Wabah misterius meluluhlantakkan peradaban dalam semalam, mengubah manusia menjadi makhluk haus darah yang tak kenal lelah. Di tengah kota yang sunyi dan penuh mayat hidup, sekelompok orang yang tak saling kenal terpaksa bersatu. Mereka bukan hanya harus bertahan dari serangan para mayat hidup, tapi juga menghadapi pengkhianatan, kelaparan, dan kenyataan pahit bahwa mereka mungkin adalah sisa-sisa manusia terakhir di muka bumi. Antara harapan dan keputusasaan, mereka harus memilih: bertahan hidup sendiri, atau mati bersama sebagai satu-satunya harapan umat manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pineapple banana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. Bayangan Di Air
Begitu rombongan sampai di tepian sungai, rasa lelah yang sempat membebani perlahan tergantikan oleh sedikit rasa lega. Air yang jernih mengalir tenang di antara bebatuan, suaranya menenangkan hati yang selama ini tegang. Tanpa membuang waktu, mereka segera membagi tugas: sebagian menjaga sekeliling, sebagian mengisi ulang botol air minum, dan sebagian lagi membantu Rafli menyiapkan kelinci hasil buruannya untuk dimasak.
Mega dan Natalia mengambil kesempatan untuk mencuci muka dan membersihkan diri sedikit dari debu serta keringat yang menempel. Kesejukan air itu sejenak membuat mereka lupa pada kekacauan yang melanda dunia luar. Rafli bersama Jodie mulai menyalakan api unggun kecil agak tersembunyi di balik rimbunan semak, sementara Danu dan Aldo kembali berkeliling memastikan tak ada jejak bahaya yang mendekat.
Namun ketenangan itu tak berlangsung lama.
Saat Simon sedang menimba air di bagian tepi yang agak dalam, matanya tiba-tiba terbelalak melihat bayangan aneh bergerak pelan di dasar air yang jernih. Bukan ikan. Bayangan itu bergerak kaku, pakaiannya compang-camping, dan rambutnya melayang mengikuti arus air.
"Berhenti!" seru Rafli tiba-tiba, suaranya rendah namun tegas. "Jangan bergerak!"
Semua orang seketika membeku. Dari balik bebatuan di seberang sungai, sesosok mayat hidup muncul perlahan, berjalan masuk ke dalam air tanpa suara. Dan di dasar sungai itu, ternyata ada dua sosok lain yang terbawa arus dan kini mulai merayap naik ke tepian.
"Mereka... mereka bisa bergerak di dalam air?" bisik Aldo tak percaya.
"Mereka tak mati, jadi mereka tak peduli tenggelam atau tidak," jawab Danu singkat sambil meraih goloknya. "Jangan ada yang bersuara keras. Kita selesaikan ini satu per satu."
Rafli segera menarik tali busurnya, membidik sosok yang paling dekat dengan mereka. Panah melesat tepat menembus pelipis makhluk itu, membuatnya terjatuh kembali ke dalam air. Tanpa menunggu, Jodie dan Aldo segera turun ke tepian, melumpuhkan dua sosok lain yang baru saja naik ke daratan dengan senjata tumpul, secepat dan se hening mungkin.
Hanya dalam hitungan menit, ketegangan itu mereda kembali. Namun kejadian itu mengingatkan mereka: bahaya bisa datang dari mana saja—bahkan dari tempat yang tampak paling aman sekalipun.
Mereka segera menyelesaikan makan siang dengan cepat, beristirahat sejenak untuk mengumpulkan tenaga, lalu bersiap kembali melanjutkan perjalanan sebelum kegelapan kembali turun menyelimuti hutan.
Setelah perut terisi dan tenaga perlahan kembali, mereka duduk melingkar di sekitar sisa api yang mulai meredup. Di tengah sunyi hutan yang sesekali dipecah suara burung atau gemericik daun, mereka mulai berbagi cerita—potongan kehidupan yang dulu biasa saja, namun kini terasa begitu berharga.
Natalia membuka percakapan lebih dulu. Suaranya pelan namun jelas, bercerita tentang hari-harinya sebagai sekretaris dan asisten pribadi yang selalu sibuk mengejar jadwal atasan. Namun ceritanya terhenti sejenak saat ia menceritakan momen paling menyakitkan: saat orang yang paling ia cintai, Rian, perlahan berubah menjadi makhluk haus darah tepat di hadapannya, dan ia tak bisa melakukan apa pun selain lari menjauh sambil membawa rasa bersalah yang tak terhapuskan.
Mega menyusul kemudian. Ia dulunya pramuniaga di swalayan terbesar di pusat kota. "Baru seminggu aku bekerja, masih malu-malu belajar melayani pembeli," ucapnya getir. "Tapi tiba-tiba keramaian berubah menjadi kekacauan, dan orang-orang yang kulihat setiap hari kini mengejar nyawa satu sama lain."
Jodie, pria bertubuh gempal itu, menghela napas panjang. "Aku sopir ambulans. Setiap hari mengantar orang sakit berharap sembuh, tak pernah terbayang justru aku yang harus lari dari mereka yang seharusnya sudah tertolong."
Berbeda dengan Simon, remaja yang kini memegang pistol pemberian Danu. "Aku menemani kakakku yang di operasi di rumah sakit. menunggu nya sampai tertidur di kursi tunggu. Begitu bangun... pintu terkunci, lampu mati, dan yang terdengar hanya jeritan serta geraman mengerikan."
Imran, anggota polisi itu, menatap Aldo sekilas dengan rasa berterima kasih. "Aku hampir jadi santapan mereka di pos penjagaan. Kalau saja Aldo dan pasukannya tak lewat dan menolongku saat itu, mungkin aku sudah jadi bagian dari mereka."
Danu sendiri mengaku dulunya penunggang kuda, ahli bela diri, dan terlatih menggunakan berbagai jenis senjata. Hal itulah yang membuatnya sigap memimpin mereka sejauh ini.
Hingga akhirnya semua mata tertuju pada Rafli.
"Hem... Aku... dulu bekerja di proyek pembangunan jembatan dan jalan tol," ucapnya lirih, matanya menatap nyala api yang meredup. "Semuanya berubah saat aku tak sengaja bertengkar dan melukai rekan kerjaku. Aku hanya bermaksud membungkamnya, tapi terlalu keras hingga ia terluka parah. Akhirnya aku dipecat tak hormat. Dan... kalian tahu? Kakakku datang ke kantor hari itu, memaki atasan dengan keras karena merasa aku diperlakukan tidak adil."
Suasana hening sejenak. Mega menatapnya dengan rasa haru, menyadari betapa Rafli sebenarnya merindukan kakaknya, meski mulutnya tak mau mengakuinya.
"Rafli," ucap Danu lembut namun tegas. "Aku yakin suatu saat kalian akan bertemu lagi. Dan aku percaya, kakakmu masih berjuang di luar sana, sama seperti kita."
Rafli hanya mengangguk pelan, berusaha menahan getar di dadanya.
"Baiklah semuanya," lanjut Danu mengubah suasana. "Matahari sudah hampir tenggelam. Jalan setapak di depan akan semakin berbahaya jika diteruskan dalam gelap. Kita bermalam di sini saja, di tepi sungai ini. Kita bangun tempat perlindungan darurat, lalu bergantian berjaga seperti biasa."
Mereka pun bangkit satu per satu. Meski dunia di luar sana hancur lebur, malam itu mereka sadar satu hal: mereka bukan lagi sekadar kumpulan orang asing yang kebetulan bertemu. Mereka kini adalah keluarga yang saling menguatkan.
Bersambung