Elena
"Pria itu unik. Suka menyalahkan tapi menerima saat disalahkan."
Elena menemukan sosok pria pingsan dan membawanya pulang ke rumah. Salahkah dia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Shu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Penuh Perhatian
Hujan deras membasuh kota. Petir bersahutan.
Elena sesekali melihat Salva di ruangan sempit, membetulkan selimutnya, anak itu tak terganggu meski suara petir mengguntur membelah kesuyian. Tetap pulas.
Kemudian Elena kembali duduk di dekat Revan. Ia melanjutkan obrolan yang masih menggantung. Menceritakan kisah hidupnya yang begitu sulit dengan penuh tawa, tak sedikitpun terlihat kesedihan di wajahnya. Gadis itu hanya akan bersedih ketika ceritanya mengalir pada seseorang yang disayangainya meninggal dunia, itu saja. Dan ia malah tertawa lebar saat menceritakan betapa sulit mencari nafkah, memulung, dimaki orang, dihujat orang, kedinginan setiap malam karena tidak ada selimut. Hanya bisa menutup tubuh dengan rok dan baju yang ada. Dan masih banyak kesulitan lainnya yang diungkapkannya dengan tawa. Justru Revan yang melipat dahi dan merasa prihatin. Ia setia mendengar kisah hidup Elena yang begitu getir. Sekarang, seluruh kisah hidup Elena terekam di memori ingatannya.
Tak salah jika Elena mengijinkan Revan tinggal untuk sementara waktu di rumahnya. Revan adalah sosok lelaki yang dewasa dan penuh perhatian. Bukan hanya sekedar menghapus air mata Elena saja, tapi dia sering kali melarang Elena melakukan pekerjaan yang terlihat sulit. Seperti mengangkut air, mencari kayu bakar, dan masih banyak lainnya. Revan juga sering mangambil alih tugas yang menurutnya berat bila dikerjakan dengan tenaga perempuan.
Bahkan ketika Revan melihat jari Elena terkena pisau saat mengiris bawang, lelaki tampan itu dengan cepat menyedot luka Elena dengan mulutnya. Kemudian membungkus luka itu dengan sepotong kain. Dengan penuh kecemasan, ia mengatakan agar Elena mengurus lukanya saja dan kemudian ia mengambil alih tugas Elena. Ia meneruskan masak sampai selesai meski mulutnya tak henti bertanya mengenai langkah-langkah apa yang harus dikerjakannya untuk menyelesaikan masakan.
Haruskah sedalam itu kecemasan Revan terhadapnya hanya karena teriris pisau? Pikir Elena kala itu.
Ketika kelopak mata Revan sudah mulai terayun-ayun, dan Elena juga sudah mulai mengantuk, mereka segera mengambil posisi masing-masing untuk tidur. Revan menggulingkan tubuh beralaskan sekeping triplek. Elena bergegas memasuki ruangan kecil tempat tidurnya berbaring di sisi Salva, memeluk tubuh kecil itu. Sekilas ia memandangi langit-langit ruangan yang bentuknya sudah tak beraturan. Daun rumbia memang sudah seharusnya diganti. Ingatannya melayang pada tawaran Om Davin. Seandainya Om Davin benar-benar memberikan tawaran uang banyak, tentu ia sudah bisa menukar kehidupan pahitnya itu dengan segala kemudahan, rumah kontrakan yang layak, makan enak, dan tentu sudah nyaman tidurnya di setiap malam. Ia tak perlu lagi risau memikirkan atap atau lapisan dinding yang hanya berupa papan lapuk, yang bisa saja roboh kapan saja angin kencang menerjang. Mata Elena terpejam dengan seulas senyum, membayangkan hidup nyaman jika menerima tawaran Om Davin.
***
Pagi ini, Elena diserbu berbagai macam pekerjaan. Mulai dari memasak untuk sarapan Salva dan Revan, lalu mencuci piring, mencuci pakaian ke sungai, kemudian belanja ke pasar untuk keperluan membuat soto, siangnya barulah ia memasak soto. Setelah memasak soto, ia menyusun mie, potongan kol, taoge, saus, sambal, kecap, mangkuk-mangkuk ke gerobak.
Dan goooo…!!! Penuh semangat ia mendorong gerobak ke komplek perumahan sambil berteriak, “Soto sotoooo….!”
Para ibu-ibu, anak-anak dan Bapak-bapak pun keluar dari pintu rumah lalu memanggilnya. Mereka membeli sesuai porsi. Setiap mangkuk yang terjual meninggalkan kesan tersendiri baginya. Sungguh menyenangkan.
Seharian, kulit Elena tersentuh sinar mentari. Wajahnya dialiri peluh. Sesekali diusapnya dengan ujung lengan baju.
TBC
klik like plis
kan revan hampir dirampok crita'a