beberapa pintu rejekinya.
total 1 replies
Ariany Sudjana
satu tahun itu sebentar, belum nanti remisi kalau kelakuan baik, paling juga hanya 10 bulan di penjara
Ryuu
oh iya kue jatuh depan kamar
Ryuu
kenapa harus nikah klo emg ga cinta
Ade Chubi
jangan lama lama untuk melakukan balas dendam nya Thor
Ade Chubi
cerita nya bagus menguras emosi
Ade Chubi
mampir kak othor
Waaaaaa_: hallo makasih sudah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!